erpen "Tambang Sapi Karapan"
“Dimuat basabasi.co, 17 juni 2016
Tambang Sapi Karapan
Cerpen Muna Masyari
Bulan melengkung sabit di atas pucuk pohon nyiur. Tetabuh ludruk
dan kejungan perempuan memecah senyap malam melalui tiga spiker yang
dicorongkan ke tiga penjuru arah, di halaman rumah.
Dagu Marsiyeh terangkat, Di depannya, dua pohon nyiur berjajar
sejarak kira-kira tiga meter. Berdiri kaku, Marsiyeh memilin-milin tambang
dengan kekalutan yang membuat dadanya turun naik. Temaram malam menyamarkan
polesan kosmetik tebal di wajah perempuan muda itu. Sesekali mata Marsiyeh
menatap pintalan tambang. Detik kemudian dagu Marsiyeh kembali terangkat dan
pandangannya menggantung pada sebatang bambu yang diikat melintang pada dua
pohon nyiur, kira-kira setinggi dua meter. Pada batang bambu itulah Suraksah, Eppak
Marsiyeh, biasa mengikat sapi karapannya dengan tambang biru gelap berukuran
lebih gemuk dari tambang timba sumur, yang sekarang Marsiyeh pegang.
Tadi, Marsiyeh turun dari kursi pengantin, meninggalkan panggung
ludruk dengan langkah-langkah kecil gara-gara sampir ber-leres
coklat-kuning emas menyulitkan gerak kakinya. Sekian pasang mata penonton tidak
dihiraukan. Marsiyeh beralasan hendak buang air kecil ke belakang ketika perias
pengantin mencegat langkahnya, dan Marsiyeh menolak keras diantar oleh
siapapun, termasuk perias pengantin yang memaksa diri.
Marsiyeh memang ke kamar mandi. Hanya sebentar. Tidak melakukan
apa-apa. Kamar mandi terletak di belakang rumah dengan bangunan terpisah dari
induk rumah dan hanya diterangi lampu
lima watt. Di sebelah kamar mandi ada sumur tua, lalu kandang sapi, dan
di sebelahnya lagi dua pohon nyiur berjajar, menjulang angkuh.
Di bawah pohon nyiur itulah Marsiyeh berdiri kaku menatap tambang
di tangan. Tambang yang semakin menjerat ingatan Marsiyeh pada Mukassar saat
memacu sapi di gelanggang karapan. Lelaki yang menjadi joki sapi karapan milik
Suraksah itu memang tampak gagah dengan tubuh dibalut kaos belang hitam-putih,
celana komprang hitam, dan odheng membelit kepalanya.
Sorak kagum bergemuruh saat Mukassar dan sepasang sapi yang
dipacunya berhasil mengungguli lawan dengan selisih waktu hanya sepersekian
detik. Dengan tawa bangga dan mata membinar Suraksah langsung mengepalkan tinju
ke udara, bersorak bangga. Bagi Suraksah, menjawarai sayembara karapan sapi
berarti semakin mengukuhkan martabat keluarganya di mata masyarakat.
Begitu kembali dari gelanggang karapan, dengan senyum bangga
Suraksah memuji Mukassar yang begitu tangkas menjadi joki. Nama Mukassar pun
terletup dari mulut orang-orang kampung. Apalagi saat Suraksah menggelar
selamatan atas kemenangan sapinya dengan mengundang para tetangga. Para ibu dan
perawan tidak sedikit yang merasa iri pada Marsiyeh, sebagai tunangan Mukassar.
hff! Marsiyeh
mendesah. Benarkah ia seberuntung itu? Bayangan Mukassar berganti dengan
bayangan wajah embuk yang bermata cekung dan suram. Kegagahan Mukassar
di gelanggang karapan mengingatkan Marsiyeh pada sikap embuk yang selalu
tampak gugup di depan eppak, dan suaranya yang selalu bergetar setiap
mendapat pertanyaan keras dari eppak.
“Aku tidak ingin seperti Embuk,” desah Marsiyeh, lirih.
Diamatinya tambang di tangan. Tambang yang seolah membelit kebebasan Marsiyeh
sejak kecil. Terlalu banyak peraturan yang harus ia penuhi sebagai anak
perempuan yang sudah ditunangkan sejak masih dalam kandungan. Tidak boleh
menonton pertunjukan kecuali ditemani embuk. Tidak boleh berdandan
kecuali hendak mengunjungi rumah calon mertua. Tidak boleh mengobrol dengan
lelaki manapun, di jalan, di sungai, atau tempat umum, meskipun teman
sekolahnya sendiri. Dan sekian peraturan yang mengikat erat di sepanjang hidup
Marsiyeh selama ini. Semua demi menjunjung martabat keluarga di mata calon
mertua dan masyarakat!
Begitu rumitnya jadi perempuan terikat, rutuk Marsiyeh, merasa
diikat dengan tambang sapi karapan! Ia sadar, pertunangannya dilakukan di atas
kepentingan harkat dan martabat Eppak-nya.
Marsiyeh menggeram dalam hati. Dagunya kembali terangkat. Bulan
yang melengkung sabit di atas pucuk pohon nyiur tertutup awan tipis. Kelepak
kelelawar menggoyangkan rerimbun daun sirsak di belakang kandang. Tetabuh
ludruk dan kejungan perempuan melengking panjang. Di kursi pengantin,
Mukassar pasti tengah senyum-senyum bahagia, pikir Marsiyeh. Marsiyeh
mencengkeram tambang kian erat dengan gigi bergeretak.
Kelak, ketika usia Suraksah seperti matahari redup menjelang
magrib, tambang itu pula yang kian membelit kesepian dalam kesendiriannya.
Tanpa anak dan istri. Tambang biru gelap itu seperti jari-jari gurita yang
membelit leher dan sekujur tubuh dengan kenangan-kenangan yang tak pernah
putus, hingga membuat Suraksah sesak bernapas.
Suraksah akan teringat dengan jelas, sebulan sebelum malam
pernikahan anaknya yang dimeriahi pertunjukan ludruk, Suraksah sempat berdebat
sengit dengan Marsiyeh.
Sepulang dari langgar, tanpa sengaja Marsiyeh mendengar tanggal
pernikahannya dengan Mukassar yang sudah ditentukan. Tanggal 15 bulan Syawal.
Pernikahan akan digelar besar-besaran karena satu sapi karapan yang berhasil
menjawari gubeng(1) kemarin milik Suraksah sudah ditawar 125 juta.
“Aku tidak mau menikah dengan Mukassar!” dengan tangan mendekap
gulungan mukena di dada Marsiyeh menyela pembicaraan Suraksah dengan Nom
Sukrah
“Kau bicara apa?” Suraksah mendelik.
“Aku tidak mau menikah dengan Mukassar!” ulang Marsiyeh, membalas
tatapan Suraksah tanpa gentar.
“Tidak tahu diuntung! Seharusnya kau bangga memiliki suami seorang
joki hebat!”
“Lebih baik menikah dengan pemuda petani biasa daripada dengan
seorang joki!”
“Kurang ajar! Pada siapa kau belajar membantah? Embuk-mu
tidak seperti dirimu!”
“Embuk memang selalu tunduk pada Eppak. Tidak pernah berani
membantah! Selalu menuruti keinginan Eppak! Tapi Eppak Tidak
pernah menghargainya! Maka itu, aku tidak ingin bernasib sama!”
Suraksah tertohok keras. Matanya kian menyala. Tulang rahangnya
mengeras. Harga dirinya merasa diinjak-injak oleh putrinya sendiri. Padahal
dulu, ia sama seperti Mukassar. Mertuanya merasa bangga memiliki menantu
seorang joki sehebat dirinya yang berhasil menjawarai beberapa kali karapan
sapi.
“Meskipun Embuk sudah terbaring sakit, Eppak tetap
tidak peduli!”
“Tutup mulutmu!” bentak Suraksah, keras.
“Menjelang kematiannya pun Eppak masih lebih mementingkan
sapi karapan daripada Embuk!” sambung Marsiyeh.
“Diam!”
“Bahkan Eppak tidak sempat ikut mengubur jenazahnya!”
Betapa pun geramnya Suraksah, kata-kata Marsiyeh menggiring paksa
ingatan Suraksah pada peristiwa dua tahun sebelumnya. Saat itu, istrinya
tergolek tak berdaya dengan kulit melepuh sekujur tubuh dan menghitam seperti bekas
luka bakar. Sengal napasnya tinggal senin-kamis. Dugaan dukun yang didatangkan,
katanya perempuan itu kena teluh.
“Teluhnya salah sasaran saja! Sebenarnya ditujukan pada sapi karapanmu.
Pihak lawan menginginkan sapimu kalah di karapan nanti” ujar dukun waktu itu.
Setelah berhari-hari istrinya terbaring lemah tanpa sejumput nasi
pun mampu ditelan, suatu pagi, istrinya dalam keadaan sekarat, dan hanya
ditunggui oleh Marsiyeh. Namun Suraksah dan Mukassar tetap berangkat ke gubeng
dengan sepasang sapi karapan yang sudah siap disayembarakan.
Suraksah berhasil pulang mendulang kemenangan. Namun begitu tiba di
rumah, jenazah istrinya baru saja dikuburkan. Para pelayat masih banyak yang
belum pulang. Sejak itu, Marsiyeh semakin membatukan hati, menolak pertunangannya
dengan Mukassar.
“Aku tetap tidak mau menikah
dengannya!” nada suara Marsiyeh menekan, jelas menegaskan penolakan.
“Kau jangan macam-macam! Sekarang masuk ke kamar!” bangkit,
Suraksah menuding pintu kamar. Menguap sudah kesabaran Suraksah.
Kalau saja Marsiyeh tidak segera berlari ke kamar, tamparan pedas
tentu sudah mendarat di pipinya.
“Anjing!” umpat Suraksah, gusar.
Menggagalkan rencana pernikahan bagi Suraksah sama artinya
meruntuhkan harga diri. Tidak hanya di mata calon besan, juga di mata
orang-orang. Tidak mungkin! Kalau sapi bisa dipegang tongar-nya, maka
manusia harus bisa dipegang perkataannya, batin Suraksah.
“Bagaimana?” Tanya Nom Sukrah.
“Pernikahan harus tetap tetap dilaksanakan!” ketus suara Suraksah
menahan golak amarah di dadanya. Membanting pantat ke kursi.
“Bagaimana dengan Marsiyeh?” Tanya Nom Sukrah yang dari tadi
diam saja menyaksikan perdebatan ayah-anak itu.
“Ah!” Suraksah mendengus gusar. “Dia tidak tahu apa-apa. Nanti
pasti bisa menerima pernikahan itu!”
Pernikahan benar-benar digelar dengan meriah, dihibur pertunjukan
ludruk pada malam harinya. Namun, di ujung malam, ketika pegelaran ludruk
semakin meriah, tiba-tiba sayup-sayup terdengar teriakan histeris dari belakang
rumah.
Tambang sapi karapan yang diwariskan mertua Suraksah, dan katanya
mengandung jimat, telah meloloskan Marsiyeh dari jerat harkat dan martabat yang
Suraksah bangga-banggakan dengan jalan pintas dan getas.
Sejak malam pernikahan anaknya yang berujung tragis, Suraksah
berusaha tegar meskipun dalam dadanya banyak memar. Lima kali ia masih
mengikuti sayembara karapan sapi. Memar di dada Suraksah kian membiru manakala
Mukassar menngundurkan diri dan memilih menjadi joki sapi karapan milik musuh
bebuyutan Suraksah. Rumor pun membiak di masyarakat; kekalahan sapi karapan Suraksah
bukan hanya karena tambang warisan mertuanya sudah tidak bertuah sejak Marsiyeh
menjadikannya tali gantung saat bertindak bodoh pada malam pernikahannya, namun
juga gegara minggatnya Mukassar.
***
Bulan melengkung sabit di atas pucuk batang pohon nyiur yang telah
gundul. Tetabuh ludruk dan kejugan perempuan sayup-sayup terdengar di
kejauhan. Entah siapa yang menanggapya.
Di bawah pohon nyiur, tempat di mana Suraksah biasa mengikat, memijat
dan mengelus-elus sapi karapannya, tempat di mana hidup Marsiyeh berakhir
malang, Suraksah menjajarkan empat piala presiden hasil sayembara karapan sapi.
Tanpa anak, istri dan sapi karapan. Dua pohon yang menjulang angkuh itu mati
perlahan sejak malam pernikahan tragis beberapa tahun silam dan menjadi arena
pesta para rayap. Suraksah hanya hidup bersama kenangan-kenangan pahit tentang
anak-istrinya dan masa-masa kejayaan sewaktu menjawarai gubeng. Suraksah
baru memahami arti sebuah keluarga dan martabat sosial yang pernah
diagung-agungkan.
Tambang sapi karapan terkalung di leher Suraksah.
***
Madura, Juni 2015
0 komentar:
Posting Komentar