Indera
Samudera adalah namaku. Orangtuaku memberi nama Indera Samudera bukan tanpa
alasan, arti namaku adalah pengetahuan yang luas, orangtuaku berharap agar
kelak aku memiliki pengetahuan yang luas seperti samudera. Aku adalah anak yang
pendiam dan pemalu, aku sangat pelit berbicara dengan teman sekolah, teman rumah,
bahkan orangtuaku sendiri. Jika tidak diajak berbicara, maka aku tidak akan berbicara
kepada orangtuaku. Sungguh sifat yang aneh yang aku miliki.
Aku
sangat suka membaca puisi.Aku sangat suka membaca puisi karya Chairil
Anwar, kumpulan puisi Chairil Anwar yang sudah kubaca adalah Doa, Penerimaan, Kesabaran, Cintaku Jauh
di Pulau, Senja di Pelabuhan Kecil, Sajak Putih, Hampa, Dari Dia, Dendam, Derai-Derai Cemara dan Aku . Puisi yang
sangat aku suka dari karya Chairil Anwar adalah puisi yang berjudul “AKU”, aku
sangat mengidolakan Chairil Anwar.
Aku mempunyai
kakak. Dia bernama Siska Fatimah, dia juga suka membaca puisi seperti aku.
Bahkan dia sering mengikuti perlombaan membaca puisi dan selalu mendapat juara.
Kebetulan atau tidak , kami berdua sama-sama suka membaca puisi. Tetapi aku
tidak pernah mengikuti perlombaan puisi karena aku takut, aku tidak berani dan
aku malu. Kakakku sendiri tidak tahu kalau aku juga suka membaca puisi karena
aku tidak pernah bicara hal itu kepada kakakku.
Besoknya di
sekolah, ketika istirahat aku pergi ke kantin untuk menghilangkan suara cacing
kelaparan di dalam perutku. Ketika di jalan menuju kantin, seketika mataku
melihat selembaran yang tertempel gagah di majalah dinding ( mading )
sekolahku. Kubaca dengan penuh perasaan, ternyata selembaran itu adalah pengumuman
perlombaan pembacaan puisi, puisi yang di baca saat perlombaan bebas. Lokasi
lomba tersebut yaitu di Universitas kakakku kuliah yaitu Universitas Sumatera
Utara (USU). Batinku memerintahkan untuk ikut perlombaan itu dan aku menuruti
kata batinku itu.
Ketika sudah pulang
sekolah, kebetulan tidak ada orang dirumah. Ayah dan Ibuku sedang bekerja,
Kakakku sepertinya belum pulang kuliah. Aku manfaatkan situasi itu untuk
latihan membacakan puisi untuk perlombaan puisi nanti, jika aku latihan di
dengar orang lain aku malu meskipun itu keluargaku sendiri. Ketika aku sedang
latihan ternyata kakakku diam-diam melihatku selama aku latihan, dia pulang
cepat kuliahnya karena dosennya tidak hadir. Tiba-tiba dia memberi tepukan
tangan kepadaku “Ternyata adikku yang pendiam, yang pemalu ini pandai membaca
puisi dengan bagus.”Kata Kak Siska. “Biasa saja kak !” Jawabku dengan
malu.”Ohya, di kampus kakak ada perlombaan puisi, kategori anak SMA , adik mau
ikut ? Ikutlah dik ! Pembacaan puisi adik tadi sangat bagus , kalau ikut pasti
juara.” Puji kak Siska. ”Aku memang mau ikut kak !” Jawabku. “Ok, besok kakak
daftari namamu.”Kata kak Siska. “Yaudah kak, terimakasih.” Jawabku.
Hari perlombaan
tiba, aku akan membawakan salah satu puisi karya Chairil Anwar berjudul “AKU”. Aku mendapat nomor urut
terakhir yaitu nomor urut 55. Dan kini sudah nomor urut 54, suhu badanku panas
dingin dan jantungku berdetak kencang. Tiba-tiba dari belakang seseorang
menepuk punggungku, ternyata kakakku. “Dik, jangan deg-degan , yakinlah bacaan
puisi itu harus sesuai tema suasana puisi yang adik bawakan, jika tema suasana
puisi itu sedih maka bawakan puisi itu dengan perasaan sedih, jika tema suasana
puisi itu senang maka bawakan puisi itu dengan perasaan senang. Percaya dik !
Kakak yakin, adik pasti bisa. Semangat !” “Selanjutnya, peserta terakhir nomor
urut 55. Indera Samudera !” Kata Pembawa acara perlombaan. “Dik, namamu sudah
dipanggil, maju sana dik ! , pasti bisa ! “.Ok kak, doain adik ya”. Kataku.”Pasti
dek !”Jawab Kakakku.
Tepuk tangan dan
teriakan dukungan yang menyebut namaku sepertinya suara Kak Siska mengiri langkah demi langkahku agar tubuh dan
jiwaku sampai ke atas pentas. Aku memulai membaca puisiku, semua penonton
hening ketika aku membacakan puisi “Aku” ini.Selesai membaca puisi, juri,
penonton dan kakakku terlihat memberi tepuk tangannya kepadaku. Kakakku
terlihat meneteskan air mata haru.
Aku langsung
lari memeluk kakakku.”Selamat ya adikku, pembacaan puisimu sangat bagus . Kakak
bangga dik.” Kata kakakku sambil menangis haru. ”Terimakasih kak, ini semua
berkat motivasi kakak.”Jawabku sekaligus memeluk erat Kakakku.
Pengumuman pemenang
perlombaan langsung di umumkan , aku mendapat juara 1 dan piala ini merupakan
perlombaan pertamaku dan piala pertamaku.”Selamat adikku, Adik pantas mendapat
piala pertamamu ini. Dengarkan kakak, untuk selanjutnya kejar piala kedua,
piala ketiga, piala kesepuluh dan piala-piala yang lainnya yang telah
menunggumu.”Ucap kakakku.”Terimakasih kakakku tercinta”Jawabkku.
Sampai di rumah,
Ibu dan Ayah ku terkejut aku memegang piala.Mereka bangga kepadaku, dan memberi
hadiah kepadaku yaitu bebas memilih liburan dimana saja akhir pekan ini. Di
kamarku, aku terus memandangi piala pertamaku. Dan batinku berkata ”Aku harus
dengar kata kakakku, aku harus mendapatkan piala kedua, piala ketiga, piala
kesepuluh dan piala-piala yang lainnnya yang telah menungguku”.
0 komentar:
Posting Komentar