Translate

CCERPEN PIALA PERTAMA

Written By iqbal_editing on Jumat, 01 September 2017 | 01.34

Indera Samudera adalah namaku. Orangtuaku memberi nama Indera Samudera bukan tanpa alasan, arti namaku adalah pengetahuan yang luas, orangtuaku berharap agar kelak aku memiliki pengetahuan yang luas seperti samudera. Aku adalah anak yang pendiam dan pemalu, aku sangat pelit  berbicara dengan teman sekolah, teman rumah, bahkan orangtuaku sendiri. Jika tidak diajak berbicara, maka aku tidak akan berbicara kepada orangtuaku. Sungguh sifat yang aneh yang aku miliki.
          Aku sangat suka membaca puisi.Aku sangat suka membaca puisi karya Chairil Anwar,  kumpulan puisi Chairil Anwar  yang sudah kubaca adalah Doa, Penerimaan, Kesabaran, Cintaku Jauh di Pulau, Senja di Pelabuhan Kecil, Sajak Putih, Hampa, Dari Dia, Dendam, Derai-Derai Cemara dan Aku . Puisi yang sangat aku suka dari karya Chairil Anwar adalah puisi yang berjudul “AKU”, aku sangat mengidolakan Chairil Anwar.
Aku mempunyai kakak. Dia bernama Siska Fatimah, dia juga suka membaca puisi seperti aku. Bahkan dia sering mengikuti perlombaan membaca puisi dan selalu mendapat juara. Kebetulan atau tidak , kami berdua sama-sama suka membaca puisi. Tetapi aku tidak pernah mengikuti perlombaan puisi karena aku takut, aku tidak berani dan aku malu. Kakakku sendiri tidak tahu kalau aku juga suka membaca puisi karena aku tidak pernah bicara hal itu kepada kakakku.
Besoknya di sekolah, ketika istirahat aku pergi ke kantin untuk menghilangkan suara cacing kelaparan di dalam perutku. Ketika di jalan menuju kantin, seketika mataku melihat selembaran yang tertempel gagah di majalah dinding ( mading ) sekolahku. Kubaca dengan penuh perasaan, ternyata selembaran itu adalah pengumuman perlombaan pembacaan puisi, puisi yang di baca saat perlombaan bebas. Lokasi lomba tersebut yaitu di Universitas kakakku kuliah yaitu Universitas Sumatera Utara (USU). Batinku memerintahkan untuk ikut perlombaan itu dan aku menuruti kata batinku itu.
Ketika sudah pulang sekolah, kebetulan tidak ada orang dirumah. Ayah dan Ibuku sedang bekerja, Kakakku sepertinya belum pulang kuliah. Aku manfaatkan situasi itu untuk latihan membacakan puisi untuk perlombaan puisi nanti, jika aku latihan di dengar orang lain aku malu meskipun itu keluargaku sendiri. Ketika aku sedang latihan ternyata kakakku diam-diam melihatku selama aku latihan, dia pulang cepat kuliahnya karena dosennya tidak hadir. Tiba-tiba dia memberi tepukan tangan kepadaku “Ternyata adikku yang pendiam, yang pemalu ini pandai membaca puisi dengan bagus.”Kata Kak Siska. “Biasa saja kak !” Jawabku dengan malu.”Ohya, di kampus kakak ada perlombaan puisi, kategori anak SMA , adik mau ikut ? Ikutlah dik ! Pembacaan puisi adik tadi sangat bagus , kalau ikut pasti juara.” Puji kak Siska. ”Aku memang mau ikut kak !” Jawabku. “Ok, besok kakak daftari namamu.”Kata kak Siska. “Yaudah kak, terimakasih.” Jawabku.
Hari perlombaan tiba, aku akan membawakan salah satu puisi karya Chairil Anwar  berjudul “AKU”. Aku mendapat nomor urut terakhir yaitu nomor urut 55. Dan kini sudah nomor urut 54, suhu badanku panas dingin dan jantungku berdetak kencang. Tiba-tiba dari belakang seseorang menepuk punggungku, ternyata kakakku. “Dik, jangan deg-degan , yakinlah bacaan puisi itu harus sesuai tema suasana puisi yang adik bawakan, jika tema suasana puisi itu sedih maka bawakan puisi itu dengan perasaan sedih, jika tema suasana puisi itu senang maka bawakan puisi itu dengan perasaan senang. Percaya dik ! Kakak yakin, adik pasti bisa. Semangat !” “Selanjutnya, peserta terakhir nomor urut 55. Indera Samudera !” Kata Pembawa acara perlombaan. “Dik, namamu sudah dipanggil, maju sana dik ! , pasti bisa ! “.Ok kak, doain adik ya”. Kataku.”Pasti dek !”Jawab Kakakku.
Tepuk tangan dan teriakan dukungan yang menyebut namaku sepertinya suara Kak Siska  mengiri langkah demi langkahku agar tubuh dan jiwaku sampai ke atas pentas. Aku memulai membaca puisiku, semua penonton hening ketika aku membacakan puisi “Aku” ini.Selesai membaca puisi, juri, penonton dan kakakku terlihat memberi tepuk tangannya kepadaku. Kakakku terlihat meneteskan air mata haru.
Aku langsung lari memeluk kakakku.”Selamat ya adikku, pembacaan puisimu sangat bagus . Kakak bangga dik.” Kata kakakku sambil menangis haru. ”Terimakasih kak, ini semua berkat motivasi kakak.”Jawabku sekaligus memeluk erat Kakakku.
Pengumuman pemenang perlombaan langsung di umumkan , aku mendapat juara 1 dan piala ini merupakan perlombaan pertamaku dan piala pertamaku.”Selamat adikku, Adik pantas mendapat piala pertamamu ini. Dengarkan kakak, untuk selanjutnya kejar piala kedua, piala ketiga, piala kesepuluh dan piala-piala yang lainnya yang telah menunggumu.”Ucap kakakku.”Terimakasih kakakku tercinta”Jawabkku.
Sampai di rumah, Ibu dan Ayah ku terkejut aku memegang piala.Mereka bangga kepadaku, dan memberi hadiah kepadaku yaitu bebas memilih liburan dimana saja akhir pekan ini. Di kamarku, aku terus memandangi piala pertamaku. Dan batinku berkata ”Aku harus dengar kata kakakku, aku harus mendapatkan piala kedua, piala ketiga, piala kesepuluh dan piala-piala yang lainnnya yang telah menungguku”.

0 komentar:

Posting Komentar

 
berita unik