Pagi
cerah menyambut jiwaku. Tetapi, dibalik munculnya karya Maha Pencipta dilangit,
tersirat debu difikiran ini. Ibuku yang malang sedang sakit-sakitan. Pendapatan
kami sekeluarga tidak mencukupi biaya pengobatan ibu. Andai saja ayahku tak
menghilang, mungkin keluarga kami jauh lebih makmur.
Aku
keluar dari kamarku, menuju teras rumahku yang kecil dan kumuh. Mataku bisa
melihat dengan jelas bahwa ibuku sedang mengagumi karya Tuhan Yang Maha Esa,
yang terlukis di langit. Kepalanya berbalik melihatku, dia tersenyum dengan
manis.
“Sini..duduk
nak!”. Ucapnya dengan nada lembut.
Seketika aku beranjak
menghampirinya untuk duduk bersamanya di kursi yang panjag ini. Melihat
wajahnya yang pucat ini, muncul rasa iba dihatiku.
“Bagaimana keadaan ibu?. Kelihatannya makin parah!”
“Husss,.. sudah,
pikirkan saja prestasimu. Kamu kan lagi liburan, ini hari yang tepat untuk kamu
belajar nak, selagi orang bersantai”.
Itulah kebiasaan ibuku,
jika aku menanyakan keadaannya. Dia malah menyuruhku agar tak usah repot-repot
memikirkannya.
“Bu,.. Mudah-mudahan nilai Ujian Nasional Denny jadi yang
tertinggi di sekolah, kalau bisa tertinggi dari seluruh murid SMP di Negeri
ini, Amin”
Seketika ibuku tersenyum simpul kembali, “Iya nak, Amin”.
Seketika ibuku batuk
dengan keras, tanpa berhenti berkali-kali Tampak dia sedang kesakitan.
“Buk, ibu gak apa apa?”. Tanyaku dengan panik .
“Gak nak.... Ibu gak
apa-apa”. Seketika, dari batuk ibuku, keluar darah.
“Ya Ampun kenapa ini bu?” Tanyaku dengan panik.
Seketika ibuku pingsan.
...
Kian hari, ibuku makin parah. Semakin hari semakin
membuatku panik. Sekarang, ia tertidur di rumah sakit, biaya pengobatan dibantu
oleh ibu Lestari, yang menjabat sebagai
Kepala Sekolah di sekolah ku, yang dulunya adalah tetangga ibuku. Dokter
menyatakan bahwa ibuku terkena penyakit TBC, dia tak kunjung sadar.
Pikiranku melayang entah kemana. Besok, adalah pengumuman
Ujian Nasional, aku harus datang kesekolah. Di satu sisi, aku tak bisa pergi.
Bagaimana bisa aku meninggalkan ibuku yang sangat sayang padaku, sendirian
dirumah sakit. Aku dulu teringat bahwa pernah satu hari ibuku tak bekerja
karena sibuk menemani aku yang sedang sakit. Kini, aku juga harus melakukan
seperti itu!.
“Assalamualaikum!”. Sahut bu Lestari yang seketika masuk
datang ke ruangan tempat ibuku di rawat.
“Walaikumsalam”. Sahutku untuk membalas salamnya.
“Bagaimana
ibu mu nak?”. Tanya bu Aminah yag seketika raut wajahnya yang tadi tersenyum
berubah menjadi iba.
“Seperti biasa bu, belum ada perkembangan”. Seketika aku
menundukkan kepala meratapi kenyataan yang ada, setetes air mata keluar dari
mata ini.
“Ohh, mmm... nak , besok bagaimana?. Besok itu pengumuman
Lulus tidaknya Ujian Nasionalnya lho,sekaligus untuk mengetahui siapa yang
menjadi jawara Ujian Nasional di Sekolah. kamu datang atau tidak nak?”. Kata bu
Lestari.
“Mmm, sepertinya tidak bu, saya ingin menjaga ibu”.
“Ohh, yasudah kalau
begitu. Ibu tinggal dulu ya, ada keperluan sebentar”. Seketika bu Lestari pergi
meninggalkanku. Seketika itu juga aku beranjak Shalat.
Di akhir shalatku, aku berdoa
Ya
Allah,
Ampunilah
dosa-dosa orang tuaku, berilah dia kekuatan dan kesehatan. Berilah dia umur
yang berkah. Jangan biarkan dia berteriak kesakitan menahan sakit yang dia
alami, meskipun itu teriakan dalam hatinya. Jangan biarkan tubuhnya yang lemah
mengalami pedihnya sakit itu. Jangan biarkan dia yang berhati lembut menangis
karena kesakitan.
Amin..
“Nak.. kalau kamu sayang kepada ibu, besok kamu harus
datang ke sekolah”. Seketika aku terkejut dengan kata-kata ibuku barusan.
Alhamdulillah, akhirnya ibu bisa
bicara. Aku berlari mendekati ibuku.
“Buk, bagaimana
perasaan ibu?.” Tanyaku dengan penasaran, aku menunggu. Ibuku terdiam tak bisa
menjawabku.
...
Aku tiba disekolah, aku tak jadi menemani ibuku karena
teringat akan pesan-pesannya. Semua
murid bergembira karena ibu Kepala Sekolah mengatakan bahwa seluruh murid di
sekolah ini Lulus seratus persen. Seketika bu Lestari berbicara
“Salah satu murid dari sekolah kita, berhasil meraih Predikat
sebagai Murid dengan nilai Ujian Nasional SMP Tertinggi se Indonesia. Dia
Adalah..... Denny Perwira”.
Seketika, keluarlah
seluruh tepuk tangan teman-temanku terdengar dengan keras. Aku maju ke depan
untuk meraih pialaku.
Aku mengambil Pialaku, dan keluar kembali tepuk tangan
yang begitu meriah. Seketika, telfon ibu Lestari berdering. Dia mengangkat
teleponnya, dia memasang wajah terkejut, dia mendekatiku dan berkata.
“Nak.. Ibumu telah Meninggal”.
Jatuhlah piala ku.
Pialaku hancur, sama seperti hatiku. Seketika, aku berlari kencang dan
sekencang-kencangnya mengambil sepedaku dan bergegas pergi menuju rumah sakit.
Ibu,
Kenapa engkau cepat pergi.
Kenapa
saat aku ingin memberi kabar manis untukmu engkau malah pergi.
Maafkan
aku bu, di detik terakhirmu aku tak bisa mendampingimu.
Maafkan
aku, maafkan aku !.
0 komentar:
Posting Komentar