Translate

cerpen piala kepergian bunda

Written By iqbal_editing on Jumat, 01 September 2017 | 00.59

iala Kepergian Ibunda

Pagi cerah menyambut jiwaku. Tetapi, dibalik munculnya karya Maha Pencipta dilangit, tersirat debu difikiran ini. Ibuku yang malang sedang sakit-sakitan. Pendapatan kami sekeluarga tidak mencukupi biaya pengobatan ibu. Andai saja ayahku tak menghilang, mungkin keluarga kami jauh lebih makmur.
Aku keluar dari kamarku, menuju teras rumahku yang kecil dan kumuh. Mataku bisa melihat dengan jelas bahwa ibuku sedang mengagumi karya Tuhan Yang Maha Esa, yang terlukis di langit. Kepalanya berbalik melihatku, dia tersenyum dengan manis.
“Sini..duduk nak!”. Ucapnya dengan nada lembut.
Seketika aku beranjak menghampirinya untuk duduk bersamanya di kursi yang panjag ini. Melihat wajahnya yang pucat ini, muncul rasa iba dihatiku.
            “Bagaimana keadaan ibu?. Kelihatannya makin parah!”
“Husss,.. sudah, pikirkan saja prestasimu. Kamu kan lagi liburan, ini hari yang tepat untuk kamu belajar nak, selagi orang bersantai”.
Itulah kebiasaan ibuku, jika aku menanyakan keadaannya. Dia malah menyuruhku agar tak usah repot-repot memikirkannya.
            “Bu,.. Mudah-mudahan nilai Ujian Nasional Denny jadi yang tertinggi di sekolah, kalau bisa tertinggi dari seluruh murid SMP di Negeri ini, Amin”
            Seketika ibuku tersenyum simpul kembali, “Iya nak, Amin”.
Seketika ibuku batuk dengan keras, tanpa berhenti berkali-kali Tampak dia sedang kesakitan.
            “Buk, ibu gak apa apa?”. Tanyaku dengan panik .
“Gak nak.... Ibu gak apa-apa”. Seketika, dari batuk ibuku, keluar darah.
            “Ya Ampun kenapa ini bu?” Tanyaku dengan panik.
Seketika ibuku pingsan.
                                                ...
            Kian hari, ibuku makin parah. Semakin hari semakin membuatku panik. Sekarang, ia tertidur di rumah sakit, biaya pengobatan dibantu oleh ibu Lestari, yang menjabat sebagai  Kepala Sekolah di sekolah ku, yang dulunya adalah tetangga ibuku. Dokter menyatakan bahwa ibuku terkena penyakit TBC, dia tak kunjung sadar.
            Pikiranku melayang entah kemana. Besok, adalah pengumuman Ujian Nasional, aku harus datang kesekolah. Di satu sisi, aku tak bisa pergi. Bagaimana bisa aku meninggalkan ibuku yang sangat sayang padaku, sendirian dirumah sakit. Aku dulu teringat bahwa pernah satu hari ibuku tak bekerja karena sibuk menemani aku yang sedang sakit. Kini, aku juga harus melakukan seperti itu!.
            “Assalamualaikum!”. Sahut bu Lestari yang seketika masuk datang ke ruangan tempat ibuku di rawat.
            “Walaikumsalam”. Sahutku untuk membalas salamnya.
“Bagaimana ibu mu nak?”. Tanya bu Aminah yag seketika raut wajahnya yang tadi tersenyum berubah menjadi iba.
            “Seperti biasa bu, belum ada perkembangan”. Seketika aku menundukkan kepala meratapi kenyataan yang ada, setetes air mata keluar dari mata ini.
            “Ohh, mmm... nak , besok bagaimana?. Besok itu pengumuman Lulus tidaknya Ujian Nasionalnya lho,sekaligus untuk mengetahui siapa yang menjadi jawara Ujian Nasional di Sekolah. kamu datang atau tidak nak?”. Kata bu Lestari.
            “Mmm, sepertinya tidak bu, saya ingin menjaga ibu”.
“Ohh, yasudah kalau begitu. Ibu tinggal dulu ya, ada keperluan sebentar”. Seketika bu Lestari pergi meninggalkanku. Seketika itu juga aku beranjak Shalat.
            Di akhir shalatku, aku berdoa
Ya Allah,
Ampunilah dosa-dosa orang tuaku, berilah dia kekuatan dan kesehatan. Berilah dia umur yang berkah. Jangan biarkan dia berteriak kesakitan menahan sakit yang dia alami, meskipun itu teriakan dalam hatinya. Jangan biarkan tubuhnya yang lemah mengalami pedihnya sakit itu. Jangan biarkan dia yang berhati lembut menangis karena kesakitan.
Amin..
            “Nak.. kalau kamu sayang kepada ibu, besok kamu harus datang ke sekolah”. Seketika aku terkejut dengan kata-kata ibuku barusan.
            Alhamdulillah, akhirnya ibu bisa bicara. Aku berlari mendekati ibuku.
“Buk, bagaimana perasaan ibu?.” Tanyaku dengan penasaran, aku menunggu. Ibuku terdiam tak bisa menjawabku.
                                                            ...
            Aku tiba disekolah, aku tak jadi menemani ibuku karena teringat akan pesan-pesannya.  Semua murid bergembira karena ibu Kepala Sekolah mengatakan bahwa seluruh murid di sekolah ini Lulus seratus persen. Seketika bu Lestari berbicara
            “Salah satu murid dari sekolah kita, berhasil meraih Predikat sebagai Murid dengan nilai Ujian Nasional SMP Tertinggi se Indonesia. Dia Adalah..... Denny Perwira”.
Seketika, keluarlah seluruh tepuk tangan teman-temanku terdengar dengan keras. Aku maju ke depan untuk meraih pialaku.
            Aku mengambil Pialaku, dan keluar kembali tepuk tangan yang begitu meriah. Seketika, telfon ibu Lestari berdering. Dia mengangkat teleponnya, dia memasang wajah terkejut, dia mendekatiku dan berkata.
                        “Nak.. Ibumu telah Meninggal”.
Jatuhlah piala ku. Pialaku hancur, sama seperti hatiku. Seketika, aku berlari kencang dan sekencang-kencangnya mengambil sepedaku dan bergegas pergi menuju rumah sakit.
Ibu, Kenapa engkau cepat pergi.
Kenapa saat aku ingin memberi kabar manis untukmu engkau malah pergi.
Maafkan aku bu, di detik terakhirmu aku tak bisa mendampingimu.
Maafkan aku, maafkan aku !.

0 komentar:

Posting Komentar

 
berita unik