Aku menatap di kejauhan fajar, menanti senja yang mulai menghilang.
Nampak lukisan kemenangan sang mentari ke peraduan. Aku menangis di
tengah gemericik hujan yang membasahi sekujur tubuhku. Aku tak tahu
sudah berapa lama aku disini. Entah satu jam, dua jam, terserahlah aku
seakan tak peduli. Aku terlalu letih memikirkan dunia yang seakan tak
bersahabat.
Prang, Pyang, Pyang, gedebug, dor, debur. Begitulah suara yang sesekali
aku dengar dari kamar di ujung sana. Telingaku seakan membisu karena
suara itu hampir ku dengar sesekali dewi malam menyapa.
Berita pertengkaran orangtuaku sudah sering aku dengar. Serta orangtuaku
menjadikan kantor sebagai rumah keduanya membuatku muak. Ditambah lagi
kehadiran bocah tengik yang semakin mengusik hidupku.
Orangtuaku adalah pengusaha sukses terkenal di kota ini. Mamaku seorang
wanita karier terkenal yang sibuk mengurus perusahaan miliknya. Begitu
juga papa tak kalah sibuk seperti mama. Sampai-sampai aku dan Kevin,
adikku dianaktirikan dengan perusahaan milik orangtuaku.
Aku sempat mengeluh pada Mama, ketika Mama dirumah. Memang menjadi
barang langka ketika orangtuaku di rumah hanya untuk satu malam saja.
“Ma, Nja ngga bisa hidup kayak penjara gini. Aku kayak Putri yang hidup
di castle berlian sendirian. Tapi Ma, yang aku butuh cuma mama dan….”.
belum sempat aku melanjutkan, mama sudah memotong perkataanku. “Mama
seperti ini hanya karena kamu dan Kevin, Nja”, potong Mama singkat.
“Tapi Ma, aku ngga butuh uang, ngga butuh harta. Yang aku dan Kevin
butuhin kasih sayang mama dan papa. Ngga lebih!”, kataku tercekat. Mama
berlalu meninggalkanku tanpa sepatah katapun terucap dari bibir
lembutnya.
Pagi itu, tepat pada hari Valentine, Dion mengajakku pergi ke suatu
tempat yang aku tak tahu entah dimana. Karena mataku ditutupnya dengan
saputangan berwarna biru pastel kesayangannya. Dituntunnya aku hingga ke
suatu tempat yang masih penasaran untukku. “Surprise”, katanya singkat,
ketika kutanyakan dimana ini?
Aku digiring ke tempat dimana lilin-lilin kecil sudah berjajar rapi
berbentuk kata “I Love You”. Hingga kusadari setelah saputangan itu
dibuka, aku sudah berada di tengah lilin-lilin yang sengaja dijajarkan
berbentuk hati mungil itu. Dion merangkulku dari belakang dengan membawa
sebuket tulip ungu kesukaanku. Belum sempat aku bertanya. “Senja, aku
suka sama kamu semenjak pertama kali kita bertemu. Kamu mau ngga jadi
pacar aku?”, tanyanya tanpa basa-basi.
Ku lihat disekitarku betapa hebatnya Dion mempersiapkan semua ini. Ku
tatap mata biru itu lekat. “I-iya”, jawabku gagap sembari Dion memelukku
erat.
Entah mengapa malam itu tiba-tiba aku bermimpi buruk. Aku bermimpi, Dion
menghampiriku sambil mengenakan pakaian serba putih dan kutatap mata
biru itu tampak layu, sambil berkata “Jaga dirimu baik-baik ya, Nja. Aku
sayang kamu. Kamu pasti nemuin yang terbaik buat kamu”, katanya
singkat.
Ku balas ucapan yang membuatku hampir menangis. “Jangan tinggalin aku,
Dion. Aku sayang kamu”, kataku sambil terbangun dari igauanku dimalam
buruk itu.
Aku tak mengerti maksud mimpiku itu tanpa aku sadari itu sebuah pertanda
untukku. Tapi bodo amat, itu cuma mimpi, dan mimpi itu bunga tidur,
pikirku,
Setelah pacaran, aku merasa berbeda dengan sikap Dion yang selalu
menjemput dan mengantarku ku pulang, mengajakku makan, nonton dan
nongkrong di mall bareng. Namun, Bian sahabatku, juga mulai menghilang
setelah mendengar gossip di seantero sekolah, kalau aku pacaran dengan
Dion.
Hari-hariku kini diwarnai dengan canda tawa Dion yang menghiburku dikala
aku butuh kasih sayang orangtuaku yang mulai menghilang. Aku merasakan
betapa nyamannya bila aku merasa di dekatnya. Tanpa ku sadari aku
bagaikan di benci oleh cewek-cewek SMA Fiesta semenjak aku pacaran
dengan Dion.
Maklumlah, siapa sih yang ngga tertarik dengan cowok putih, tinggi,
bermata biru, dan selalu penuh kejutan seperti Dion? Seabrek cewek
mendambakan cowok seperti Dion, begitu pula. Aku.
Setelah dua tahun berpacaran, aku merasakan hal yang aneh pada Dion.
Entah mengapa, si mata biru itu menghilang dari hidupku beberapa bulan
belakangan ini. Aku semakin merasa aneh, Bian mulai berlagak dekat
denganku. Dan aku semakin merindukan sosok yang selalu membuat diriku
tersenyum.
Tak ada kabar yang membuatku lega dimana Dion saat ini. Namun, kabar
burung mengatakan Dion sedang sakit keras dirumah sakit. Tapi ku
hiraukan kabar burung yang tak kuketahui darimana datangnya.
Malamnya aku lagi memimpikan hal aneh yang semakin membuatku semakin
penasaran. Aku bermimpi lagi Dion memelukku dan tidur di atas pahaku di
taman itu. Aku terhanyut dalam sebuah dengkuran hangat di atas pahaku
itu. Namun, lama-kelamaan nafas itu pun mulai menghilang, aku panik luar
biasa menatap si mata biru itu kini tampak pucat dengan seuntai senyum
di wajah tampannya. Aku tak kuasa menahan tangis, dan aku
berteriak,“DION!” sambil terbangun dalam mimpi galauku. Ku lihat Mama
menenangkanku. Ku rasakan peluh bercucuran dari seluruh badanku layaknya
orang mandi. Dan ku lihat Mama tersenyum sambil berkata “Tenang, Nja.
Dion ngga apa-apa”.
Mimpi itu selalu menghantuiku setiap malam. Aku selalu memimpikan sosok
yang jarang aku temui saat ini. Aku merindukannya. Sungguh aku
merindukannya. Sosok yang selalu membuatku bahagia dan sosok yang
membuat aku semakin penasaran. Cowok jangkung itu kini sudah tak
menghantui aku lagi, tapi sungguh aku merasakan kehampaan yang mendalam
saat ini dan untuk nantinya.
Hingga Aku mendengar kabar dari mulut pria si mata hijau itu, dia Bian
sahabatku. “Nja, maafin aku baru bilang sekarang. Aku dari dulu pengen
banget bilang ma kamu soal Dion…”, katanya diam. “Apa?!” Aku sontak
terkejut kenapa Bian tumben seperti ini padaku.
“Sebenarnya dari dulu itu..”, ucapnya sambil berpikir. “Dion sudah lama
menderita leukemia yang kini sudah merenggut nyawanya”, lanjutnya yang
membuatku kini berbulir air mata. “Dari dulu aku sudah kepengen banget
bilang sama kamu, Nja. Tapi Dion terus saja menghalangiku untuk tidak
mengatakan ini padamu, hingga akhirnya kini…” ucapnya sambil tak bisa
berkata apa-apa lagi.
Aku sontak menangis. Sekencang-kencangnya aku menangis. Lalu
menghentakkan tubuh jangkung si mata hijau itu “Kenapa kamu baru bilang
sekarang?! Kenapa?! Kenapa kamu bilang pas Dion sudah ngga ada lagi?!
Kenapa?!”. Suaraku parau seakan yang ada dipikiranku saat ini hanya kata
‘kenapa?!’. Hingga akhirnya yang ku lihat hanya gelap.
Aku terbangun sambil memeluk tanah merah yang ada di hadapanku saat ini.
Ku sematkan bunga mawar putih kesukaannya. Lalu aku berkata “Selamat
jalan sayang, aku akan selalu mencintaimu”, aku terisak seakan tak bisa
ku lepaskan sesuatu yang ada di hadapanku kini. Ternyata mimpi itu benar
Dion kini sudah meninggalkanku untuk selamanya.
Sekarang tak ada lagi senyuman dari si mata biru itu dan menghiasi
hari-hariku yang kelam. Aku duduk sambil membaca surat dari Dion yang
dititipkan untukku.
Kamu bagaikan matahari yang membuatku seakan tersenyum walaupun dalam
hati aku menangis menahan sakit ini. Kamu seperti senja yang membuatku
tertawa dalam rasa sakit yang ku derita. Dan kamu bagaikan bintang yang
selalu menyinariku disaat-saat terakhirku. Aku bagaikan bisa hidup untuk
selamanya ketika aku dekat denganmu, dan aku yakin kamulah malaikat
dalam hidupku. Terima kasih sudah menjadi bintang untukku, Senja. Aku
mencintaimu. Dion.
Aku tak kuasa menahan tangis membaca surat pemberian Dion untukku.
Tulisannya membuatku merasakan Dion kini berada disampingku. Dan tak ku
hiraukan tangisan itu kini bercampur dengan gerimis patah yang mendera
tubuhku. Entah sudah berapa lama aku berada di tempat yang menajdi
kenangan indah untukku, dan tentu untuknya. Sungguh tak ku sangka si
mata biru itu kini sudah benar-benar meninggalkanku. Dan kini ku tak
akan mampu menjalani hari-hariku, disaat tak ada lagi canda tawa si mata
biru itu yang menggodaku. Tapi, tak akan pernah aku lupakan tatapan
kosong yang membuatku jatuh cinta saat itu. Aku semakin percaya kini
Dion ingin aku bahagia walaupun bukan dengannya. Namun, kematian
bukanlah hal yang akan memisahkan cinta tulusku untuknya. Tetapi itu hal
yang akan membuatku tetap ingat padanya. Aku mencintainya setulus
hatiku. Sesemurni cinta yang ku berikan untuknya. Kubulatkan tekadku
untuk tetap tegar menjalani hidup ini tanpa kehadiran Dion di sisiku.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar