Translate

cara membaca puisi baik

Written By iqbal_editing on Minggu, 04 September 2016 | 07.17

1.    Penghayatan

Menghayati berarti memahami secara penuh isi puisi. Dengan pemahaman itulah kita sebagai pembaca puisi dapat menyatukan jiwa puisi dengan jiwa kita sendiri. Pemahaman terhadap puisi yang dikategorikan dalam penghayatan ini tidak sekadar memahami makna kata-kata atau baris-baris puisi, tetapi sampai pada pemahaman atas makna yang terkandung dalam puisi dan suasana puisi itu sendiri.
Pemahaman akan isi puisi harus dilakukan oleh pembaca puisi. Membaca puisi adalah upaya membantu pendengar atau penonton untuk dapat memahami isi puisi tersebut. Oleh karena itu, sebelum kita membantu pendengar memahami isi puisi, terlebih dahulu kita harus  memahaminya. Paling  tidak  dalam  langkah ini  kita harus mampu menangkap apa makna yang  terkandung dalam puisi itu, apa makna simbol-simbiol yang ada dalam puisi itu,  dan bagaimana suasananya.
Penghayatan dalam seni baca puisi setidaknya tercermin dalam pemenggalan, nada dan intonasi, dan ekspresi.
Membaca puisi haruslah dipahami sebagai upaya menyampaikan sesuatu milik penyair kepada pendengar atau penonton. Tanpa mengetahui “sesuatu” itu, bagaimana mungkin kita dapat menyampaikannya kepada pendengar atau penonton. Pemahaman terhadap puisi pada dasarnya merupakan pemahaman terhadap sesuatu tersebut, yaitu segala hal yang ada dalam puisi yang akan disampaikan oleh penyair kepada pembacanya.
2.    Vokal
Setidaknya ada empat hal yang menjadi perhatian utama dalam masalah vokal ini, yaitu kejelasan ucapan, jeda, ketahanan, dan kelancaran.
Setiap kata yang ada dalam puisi harus dapat didengar oleh pendengar atau penonton secara jelas. Jelas tidaknya ucapan ini menjadi kriteria utama vokal seorang pembaca puisi. Masalah warna suara seseorang tidak berhubungan langsung dengan kejelasan ucapan. Warna suara berat, tinggi, besar, atau kecil; semuanya dapat menghasilkan suara yang jelas bila pemiliknya rajin mengadakan pelatihan.

Selain kejelasan ucapan, kriteria vokal yang lain adalah masalah jeda. Pembaca puisi harus dapat mengatur jeda secara tepat. Di mana seorang pembaca boleh mengambil nafas dan berapa lama, menjadi faktor penting yang harus diperhatikan pembaca puisi supaya apa yang dibacakan sampai kepada pendengar atau  penonton.

Jeda tersebut berbeda-beda waktunya. Ada kalanya waktu untuk mengambil nafas hanya sedikit, misalnya pada baris “ketika langit bersih /kembali menampakkan bimasakti yang jauh”; ada pula waktunya cukup panjang.

Selain itu, masalah ketahanan dan kelancaran juga menjadi kriteria vokal yang baik. Yang dimaksud dengan ketahanan adalah kekuatan vokal dari awal pembacaan sampai akhir pembacaan puisi. Terutama untuk puisi panjang, ketahanan sangat dibutuhkan. Jangan sampai pada akhir pembacaan puisi kekuatan vokal sudah berkurang.

Yang dimaksud dengan kelancaran adalah kebenaran mengucapkan baris-baris puisi dari awal sampai akhir. Hal ini berkaitan dengan hafal tidaknya pembaca puisi pada puisi yang dibaca. Untuk pembaca puisi yang melakukan pembacaan secara spontan, biasanya pengucapan kata-kata atau baris-baris puisi tidak lancar.

3.    Penampilan

Masalah penampilan dalam membaca puisi menyangkut persoalan-persoalan teknik muncul, blocking dan pemanfaatan setting, gerakan tubuh, cara berpakaian.
Teknik muncul  adalah cara yang ditempuh  oleh pembaca puisi dalam memperlihatkan diri untuk kali pertamanya. Kesan baik dan mantap harus ditampilkan dalam kemunculan pertama. Hal ini penting karena keberhasilan dalam kemunculan pertama akan berpengaruh besar pada keberhasilan pembacaan selanjutnya.
Secara teoretis, pada saat pertama kita muncul di panggung, sebelum membaca puisi, kita harus menguasai panggung terlebih dahulu. Menguasai panggung dapat diartikan sebagai penguasaan terhadap lingkungan sekelilingnya. Langkah ini didasari pada pemikiran bahwa membaca puisi pada hakikatnya merupakan dialog antara pembaca puisi dan pendengar atau penonton. Dalam sebuah dialog, kesiapan kedua belah pihak harus dimunculkan secara bersama-sama. Dialog tidak akan berjalan dengan baik manakala salah satu pihak tidak siap.
Dalam pembacaan puisi juga demikian. Jika pendengar atau penonton belum siap mendengarkan, maka kalau kita memaksakan mulai membaca puisi, suasana dialogis  tidak akan tercipta. Oleh karena itu, begitu kita berdiri di panggung, sebelum puisi kita baca, kita terlebih dahulu harus menyatukan “hati” kita dengan hati pembaca atau penonton.
Hal kedua yang harus diperhatikan kaitannya dengan penampilan adalah blocking. Blocking mencakupi masalah bagaimana kita memosisikan tubuh kita pada saat membaca puisi. Apakah kita harus menghadap penonton, membelakangi, atau campuran keduanya, apakah kita harus duduk, berdiri, atau campuran keduanya, apakah kita harus berjalan-jalan, berdiri di satu tempat saja, atau gabungan keduanya; itu semua merupakan persoalan blocking. Pendek kata, bagaimana kita memanfaatkan ruang yang ada untuk memosisikan tubuh kita, itulah persoalan blocking.
Secara umum ada dua jenis blocking, yaitu blocking yang bersifat statis dan blocking yang bersifat dinamis. Blocking statis berarti blocking yang tidak menghendaki posisi pembaca bergerak ke berbagai arah. Sebaliknya, blocking dinamis berarti blocking yang menghendaki posisi pembaca bergerak ke berbagai arah.
Blocking ditentukan oleh puisi yang kita baca. Ada puisi yang menghendaki blocking secara statis, ada pula yang menghendaki blocking dinamis. Puisi “Asmaradana” karya Goenawan Mohamad, misalnya, tentu akan sesuai kita baca dengan model blocking statis. Sebaliknya, puisi “Aku” karya Chairil Anwar, tentu akan sesuai jika kita baca dengan model blocking dinamis.
Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun,
karena angin pada kemuning. Ia dengar resah kuda serta langkah
pedati ketika langit bersih kembali menampakkan bimasakti
yang jauh. Tapi di antara mereka berdua, tidak ada yang berkata-kata.
Lalu ia ucapkan perpisahan itu, kematian itu. Ia melihat peta,
nasib, perjalanan dan sebuah peperangan yang tak semua disebutkan.
Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis. Sebab bila esok
pagi pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara,
ia tak akan mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba,
karena ia tak berani lagi
Anjasmara, adikku, tinggallah, seperti dulu.
Bulan pun lamban dalam angin, abai dalam waktu.
Lewat remang dan kunang-kunang,
kau lupakan wajahku, kulupakan wajahmu.

Pembelajaran membaca puisi tersebut dapat dilakukan dengan langkah sebagai berikut: 
Membuat baris pembacaan
Langkah pertama pembelajaran membaca puisi adalah mengajak anak untuk bersama-sama mengubah baris-baris puisi menjadi baris pembacaan.
ASMARADANA
Ia dengar kepak sayap kelelawar
dan guyur sisa hujan dari daun, karena angin pada kemuning.
Ia dengar resah kuda serta langkah pedati
ketika langit bersih kembali menampakkan bimasakti yang jauh.
Tapi di antara mereka berdua, tidak ada yang berkata-kata.
Lalu ia ucapkan perpisahan itu, kematian itu.
Ia melihat peta, nasib, perjalanan dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan.
Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis.
Sebab bila esok pagi pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara,
ia tak akan mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba,
karena ia tak berani lagi.
Anjasmara, adikku, tinggallah, seperti dulu.
Bulan pun lamban dalam angin, abai dalam waktu.
Lewat remang dan kunang-kunang,
kaulupakan wajahku, kulupakan wajahmu.
Membuat Pemenggalan Pembacaan
Inti pembacaan puisi sebenarnya ada pada pemenggalan. Pemenggalan sendiri merupakan inti penghayatan. Oleh karena itu, setelah kita mengubah baris-baris puisi menjadi baris-baris pembacaan, langkah berikutnya yang harus kita lakukan adalah menentukan pemenggalan dengan menunjukkan tempat-tempat yang tepat untuk memenggal dan mengambil nafas. Sebagai bahan pelatihan, berikut dieberikan contoh langkah-langkah pembacaan puisi “Asmaradana” karya Goenawan Mohammad.
ASMARADANA
Ia dengar kepak sayap kelelawar /
dan guyur sisa hujan dari daun / karena angin pada kemuning //
Ia dengar resah kuda / serta langkah pedati /
ketika langit bersih kembali menampakkan bimasakti yang jauh //
Tapi di antara mereka berdua / tidak ada yang berkata-kata //
Lalu ia ucapkan perpisahan itu / kematian itu//
Ia melihat peta / nasib / perjalanan / dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan //
Lalu / ia tahu perempuan itu tak akan menangis //
Sebab bila esok pagi / pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara /
ia tak akan mencatat yang telah lewat / dan yang akan tiba /
karena ia tak berani lagi //
Anjasmara  adikku / tinggallah seperti dulu //
Bulan pun lamban dalam angin / abai daam waktu //
Lewat remang dan kunang-kunang /
kaulupakan wajahku / kulupakan wajahmu //
Memberi Jiwa pada Puisi yang Dibaca
Langkah terakhir dalam berlatih membaca puisi adalah menjiwai puisi tersebut. Setelah kita dapat membaca dengan ucapan dan tempo yang benar, penghayatan penuh harus kita lakukan. Dengan demikian, jiwa kita harus menyatu dengan jiwa puisi tersebut. Hal ini akan menjadikan suasana puisi akan muncul dalam pembacaan dan gerakan anggota tubuh, serta ekspresi akan mengikutinya. Gerakan-gerakan anggota tubuh dalam pembacaan puisi yang benar memang tidak kita siapkan, karena akan muncul dengan sendirinya sebagai akibat penghayatan kita terhadap puisi. Dengan demikian kita tidak akan overacting.
Memberikan jiwa pada puisi selain akan menghidupkan suasana dalam pembacaan puisi juga akan memberikan kewibawaan pada pembaca puisi. Pembaca puisi yang menjiwai secara benar puisi yang dibacanya akan mampu memukau atau paling tidak membuat pendengar atau penonton tidak berpaling dari pembacaan puisi yang dimaksud.

Dasar pemberian jiwa dalam pembacaan puisi adalah suasana dan makna puisi. Dalam membaca puisi “Doa Seorang pensiunan Hakim pada Jaman Penjajahan”, misalnya, suasana khusuk harus mendasari penjiwaan pembacaan puisi tersebut. Kekhusukan dalam berdoa yang disertai penyesalan atas kesalahan yang telah diperbuat harus tampak dalam pembacaan puisi tersebut.

0 komentar:

Posting Komentar

 
berita unik