1. Penghayatan
Menghayati berarti memahami secara
penuh isi puisi. Dengan pemahaman itulah kita sebagai pembaca puisi dapat
menyatukan jiwa puisi dengan jiwa kita sendiri. Pemahaman terhadap puisi yang
dikategorikan dalam penghayatan ini tidak sekadar memahami makna kata-kata atau
baris-baris puisi, tetapi sampai pada pemahaman atas makna yang terkandung
dalam puisi dan suasana puisi itu sendiri.
Pemahaman akan isi puisi harus dilakukan oleh pembaca
puisi. Membaca puisi adalah upaya membantu pendengar atau penonton untuk dapat
memahami isi puisi tersebut. Oleh karena itu, sebelum kita membantu pendengar
memahami isi puisi, terlebih dahulu kita harus
memahaminya. Paling tidak dalam
langkah ini kita harus mampu
menangkap apa makna yang terkandung
dalam puisi itu, apa makna simbol-simbiol yang ada dalam puisi itu, dan bagaimana suasananya.
Penghayatan dalam
seni baca puisi setidaknya tercermin dalam pemenggalan, nada dan intonasi, dan
ekspresi.
Membaca puisi
haruslah dipahami sebagai upaya menyampaikan sesuatu milik penyair kepada
pendengar atau penonton. Tanpa mengetahui “sesuatu” itu, bagaimana mungkin kita
dapat menyampaikannya kepada pendengar atau penonton. Pemahaman terhadap puisi
pada dasarnya merupakan pemahaman terhadap sesuatu tersebut, yaitu segala hal
yang ada dalam puisi yang akan disampaikan oleh penyair kepada pembacanya.
2. Vokal
Setidaknya ada empat hal yang menjadi
perhatian utama dalam masalah vokal ini, yaitu kejelasan ucapan, jeda,
ketahanan, dan kelancaran.
Setiap kata yang ada dalam puisi harus
dapat didengar oleh pendengar atau penonton secara jelas. Jelas tidaknya ucapan
ini menjadi kriteria utama vokal seorang pembaca puisi. Masalah warna suara
seseorang tidak berhubungan langsung dengan kejelasan ucapan. Warna suara
berat, tinggi, besar, atau kecil; semuanya dapat menghasilkan suara yang jelas
bila pemiliknya rajin mengadakan pelatihan.
Selain kejelasan ucapan, kriteria vokal yang lain adalah masalah jeda. Pembaca puisi harus dapat mengatur jeda secara tepat. Di mana seorang pembaca boleh mengambil nafas dan berapa lama, menjadi faktor penting yang harus diperhatikan pembaca puisi supaya apa yang dibacakan sampai kepada pendengar atau penonton.
Jeda tersebut berbeda-beda waktunya. Ada kalanya waktu untuk mengambil nafas hanya sedikit, misalnya pada baris “ketika langit bersih /kembali menampakkan bimasakti yang jauh”; ada pula waktunya cukup panjang.
Selain itu, masalah ketahanan dan kelancaran juga menjadi kriteria vokal yang baik. Yang dimaksud dengan ketahanan adalah kekuatan vokal dari awal pembacaan sampai akhir pembacaan puisi. Terutama untuk puisi panjang, ketahanan sangat dibutuhkan. Jangan sampai pada akhir pembacaan puisi kekuatan vokal sudah berkurang.
Yang dimaksud dengan kelancaran adalah kebenaran mengucapkan baris-baris puisi dari awal sampai akhir. Hal ini berkaitan dengan hafal tidaknya pembaca puisi pada puisi yang dibaca. Untuk pembaca puisi yang melakukan pembacaan secara spontan, biasanya pengucapan kata-kata atau baris-baris puisi tidak lancar.
3. Penampilan
Masalah penampilan dalam membaca puisi
menyangkut persoalan-persoalan teknik muncul, blocking dan pemanfaatan
setting, gerakan tubuh, cara berpakaian.
Teknik muncul adalah cara yang ditempuh oleh pembaca puisi dalam memperlihatkan diri
untuk kali pertamanya. Kesan baik dan mantap harus ditampilkan dalam kemunculan
pertama. Hal ini penting karena keberhasilan dalam kemunculan pertama akan
berpengaruh besar pada keberhasilan pembacaan selanjutnya.
Secara teoretis, pada saat pertama kita
muncul di panggung, sebelum membaca puisi, kita harus menguasai panggung
terlebih dahulu. Menguasai panggung dapat diartikan sebagai penguasaan terhadap
lingkungan sekelilingnya. Langkah ini didasari pada pemikiran bahwa membaca
puisi pada hakikatnya merupakan dialog antara pembaca puisi dan pendengar atau
penonton. Dalam sebuah dialog, kesiapan kedua belah pihak harus dimunculkan
secara bersama-sama. Dialog tidak akan berjalan dengan baik manakala salah satu
pihak tidak siap.
Dalam pembacaan
puisi juga demikian. Jika pendengar atau penonton belum siap mendengarkan, maka
kalau kita memaksakan mulai membaca puisi, suasana dialogis tidak akan tercipta. Oleh karena itu, begitu
kita berdiri di panggung, sebelum puisi kita baca, kita terlebih dahulu harus
menyatukan “hati” kita dengan hati pembaca atau penonton.
Hal kedua yang
harus diperhatikan kaitannya dengan penampilan adalah blocking. Blocking mencakupi masalah bagaimana kita memosisikan
tubuh kita pada saat membaca puisi. Apakah kita harus menghadap penonton,
membelakangi, atau campuran keduanya, apakah kita harus duduk, berdiri, atau
campuran keduanya, apakah kita harus berjalan-jalan, berdiri di satu tempat
saja, atau gabungan keduanya; itu semua merupakan persoalan blocking. Pendek kata, bagaimana kita
memanfaatkan ruang yang ada untuk memosisikan tubuh kita, itulah persoalan blocking.
Secara umum ada
dua jenis blocking, yaitu blocking yang bersifat statis dan blocking yang bersifat dinamis. Blocking statis berarti blocking yang tidak menghendaki posisi
pembaca bergerak ke berbagai arah. Sebaliknya, blocking dinamis berarti blocking
yang menghendaki posisi pembaca bergerak ke berbagai arah.
Blocking ditentukan oleh puisi yang kita baca. Ada puisi yang
menghendaki blocking secara statis,
ada pula yang menghendaki blocking
dinamis. Puisi “Asmaradana” karya Goenawan Mohamad, misalnya, tentu akan sesuai
kita baca dengan model blocking
statis. Sebaliknya, puisi “Aku” karya Chairil Anwar, tentu akan sesuai jika
kita baca dengan model blocking
dinamis.
Ia dengar kepak
sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun,
karena angin pada
kemuning. Ia dengar resah kuda serta langkah
pedati ketika
langit bersih kembali menampakkan bimasakti
yang jauh. Tapi di
antara mereka berdua, tidak ada yang berkata-kata.
Lalu ia ucapkan
perpisahan itu, kematian itu. Ia melihat peta,
nasib, perjalanan
dan sebuah peperangan yang tak semua disebutkan.
Lalu ia tahu
perempuan itu tak akan menangis. Sebab bila esok
pagi pada rumput
halaman ada tapak yang menjauh ke utara,
ia tak akan
mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba,
karena ia tak
berani lagi
Anjasmara, adikku,
tinggallah, seperti dulu.
Bulan pun lamban
dalam angin, abai dalam waktu.
Lewat remang dan
kunang-kunang,
kau lupakan
wajahku, kulupakan wajahmu.
Pembelajaran
membaca puisi tersebut dapat dilakukan dengan langkah sebagai berikut:
Membuat baris pembacaan
Langkah pertama
pembelajaran membaca puisi adalah mengajak anak untuk bersama-sama mengubah
baris-baris puisi menjadi baris pembacaan.
ASMARADANA
Ia dengar kepak
sayap kelelawar
dan guyur sisa
hujan dari daun, karena angin pada kemuning.
Ia dengar resah
kuda serta langkah pedati
ketika langit
bersih kembali menampakkan bimasakti yang jauh.
Tapi di antara
mereka berdua, tidak ada yang berkata-kata.
Lalu ia ucapkan
perpisahan itu, kematian itu.
Ia melihat peta, nasib, perjalanan dan sebuah peperangan
yang tak semuanya disebutkan.
Lalu ia tahu
perempuan itu tak akan menangis.
Sebab bila esok pagi pada rumput halaman ada tapak yang
menjauh ke utara,
ia tak akan mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba,
karena ia tak
berani lagi.
Anjasmara, adikku,
tinggallah, seperti dulu.
Bulan pun lamban
dalam angin, abai dalam waktu.
Lewat remang dan
kunang-kunang,
kaulupakan
wajahku, kulupakan wajahmu.
Membuat Pemenggalan Pembacaan
Inti pembacaan puisi sebenarnya ada
pada pemenggalan. Pemenggalan sendiri merupakan inti penghayatan. Oleh karena
itu, setelah kita mengubah baris-baris puisi menjadi baris-baris pembacaan,
langkah berikutnya yang harus kita lakukan adalah menentukan pemenggalan dengan
menunjukkan tempat-tempat yang tepat untuk memenggal dan mengambil nafas.
Sebagai bahan pelatihan, berikut dieberikan contoh langkah-langkah pembacaan
puisi “Asmaradana” karya Goenawan Mohammad.
ASMARADANA
Ia dengar kepak sayap kelelawar /
dan guyur sisa
hujan dari daun / karena angin pada kemuning //
Ia dengar resah
kuda / serta langkah pedati /
ketika langit
bersih kembali menampakkan bimasakti yang jauh //
Tapi di antara
mereka berdua / tidak ada yang berkata-kata //
Lalu ia ucapkan
perpisahan itu / kematian itu//
Ia melihat peta / nasib / perjalanan / dan sebuah
peperangan yang tak semuanya disebutkan //
Lalu / ia tahu
perempuan itu tak akan menangis //
Sebab bila esok
pagi / pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara /
ia tak akan
mencatat yang telah lewat / dan yang akan tiba /
karena ia tak
berani lagi //
Anjasmara adikku / tinggallah seperti dulu //
Bulan pun lamban
dalam angin / abai daam waktu //
Lewat remang dan
kunang-kunang /
kaulupakan wajahku
/ kulupakan wajahmu //
Memberi Jiwa pada
Puisi yang Dibaca
Langkah terakhir
dalam berlatih membaca puisi adalah menjiwai puisi tersebut. Setelah kita dapat
membaca dengan ucapan dan tempo yang benar, penghayatan penuh harus kita
lakukan. Dengan demikian, jiwa kita harus menyatu dengan jiwa puisi tersebut.
Hal ini akan menjadikan suasana puisi akan muncul dalam pembacaan dan gerakan
anggota tubuh, serta ekspresi akan mengikutinya. Gerakan-gerakan anggota tubuh
dalam pembacaan puisi yang benar memang tidak kita siapkan, karena akan muncul
dengan sendirinya sebagai akibat penghayatan kita terhadap puisi. Dengan
demikian kita tidak akan overacting.
Memberikan jiwa
pada puisi selain akan menghidupkan suasana dalam pembacaan puisi juga akan
memberikan kewibawaan pada pembaca puisi. Pembaca puisi yang menjiwai secara
benar puisi yang dibacanya akan mampu memukau atau paling tidak membuat
pendengar atau penonton tidak berpaling dari pembacaan puisi yang dimaksud.
Dasar pemberian
jiwa dalam pembacaan puisi adalah suasana dan makna puisi. Dalam membaca puisi
“Doa Seorang pensiunan Hakim pada Jaman Penjajahan”, misalnya, suasana khusuk
harus mendasari penjiwaan pembacaan puisi tersebut. Kekhusukan dalam berdoa
yang disertai penyesalan atas kesalahan yang telah diperbuat harus tampak dalam
pembacaan puisi tersebut.
0 komentar:
Posting Komentar