Translate

teknik pembelajaran puisi

Written By iqbal_editing on Minggu, 04 September 2016 | 07.30

Pembelajaran menulis puisi merupakan salah satu ketrampilan bidang apresisasi sastra yang harus dikuasai oleh siswa SMA. Akan tetapi, pada kenyataannya pembelajaran menulis puisi di sekolah masih banyak kendala dan kecenderungan untuk dihindari. Pembelajaran berfungsi sebagai jalan menuju peningkatan kecerdasan intelektual dan emosional.
Kecerdasa intelektual sangat penting untuk jalan keberhasilan seorang siswa dalam belajar, tetapi menurut penelitian konsep kecerdasan memiliki sejarah yang panjang mungkin setua umur manusia itu sendiri. Pada akhir abad kesembilan belas para pakar psikologi mengakui kecerdasan sebagai karakteristik pribadi manusia. Beberapa penelitian menjelaskan bahwa kecerdasan intelektual hanya mempengaruhi kecerdasan seseorang hanya sekitar 10-25%. Ini berarti bahwa tiga perempat penilaian seseorang bukanlah hasil IQ tetapi dari kecerdasan lainnya yaitu kecerdasan jamak atau ganda ( diunduh dari http://pusatbahasa.diknas.go.id).
Pembelajaran menulis puisi dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam mengapresiasi karya sastra. Hal itu berkaitan erat dengan latihan mempertajam perasaan, penalaran, dan daya khayal, serta kepekaan terhadap masyarakat, budaya dan lingkungan hidup. Seperti yang diungkapkan oleh Pradopo (1987) bahwa puisi adalah ekspresi kreatif, yaitu ekspresi dari aktivitas jiwa yang memusatkan kesan-kesan (kondensasi). Kesan-kesan dapat diperoleh melalui pengalaman dan lingkungan. Oleh karena itu, anggapan bahwa menulis puisi sebagai aktifitas yang sulit sudah seharusnya dihilangkan, khususnya siswa SMA, karena mereka merupakan siswa yang rata-rata berusia remaja dewasa. Pada usia tersebut anak dalam masa yang baik untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada pada dirinya agar secara leluasa dapat mengekspresikan perasannya, dan tidak jarang melahirkan kritik sosial. Saat ini pembelajaran menulis kreatif puisi cenderung teoretis informative, bukan apresiasif produktif. Menurut Budi Prasetyo(2007) belajar yang diciptakan guru di dalam kelas hanya sebatas memberikan informasi pengetahuan sastra sehingga kemampuan mengapresiasi dan kemampuan mencipta kurang mendapat perhatian. Yang terjadi adalah proses transfer pengetahuan tentang sastra dari guru pada siswa. Siswa kurang mendapat kesempatan untuk melakukan konstruksi pengetahuan dan melakukan pengembangan pengetahuan itu menjadi sebuah produk pengetahuan baru.
Pembelajaran menulis puisi dapat terjadi dengan efektif jika guru dapat menerapkan setrategi-strategi pembelajaran yang dapat memberikan peluang kepada siswa untuk lebih aktif, kreatif, dan inovatif. Setrategi yang dipilih diharapkan dapat mebuat siswa mempunyai keyakinan bahwa dirinya mampu belajar, yang dapat memanfaatkan potensi siswa seluas-luasnya.
Peran aktif siswa dalam proses belajar-mengajar mutlak terjadi. Dr Oemar Hamalik mengemukakan delapan kelompok perbuatan belajar aktif.
1) Kegiatan-kegiatan visual: membaca, melihat gambar-gambar, mengamati eksperimen, demonstrasi, pameran, mengamati orang lain bekerja, atau bermain.
2) Kegiatan-kegiatan lisan (oral): mengemukakan suatu fakta atau prinsip, menghubungkan suatu kejadian, mengajukan pertanyaan, memberi saran, mengemukakan pendapat, berwawancara, diskusi.
3) Kegiatan-kegiatan mendengarkan: mendengarkan penyajian bahan, mendengarkan percakapan atau diskusi kelompok, mendengarkan suatu permainan instrumen musik, mendengarkan siaran radio.
4) Kegiatan-kegiatan menulis: menulis cerita, menulis laporan, memeriksa karangan, bahan-bahan kopi, membuat sketsa, atau rangkuman, mengerjakan tes, mengisi angket.
5) Kegiatan-kegiatan menggambar: menggambar, membuat grafik, diagram, peta, pola.
6) Kegiatan-kegiatan metrik: melakukan percobaan, memilih alat-alat, melaksanakan pameran, membuat model, menyelenggarakan permainan (simulasi), menari, berkebun.
7) Kegiatan-kegiatan mental: merenungkan, mengingat, memecahkan masalah, menganalisis faktor-faktor, menemukan hubungan-hubungan, membuat keputusan.
8) Kegiatan-kegiatan emosional: minat, membedakan, berani, tenang dan sebagainya ( diunduh dari http://www.tiranus.net/2007).
Berdasarkan pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran menulis puisi sudah seharusnya mengalami perubahan, tentunya inovasi yang dapat meningkatkan kreatifitas menulis puisi siswa. Perubahan itu dapat terletak pada pemilihan metode, model, atau pun teknik mengajarnya. Pada intinya pembelajaran menulis puisi bertujuan untuk meningkatkan intelektualitas siswa yaitu mempertajam perasaan, penalaran, dan daya khayal, serta kepekaan terhadap masyarakat, budaya dan lingkungan hidup.
Manfaat Pembelajaran Menulis Puisi Bagi Siswa
Pembelajaran menulis merupakan tindak lanjut dari kegiatan membaca. Dengan membaca siswa dapat menemukan berbagai pengalaman. Siswa dapat memperoleh pengalaman batin dari ide-ide yang di tuangkan oleh pengarang atau penyair. Melalui tulisannya itu pengarang/penyair ingin mengungkapkan pengalaman dan memberikan pandangan hidup kepada para pembaca.
Bahasa puisi merupakan bahasa yang padat (kondensasi) yang memuat bermacam makna. Dengan membaca puisi siswa akan memetik dan memperkaya perbendaharaan kosakatanya. Sehubungan dengan itu, kegiatan menulis puisi akan menjadi wahana mengapresiasi tentang berbagai hal, baik kritik sosial atau pun pencurahan perasaannya. Selain itu kegiatan menulis merupakan kegiatan yang akan mengembangkan kecerdasan intelektual siswa.
Menurut Suwarjo (2006) manfaat menulis sastra (puisi) bagi anak adalah dapat menumbhkan kesadaran sosisal serta menjadi media sosialisasi diri pada kehidupan bermasyarakat (diunduh dari http://kantongsastra.blogspot.com).
Sedangkan menurut Amin Mustofa (2008) pembelajaran keterampilan menulis puisi akan banyak bermanfaat bagi para siswa. Di antaranya untuk membantu kecakapan berbahasa, meningkatkan pengetahuan budaya, mengasah imajinasi, mengembangkan cipta dan rasa, mecetak siswa menjadi manusia kreatif, menunjang pembentukan watak, meningkatkan kepekaan emosi siswa terhadap masalah di sekitarnya, dan sejumlah manfaat lainnya (diunduh dari http://jurnaljpi.files.wordpress
.com).
Berdasarkan pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa kegiatan menulis puisi memberikan beberapa manfaat bagi siswa. Dengan menulis puisi siswa dapat menumbuhkan kesadaran sosial dan imajinasi.
PEMBELAJARAN MENULIS PUISI DENGAN TEKNIK TERATAI
Semua bentuk pembelajaran baik itu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis harus bersifat terpadu dan komunikatif, demikian pula pembelajaran dengan teknik Teratai. Dari frasa pengajaran bahasa terpadu ditemukan ada empat ciri-ciri pengajaran bahasa terpadu. Dari frasa pengajaran komunikatif ditemukan tujuh ciri-ciri pengajaran bahasa komunikatif. Kesimpulannya, ciri-ciri pengajaran bahasa terpadu dan komunikatif ada sebelas butir seperti tertulis berikut.
Ciri-ciri Pengajaran Bahasa Terpadu dan Komunikatif
  1. Terpadu dalam tujuan.
  2. Terpadu dalam bahan dengan mata pelajaran lain.
  3. Terpadu dalam kegiatan belajar.
  4. Terpadu dalam wadah pembelajaran (Tematis).
  5. Belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi.
  6. Pembelajaran bahasa berlangsung secara kontekstual dan fungsional.
  7. Makna lebih dipentingkan daripada struktur bahasa.
  8. Membaca dan menulis dapat dimulai sejak dini.
  9. Cara belajar aktif.
  10. Kesalahan berbahasa adalah bagian dari proses belajar.
  11. Keanekaan sumber belajar ( diunduh dari http://pustaka.ut.ac.id/learning/2008)
Teratai merupakan teknik mengajar yang bersumber pada metode kontekstual. Dalam teknik ini terdapat tiga kegiatan dasar, sesuai dengan nama teknik tersebut. Ter; terjun, at; amati, ai; rangkai.
1 Terjun
Terjun di sini mengandung pengertian melakukan pembelajaran dengan memanfaatkan alam lingkungan. Alam lingkungan memuat berbagai objek; tumbuhan, hewan, langit, matahari, sungai dll; yang memungkinkan siswa dapat memetik pelajaran darinya. Guru berperan sebagai pemandu dan memberikan rambu-rambu apa yang harus dilakukan siswa dengan banyaknya obyek di alam ini- mengarang cerita, membuat puisi dll- yang dalam hal ini ditujukan dalam pembelajaran menulis puisi.
Dengan langsung terjun kealam terbuka, siswa merasa senang karena tidak terkungkung dalam ruang yang minim dengan berbagai benda untuk dijadikan obyek bahan tulisannya. Menurut Ahmadi ( 1990:60) kita (siswa) mempunyai kemampuan untuk mengumpulkan informasi dari keadaan sekeliling lingkungan kita. Kita berinteraksi dengan lingkungan di sekitar kita secara konstan dan menyadari sumber-sumber informasi yang terpercaya. Kita merupakan sebagaian dari hukum kausal, kita merupakan faktor dalam ekuasi dunia, dank arena itu lingkungan terdekat kita selalu memberikan wawasan yang berguna sebagai sumber informasi yang tak habis-habisnya.
Ada beberapa hal yang harus dilakukan guru sebelum siswa terjun ke alam terbuka.
Pertama, guru menyampaikan tujuan
Tujuan siswa terjun kealam terbuka adalah untuk menemukan suatu pengalaman, pengalaman batin setelah mengamati suatu objek. Semisal, siswa ingin membuat puisi dengan tema ke indahan alam. Sebelumnya ia harus merumuskan terlebih dahulu apa-apa saja yang akan dia amati untuk mendukung penciptaan puisinya nanti. Dengan demikian apap yang telah diamati tetap terkait dengan tema yang sudah direncanakan.
Kedua, guru menyampaikan beberapa materi tentang puisi
Dalam kegiatan awal materi yang diberikan hendaknya jangan terlalu berlebih, secukupnya saja karena akan membingungkan siswa. Cukuplah dengan menjelaskan dan meberikan contoh tentang macam-macam pengimajian dan sarana retorika.
Dengan mengetahui macam dan bagaimana membentuk pengimajian, maka siswa akan mengamati dengan daya khayal tentang suatu objek, semisal aku melihat daun yang berguguran, jalanan yang panas dll. Dari sinilah mulai terbentuk bangunan sebuah puisi, tentunya puisi siswa yang menarik dengan beragam keunikannya. Selanjutnya siswa mulai menggabungkannya dengan beberapa sarana retorika, misalkan metafora.
2 Amati
Amati di sini mengandung pengertian, siswa melakukan pengamatan terhadap berbagai obyek di alam sekitar. Seperti disebutkan di atas, obyek itu dapat berupa benda hidup maupun benda mati. Benda hidup contohnya, pohon, burung, semut, manusia, dsb. Sedangkan benda mati dapat berupa, rumah, bangunan, jalan, air dsb. Dalam melakukan pengamatan tentunya siswa terlebih dahulu menentukan tema yang ingin diangkat menjadi bangunan sebuah puisi. Peran guru sangat penting disini, guru harus memberikan penjelasan yang tentang materi puisi, namun perlu diingat pemberian materi itu jangan terlalu berlebih tapi juga jangan terlalu sedikit, secukupnya saja. Yang ditututut dalam pembelajaran model kontekstual adalah proses bukan melulu hasil. Jadi dalam membelajarkan materi guru harus jeli dan seleksi. Semisal, sebelum siswa terjun ke pembelajaran di alam terbuka, siswa terlebih dahulu diberikan contoh puisi yang di dalamnya mengandung pengimajian atau sarana retrorika. Hal itu dilakukan agar nantinya setelah siswa terjun ke pembelajaran alam siswa tidak akan mengalami kesulitan, maksudnya siswa tidak mengalami kesulitan yang akan mengganggu konsentrasinya.
3 Rangkai
Setelah siswa selesai mengamati dan menentukan apa-apa saja yang nanti akan dijadikannya sebagai bahan penciptaan puisi, selanjutnya siswa mulai menyusun dan merangkainya menjadi sebuah bangunan puisi. Bangunan puisi yang dicipta oleh siswa bukan berarti lengkap sesuai dengan unsur-unsur dalam puisi, tapi beberapa saja. Bila siswa sudah paham dengan penjelasan guru mengenai metafora atau citra perabaan, penglihatan dsb, maka penciptaan puisi hanya sebatas itu dulu saja, baru setelah siswa menguasainya dan mengalaminya dalam kegiatan penciptaan puisi maka tahap selanjutnya meningkat ke materi yang lebih jauh lagi.
Kita ambil contoh hasil amatan siswa:
Tema: kerusakan alam
Topik: sungai yang tercemar
Objek-objek yang diamati:
· Air
· Batu
· Sampah
· Sungai
· Ranting kering
· Lumpur
· Daun
Kata-kata hasil amatan:
· Air yang hitam
· Sampah menutupi aliran air
· Batu di terpa arus
· Daun berjatuhan
· Sungai yang keruh
· Lumpur hitam mengendap
· Ranting kering menghadang
Perangkaian hasil amatan menjadi bangunan puisi dengan kegiatan kreatif mengubah ke dalam bentuk sarana retorika ( metafora implisit) atau pun bentuk pencitraan/ pengimajian.
Sungaiku Sungai Kita
Ku berdiri di tepi sungai hitam yang dangkal
Sampah bergandengan membentuk segerombolan demonstran
Sesekali mereka menyelinap bebatuan
Bedungan dalam daun-daun pun berjatuhan
Inilah sungaiku yang hitam
Bagai endapan lumpurnya
Tambah lagi ranting menghadang
Sempurnalah kini
Ku berdiri menyoraki riuhnya sungai hitam
Sendiri dan terpesona
Berikut adalah contoh RPP pembelajaran menulis puisi dengan teknik Teratai:
1. Tujuan Pembelajaran
a. Siswa dapat mencatat bahan-bahan tulisan puisi dari obyek yang diamati
b. Siswa dapat menyusun puisi berdasarkan unsur-unsur puisi yang telah
dipahami.
c. Siswa dapat menyunting hasil kerja teman
2. Materi Pembelajaran
a. Unsur-unsur puisi
b. Menyusun puisi
3. Metode pembelajaran
a. Demonstrasi alam
b. Tanya-jawab
c. Inkuiri
d. Penugasan
4. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
a. Kegiatan awal
1) Guru menyampaikan kompetensi yang akan dicapai
2) Tanya-jawab mengenai puisi (pengertian dan unsur-unsurnya)
b. Kegiatan inti
1) Siswa menentukan tema puisi yang akan dibuat
2) Siswa terjun ke alam terbuka untuk mengamati objek-objek yang menjadi amatannya
3) Siswa membuat catatan tentang hasil amatannya
4) Siswa menyusun atau merangkainya menjadi sebuah bangunan puisi secara utuh.menyunting tulisan teman
c. Kegiatan akhir
1) Guru memberikan penguatan materi
2) Guru dan siswa melakukan refleksi
3) Guru memberikan tugas pada siswa
5. Sumber Belajar
a. Obyek yang ada di alam
b. Buku pelajaran Bahasa Indonesia
6. Penilaian
a. Teknik : tes tertulis, tes unjuk kerja
b. Bentuk instrumen : tugas proyek
c. Soal / Instrumen :
1. Catatlah hasil pengamatanmu!
2. Susun dan rangkailah hasil observasimu!
3. Suntinglah puisi karya temanmu berdasarkan unsur-unsur dalam puisi
(gaya bahasa dan pencitraan)
Kriteria penilaian
Skor maksimal
1. Keragaman hasil amatan
2. Kemampuan dalam mencipta puisi
3. Kemampuan menyunting puisi karya teman
5
5
5

0 komentar:

Posting Komentar

 
berita unik