Pembelajaran
menulis puisi merupakan salah satu ketrampilan bidang apresisasi sastra
yang harus dikuasai oleh siswa SMA. Akan tetapi, pada kenyataannya
pembelajaran menulis puisi di sekolah masih banyak kendala dan
kecenderungan untuk dihindari. Pembelajaran berfungsi sebagai jalan
menuju peningkatan kecerdasan intelektual dan emosional.
Kecerdasa
intelektual sangat penting untuk jalan keberhasilan seorang siswa dalam
belajar, tetapi menurut penelitian konsep kecerdasan memiliki sejarah
yang panjang mungkin setua umur manusia itu sendiri. Pada akhir abad
kesembilan belas para pakar psikologi mengakui kecerdasan sebagai
karakteristik pribadi manusia. Beberapa penelitian menjelaskan bahwa
kecerdasan intelektual hanya mempengaruhi kecerdasan seseorang hanya
sekitar 10-25%. Ini berarti bahwa tiga perempat penilaian seseorang
bukanlah hasil IQ tetapi dari kecerdasan lainnya yaitu kecerdasan jamak
atau ganda ( diunduh dari http://pusatbahasa.diknas.go.id).
Pembelajaran
menulis puisi dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan
siswa dalam mengapresiasi karya sastra. Hal itu berkaitan erat dengan
latihan mempertajam perasaan, penalaran, dan daya khayal, serta
kepekaan terhadap masyarakat, budaya dan lingkungan hidup. Seperti yang
diungkapkan oleh Pradopo (1987) bahwa puisi adalah ekspresi kreatif,
yaitu ekspresi dari aktivitas jiwa yang memusatkan kesan-kesan
(kondensasi). Kesan-kesan dapat diperoleh melalui pengalaman dan
lingkungan. Oleh karena itu, anggapan bahwa menulis puisi sebagai
aktifitas yang sulit sudah seharusnya dihilangkan, khususnya siswa SMA,
karena mereka merupakan siswa yang rata-rata berusia remaja dewasa. Pada
usia tersebut anak dalam masa yang baik untuk mengembangkan
potensi-potensi yang ada pada dirinya agar secara leluasa dapat
mengekspresikan perasannya, dan tidak jarang melahirkan kritik sosial.
Saat ini pembelajaran menulis kreatif puisi cenderung teoretis
informative, bukan apresiasif produktif. Menurut Budi Prasetyo(2007)
belajar yang diciptakan guru di dalam kelas hanya sebatas memberikan
informasi pengetahuan sastra sehingga kemampuan mengapresiasi dan
kemampuan mencipta kurang mendapat perhatian. Yang terjadi adalah proses
transfer pengetahuan tentang sastra dari guru pada siswa. Siswa kurang
mendapat kesempatan untuk melakukan konstruksi pengetahuan dan melakukan
pengembangan pengetahuan itu menjadi sebuah produk pengetahuan baru.
Pembelajaran
menulis puisi dapat terjadi dengan efektif jika guru dapat menerapkan
setrategi-strategi pembelajaran yang dapat memberikan peluang kepada
siswa untuk lebih aktif, kreatif, dan inovatif. Setrategi yang dipilih
diharapkan dapat mebuat siswa mempunyai keyakinan bahwa dirinya mampu
belajar, yang dapat memanfaatkan potensi siswa seluas-luasnya.
Peran
aktif siswa dalam proses belajar-mengajar mutlak terjadi. Dr Oemar
Hamalik mengemukakan delapan kelompok perbuatan belajar aktif.
1) Kegiatan-kegiatan
visual: membaca, melihat gambar-gambar, mengamati eksperimen,
demonstrasi, pameran, mengamati orang lain bekerja, atau bermain.
2) Kegiatan-kegiatan
lisan (oral): mengemukakan suatu fakta atau prinsip, menghubungkan
suatu kejadian, mengajukan pertanyaan, memberi saran, mengemukakan
pendapat, berwawancara, diskusi.
3) Kegiatan-kegiatan
mendengarkan: mendengarkan penyajian bahan, mendengarkan percakapan
atau diskusi kelompok, mendengarkan suatu permainan instrumen musik, mendengarkan siaran radio.
4) Kegiatan-kegiatan
menulis: menulis cerita, menulis laporan, memeriksa karangan,
bahan-bahan kopi, membuat sketsa, atau rangkuman, mengerjakan tes,
mengisi angket.
5) Kegiatan-kegiatan menggambar: menggambar, membuat grafik, diagram, peta, pola.
6) Kegiatan-kegiatan
metrik: melakukan percobaan, memilih alat-alat, melaksanakan pameran,
membuat model, menyelenggarakan permainan (simulasi), menari, berkebun.
7) Kegiatan-kegiatan
mental: merenungkan, mengingat, memecahkan masalah, menganalisis
faktor-faktor, menemukan hubungan-hubungan, membuat keputusan.
8) Kegiatan-kegiatan emosional: minat, membedakan, berani, tenang dan sebagainya ( diunduh dari http://www.tiranus.net/2007).
Berdasarkan
pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran menulis
puisi sudah seharusnya mengalami perubahan, tentunya inovasi yang dapat
meningkatkan kreatifitas menulis puisi siswa. Perubahan itu
dapat terletak pada pemilihan metode, model, atau pun teknik
mengajarnya. Pada intinya pembelajaran menulis puisi bertujuan untuk
meningkatkan intelektualitas siswa yaitu mempertajam perasaan,
penalaran, dan daya khayal, serta kepekaan terhadap masyarakat, budaya
dan lingkungan hidup.
Manfaat Pembelajaran Menulis Puisi Bagi Siswa
Pembelajaran
menulis merupakan tindak lanjut dari kegiatan membaca. Dengan membaca
siswa dapat menemukan berbagai pengalaman. Siswa dapat memperoleh
pengalaman batin dari ide-ide yang di tuangkan oleh pengarang atau
penyair. Melalui tulisannya itu pengarang/penyair ingin mengungkapkan
pengalaman dan memberikan pandangan hidup kepada para pembaca.
Bahasa
puisi merupakan bahasa yang padat (kondensasi) yang memuat bermacam
makna. Dengan membaca puisi siswa akan memetik dan memperkaya
perbendaharaan kosakatanya. Sehubungan dengan itu, kegiatan menulis
puisi akan menjadi wahana mengapresiasi tentang berbagai hal, baik
kritik sosial atau pun pencurahan perasaannya. Selain itu kegiatan
menulis merupakan kegiatan yang akan mengembangkan kecerdasan
intelektual siswa.
Menurut
Suwarjo (2006) manfaat menulis sastra (puisi) bagi anak adalah dapat
menumbhkan kesadaran sosisal serta menjadi media sosialisasi diri pada
kehidupan bermasyarakat (diunduh dari
http://kantongsastra.blogspot.com).
Sedangkan
menurut Amin Mustofa (2008) pembelajaran keterampilan menulis puisi
akan banyak bermanfaat bagi para siswa. Di antaranya untuk membantu
kecakapan berbahasa, meningkatkan pengetahuan budaya, mengasah
imajinasi, mengembangkan cipta dan rasa, mecetak siswa menjadi manusia
kreatif, menunjang pembentukan watak, meningkatkan kepekaan emosi siswa
terhadap masalah di sekitarnya, dan sejumlah manfaat lainnya (diunduh
dari http://jurnaljpi.files.wordpress
.com).
Berdasarkan
pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa kegiatan menulis puisi
memberikan beberapa manfaat bagi siswa. Dengan menulis puisi siswa dapat
menumbuhkan kesadaran sosial dan imajinasi.
PEMBELAJARAN MENULIS PUISI DENGAN TEKNIK TERATAI
Semua
bentuk pembelajaran baik itu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis
harus bersifat terpadu dan komunikatif, demikian pula pembelajaran
dengan teknik Teratai. Dari frasa pengajaran bahasa terpadu ditemukan
ada empat ciri-ciri pengajaran bahasa terpadu. Dari frasa pengajaran
komunikatif ditemukan tujuh ciri-ciri pengajaran bahasa komunikatif.
Kesimpulannya, ciri-ciri pengajaran bahasa terpadu dan komunikatif ada
sebelas butir seperti tertulis berikut.
Ciri-ciri Pengajaran Bahasa Terpadu dan Komunikatif
- Terpadu dalam tujuan.
- Terpadu dalam bahan dengan mata pelajaran lain.
- Terpadu dalam kegiatan belajar.
- Terpadu dalam wadah pembelajaran (Tematis).
- Belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi.
- Pembelajaran bahasa berlangsung secara kontekstual dan fungsional.
- Makna lebih dipentingkan daripada struktur bahasa.
- Membaca dan menulis dapat dimulai sejak dini.
- Cara belajar aktif.
- Kesalahan berbahasa adalah bagian dari proses belajar.
- Keanekaan sumber belajar ( diunduh dari http://pustaka.ut.ac.id/learning/2008)
Teratai
merupakan teknik mengajar yang bersumber pada metode kontekstual. Dalam
teknik ini terdapat tiga kegiatan dasar, sesuai dengan nama teknik
tersebut. Ter; terjun, at; amati, ai; rangkai.
1 Terjun
Terjun
di sini mengandung pengertian melakukan pembelajaran dengan
memanfaatkan alam lingkungan. Alam lingkungan memuat berbagai objek;
tumbuhan, hewan, langit, matahari, sungai dll; yang memungkinkan siswa
dapat memetik pelajaran darinya. Guru berperan sebagai pemandu dan
memberikan rambu-rambu apa yang harus dilakukan siswa dengan banyaknya
obyek di alam ini- mengarang cerita, membuat puisi dll- yang dalam hal
ini ditujukan dalam pembelajaran menulis puisi.
Dengan
langsung terjun kealam terbuka, siswa merasa senang karena tidak
terkungkung dalam ruang yang minim dengan berbagai benda untuk dijadikan
obyek bahan tulisannya. Menurut Ahmadi ( 1990:60) kita (siswa)
mempunyai kemampuan untuk mengumpulkan informasi dari keadaan sekeliling
lingkungan kita. Kita berinteraksi dengan lingkungan di sekitar kita
secara konstan dan menyadari sumber-sumber informasi yang terpercaya.
Kita merupakan sebagaian dari hukum kausal, kita merupakan faktor dalam
ekuasi dunia, dank arena itu lingkungan terdekat kita selalu memberikan
wawasan yang berguna sebagai sumber informasi yang tak habis-habisnya.
Ada beberapa hal yang harus dilakukan guru sebelum siswa terjun ke alam terbuka.
Pertama, guru menyampaikan tujuan
Tujuan
siswa terjun kealam terbuka adalah untuk menemukan suatu pengalaman,
pengalaman batin setelah mengamati suatu objek. Semisal, siswa ingin
membuat puisi dengan tema ke indahan alam. Sebelumnya ia harus
merumuskan terlebih dahulu apa-apa saja yang akan dia amati untuk
mendukung penciptaan puisinya nanti. Dengan demikian apap yang telah
diamati tetap terkait dengan tema yang sudah direncanakan.
Kedua, guru menyampaikan beberapa materi tentang puisi
Dalam
kegiatan awal materi yang diberikan hendaknya jangan terlalu berlebih,
secukupnya saja karena akan membingungkan siswa. Cukuplah dengan
menjelaskan dan meberikan contoh tentang macam-macam pengimajian dan
sarana retorika.
Dengan
mengetahui macam dan bagaimana membentuk pengimajian, maka siswa akan
mengamati dengan daya khayal tentang suatu objek, semisal aku melihat
daun yang berguguran, jalanan yang panas dll. Dari sinilah mulai
terbentuk bangunan sebuah puisi, tentunya puisi siswa yang menarik
dengan beragam keunikannya. Selanjutnya siswa mulai menggabungkannya
dengan beberapa sarana retorika, misalkan metafora.
2 Amati
Amati
di sini mengandung pengertian, siswa melakukan pengamatan terhadap
berbagai obyek di alam sekitar. Seperti disebutkan di atas, obyek itu
dapat berupa benda hidup maupun benda mati. Benda hidup contohnya,
pohon, burung, semut, manusia, dsb. Sedangkan benda mati dapat berupa,
rumah, bangunan, jalan, air dsb. Dalam melakukan pengamatan tentunya
siswa terlebih dahulu menentukan tema yang ingin diangkat menjadi
bangunan sebuah puisi. Peran guru sangat penting disini, guru harus
memberikan penjelasan yang tentang materi puisi, namun perlu diingat
pemberian materi itu jangan terlalu berlebih tapi juga jangan terlalu
sedikit, secukupnya saja. Yang ditututut dalam pembelajaran model
kontekstual adalah proses bukan melulu hasil. Jadi dalam membelajarkan
materi guru harus jeli dan seleksi. Semisal, sebelum siswa terjun ke
pembelajaran di alam terbuka, siswa terlebih dahulu diberikan contoh
puisi yang di dalamnya mengandung pengimajian atau sarana retrorika. Hal
itu dilakukan agar nantinya setelah siswa terjun ke pembelajaran alam
siswa tidak akan mengalami kesulitan, maksudnya siswa tidak mengalami
kesulitan yang akan mengganggu konsentrasinya.
3 Rangkai
Setelah
siswa selesai mengamati dan menentukan apa-apa saja yang nanti akan
dijadikannya sebagai bahan penciptaan puisi, selanjutnya siswa mulai
menyusun dan merangkainya menjadi sebuah bangunan
puisi. Bangunan puisi yang dicipta oleh siswa bukan berarti lengkap
sesuai dengan unsur-unsur dalam puisi, tapi beberapa saja. Bila siswa
sudah paham dengan penjelasan guru mengenai metafora atau citra
perabaan, penglihatan dsb, maka penciptaan puisi hanya sebatas itu dulu
saja, baru setelah siswa menguasainya dan mengalaminya dalam kegiatan
penciptaan puisi maka tahap selanjutnya meningkat ke materi yang lebih
jauh lagi.
Kita ambil contoh hasil amatan siswa:
Tema: kerusakan alam
Topik: sungai yang tercemar
Objek-objek yang diamati:
· Air
· Batu
· Sampah
· Sungai
· Ranting kering
· Lumpur
· Daun
Kata-kata hasil amatan:
· Air yang hitam
· Sampah menutupi aliran air
· Batu di terpa arus
· Daun berjatuhan
· Sungai yang keruh
· Lumpur hitam mengendap
· Ranting kering menghadang
Perangkaian hasil amatan menjadi bangunan puisi dengan kegiatan kreatif mengubah ke dalam bentuk sarana retorika ( metafora implisit) atau pun bentuk pencitraan/ pengimajian.
Sungaiku Sungai Kita
Ku berdiri di tepi sungai hitam yang dangkal
Sampah bergandengan membentuk segerombolan demonstran
Sesekali mereka menyelinap bebatuan
Bedungan dalam daun-daun pun berjatuhan
Inilah sungaiku yang hitam
Bagai endapan lumpurnya
Tambah lagi ranting menghadang
Sempurnalah kini
Ku berdiri menyoraki riuhnya sungai hitam
Sendiri dan terpesona
Berikut adalah contoh RPP pembelajaran menulis puisi dengan teknik Teratai:
1. Tujuan Pembelajaran
a. Siswa dapat mencatat bahan-bahan tulisan puisi dari obyek yang diamati
b. Siswa dapat menyusun puisi berdasarkan unsur-unsur puisi yang telah
dipahami.
c. Siswa dapat menyunting hasil kerja teman
2. Materi Pembelajaran
a. Unsur-unsur puisi
b. Menyusun puisi
3. Metode pembelajaran
a. Demonstrasi alam
b. Tanya-jawab
c. Inkuiri
d. Penugasan
4. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
a. Kegiatan awal
1) Guru menyampaikan kompetensi yang akan dicapai
2) Tanya-jawab mengenai puisi (pengertian dan unsur-unsurnya)
b. Kegiatan inti
1) Siswa menentukan tema puisi yang akan dibuat
2) Siswa terjun ke alam terbuka untuk mengamati objek-objek yang menjadi amatannya
3) Siswa membuat catatan tentang hasil amatannya
4) Siswa menyusun atau merangkainya menjadi sebuah bangunan puisi secara utuh.menyunting tulisan teman
c. Kegiatan akhir
1) Guru memberikan penguatan materi
2) Guru dan siswa melakukan refleksi
3) Guru memberikan tugas pada siswa
5. Sumber Belajar
a. Obyek yang ada di alam
b. Buku pelajaran Bahasa Indonesia
6. Penilaian
a. Teknik : tes tertulis, tes unjuk kerja
b. Bentuk instrumen : tugas proyek
c. Soal / Instrumen :
1. Catatlah hasil pengamatanmu!
2. Susun dan rangkailah hasil observasimu!
3. Suntinglah puisi karya temanmu berdasarkan unsur-unsur dalam puisi
(gaya bahasa dan pencitraan)
|
Kriteria penilaian
|
Skor maksimal
|
|
1. Keragaman hasil amatan
2. Kemampuan dalam mencipta puisi
3. Kemampuan menyunting puisi karya teman
|
5
5
5
|
0 komentar:
Posting Komentar