Model
definisi adalah model menulis puisi dengan memberi definisi atau arti terahadap
sesuatu. Kata kunci yang biasanya digunakan yaitu adalah. Siswa diajak
untuk menentukan terlebih dahulu kata yang akan didefinisikan. Langkah
berikutnya siswa mendefinisikan kata itu dalam beberapa definisi. Setelah itu,
siswa diminta untuk menambah definisinya menjadi definisi yang bisa direnungkan
atau mengandung pesan. Terakhir, siswa mencoba untuk memperindah bunyi definisi
menjadi puisi.. Berikut ini akan diberikan contoh menulis puisi dengan model
ini.
Langkah
1
Siswa diminta untuk memilih kata yang akan didefinisikan.
Sebagai contoh kata yang didefinisikan adalah putih.
Langkah 2
Siswa mendefinisikan
kata itu dalam beberapa definisi.
Putih
Putih adalah
bening
Putih adalah
bersih
Putih adalah suci
Putih adalah cinta
Langkah
3
Siswa
diminta untuk menambah definisinya menjadi definisi yang bisa direnungkan atau
mengandung pesan
Putih
Putih adalah bening
bola matamu, dengan cara sama menatapku
Putih adalah bersih
hatimu, tak pernah ada dendam walau muka penuh luka
Putih adalah suci
pribadimu, yang selalu menjaga hati dari nafsu
Putih adalah
pengabdianku, hormatku, dan kasih sayangku padamu Ibu
Langkah 4
Siswa mencoba
untuk memperindah bunyi definisi menjadi puisi.
Putih adalah bening
bola matamu, dengan cara sama menatapku
Yang senantiasa teduh
meredam gejolak emosiku
Yang senantiasa sejuk
menyegarkan kegelisahanku
Yang senantiasa setia
setiap aku memerlukanmu
Putih adalah bersih
hatimu, tak pernah ada dendam walau muka penuh luka
Yang tiada kehabisan
kata untuk bercerita
Yang tiada beban untuk
memaafkan
Yang selalu sayang sepanjang zaman
Putih adalah suci
pribadimu, yang selalu menjaga hati dari nafsu
Yang senantiasa
memberi tanpa meminta kembali
Yang senantiasa
menerima dengan tangan terbuka
Yang senantiasa
menjaga walau raga tanpa daya
Sekarang cobalah Anda membuat puisi dengan
model definisi seperti contoh di atas!
…………………….adalah………….
…………………….adalah………….
…………………….adalah………….
2. Model
Nama
Model
nama adalah cara menulis puisi dengan bantuan nama tertentu untuk menulis
puisi. Setelah puisi ini jadi, huruf pertama puisi ini bisa dibaca sebagai nama
sesuatu. Langkahnya adalah dengan menentukan terlebih dahulu nama yang akan
digunakan untuk menulis puisi. Langkah berikutnya, menuliskan nama itu berjajar dari
atas ke bawah. Dari awal huruf itu, kita mengembangkan menjadi sebuah
puisi.
Langkah 1
menentukan
terlebih dahulu nama, misalnya ODE
Langkah 2
Menuliskan nama berjajar dari atas ke bawah.
O
D
E
Langkah 3
mengembangkan
menjadi sebuah puisi
Oh,
siapakah yang berdiri di sana
Dengan
wajah seakan tanpa dosa
Entah dengan cara bagaimana aku dapat mengenalnya
Siapa nama Anda atau ingtlah nama
orang-orang yang berkesan di hati Anda? Cobalah Anda tulis nama itu menjadi puisi!
Misalnya nama Anda Andri
A………………………
N.........................
D………………………
R………………………
I……………………….
3. Deskripsi
Model deskprisi adalah model
menulis puisi dengan menggambarkan atau
melukiskan tempat, suasana, warna, bentuk, tingkah laku, waktu, peristiwa, dan
watak. Langkahnya adalah sebagai berikut.
- Tentukan terlebih dahulu hal yang ingin Anda deskripsikan/gambarkan. Misalnya, suatu tempat wisata!
- Buatlah deskripsi tersebut menjadi bahasa yang lebih puitis!
Berikut ini diberikan contoh-contoh puisi
yang disusun berdasarkan deskripsi
RUANG INI
(Sapardi
Djoko Damono)
Kau seolah mengerti: tak ada lubang angin
Di ruang terkunci ini
Seberkas bunga plastik di atas meja,
Asbak yang penuh, dan sebuah buku yang terbuka
Pada halaman pertama
Kaucari catatan kaki itu, sia-sia
DI DEPAN PINTU
(Sapardi Djoko Damono)
Di depan pintu: bayang-bayang bulan
Terdiam di rumput. Cahaya yang tiba-tiba pasang
Mengajaknya pergi
Menghitung jarak dengan sunyi
4. Kesan
Model kesan adalah model
menulis puisi dengan menuliskan kesan terhadap sesuatu. Kesan yang dimaksud
adalah menakutkan, bahagia, suka, benci, gemas, dan lain sebagainya. Langkahnya
adalah menentukan terlebih dahulu kesan yang ingin diciptakan. Kemudian
menentukan suasana yang mendukung kesan tersebut.
KAMAR
(Sapardi Djoko Damono)
Ketika kumasuki kamar ini
Pastidikenalnya kembali aku
Suara langkahku, nafasku
Dan ujung-ujung jari yang dulu menyentuhnya
Dan kali ini – pertemuan ini
Tanpa jam dinding
Bgitu saja di suatu sore hari
Sewaktu percakapan
tak diperlukan lagi
Tanpa
engah-engahan pendek
Tanpa “malam begitu cepat lalu!”
Dan kulihat bibir-bibirnya sembilu
Menoreh kenanganku
5,
Deskripsi dan Kesan
Model
deskripsi dan kesan adalah model menulis puisi dengan menggabungkan antara
gambaran terhadap sesuatu dengan kesan terhadap apa yang digambarkan itu.
Berikut ini akan diberikan contoh gabungan antara deskripsi dan kesan.
SEPASANG SEPATU TUA
(Sapardi Djoko Damono)
sepasang sepatu
tua tergeletak di sudut sebuah gudang,
berdebu
yang kiri terkenang akan aspal meleleh, yang kanan teringat
jalan berlumpur sehabis
hujan—keduanya telah jatuh
cinta kepada sepasang telapak kaki itu
yang kiri menerka mungkin besok mereka dibawa ke tempat
sampah dibakar bersama
seberkas surat cinta, yang
kanan mengira mungkin besok mereka
diangkut truk
sampah itu dibuang dan dibiarkan membusuk
bersama
makanan sisa
sepasang sepatu tua saling membisikkan sesuatu yang hanya
bisa mereka pahami berdua
Tanah Air
(Muhammad Yamin)
Pada batasan, bukit Barisan
Memandang aku, ke bawah memandang
Tampaklah hutan rimba dan ngarai;
Lagipun sawah, sungai yang permai;
Serta gerangan, lihatlah pula
Langit yang hijau bertukar warna
Oleh pucuk, daun kelapa;
Itulah tanah, tanah airku
Sumatra namanya, tumpah darahku.
Sesayup mata, hutan semata,
Bergunung bukit, lembah sedikit;
Jauh di sana, di sebelah situ,
Dipagari gunung satu persatu
Adalah gerangan sebuah surga,
Bukannya janat bumi kedua
—Firadus Melayu, di atas dunia!
Itulah tanah yang kusayangi
Sumatra namanya, yang kujunjungi
Pada batasan, bukit Barisan,
Memandang ke pantai, teluk permai;
Tampaklah air, air segala,
Itulah laut, samudra Hindia.
Tampaklah ombak, gelombang pelbagai
Memecah ke pasir,
lalu berderai,
Ia memekik,
berandai-randai:
“Wahai Andalas,
pulau Sumatra,
Harumkan nama, selatan utara!”
Bogor, Juli 1920
Ikan
(Wahyudi Siswanto)
aku lihat ikan di akuarium
tidak pernah memejamkan mata
lalu bagaimana ia menghitung hari dan kematian
barangkali memang tidak perlu dirisaukan
karena ia selalu berdzikir dengan mata dan siripnya
6. Pesan
Model
pesan adalah model menulis puisi dengan menuliskan pesan penyairnya. Pesan apa
yang hnedak disampaikan? Langkahnya adalah dengan menentukan pesan apa yang
akan disampaikan. Pesan ini diubah menjadi bahasa puitis. Berikut ini contoh
puisi model ini.
Kepada Penyair
(A. Mustofa Bisri)
Berhentilah menyanyi sendu
Tak menentu
Tentang gunung-gunung dan batu
Mega-mega dan awan kelabu
Tentang bulan yang gagu
Dan wanita yang bernafsu
Berhentilah bersembunyi
Dalam simbol-simbol banci
Berhentilah menganyam-anyam maya
Mengindah-indahkan cinta
Membesarbesarkan rindu
Berhentilah menyia-nyiakan daya
Memburu orgasme dengan tangan kelu
Berhentilah menjelajah lembah-lembah
Degan angan tanpa arah
Tengoklah kanan-kirimu
Lihatlah kelemahan di mana-mana
Membuat lelap dan kalap siapa saja
Lihatlah kekalapan dan kelelapan merajalela
Membabat segalanya
Lihatlah segalanya semena-mena
Mengroyok dan membiarkan nurani tak berdaya
Bangunlah
Asahlah huruf-hurufmu
Celupkan baris-baris sajakmu
Dalam cahya dzikir dan doa
Lalu tembakkan kebenaran
Dan biarkan Maha Benar
Yang menghajar kepongahan gelap
Dengan mahacahyaNya
Hujan, Terjunlah
(Zawawi imron)
Hujan, terjunlah ke lembah
Menghapus makna dalam jerit yang bisu
Pada lubang maut
Ku tanam kepedihan waktu
Dari rerumput kupetik gairahmu
Menyala bagi gendang yang gemuruh
Hujan!
Taburkan serbuk serbuk hati langit
Ke rawa rawa
Tempat jejak tak kekal
Biar kuseret sungai kelaut
Dan maut
Berdoa dalam hatiku
7.
Deskripsi dan pesan
Menulis puisi dengan deskripsi
dan pesan adalah model menulis puisi dengan terlebih dahulu mendeskripsikan
benda, tingkah laku, suasana, atau gejala. Puisi ini ditambah
pesan penulisnya. Berikut ini contoh puisi model ini.
Sarang Lebah
(Wahyudi Siswanto)
sel-sel tempat
penyimpanan madu di sarangnya
dibangun dari sudut
yang berbeda
pada akhirnya bertemu
di tengah
tanpa adanya
ketidakserasian atau rasa payah
(manusia takmampu membuat
bangunan yang rumit
tanpa perhitungan
geometris yang bikin dahi mengernyit
padahal lebah
melakukannya tanpa perdebatan sengit)
lebah, lebah
kepakkan sayapmu
untuk memberitahuku
siapa yang
memandaikanmu
8. Model Definisi, Deskripsi, Kesan,
dan Pesan
Model ini merupakan gabungan dari
definisi, deskripsi, kesan dan pesan. Berikut ini merupakan contoh puisi yang
menggunakan model tersebut.
GELAP
(Wahyudi Siswanto)
engkaulah tirai malam
tutupi terang
pencipta bayang-bayang
hari-hari terisi dengan nyanyian nina bobok
diiringi teriak jangkrik dan konser katak
tapi mengapa aku takut padamu
tidak bisakah engkau ceritakan
tentang indah mimpimu
Dari puisi di atas kita dapat mengetahui
langkah-langkah menulis puisi model ini sebagai berikut.
- membuat definisi;
(malam) engkaulah
tirai malam
- membuat deskripsi;
tutupi terang
pencipta bayang-bayang
hari-hari terisi dengan nyanyian nina bobok
diiringi teriak jangkrik dan konser katak
- membuat kesan; dan
tapi mengapa aku
takut padamu
- membuat pesan.
tidak bisakah
engkau ceritakan
tentang indah
mimpimu
9.
Copy Master
Teknik ini adalah teknik menulis puisi dengan
cara meniru sebuah puisi yang sudah jadi (terkenal). Yang perlu diingat,
Anda hanya meniru tekniknya.
Anda bisa
menggunakan model ini dengan memperhatikan langkah-langkah di bawah ini.
- Puisi yang hendak Anda tiru itu Anda ganti kata-katanya atau kalimatnya.
- Setelah Anda ganti beberapa kata atau kalimatnya, puisi itu Anda sesuaikan dengan keinginan Anda.
- Tentu saja hal itu bisa Anda sempurnakan sesuai dengan isi puisi. Sebagai contoh, perhatikan puisi di bawah ini!
PANAS
(Wahyudi
Siswanto)
siang ini
panas sekali
jangan
bertanya pada daun
mereka sedang
parade gugur
jangan
bertanya kepada akar
mereka
barangkali sedang sekarat
jangan bertanya
pada ranting
mereka sedang
berteriak melengking
mungkinkah
semua ini karena embun jiwa sudah enggan menyapa
ataukah
matahari serakah yang terus bertahta
Puisi ”Panas”
di atas bercerita tentang kegelisahan penyairnya pada suasana panas yang sedang
melanda daerahnya. Mengapa daerah penyair panas sekali, apakah ini karena ulah
manusia atau memang karena gejala alam. Penyair terus bertanya untuk mencari
jawab apa gerangan penyebab panas menyengat yang sedang melanda daerahnya.
Kita bisa mengubahnya
menjadi puisi yang mirip atau menjadi puisi lain. Kita bisa mengubah menjadi
puisi yang mirip bila yang kita ganti hanya kata-katanya saja. Isi puisi itu
tetap sama. Kata yang ada di dalam puisi itu kita ganti dengan kata yang sama
atau hampir sama artinya. Perhatikan contoh di bawah ini!
|
Pengubahan puisi
|
Puisi yang sudah
jadi
|
|
Cahaya
Menyengat
cahaya menyengat
ubun-ubun
aku
tak menanyakannya pada dedaun
kerna
mereka sedang berguguran
aku
takkan menanyakannya kepada akar
kerna
mereka sedang malas menjalar
aku
takkan tanya pada ranting pepohonan
kerna
mereka sedang berteriak meradang
mungkin
semua ini kerna
jiwa enggan saling
berbenah
atau mentari yang enggan beranjak dari singgasana
|
Cahaya Menyengat
siang ini cahaya menyengat ubun-ubun
aku takkan menanyakannya pada dedaun
kerna mereka sedang berguguran
aku takkan menanyakannya kepada akar
kerna mereka sedang malas menjalar
aku takkan tanya pada ranting pepohonan
kerna mereka sedang berteriak meradang
mungkin semua ini kerna
jiwa enggan saling berbenah
atau mentari yang enggan beranjak dari
singgasana
|
Latihan
Cobalah
Anda ubah puisi di bawah ini dengan menggunakan model copy master!
Sebelumnya, Anda bisa membaca kembali langkah-langkahnya yang sudah dijelaskan
di atas.
Ikan
aku lihat ikan di akuarium
tidak pernah memejamkan mata
lalu bagaimana ia menghitung hari dan kematian
barangkali memang tidak perlu dirisaukan
karena ia selalu berdzikir dengan mata dan siripnya
Daftar Bacaan
0 komentar:
Posting Komentar