Suatu karya sastra, khususnya novel selalu memiliki
relasi dengan pengarangnya. Berbagai aspek yang sangat berpangaruh dari
pengarang dalam menuangkan ide, gagasan kreatifnya dalam karya sastra. Aspek
sosial-budaya pengarang merupakan aspek yang paling berperan dalam
medeskripsikan cerita dalam sebuah novel.
Seperti halnya dalam novel “Matahari Diatas Gili” karya
Lintang Sugianto. Lintang sangat lihai dan cermat dalam mengisahkan para tokoh
dalam novel tersebut. Novel ini menceritakan tentang sejarah salah satu pulau
Gili yang terletak di kawasan Probolinggo Jawa Timur. Sebagai seorang pengarang
perempuan yang memilki kreatifitas tinggi, Ia menampilkan seorang tokoh wanita
yang cerdas dan memiliki semangat tinggi dalam memberikan manfaat yang terbaik
dalam masyarakatnya.
Pulau Gili yang digambarkan dalam novel ini merupakan
simbol kehidupan tradisional yang jauh akan pengaruh modern dalam segala hal.
Hal ini terlihat dari perjalanan cerita dalam novel tersebut,
Berada
di Gili seperti berdiri di samping matahari. Panas dan kering. Hujan pun jarang
datang. Dataran gili memiliki unsur tanah yang tak luas dan hanya melingkar di
titik sentral pulau (Litang, 2009:1).
..............
Melihat
peta, seketika Pulau Gili menjadi lenyap dari pandangan. Ia hanya sebuah titik
kecil yang dikerumuni pulau-pulau, di sebelah barat kota Probolinggo (Lintang,
2009:1)
Novel ini menceritakan sebuah sejarah pulau Gili yang
memiliki keindahan dan di pulau inilah terjadi sebuah kisah tentang perjuangan
seorang suami istri dalam merubah pradigma masyarakat gili.
Sebuah
legenda bercerita, bahwa Gili yang memiliki dua ujung pulau –Ujung Dhaja dan
Ujung Dhelaok-...........(Lintang, 2009:1)
Lintang memaparkan betapa indahnya pulau Gili yang
menawarkan keindahan alam yang sangat alami.
Air
laut Dhaja sangat jernih terkadang perak oleh phospor. Berdiam diri ditepinya,
angin menyusupkan bau yodium laut yang khas. Wisatawan sering datang menyelam
untuk menyaksikan taman laut di Dhaja (Lintang, 2009:5)
Pada awal cerita, lewat Suhada kecil, Lintang seperti membawa gugatan kanak-kanak pada umumnya. Gugatan tentang peranan orang-orang yang lebih tua -yang tanpa sadar- telah mengambil porsi terlalu besar atas milik kanak-kanak itu sendiri. Gugatan akan cinta yang terkesan rumit, di saat –sesungguhnya- amat sederhana. Juga penceritaan tentang kisa hwayang “Karna”, yang seakan mengajak saya untuk memahami kerinduan Lintang akan makna kelahiran, pengasuhan, keberanian dan kepasrahan, keputusan, kepergian,
dan kematian.
Pertanyaan sekaligus jawaban para pengarung kehidupan. Makna yang terkandung sebagai zatinti yang ditawarkan novel ini.
Seolah ia yakin, diatas gunung itulah, ia akan mendapat jawaban tentang arti hidup seekor cacing. Ia menangis
seharian, dan tak mau menyentuh makanannya (Lintang, 2009:24).
Pandangan dunia
pengarang dalam novel ini seakan mengkolaborasikan antara kehidupan masyarakat
gili yang masih terisolir (tradisional), namun dibalik semua itu memberikan
sebuah makna akan makna kehidupan, kemandirian, dan kesungguhan dalam menjalani
segala aktifitas.
B.
Latar belakang sosial budaya yang terdapat dalam novel
“Matahari Diatas Gili.”
Sebuah karya sastra yang memiliki karakteristik fiktif
tidak lepas dari hiasan sosial budaya masyarakat. Para ahli sosiologi sastra
memandang hanya sastra sebagai dokumen sosial budaya. Latar belakang yang
ditampilkan dapat berupa pendidikan, pekerjaan, bahasa, tempat tinggal, adat
kebiasaan, cara memandang sesuatu (perspektif kehidupan), agama dan sebagainya.
Latar belakang sosial budaya dalam novel “Matahari Diatas Gili” merupakan sebuah
kehidupan tradisional yang sangat asing dari pengaruh modernisasi. Kehidupan
tradisonal ini terlihat dari beberapa aspek latar belakang yang menghidupkan
cerita dalam novel ini.
1.
Pendidikan
Suasana pulau Gili memang
menawarkan keindahan alam yang sangat menantang. Namun, keindahan tersebut
tidak didukung dengan kemajuan masyarakat pulau tersebut. Kemajuan ini akan
melahirkan berbagai keuntungan terutama dalam meningkatkan kualitas SDM masyarakatnya.
Ketertinggalan masyarakat pulau Gili dideskripsikan oleh Lintang lewat
tokoh-tokoh ceritanya. Ia menampilkan bahwa masyarakat Gili terutama anak-anak
belum bisa membaca dan menulis bahkan mereka dipaksa oleh orang tuanya untuk
bekerja sebagai nelayan.
..........
Sebuah arti kedekatan yang bukan saja karena kebersamaan
mereka, yang tersusun di seriap pagi. Tetapi karena kegusarannya menyaksikan
anak-anak berkalung emas itu, yang satupun tak dapat membaca dan menulis
(Lintang, 2009:69)
........
Di Gili anak lelaki berusia sepuluh tahun, harus pergi
berlayar. Mereka membantu orang tua mereka mencari ikan, selama berhari-hari
diatas kapal dan ditengah lautan (Lintang, 2009:70)
Melihat kondisi anak-anak di pulau Gili lintang akhirnay
tersentuh untuk mendidik anak-anak tersebut. Hal ini terlihat dikala lintang
mulai mengajak anak-anak itu untuk belajar bersama di pinggir pantai.
Esok paginya, Suhada datang lebih awal menemui mereka.
Diam-diam, ia telah siap untuk memulai sebuah pola yang ia susun sendiri.
Dengan sebuah ranting kayu, ia menuliskan beberapa huruf di atas pasir. Lalu ia
membaca sendiri huruf-huruf itu, dengan suara keras dan lantang. Anak-anak diam
terpaku. Pandangan mereka bergantian menatap gerakan mulut Suhada dan
huruf-huruf yang tertulis besar-besar di atas pasir. Seolah mereka sedang
berpikir, gambaran bulatan berekor atau berbentuk geometris itu, ternyata dapat
menyatakan sesuatu dan bisa di artikan bila di baca (Lintang, 2009:71)
Disisi lain, Suhada mencoba memahami masyarakat pulaunya
untuk bisa memberikan sebuah perubahan terutama dalam membentuk pendidikan
untuk anak-anak mereka.
........
Satu hal yang membuat dirinya selalu merasa merana,
setiap melihat kondisi masyarakt yang buta hurup, dan tidak bisa berbahasa
Indonesia. “Berada dimanakah Giliku ini?” tanyanya setiap waktu, ketika ia
harus menerima kenyataan-kenyataan, Gili tak tersentuh oleh pemerataan hak
memperoleh pendidikan, yang digembar-gemborkan saat ini (Lintang, 2009:84)
2.
Pekerjaan
Rentetan cerita dalam novel ini diuraikan dengan begitu
cermat oleh Lintang. Bebagai karakter, pekerjaan, dan kondisi masyarakat di
pulau tersebut diceritakan dengan jelas tanpa menghilangkan ketradisionalan
pulau tersebut. Hal ini terlihat pada pekerjaan rutinitas masyarakat pulau Gili.
Dipulau ini, setiap saat generasi baru dilahirkan di
dalam atmosfer yang sentimental. Semua orang di wilayah ini memiliki kehangatan
yang khas. Lelaki Gili pergi berlayar pada pagi hari, dan perempuan Gili
menyambut kedatangan mereka saat hari menjelang sore. Orang gili mempunyai daya
tahan yang aneh dalam menjalani hidup....(Lintang, 2009:65).
Kutipan di atas memaparkan bahwa pekerjaan rutinitas
masyarakat pulau Gili adalah sebagai nelayan. Antara lelaki dan perempuan gili
selalu selangkah dalam menjalani pekerjaannya, lelaki gili pergi mencari ikan
ditengah lautan yang dangkal, sedangkan perempuan Gili menyambut kedatangan
para lelaki tersebut,
3.
Bahasa
Pulau Gili merupakan pulau yang jauh dari pengaruh
modern. Masyarakatnya masih taat dan patuh akan norma-norma yang ia bentuk
bersama. Akibatnya ia tidak tahu dan tidak bisa berkomunikasi dengan berbagai
bahasa di dunia, khususnya bahasa Indonesia. Ketertinggalan menguasi bahasa
Inodensia tercermin di saat Suhada menjadi anggota masyarakat baru di pulau
Gili.
..........
Mereka berbicara dengan bahasa pulau mereka yang
menakjubkan. Berkali-kali Suhada mengajak mereka berbicara tetapi sia-sia.
Mereka tak mengenal bahasa Indonesia....(Lintang, 2009:67)
Selain itu bahasa di pulau Gili terlihat dikala suhada
mulai mengajak anak-anak itu untuk bersekolah dan mengajarkannya di pinggir
pantai.
“Mukah kalian belajar di sekolah?” (pertanyaan Suhada)
“Bunten! Kaula Sadaja ta’ poron!” – (“Tidak! Kami tidak
mau!”)
...........
“Kita mandi bersama-sama lagi, ya!”
“kaula sadaja adante’ panjennengngan, Hada”- (Kita
menunggu kamu, Hada”)
(Lintang,
2009:71)
4.
Adat kebiasaan
Masyarakat gili memiliki
tradisi yang mencerminkan tradisi tradisional. Ia masih percaya mistis dan
sering merayakan ritual adat. Ritual itu memiliki makna yang sangat urgen
terutama dalam mencapai kebahagiaan dan kesuksesan menjalani hidup. Hal ini
terlihat pada kebiasaannya yang dideskripsikan dalam novel ini.
Mereka melakukan upacara-upacara mistis keagamaan, yang
bertujuan mencapai kesatuan dengan Tuhan. Tetapi mereka juga berkeyakinan bahwa
utnuk dapat bertemu dengan Tuhan, mereka harus sedapat-dapatnya menjauhi:
ketamakan, nafsu, syahwad, kemarahan kerakusan, iri hati dan kemalasan
(Lintang, 2009: 64).
Kebiasaan orang gili juga terlihat
dikala meramalkan hari dan juga meramalkan bebagai bahasa ombak yang selalu ia
percaya untuk keselamatan nelayan sebelum berlayar.
Lelaki berjanggut putih meramal hari esok dengan membaca
gerakan ombak , cahaya bulan, desir angin, atau dengan menangkap arah debu
pasir yang beterbangan. (Lintang, 2009:65)
Selain itu, kebiasaan yang sering dilakukan oleh
perempuan gili untuk meminta keselamatan,terutama di saat Gili sedanng
mengalami perang Carok. Para lelaki Gili pergi berperang, segangkan perempuan
Gili melakukan tradisi kusus untuk keselamatan suami mereka.
Di sebuah pagi yang dingin, perempuan-perempuan Gili
menyambut matahari dengan meletakkan puluhan Ancak’-sebuah nyiru berisi sesaji-
di atas rakit yang terbuat dari bambu. Kemudian sambil bernyanyi, mereka
mendorong rakit ke tengah samudera. Suara mereka terdengar pilu, memohon kepada
Tuhan agar memberikan keselamatan seutuhnya kepada suami mereka yang akan
berangkat ke Pulau Kosong untuk perang Carok, nanti malam (Lintang, 2009:115).
5.
Agama
Masyarakat Gili mayoritas beragama Islam, hal ini
terlihat dari para tokohnya yang selalu mengucapkan dan menyebut nama Allah
dalam setiap rutinitasnya. Begitu juga saat para wanita Gili ditinggal oleh
lelaki gili untuk berperang ke tanah kosong. Saat itu Umi mengajak Suhada untuk
tidur bersamanya.
“Mari bersamaku, nak..,” ajak Umi, sambil menarik lengan
Suhada ke dalam kamar. Mereka duduk di tepi ranjang. Lalu Ummi membenamkan
kepala Suhada ke dadanya. Dalam dekapan Umi, ia mendengar jelas suara detak
jantung, suara kalimat-kalimat asing dari mulut Buk No di ruang depan, dan
suara Umi yang menyebut nama Allah berkali-kali (Lintang, 2009: 119).
Aspek agama yang ditampilkan dalam novel tersebut,
mimiliki ciri khusus. Walaupun mayoritas beragama islam, mereka masih saja
berpegang dan membepercayai mitos serta melakukan acara-acara ritual sesajai
yang dalam agama Islam sangat di larang. Pendeskripsian agama yang dianut oleh
para tokoh dalam novel tersebut mencerminkan akulturaasi agama dan kebudayaan
yang melahirkan orang yang taat kepada agamanya dan taat pula pada kebudayaan
yang sudah diwarisi oleh nenek moyang mereka.
C.
Pandangan
pengarang terhadap tokoh wanita dalam novel “Matahari Diatas Gili.”
Lintang Sugianto menampilkan Suhada sebagai tokoh utama
dalam novelnya. Suhada adalah sosok wanita tegar, rajin, cerdas, pintar dan
mampu menjadi wanita yang mandiri.
Pada sebuah siang, Suhada berjalan membungkuk menuruni
bukit-bukit rendah. Punggungnya melengkung terbebani beberapa ikat kayu bakar
yang ia kumpulkan di lereng bukit pinus (Lintang, 2009:28).
.....Sebuah waktu yang selalu mencatatnya sebagai gadis
kecil pemberani dalam menghadapi hidup. Ia hanya ingin menjadi seperti kalimat
dalam surat-surat Mamak yang penuh dengan doa. Mamak menginginkan agar ia tetap
sekolah, dan tumbuh menjadi gadis yang taat. Maka ia pun taat kepada hidup,
juga kepada cakrawala yang luas. Ia telah menjadi gadis tanggung yang pendiam,
namun penuh api. Ia terlihat lebih sering menggigit bibir dan menahan rasa
nyeri dalam dadanya, untuk dapat mengalahkan dirinya sendiri. (Lintang,
2009:37)
Lewat Suhada, Lintang menmberikan pandangang bahwa wanita
harus mampu menghadapi segala macam tantangan. Hal ini terlihat ketika Suhada
pergi meninggalkan Mamaknya untuk diasuh dan disekolahkan oleh sepasang suami
istri ke Bogor. Walaupun cita-cita Mamaknya sudah tercapai untuk menyekolahkan
Suhada dan menjadi orang yang mampu mengembangkan kreatifitasnya. Suhada yang
kini hidup ditengah-tengah Kota besar dan fasilitas yang lengkap, Ia tetap
ingat bagaimana kisah dan kebiasaanya disaat-saat ia bersama Mamaknya.
Ia menjalankan rutinitas seperti halnya sedang berada di
desa Baros. Ia selalu membersihkan rumah yang begitu besar sepulang sekolahnya.
Sepulang sekolah ia harus menyapu halaman besar,
mengumpulkan daun-daun kering pohon pelamboyan, dan randu (Lintang, 2009:26).
Ketegaran dan kemandirian Suhada sudah tertanam sejak
lahir hingga ia menukah dan melahirkan anak. Walaupun ia hidup ditengah-tengah
kehidupan tradisional setelah ia menikah, Suhada selalu memegang prinsipnya,
hingga ia dapat mewujudkan segala keinginan dan cita-cita yang selalu ia
harapkan untuk membangun pulau Gili.
D.
Nilai pendidikan yang terdapat dalam novel “Matahari
Diatas Gili.”
Setiap karya sastra tidak lepas dari hiasan nilai yang
menjadi pesan tersirat dan tersurat. Begitu juga halnya dalam novel “Matahari
Diatas Gili”, Lintang dalam novel itu, telah menanamkan dalam rentetetan
ceritanya yang sarat degan nilai-nilai pendidikan. Nilai pendidikan itu dapat
dilihat dari berbagai aspek, baik nilai pendidikan agama, nilai pendidikan
moral, nilai pendidikan adat istiadat/budaya, dan nilai pendidikan sosial.
Lintang mendeskripsikan dari masing-masing tokoh
nilai-nilai pendidikan tersebut secara seksama. Suhada sebagai tokoh utama
telah mencerminkan bahwa betapa pentingnya agama sebagai pegangan hidup dalam
menjalani aktifitas didunia. Ia dangat mengharapkan bisa menikmati sekolah di
sekolah yang bernuansa Isalami. Ketika ia tinggal di Cerebon di keluarga Elang,
Ia sangat dipahami keinginan oleh keluarga tersebut. Elang dengan inisiatif
sendiri, memasukkan Suhada ke sekolah Islam yang terbaik di kota Cirebon.
Ia membuka map itu dengan ragu-ragu, dan membacanya.
Seketika matanya terasa hangat, dan ia merasa mengalami sebuah peristiwa yang
membuat dirinya melambung, saat ia tahu bahwa Elang telah memasukkan dirinya ke
SMA Islam Darussalam – sebuah sekolah terbaik di kota itu. Dan saat ia mencium
panggung tangan lelaki sederhana itu, ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri
bahwa tangan yang basah oleh air matanya itu ialah tangan manusia, dan bukan
tangan malaikat. (Lintang, 2009: 40)
Nilai pendidikan Islam yang menghiasi alur cerita novel
tersebut, memiliki relasi dengan nilai yang lain. Lintang mendeskripsikan
nilai-nilai pendidikan dengan cermat dan sarat makna. Ia juga menanamkan nilai
pendidikan lewat nilai pedidikan moral. Hal ini terlihat ketika pak Lurah yang
dikenal sebagai orang yang arif memberikan solusi dan betanggung jawab atas
amanat yang dipimpinnya sebagai seorang Lurah.
“Baiklah. Saya sebagai Lurah Pulau Gili minta maaf kepada
kalian semua. Tapi, tolong diingat, benarkah saya tidak pernah mengajak kalian
berbicara dan duduk bersama membahasa tentang pendidikan anak-anak kita?
Membahas tentang sekolah? Membahas tentang pemberantasan buta huruf? Benarkan?
Jawab!” (Lintang, 2009: 123).
Seketika itu masyarakt gili tak satupun yang bisa
menjawab. Ia kemudian bertanya kembali disaat perjuangan Suhada dan Pak Karta
berjuang untuk membangun pendidikan, masyarakt gili membantah untuk membangun
sekolah di pulau tersebut. Hal ini menanamkan betapa tingginya moral seorang
Lurah dan guru yaitu Suhada dan Do’a dalam membangun karakter dan keperibadian
masyarkat.
“Baiklah! Jika kalian tetap bungkam, berarti diantara
kalian tidak ada yang bisa menggantikan Pak Karta dan Suhada. Maka saya akan
tetap menjalankan program belajar itu.” (Lintang, 2009: 154).
..........................
Di Gilli, tidak terdapat arti kata seorang pejabat yang
menggandeng kehormatan. Tidak ada. Seorang
Lurah di Gilli, hanya petugas sukarela – atas titah leluhur – yang mengemban
tugas kemanusiaan, sanggup menampung pendapat rakyat, bisa seperti pohon
rindang, dan bisa tahu isi hati rakyat. Orang-orang Gilli patut menghormati
Lurah atas nama leluhur mereka. Sebuah penghormatan yang tak mengaitkan simbol
atau lambang-lambang, dan bukan hubungan kedudukan antara siapa dibawah atau
siapa diatas. Mereka pun terbiasa memanggil Pak Lurah dengan “Lurah” saja,
tenpa “Pak” atau apapun di depannya. (Lintang, 2009: 154)
Selain itu,
Lintang menanmkan nilai-nilai pendidikan dalam aspek sosial budaya masyarakat.
Hal ini terlihat dari masyarakat gili yang masih memegang norma-norma adat
istiadat. Mereka belum berpikir modern karena tidak pernah melihat situasi di
luar pulaunya.
0 komentar:
Posting Komentar