Translate

analsisis sosiologi novel matah\ari di atas gill

Written By iqbal_editing on Kamis, 10 November 2016 | 00.26

Suatu karya sastra, khususnya novel selalu memiliki relasi dengan pengarangnya. Berbagai aspek yang sangat berpangaruh dari pengarang dalam menuangkan ide, gagasan kreatifnya dalam karya sastra. Aspek sosial-budaya pengarang merupakan aspek yang paling berperan dalam medeskripsikan cerita dalam sebuah novel.
Seperti halnya dalam novel “Matahari Diatas Gili” karya Lintang Sugianto. Lintang sangat lihai dan cermat dalam mengisahkan para tokoh dalam novel tersebut. Novel ini menceritakan tentang sejarah salah satu pulau Gili yang terletak di kawasan Probolinggo Jawa Timur. Sebagai seorang pengarang perempuan yang memilki kreatifitas tinggi, Ia menampilkan seorang tokoh wanita yang cerdas dan memiliki semangat tinggi dalam memberikan manfaat yang terbaik dalam masyarakatnya.
Pulau Gili yang digambarkan dalam novel ini merupakan simbol kehidupan tradisional yang jauh akan pengaruh modern dalam segala hal. Hal ini terlihat dari perjalanan cerita dalam novel tersebut,
Berada di Gili seperti berdiri di samping matahari. Panas dan kering. Hujan pun jarang datang. Dataran gili memiliki unsur tanah yang tak luas dan hanya melingkar di titik sentral pulau (Litang, 2009:1).
..............
Melihat peta, seketika Pulau Gili menjadi lenyap dari pandangan. Ia hanya sebuah titik kecil yang dikerumuni pulau-pulau, di sebelah barat kota Probolinggo (Lintang, 2009:1)
Novel ini menceritakan sebuah sejarah pulau Gili yang memiliki keindahan dan di pulau inilah terjadi sebuah kisah tentang perjuangan seorang suami istri dalam merubah pradigma masyarakat gili.
Sebuah legenda bercerita, bahwa Gili yang memiliki dua ujung pulau –Ujung Dhaja dan Ujung Dhelaok-...........(Lintang, 2009:1)
Lintang memaparkan betapa indahnya pulau Gili yang menawarkan keindahan alam yang sangat alami.
Air laut Dhaja sangat jernih terkadang perak oleh phospor. Berdiam diri ditepinya, angin menyusupkan bau yodium laut yang khas. Wisatawan sering datang menyelam untuk menyaksikan taman laut di Dhaja (Lintang, 2009:5)
Pada awal cerita, lewat Suhada kecil, Lintang seperti membawa gugatan kanak-kanak pada umumnya. Gugatan tentang peranan orang-orang yang lebih tua -yang tanpa sadar- telah mengambil porsi terlalu besar atas milik kanak-kanak itu sendiri. Gugatan akan cinta yang terkesan rumit, di saat –sesungguhnya- amat sederhana. Juga penceritaan tentang kisa hwayang “Karna”, yang seakan mengajak saya untuk memahami kerinduan Lintang akan makna kelahiran, pengasuhan, keberanian dan kepasrahan, keputusan, kepergian, dan kematian. Pertanyaan sekaligus jawaban para pengarung kehidupan. Makna yang terkandung sebagai zatinti yang ditawarkan novel ini.
Seolah ia yakin, diatas gunung itulah, ia akan mendapat jawaban tentang arti hidup seekor cacing. Ia menangis seharian, dan tak mau menyentuh makanannya (Lintang, 2009:24).
Pandangan dunia pengarang dalam novel ini seakan mengkolaborasikan antara kehidupan masyarakat gili yang masih terisolir (tradisional), namun dibalik semua itu memberikan sebuah makna akan makna kehidupan, kemandirian, dan kesungguhan dalam menjalani segala aktifitas.
B.     Latar belakang sosial budaya yang terdapat dalam novel “Matahari Diatas Gili.”
Sebuah karya sastra yang memiliki karakteristik fiktif tidak lepas dari hiasan sosial budaya masyarakat. Para ahli sosiologi sastra memandang hanya sastra sebagai dokumen sosial budaya. Latar belakang yang ditampilkan dapat berupa pendidikan, pekerjaan, bahasa, tempat tinggal, adat kebiasaan, cara memandang sesuatu (perspektif kehidupan), agama dan sebagainya.
Latar belakang sosial budaya dalam novel “Matahari Diatas Gili” merupakan sebuah kehidupan tradisional yang sangat asing dari pengaruh modernisasi. Kehidupan tradisonal ini terlihat dari beberapa aspek latar belakang yang menghidupkan cerita dalam novel ini.
1.      Pendidikan
Suasana pulau Gili memang menawarkan keindahan alam yang sangat menantang. Namun, keindahan tersebut tidak didukung dengan kemajuan masyarakat pulau tersebut. Kemajuan ini akan melahirkan berbagai keuntungan terutama dalam meningkatkan kualitas SDM masyarakatnya. Ketertinggalan masyarakat pulau Gili dideskripsikan oleh Lintang lewat tokoh-tokoh ceritanya. Ia menampilkan bahwa masyarakat Gili terutama anak-anak belum bisa membaca dan menulis bahkan mereka dipaksa oleh orang tuanya untuk bekerja sebagai nelayan.
..........
Sebuah arti kedekatan yang bukan saja karena kebersamaan mereka, yang tersusun di seriap pagi. Tetapi karena kegusarannya menyaksikan anak-anak berkalung emas itu, yang satupun tak dapat membaca dan menulis (Lintang, 2009:69)
........
Di Gili anak lelaki berusia sepuluh tahun, harus pergi berlayar. Mereka membantu orang tua mereka mencari ikan, selama berhari-hari diatas kapal dan ditengah lautan (Lintang, 2009:70)
Melihat kondisi anak-anak di pulau Gili lintang akhirnay tersentuh untuk mendidik anak-anak tersebut. Hal ini terlihat dikala lintang mulai mengajak anak-anak itu untuk belajar bersama di pinggir pantai.
Esok paginya, Suhada datang lebih awal menemui mereka. Diam-diam, ia telah siap untuk memulai sebuah pola yang ia susun sendiri. Dengan sebuah ranting kayu, ia menuliskan beberapa huruf di atas pasir. Lalu ia membaca sendiri huruf-huruf itu, dengan suara keras dan lantang. Anak-anak diam terpaku. Pandangan mereka bergantian menatap gerakan mulut Suhada dan huruf-huruf yang tertulis besar-besar di atas pasir. Seolah mereka sedang berpikir, gambaran bulatan berekor atau berbentuk geometris itu, ternyata dapat menyatakan sesuatu dan bisa di artikan bila di baca (Lintang, 2009:71)
Disisi lain, Suhada mencoba memahami masyarakat pulaunya untuk bisa memberikan sebuah perubahan terutama dalam membentuk pendidikan untuk anak-anak mereka.
........
Satu hal yang membuat dirinya selalu merasa merana, setiap melihat kondisi masyarakt yang buta hurup, dan tidak bisa berbahasa Indonesia. “Berada dimanakah Giliku ini?” tanyanya setiap waktu, ketika ia harus menerima kenyataan-kenyataan, Gili tak tersentuh oleh pemerataan hak memperoleh pendidikan, yang digembar-gemborkan saat ini (Lintang, 2009:84)
2.      Pekerjaan
Rentetan cerita dalam novel ini diuraikan dengan begitu cermat oleh Lintang. Bebagai karakter, pekerjaan, dan kondisi masyarakat di pulau tersebut diceritakan dengan jelas tanpa menghilangkan ketradisionalan pulau tersebut. Hal ini terlihat pada pekerjaan rutinitas masyarakat pulau Gili.
Dipulau ini, setiap saat generasi baru dilahirkan di dalam atmosfer yang sentimental. Semua orang di wilayah ini memiliki kehangatan yang khas. Lelaki Gili pergi berlayar pada pagi hari, dan perempuan Gili menyambut kedatangan mereka saat hari menjelang sore. Orang gili mempunyai daya tahan yang aneh dalam menjalani hidup....(Lintang, 2009:65).
Kutipan di atas memaparkan bahwa pekerjaan rutinitas masyarakat pulau Gili adalah sebagai nelayan. Antara lelaki dan perempuan gili selalu selangkah dalam menjalani pekerjaannya, lelaki gili pergi mencari ikan ditengah lautan yang dangkal, sedangkan perempuan Gili menyambut kedatangan para lelaki tersebut,
3.      Bahasa
Pulau Gili merupakan pulau yang jauh dari pengaruh modern. Masyarakatnya masih taat dan patuh akan norma-norma yang ia bentuk bersama. Akibatnya ia tidak tahu dan tidak bisa berkomunikasi dengan berbagai bahasa di dunia, khususnya bahasa Indonesia. Ketertinggalan menguasi bahasa Inodensia tercermin di saat Suhada menjadi anggota masyarakat baru di pulau Gili.
..........
Mereka berbicara dengan bahasa pulau mereka yang menakjubkan. Berkali-kali Suhada mengajak mereka berbicara tetapi sia-sia. Mereka tak mengenal bahasa Indonesia....(Lintang, 2009:67)
Selain itu bahasa di pulau Gili terlihat dikala suhada mulai mengajak anak-anak itu untuk bersekolah dan mengajarkannya di pinggir pantai.
“Mukah kalian belajar di sekolah?” (pertanyaan Suhada)
“Bunten! Kaula Sadaja ta’ poron!” – (“Tidak! Kami tidak mau!”)
...........
“Kita mandi bersama-sama lagi, ya!”
“kaula sadaja adante’ panjennengngan, Hada”- (Kita menunggu kamu, Hada”)
(Lintang, 2009:71)
4.      Adat kebiasaan
Masyarakat gili memiliki tradisi yang mencerminkan tradisi tradisional. Ia masih percaya mistis dan sering merayakan ritual adat. Ritual itu memiliki makna yang sangat urgen terutama dalam mencapai kebahagiaan dan kesuksesan menjalani hidup. Hal ini terlihat pada kebiasaannya yang dideskripsikan dalam novel ini.
Mereka melakukan upacara-upacara mistis keagamaan, yang bertujuan mencapai kesatuan dengan Tuhan. Tetapi mereka juga berkeyakinan bahwa utnuk dapat bertemu dengan Tuhan, mereka harus sedapat-dapatnya menjauhi: ketamakan, nafsu, syahwad, kemarahan kerakusan, iri hati dan kemalasan (Lintang, 2009: 64).
Kebiasaan orang gili juga terlihat dikala meramalkan hari dan juga meramalkan bebagai bahasa ombak yang selalu ia percaya untuk keselamatan nelayan sebelum berlayar.
Lelaki berjanggut putih meramal hari esok dengan membaca gerakan ombak , cahaya bulan, desir angin, atau dengan menangkap arah debu pasir yang beterbangan. (Lintang, 2009:65)
Selain itu, kebiasaan yang sering dilakukan oleh perempuan gili untuk meminta keselamatan,terutama di saat Gili sedanng mengalami perang Carok. Para lelaki Gili pergi berperang, segangkan perempuan Gili melakukan tradisi kusus untuk keselamatan suami mereka.
Di sebuah pagi yang dingin, perempuan-perempuan Gili menyambut matahari dengan meletakkan puluhan Ancak’-sebuah nyiru berisi sesaji- di atas rakit yang terbuat dari bambu. Kemudian sambil bernyanyi, mereka mendorong rakit ke tengah samudera. Suara mereka terdengar pilu, memohon kepada Tuhan agar memberikan keselamatan seutuhnya kepada suami mereka yang akan berangkat ke Pulau Kosong untuk perang Carok, nanti malam (Lintang, 2009:115).
5.      Agama
Masyarakat Gili mayoritas beragama Islam, hal ini terlihat dari para tokohnya yang selalu mengucapkan dan menyebut nama Allah dalam setiap rutinitasnya. Begitu juga saat para wanita Gili ditinggal oleh lelaki gili untuk berperang ke tanah kosong. Saat itu Umi mengajak Suhada untuk tidur bersamanya.
“Mari bersamaku, nak..,” ajak Umi, sambil menarik lengan Suhada ke dalam kamar. Mereka duduk di tepi ranjang. Lalu Ummi membenamkan kepala Suhada ke dadanya. Dalam dekapan Umi, ia mendengar jelas suara detak jantung, suara kalimat-kalimat asing dari mulut Buk No di ruang depan, dan suara Umi yang menyebut nama Allah berkali-kali (Lintang, 2009: 119).
Aspek agama yang ditampilkan dalam novel tersebut, mimiliki ciri khusus. Walaupun mayoritas beragama islam, mereka masih saja berpegang dan membepercayai mitos serta melakukan acara-acara ritual sesajai yang dalam agama Islam sangat di larang. Pendeskripsian agama yang dianut oleh para tokoh dalam novel tersebut mencerminkan akulturaasi agama dan kebudayaan yang melahirkan orang yang taat kepada agamanya dan taat pula pada kebudayaan yang sudah diwarisi oleh nenek moyang mereka.
C.     Pandangan pengarang terhadap tokoh wanita dalam novel “Matahari Diatas Gili.”
Lintang Sugianto menampilkan Suhada sebagai tokoh utama dalam novelnya. Suhada adalah sosok wanita tegar, rajin, cerdas, pintar dan mampu menjadi wanita yang mandiri.
Pada sebuah siang, Suhada berjalan membungkuk menuruni bukit-bukit rendah. Punggungnya melengkung terbebani beberapa ikat kayu bakar yang ia kumpulkan di lereng bukit pinus (Lintang, 2009:28).
.....Sebuah waktu yang selalu mencatatnya sebagai gadis kecil pemberani dalam menghadapi hidup. Ia hanya ingin menjadi seperti kalimat dalam surat-surat Mamak yang penuh dengan doa. Mamak menginginkan agar ia tetap sekolah, dan tumbuh menjadi gadis yang taat. Maka ia pun taat kepada hidup, juga kepada cakrawala yang luas. Ia telah menjadi gadis tanggung yang pendiam, namun penuh api. Ia terlihat lebih sering menggigit bibir dan menahan rasa nyeri dalam dadanya, untuk dapat mengalahkan dirinya sendiri. (Lintang, 2009:37)
Lewat Suhada, Lintang menmberikan pandangang bahwa wanita harus mampu menghadapi segala macam tantangan. Hal ini terlihat ketika Suhada pergi meninggalkan Mamaknya untuk diasuh dan disekolahkan oleh sepasang suami istri ke Bogor. Walaupun cita-cita Mamaknya sudah tercapai untuk menyekolahkan Suhada dan menjadi orang yang mampu mengembangkan kreatifitasnya. Suhada yang kini hidup ditengah-tengah Kota besar dan fasilitas yang lengkap, Ia tetap ingat bagaimana kisah dan kebiasaanya disaat-saat ia bersama Mamaknya.
Ia menjalankan rutinitas seperti halnya sedang berada di desa Baros. Ia selalu membersihkan rumah yang begitu besar sepulang sekolahnya.
Sepulang sekolah ia harus menyapu halaman besar, mengumpulkan daun-daun kering pohon pelamboyan, dan randu (Lintang, 2009:26).
Ketegaran dan kemandirian Suhada sudah tertanam sejak lahir hingga ia menukah dan melahirkan anak. Walaupun ia hidup ditengah-tengah kehidupan tradisional setelah ia menikah, Suhada selalu memegang prinsipnya, hingga ia dapat mewujudkan segala keinginan dan cita-cita yang selalu ia harapkan untuk membangun pulau Gili.
D.    Nilai pendidikan yang terdapat dalam novel “Matahari Diatas Gili.”
Setiap karya sastra tidak lepas dari hiasan nilai yang menjadi pesan tersirat dan tersurat. Begitu juga halnya dalam novel “Matahari Diatas Gili”, Lintang dalam novel itu, telah menanamkan dalam rentetetan ceritanya yang sarat degan nilai-nilai pendidikan. Nilai pendidikan itu dapat dilihat dari berbagai aspek, baik nilai pendidikan agama, nilai pendidikan moral, nilai pendidikan adat istiadat/budaya, dan nilai pendidikan sosial.
Lintang mendeskripsikan dari masing-masing tokoh nilai-nilai pendidikan tersebut secara seksama. Suhada sebagai tokoh utama telah mencerminkan bahwa betapa pentingnya agama sebagai pegangan hidup dalam menjalani aktifitas didunia. Ia dangat mengharapkan bisa menikmati sekolah di sekolah yang bernuansa Isalami. Ketika ia tinggal di Cerebon di keluarga Elang, Ia sangat dipahami keinginan oleh keluarga tersebut. Elang dengan inisiatif sendiri, memasukkan Suhada ke sekolah Islam yang terbaik di kota Cirebon.
Ia membuka map itu dengan ragu-ragu, dan membacanya. Seketika matanya terasa hangat, dan ia merasa mengalami sebuah peristiwa yang membuat dirinya melambung, saat ia tahu bahwa Elang telah memasukkan dirinya ke SMA Islam Darussalam – sebuah sekolah terbaik di kota itu. Dan saat ia mencium panggung tangan lelaki sederhana itu, ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa tangan yang basah oleh air matanya itu ialah tangan manusia, dan bukan tangan malaikat. (Lintang, 2009: 40)
Nilai pendidikan Islam yang menghiasi alur cerita novel tersebut, memiliki relasi dengan nilai yang lain. Lintang mendeskripsikan nilai-nilai pendidikan dengan cermat dan sarat makna. Ia juga menanamkan nilai pendidikan lewat nilai pedidikan moral. Hal ini terlihat ketika pak Lurah yang dikenal sebagai orang yang arif memberikan solusi dan betanggung jawab atas amanat yang dipimpinnya sebagai seorang Lurah.
“Baiklah. Saya sebagai Lurah Pulau Gili minta maaf kepada kalian semua. Tapi, tolong diingat, benarkah saya tidak pernah mengajak kalian berbicara dan duduk bersama membahasa tentang pendidikan anak-anak kita? Membahas tentang sekolah? Membahas tentang pemberantasan buta huruf? Benarkan? Jawab!” (Lintang, 2009: 123).
Seketika itu masyarakt gili tak satupun yang bisa menjawab. Ia kemudian bertanya kembali disaat perjuangan Suhada dan Pak Karta berjuang untuk membangun pendidikan, masyarakt gili membantah untuk membangun sekolah di pulau tersebut. Hal ini menanamkan betapa tingginya moral seorang Lurah dan guru yaitu Suhada dan Do’a dalam membangun karakter dan keperibadian masyarkat.
“Baiklah! Jika kalian tetap bungkam, berarti diantara kalian tidak ada yang bisa menggantikan Pak Karta dan Suhada. Maka saya akan tetap menjalankan program belajar itu.” (Lintang, 2009: 154).
..........................
Di Gilli, tidak terdapat arti kata seorang pejabat yang menggandeng kehormatan. Tidak ada. Seorang  Lurah di Gilli, hanya petugas sukarela – atas titah leluhur – yang mengemban tugas kemanusiaan, sanggup menampung pendapat rakyat, bisa seperti pohon rindang, dan bisa tahu isi hati rakyat. Orang-orang Gilli patut menghormati Lurah atas nama leluhur mereka. Sebuah penghormatan yang tak mengaitkan simbol atau lambang-lambang, dan bukan hubungan kedudukan antara siapa dibawah atau siapa diatas. Mereka pun terbiasa memanggil Pak Lurah dengan “Lurah” saja, tenpa “Pak” atau apapun di depannya. (Lintang, 2009: 154)
 Selain itu, Lintang menanmkan nilai-nilai pendidikan dalam aspek sosial budaya masyarakat. Hal ini terlihat dari masyarakat gili yang masih memegang norma-norma adat istiadat. Mereka belum berpikir modern karena tidak pernah melihat situasi di luar pulaunya.
“Masyarakat disini cara berpikirnya tidak seperti kita Hada. Mereka tidak pernah meninggalkan Pulau ini, dan tidak tidak tahu perkembangan di luar sana. Sehingga mereka tidak memiliki wawasan yang luas tentang pendidikan yang kau anjurkan itu. Jadi, kalau kau langsung datang dengan tujuanmu, sebaik apapun tujuanmu itu, mereka tidak akan pernah menanggapinya. Walaupun mereka tertinggal dan bodoh. Mereka tidak bersedia digurui. Apalagi oleh orang yang bukan berasal dari Gilli. Itu tidak mungkin, Hada! Saranku, kau harus bisa mengambil hati mereka. Kau harus bisa mendekati mereka dengan total. Kalau mereka sudah merasa dekat denganmu, mereka akan percaya dengan semua yang kau katakan. Kau mengerti Hada? (Lintang, 2009: 160)

0 komentar:

Posting Komentar

 
berita unik