Novel ini merupakan penggambaran perjuangan
seorang wanita bernama Anissa yang merupakan anak dari seorang pimpinan Pondok
Pesantren Salafiah putri Al-Huda yang terletak di jawa timur.Anisa hidup dalam
keluarga yang sangat mengedepankan agama, bagi keluarganya yang terpenting
hanyalah Al-Qur’an, Hadist dan Sunnah dan mereka menganggap bahwa buku-buku
modern yang ada adalah sebuah hal yang menyimpang.
Dari sinilah Annisa mulai berfikir bahwa Agama
Islam hanya berpihak pada pihak laki-laki.Anissa tumbuh menjadi seorang remaja
dengan segala rasa penasaran akan perbeaan yang terletak pada hak antara
laki-laki dan perempuan. Apalagi kedua kakak laki-lakinya begitu bebas dalam
kehidupan sehari-harinya. Rasa iri menghampiri Anissa, hingga Anissa
meminta pada Lek Kudhori yang merupakan saudaranya untuk mengajarinya belajar
berkuda, hal ini dilakukan tentunya dengan sembunyi-sembunyi dan jauh dari
sepengetahuan orang tuanya.
Bagi Anissa Lek Khudori adalah sosok idolanya,
apalagi dia sangat mengerti pada Anissa.Di tengah-tengah usianya yang beranjak
dewasa Anissa merasa ada sesuatu yang tak wajar pada dirinya, sebuah perasaan
yang sangat aneh.Anissa jatuh cinta pada Lek Kudhori, di saa-saat itu pula Lek
Kudhory terpaksa meninggalkan Anissa untuk menuntut ilmu di Universitas
Al-Ashar Cairo.
Hari-hari yang dilalui Anissa terasa sangat
berat, kini hari-harinya terasa sangat menyebalkan dengan aturan-aturan yang
sama sekali merugikan kaum wanita. Pemberontakan demi pemberontakan dilakukan
Anissa, namun semu itu tak sedikitpun merubah kehidupannya, dan akibat
pemberontakan-pemberontakan itu.Dan saat ini usianya belum genap tiga belas
tahun, namun ayahnya sudah berinisiatif untuk menjodohkannya.
Singkat cerita akhirnya Anissa terpaksa
menuruti kemauan orang tuanya itu, Menikahlah Anissa menikah dengan lelaki yang
sama sekali tak dicintainya, lelaki itu bernama Syamsudin yang merupakan anak
dari kyai pemilik Pondok Pesantren yang merupakan rekan relasi dari ayah
Anissa. Orang tua Anissa menjodohkan Anissa dengan Syamsudiu atas dasar karena
Syamsudin merupakan anak dari keluarga yang baik-baik dan lulusan Sarjana
Hukum.
Namun keadaan berbalik arah, kehidupan rumah
tangga yang dijalani Anissa tak berjalan sesuai harapa, perlakuan Syamsudin
pada Anissa sangat tidak manusiawi.Namun hal itu tak pernah di ketahui oleh
orang tua Anissa.Hingga suatu ketika seorang janda muda bernama Mbak Kalsum
mendatangi rumah Syamsudin untuk meminta pertanggung jawaban atas kehamilannya
bersama Syamsudin. Kepelikan tak berhenti sampai disini, kini Anissa
harus dimadu dan harus mengurus Fadillah, bayi perempuan hasil hubungan
Syamsudin bersama Mbak Kalsum.
Suatu hari Anissa mnyempatkan diri pulang ke
Pondok untuk menjenguk orang tuanya.Kebetulan hari tersebut bertepatan dengan
pulangnya Lek Kudhori dari Cairo. Anissa mencurahkan segenap maslah yang
dipendamnya, mengetahui hal itu sang ayah jatuh sakit, dan berinisiatif untuk
menceraikan anaknya. Sebuah kebebasan kini telah direngkuhnya kebahagian kini
menghampirinya.
Kebersamaan yang terjalin diantara Anissa dan
Lek Khudori semakin memupuk rasa cinta diantara mereka berdua.Kebersamaa
diantara mereka berdua memunculkan banyak pergunjingan di kalangan tetangga di
sekitar mereka.
Anissa menikah dengan Lek Khudori, namun semua
itu tak menghilangkan trauma dibenak Anissa, Namun perlakuan lembut yang
diberikan oleh Lek Kudhori pelan-pelan meluruhkan traumatik akut yang melakat
di benak Anissa. Kini Anissa mendapatkan perlakuan yang sangat baik bak seorang
ratu, perlakuan yang sangat indah jauh dari perilaku-perilaku yang pernah
diterimanya dari mantan suaminya Syamsudin.Dan kini Anissa hidup dengan
kebahagian yang haqiqi.
Tahun telah berganti tahun dan merekapun
dikaruniai seorang anak yang diberi nama Mahbub.Ditengah-tengah kebahagiaan
yang tengah berpihak padanya, Sebuah kabar buruk menghampirinya, Lek Khudori
tewas dalam kecelakaan, ada yang mengatakan bila Syamsudinlah pelaku tabrak
lari itu.
3.2 AnalisisCerminan Masyarakat Dalam Novel Perempuan Berkalung Sorban.
Ayah pergi ke
kantor
Ibu memasak di
dapur
Budi bermain di
halaman
Ani mencuci
piring
a.
Mencerminkan anak perempuan sering
dipersalahkan.
Kutipan novel;
“Kita
jaring betinanya!”, teriak Rizal, kakakku.
“Dia mau bertelur, jangan diganggu!”, sergahku.
[Annisa] (hlm.2)
Rizal tercebur ke dalam blumbang, dan Annisa
menolongnya.
“Kamu lama sekali! Kalau saja terlambat
sedetik, aku bisa mati. Bodoh!” [Rizal]
“Eh, sudah ditolong, bukannya terima kasih,
malah maki-maki” [Annisa]
“Tetapi janji ya, nggak bilang sama Bapak. Janji?”
[Rizal] (hlm.4)
Pada saat Rizal
dan Annisa sampai di rumah, ayah mereka mendapati mereka basah kuyup dan tahu
mereka pasti melakukan sesuatu sehingga memarahi mereka. Namun, Rizal
menyalahkan Annisa dan Ayah membenarkannya.
Kutipan novel;
“Bocah bagus…bocah pinter…anak Bapak, coba
sekarang katakana, kemana saja kalian berpetualang seharian!” tandasnya dengan
tegas
“Dia yang mengajak, Pak,” Rizal mencari alasan
dengan menunjuk mukaku.
“Tetapi kamu
mau. Salah sendiri,” aku tak mau kalah.
“O…jadi rupanya kamu yang punya inisiatif bocah
wedhok. Kamu yang ngajari kakakmu jadi penyelam seperti ini ya?Kamu yang
membujuk kakakmu mengembara?”(hlm.6)
Kutipan di atas
menunjukkan bahwa anak perempuan sering dipersalahkan.Pertama, saat Annisa
menolong Rizal saat dia tercebur, Rizal menyalahkannya karena kurang cepat,
padahal Annisa sudah berusaha melarangnya mengejar katak betina.Kedua, ayah
menyalahkan Annisa karena Rizal tercebur tanpa terlebih dahulu berusaha
mengetahui duduk persoalannya.
b. Mencerminkan
anak perempuan sering diperlakukan berbeda dari anak laki-laki sehingga anak
perempuan tidak memiliki hak yang sama dengan anak laki-laki.
Kutipan
novel;
“Ow…ow…ow…jadi begitu. Apa Ibu belum mengatakan
padamu kalau naik kuda hanya pantas dipelajari oleh kakakmu Rizal, atau kakakmu
Wildan. Kau tahu, mengapa? Sebab kau ini anak perempuan, Nisa. Nggak pantas,
anak perempuan kok naik kuda, pencilakan, apalagi keluyuran mengelilingi
lading, sampai ke blumbang segala. Memalukan! Kau ini sudah besar masih bodoh
juga, hehh!!” Tasbih bapak bergerak lamban, mengena kepalaku.(hlm 7)
“Benar, Mbak. Habis Rizal dan Wildan boleh
kembali tidur, sementara Nisa harus membersihkan tempat tidur dan mambantu ibu
memask di dapur. Sementara Rizal dan Wildan masuk lagi ke kamar, katanya mau
belajar, padahal Nisa lihat sendiri mereka kembali tidur sehabis shalat
shubuh.”(hlm21)
Kutipan di atas
menunjukkan bahwa anak perempuan diperlakukan sangat berbeda dari anak
laki-laki.Dalam hal ini, anak perempuan tidak diperkenankan belajar menunggang
kuda, dan harus membantu ibu membersihkan rumah sehabis shalat
shubuh.Sementara, hak “istimewa” tidur setelah shalat shubuh didapat oleh anak
laki-laki.
c. Mencerminkan
anak perempuan sering diperlakukan berbeda dari anak laki-laki sehingga anak
perempuan tidak memiliki hak yang sama dengan anak laki-laki.
Kutipan novel;
“…Ia seorang sarjana hukum dan putra seorang
kiai ternama. Apalagi yang kurang dari dirinya. Segalanya ia miliki. Dan ia
memang laki-laki yang memikat”. (hlm.105)
“Hentikan kelakuanmu!Atau aku pergi dari rumah
ini.”
“Waduh, waduh!Galak amat!”Ia tertawa dan terus
tertawa melecehkan.
“Kau pikir, karena kau suamiku, kau bisa
seenaknya memperlakukan aku?”
“Apa yang kau katakana, Nisa?Aku hanya ingin
main-main denganmu.”
“ Main – main? Permainanmu sangat menyebalkan.”
“ O, yang mana lebih menyebalkan, permainanku
atau nada bicaramu.”
“ Kita lihat saja nanti.”
Ia membuang
puntung rokok dan serta merta di luar perkiraanku, laki-laki bernama Samsudin
itu meraih tubuhku dalam gendongannya. Lalu membawaku ke kamar dan menidirkanku
di atas ranjang. Kemudian berusaha merayuku dengan suara lelaki di sama
kerejaan Majapahit. Lalu mengguling-gulingkan tubuhku dengan paksa. Dengan
paksa pula ia buka bajuku, dan semua yang menempel di badan. Aku meronta
kesakitan tetepi ia kelihatan semakin buas dan tenaganya semakin lama semakin
berlipat-lipat. Matanya mendelik ke wajahku.Kedua tangannya mencengkeram bahuku
sekaligus menekan kedua lenganku.Beban gajihnya begitu berat menindih tubuhku
hingga semuanya menjadi tak tertahankan.Seperti ada pelulu karet yang menembus
badanku. (hlm.96-97)
Ia [Samsudin] mencabut gigi taringnya dari
tubuhku, seperti harimau lapar tengah berhadapan dengan mangsanya. Lalu
menggeram untuk kemudian menekan kuat-kuat wajahku di atas bantal sambil
mengeluarkan sumpah serapah tujuh turunan dan kata-kata makian yang diambil
dari kamus kebun binatang. Setelah menampar, mencekik dan menjambak rambutku
dengan penuh kebiadaban, setelah melihat tenagaku lemas tak berdaya, ia pergi
sambil meludahi wajahku berkali-kali. Busuk sekali bau ludahnya. (hlm.103)
…Ia [Khudori] selalu memberiku cerita-cerita
yang membesarkan hati. Member semangat untuk terus belajar sampai mati. “Kau
mesti belajar dan mencari ilmu sampai jasadmu berbaring diantara dua batu
nisan,” begitu kata Lek Khudori yang selalu kuingat. “Tapi jangan juga
tergantung pada saya. Kau bisa belajar di mana saja, dan kapan saja. Kau mesti
terus sekolah sampai jadi sarjana.”(hlm.26)
“Dan siapa bilang aku [Khudori] melarangmu kuliah. Justru yang kuinginkan,
pendidikanmu jauh lebih tinggi dariku. Jika kau dapat meraih gelar dkctor, itu
adalah sebuah kebanggaan buatku dan anak-anak kita nanti.” (hlm.200)
…SetiapMas Khudori mulai menyibakkan rambutku
dan menciumi leherku, tubuhku mengejang dan keringat dingin mulai mengalir
pelan.
“Mengapa harus takut, sayang. Kita sudah
menikah, kan. Apa kau takut padaku dan membayangkan aku berubah menjadi hantu.
Todakkan, Nisa. AKu ini suamimu, Khudori namnya, dan tidak punya bakat untuk
menakutimu.”
“Tidak! Tidak! Sama sekali tidak, Mas. Bukan
itu.Bukan itu yang membuat aku takut.”
“Lalu apa?”
“Mungkin bayangan itu, Mas.”
“Bayangan.Bayangan sispa?”
“Samsudin. Bayangan Samsudin saat memperkosaku,
Mas.”
“Oh, Nisa, aku tahu sekarang.”
Tiba-tiba Mas Khudori menghentikan semua
serbuan mesranya.Lalu bangkit dan berusaha rasa demam di tubuh.
“Aku bikini minum, ya…Mau?” (hlm.218-219).
Kutipan
di atas menunjukkan bahwa tingkat pendidikan tidak selalu mempunyai garis tegak
lurus dengan perilaku seseorang.Dalam novel ini, kondisi ini diwakili oleh
Samsudin dan Khudori.Baik Samsudin maupun Lek Khudori mempunyai latar
pendidikan tinggi. Samsudin memiliki perilaku yang negatif sementara Lek Khudori mempunyai perilaku positif.
Salah satunya adalah dalam memperlakukan Anisa baik secara fisik maupun
mental.Samsudin selalu merendahkan Annisa dan menganggap Anisa sebagai budak
nafsunya.Sementara, Lek Khudori selalu memotivasi Annisa untuk terus belajar
dan mengejar cita-citanya.
d.Mencerminkan
perjodohan masih terjadi ditengah-tengah masyarakat.
Kutipan
novel;
“Tetapi
anak peremouan kan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi.Sudah cukup jika telah
mengaji dan khatam.Sudah ikut sorogan kitab kuning.Kami juga tidak terlalu
keburu.Ya, mungkin menunggu si Udin wisuda kelak. Yang penting …. Kita sepakat
untuk saling menjaga. Mengenai kapan dilangsungkannya pernikahan, nanti kan
bisa direbuk lagi. Bukankah begitu, Pak Hanan? Kita ini kan sama-sama orang
tua…,” suara lelaki sang tamu mempengaruhi.”
Mendengar
kata-kata itu, darahku berasa beku.Aku bertahan dan berdiam seperti
patung.Rupanya mereka tengah merundingkan sesuatu untuk masa depanku.Alahkah
jauhnya mereka melalui nasibku. (hlm.90)
Kutipan diatas menunjukkan bahwa budaya
perjodohan masih melekat di tengah-tengah masyarakat dengan berbagai alasan dan
tujuan.
e. Mencerminkan suatu bentuk poligami yang
tidak lazim
kutipan
novel;
…Berkali-kali
Samsudin mencemoohku sebagai perempuan mandul, frigid dan egois. Akupun
mengamininya dan berharap ia menceraikanku secepatnya. Dan pada suatu hari,
ketika ia mengancam akan poligami, akupun mengamininya. Bahkan, aku malah
menyuruhnya untuk membawa seorang perempuan lain ke rumah. Dan akan kusambut
semua itu dengan senyuman serta menyuguhinya makanan sambil mengatakan welcome.
Ahlan wa sahlan. (hlm.113-114)
…Ia
[Kalsum] pun mulai mengatur menu makanan dan mengubah letak perabotan.
…Mengatur keuangan, mengatur belanja dan segala keperluan, juga keperluanku.
Aku
[Annisa] tak pernah peduli dengan semua itu….Aku pun tak pernah merasa ada
pesaing di sisiku, apalagi memiliki rasa cemburu. (hlm.
117)
Karena
terharu akan kejujurannya, kupeluk Kalsum dan ia mendekapku seperti seorang ibu
mendekap anaknya yang hilang sekian waktu. Kami berdua sesenggukan meluapkan
keharuan, seakan gunung es yang begitu tinggi telah mencair dan kami berada
dalam kehangatan kasih yang lahir dari sebuah pengertian baru tentang makna dan
warna kehidupan. (hlm.125)
Kutipan
di atas menggambarkan suatu bentuk poligami yang tidak lazim. Dalam hal ketidaklaziman
itu terlihat pada: (1) Annisa mengizinkan Samsudin untuk berpoligami tanpa
beban; (2) Annisa mengizinkan Samsudin membawa istri mudanya, Kalsum, hidup
bersama satu atap dengannya; (3) Annisa tidak merasa terganggu dengan
keberadaan wanita lain di rumahnya; (4) Annisa tidak pernah merasa iri dan
cemburu; dan (5) Annisa memberikan dukungan moril kepada Kalsum berkenaan
dengan perilaku bejad Samsudin.
f.Mencerminkan pernikahan menjadi sempuna jika
segera mempunyai momongan.
Kutipan novel;
“Tidak
kesepian nih, Neng Nisa tanpa momongan? Tunggu apalagi, Neng Nisa, segalanya
sudah tersedia kan?”
“Kesian
bagamana, Mbak Ayu ini? Kan sekarang sudah momongan, sekalipun dari yang lain,”
kata Bu Sumi gendut, mengomentari ibu yang lain.
“Tetapi
kan beda dengan anak sendiri?”
“Jika
tanah tandus dan gersang, ubi pun jadilah dimakan,” kata bu Mila…(hlm.152)
“Aku
takut dan khawatir, Mas. Jika pada saatnya kelak, ternyata aku tak dapat member
keturunan bagimu. Apa Mas akan tetap mencintaiku?” (hlm. 249)
Kutipan
di atas menggambarkan tentang keadaan masyarakat yang memandang bahwa suatu
pernikahan dikatakan sempurna jika memiliki momongan. Jika dalam kurun waktu
tertentu belum memiliki momongan, hal itu akan menjadi aib bagi keluarga
tersebut, selalu menuai sindiran orang sekitar. Bahkan, dengan tidak adanya
momongan dapat menjadi badai dalam rumah tangga.
3.3 Fungsi Sosial Novel Perempuan Berkalung Sorban
a. Fungsi
Pembaharu atau Pendobrak
Ada beberapa fungsi penbaharu yang terdapat
dalam novel Perempuan Berkalung Sorban,
antara lain:
1) Pembaharu dalam dunia pendidikan
pesentren. Dalam hal ini Annisa mendobrak kebiasaan di mana seorang santri
tidak diperkenankan untuk menyanggah seorang Kyai.
2) Pembaharu dalam hal kedudukan
anak perempuan. Dalam hal ini Annisa menunjukkan bahwa anak perempuan juga bisa
melakukan aktivitas yang selama ini dianggap sebagai kegiatan anak laki-laki
seperti menunggang kuda.
3) Pendobrak anggapan bahwa anak perempuan
tidak perlu mempunyai pendidikan yang tinggi. Dalam novel ini tokoh Annisa
dengan segala upaya berusaha menyelesaikan pendidikan Sarjana.
b. Fungsi
Pendidikan
1) Novel ini mengajarkan bahwa ajaran
agama tidak dapat dipahami hanya secara harfiah.
2) Dalam rumah tangga seorang suami harus
memperlakukan istri sebagai sahabat dan partner kerja dalam kehidupan, bukan
sebagai budak atau pembantu yang mengurusi semua keperluan suami dan anak.
3) Novel ini mengajarkan bahwa
segala sesuatu yang dipaksakan akan berdampak tidak baik.
4) Novel ini mengajarkan bahwa seorang
perempuan tidak harus menggantungkan kehidupannya kepada siapa pun termasuk
kepada suami. Dia harus bisa tegar dan berdiri di atas kakinya sendiri.
3.4 Kehidupan Sosial Anisa Dalam Novel
Perempuan Berkalung Sorban
Tokoh utama
dalam novel Perempuan Berkalung Sorban ialah Anisa. Anisa selalu muncul dalam
setiap tahapan peristiwa pada novel tersebut. Sesuai kodratnya sebagai manusia,
yakni manusia tidak dapat hidup sendiri atau akrab dikenal dengan sebutan
makhluk sosial, maka Anisa pun demikian. Dalam cerita, Anisa digambarkan hidup
bermasyarakat dengan orang-orang di sekitarnya. Ia bersosialisasi dalam
berbagai bidang, baik pendidikan, rumah tangga, maupun organisasi sosialnya
yang memperjuangkan kesetaraan gender kaum hawa. Ketiganya akan diulas lebih
lanjut sebagai berikut.
1)
Kehidupan
sosial tokoh di bidang pendidikan
Anisa adalah
seorang putri kiyai yang memiliki sebuah pondok. Anisa hanya mampu menamatkan
sekolah dasar sebelum dipaksa menikah dengan lelaki pilihan orang tuanya.
Perjuangan Anisa tak putus di situ, dalam masa penderitaannya berumah tangga,
ia memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke tsanawiyah dan aliyah.
Maka sekalipun
sudah hampir dua minggu aku absen dari panggilan guru, kupaksakan diri ini
untuk kembali ke sekolah tsanawiyah. Dengan penuh keyakinan bahwa segalanya
akan berubah ketika lautan ilmu itu berkumpul di sini, dalam otakku. Atas nama
kecintaanku pada Lek Khudori, atas nama ilmu dan atas nama perubahan, aku
bergegas masuk ke dalam kelas. Kulahap semua ilmu yang diajarkan para guru
dengan sepenuh hati dan kemampuan berpikirku. Tiga tahun berlalu dan kini aku
telah lulus dengan menduduki ranking kedua setingkat kabupaten.
Meski telah bersuami, aku memang belum hamil. Dan jika aku hamil, tentu aku tak bisa melanjutkan sekolah ke tingkat aliyah.
Meski telah bersuami, aku memang belum hamil. Dan jika aku hamil, tentu aku tak bisa melanjutkan sekolah ke tingkat aliyah.
Tak hanya
berhenti sampai pendidikan di tingkat aliyah, rupanya cita-cita Anisa adalah
menjadi seorang sarjana. Mimpi itu pun ia kejar setelah bercerai dengan sang
suami.
“Uruslah pendaftaran dan segera kuliah. Dengan kuliah, kau akan memiliki banyak kesibukan,” kata Lek Khudori.
“Uruslah pendaftaran dan segera kuliah. Dengan kuliah, kau akan memiliki banyak kesibukan,” kata Lek Khudori.
“Kupikir,
itulah satu-satunya yang harus segera kulakukan, Lek” (D)
Atas dukungan ibu dan Wildan juga atas pertimbangan bahwa kondisiku kurang baik untuk tinggal terlalu lama tanpa aktivitas setelah menjanda, aku putuskan niatku untuk segera berangkat ke Yogyakarta, melanjutkan sekolah di perguruan tinggi . sekali pun Rizal dan wildan juga di Yogya, aku tidak mau tinggal bersama mereka. Aku ingin merasakan kemerdekaan hidup yang mengobsesi sekian lama dalam benakku. Toh aku sudah dewasa kini. (N)
Anisa begitu gigih dalam meraih cita-cita pendidikannya, terlebih orang yang ia cintai selalu mendukung untuk itu. Terlihat dari kutipan-kutipan di atas bahwa Anisa tetap melanjutkan sekolah meskipun sudah menikah. Selanjutnya, setelah ia menjanda ia melanjutkan sekolah di perguruan tinggi atas dorongan Lek Khudori dan dengan dukungan orang tuanya. Anisa membuktikan kepada pembaca bahwa perempuann juga memiliki kesempatan yang setara dengan laki-laki dalam bidang pendidikan. Perempuan juga boleh melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi.
Atas dukungan ibu dan Wildan juga atas pertimbangan bahwa kondisiku kurang baik untuk tinggal terlalu lama tanpa aktivitas setelah menjanda, aku putuskan niatku untuk segera berangkat ke Yogyakarta, melanjutkan sekolah di perguruan tinggi . sekali pun Rizal dan wildan juga di Yogya, aku tidak mau tinggal bersama mereka. Aku ingin merasakan kemerdekaan hidup yang mengobsesi sekian lama dalam benakku. Toh aku sudah dewasa kini. (N)
Anisa begitu gigih dalam meraih cita-cita pendidikannya, terlebih orang yang ia cintai selalu mendukung untuk itu. Terlihat dari kutipan-kutipan di atas bahwa Anisa tetap melanjutkan sekolah meskipun sudah menikah. Selanjutnya, setelah ia menjanda ia melanjutkan sekolah di perguruan tinggi atas dorongan Lek Khudori dan dengan dukungan orang tuanya. Anisa membuktikan kepada pembaca bahwa perempuann juga memiliki kesempatan yang setara dengan laki-laki dalam bidang pendidikan. Perempuan juga boleh melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi.
2)
Kehidupan
sosial tokoh dalam kehidupan berumah tangga
Orang tua Anisa
telah menjodohkan Anisa dengan seorang putra kiyai sahabatnya sehingga keduanya
yakin Anisa menikah dengan orang yang tepat: Syamsudin. Namun, kenyataan yang
dialami Anisa rupanya jauh dari harapan orang tuanya. Rumah tangganya jauh dari
kata harmonis. Anisa sering mendapat kekerasan dari Syamsudin, namun ia tak
tinggal diam, ia tak jarang melakukan pembelaan atas dirinya.
“Kau
memperkosaku, Samsudin! Kau telah memperkosaku!”
“Memperkosa?
Heh heh heh …,” ia terbahak-bahak kecil karena merasa puas mengerjaiku. “Mana
ada suami memperkosa isterinya sendiri. Kau ini aneh, Nisa. Aku belum pernah
melihat perempuan sebodoh kau ini. Tetapi sekalipun bodoh, kau begitu molek.
Tubuhmu begitu luar biasa, heh heh heh…”
“Hentikan
ocehanmu! Perilakumu seperti bukan muslim!”(hlm 23 )
Anisa membela
dirinya dengan kata-kata perlawanan terhadap Samsudin. Kata-kata untuk
menyadarkan Samsudin bahwa perbuatannya terhadap istri tidak terpuji. Meskipun
kata-kata itu kadang justru membuat dirinya makin dianiaya Samsudin. Selain
itu, Anisa juga membela dirinya dengan perbuatan sebagai berikut.
Ia menampar
mukaku bertubi-tubi hingga pipi dan pundakku lebam kebiru-biruan. Untuk kali
pertamaku, kucakar wajahnya dan ia membanting badanku ke lantai. (N)
Dari narasi tersebut dapat diketahui bahwa Anisa membela dirinya dengan cara mencakar wajah Samsudin yang telah menamparnya. Begitulah pembelaan Anisa, namun Samsudin tetap tak mau kalah. Samsudin membanting Anisa ke lantai dari atas ranjang mereka. Itulah potret kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan oleh Samsudin kepada Anisa.
Dari narasi tersebut dapat diketahui bahwa Anisa membela dirinya dengan cara mencakar wajah Samsudin yang telah menamparnya. Begitulah pembelaan Anisa, namun Samsudin tetap tak mau kalah. Samsudin membanting Anisa ke lantai dari atas ranjang mereka. Itulah potret kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan oleh Samsudin kepada Anisa.
Anisa akhirnya
bercerai dengan Samsuduin. Lantas ketika ia tengah menempuh pendidikannya di
perguruan tinggi, ia pun menikah dengan orang yang selama ini ia cintai: Lek
Khudori. Kehidupan rumah tangga Anisa dengan lek-nya sangat berbeda ketika ia
dengan Samsudin. Dengan Khudori, ia benar-benar merasakan indahnya pernikahan,
ia sangat bahagia.
Aku semakin kepayang. Malang melintang di taman keindahan. Darahku seolah mengalir ke satu titik, menyerbu dan menggempurnya untuk sesuatu yang membuatku penasaran.
Di antara rasa dan keindahan yang berlipat ganda itu, aku mendengaar mas Khudori melafalkan sebuah doa. Bismillahi Allahumma janibnas syaithan.
Aku semakin kepayang. Malang melintang di taman keindahan. Darahku seolah mengalir ke satu titik, menyerbu dan menggempurnya untuk sesuatu yang membuatku penasaran.
Di antara rasa dan keindahan yang berlipat ganda itu, aku mendengaar mas Khudori melafalkan sebuah doa. Bismillahi Allahumma janibnas syaithan.
“Bagaimana,
sayang…apa yang kau rasakan?” (D)
“Terus saja,
Mas…” (D) (hlm 35)
Dari narasi dan
dialog di atas, diterangkan bahwa Anisa tidak merasa terpaksa melakukan
hubungan suami istri, karena Khudori bersikap lembut dan penuh kasih sayang,
tidak seperti bersama Samsudin (ia merasa diperkosa).
3)
Kehidupan
sosial tokoh dalam memperjuangkan kesetaraan gender
Merasa
orang-orang tidak adil atas dirinya sebagai perempuan dan menghadapi masalah
pelik dalam rumah tangganya, membuat Anisa tak ingin sesamanya merasakan hal
yang ia rasakan. Untuk itu, semenjak ia duduk di bangku perkuliahan ia
mengikuti sebuah organisasi ekstra kampus.
Dengan kuliah,
aku menaiki jenjang pendidikan setapak demi setapak dengan ilmu yang merasuki
otak. Membentuk pola pikir dan kepribadianku. Dengan organisasi aku mempelajari
cara berdebat, berpidato dan manajemen kata untuk menguasai massa, juga lobby
dengan banyak orang yang lebih lama kuliahnya. (hlm 31)
Trauma Samsudin
begitu parah mengendap dalam kesadaranku, hingga beberapa teman mengira aku
alergi terhadap laki-laki. Seperti Nina yang memperolokku sebagai perempuan
salju. Terlebih jika aku bicara di forum mengenai laki-laki, lidahku menjadi
pedas dan kata-kata yang ke luar akan semakin pedas lagi dari yang dapat
dikira. Jika terjadi debat kusir dengan seorang laki-laki di luar forum,
lidahku bisa melingkar-lingkar dan seluruh anggota badanku, dari gerakan tangan
atau tatapan mata akan ikut memainkan peran untuk membuat lawan bicara menjadi
kelenger. Klepek-klepek seperti ikan di blumbang keruh. (hlm 32 )
Dari narasi di
atas dapat diketahui bahwa traumanya dengan Samsudin membuatnya menjadi sangat
galak terhadap laki-laki.
“Memangnya ada
apa dengan Basuni, Nin, bukankah ia kasmaran betul dengan kamu?”
“Itu urusan
dia. Tetapi nggak zamannya laki-laki menguasai perempuan. Belum apa-apa sudah
melarang ini melarang itu, perintah sana, perintah sini, seenaknya. Memangnya
aku ini kacung?” Kata Nina sebal.
Dialog antara
Anisa dan rekan organisasinya itu mengkritisi seorang laki-laki yang suka
mengatur dan itu sangat tidak disukai kaum hawa karena hal itu dianggap suatu
ketidakadilan.
0 komentar:
Posting Komentar