Translate

sinopsis dan analisi sosiologi novel permpuan bersorban

Written By iqbal_editing on Kamis, 10 November 2016 | 00.23

Novel ini merupakan penggambaran perjuangan seorang wanita bernama Anissa yang merupakan anak dari seorang pimpinan Pondok Pesantren Salafiah putri Al-Huda yang terletak di jawa timur.Anisa hidup dalam keluarga yang sangat mengedepankan agama, bagi keluarganya yang terpenting hanyalah Al-Qur’an, Hadist dan Sunnah dan mereka menganggap bahwa buku-buku modern yang ada adalah sebuah hal yang menyimpang.
Dari sinilah Annisa mulai berfikir bahwa Agama Islam hanya berpihak pada pihak laki-laki.Anissa tumbuh menjadi seorang remaja dengan segala rasa penasaran akan perbeaan yang terletak pada hak antara laki-laki dan perempuan. Apalagi kedua kakak laki-lakinya begitu bebas dalam kehidupan sehari-harinya. Rasa iri menghampiri  Anissa, hingga Anissa meminta pada Lek Kudhori yang merupakan saudaranya untuk mengajarinya belajar berkuda, hal ini dilakukan tentunya dengan sembunyi-sembunyi dan jauh dari sepengetahuan orang tuanya.
Bagi Anissa Lek Khudori adalah sosok idolanya, apalagi dia sangat mengerti pada Anissa.Di tengah-tengah usianya yang beranjak dewasa Anissa merasa ada sesuatu yang tak wajar pada dirinya, sebuah perasaan yang sangat aneh.Anissa jatuh cinta pada Lek Kudhori, di saa-saat itu pula Lek Kudhory terpaksa meninggalkan Anissa untuk menuntut ilmu di Universitas Al-Ashar Cairo.
Hari-hari yang dilalui Anissa terasa sangat berat, kini hari-harinya terasa sangat menyebalkan dengan aturan-aturan yang sama sekali merugikan kaum wanita. Pemberontakan demi pemberontakan dilakukan Anissa, namun semu itu tak sedikitpun merubah kehidupannya, dan akibat pemberontakan-pemberontakan itu.Dan saat ini usianya belum genap tiga belas tahun, namun ayahnya  sudah berinisiatif untuk menjodohkannya.
Singkat cerita akhirnya Anissa terpaksa menuruti kemauan orang tuanya itu, Menikahlah Anissa menikah dengan lelaki yang sama sekali tak dicintainya, lelaki itu bernama Syamsudin yang merupakan anak dari kyai pemilik Pondok Pesantren yang merupakan rekan relasi dari ayah Anissa. Orang tua Anissa menjodohkan Anissa dengan Syamsudiu atas dasar karena Syamsudin merupakan anak dari keluarga yang baik-baik dan lulusan Sarjana Hukum.
Namun keadaan berbalik arah, kehidupan rumah tangga yang dijalani Anissa tak berjalan sesuai harapa, perlakuan Syamsudin pada Anissa sangat tidak manusiawi.Namun hal itu tak pernah di ketahui oleh orang tua Anissa.Hingga suatu ketika seorang janda muda bernama Mbak Kalsum mendatangi rumah Syamsudin untuk meminta pertanggung jawaban atas kehamilannya bersama Syamsudin.  Kepelikan tak berhenti sampai disini, kini Anissa harus dimadu dan harus mengurus Fadillah, bayi perempuan hasil hubungan Syamsudin bersama Mbak Kalsum.
Suatu hari Anissa mnyempatkan diri pulang ke Pondok untuk menjenguk orang tuanya.Kebetulan hari tersebut bertepatan dengan pulangnya Lek Kudhori dari Cairo. Anissa mencurahkan segenap maslah yang dipendamnya, mengetahui hal itu sang ayah jatuh sakit, dan berinisiatif untuk menceraikan anaknya. Sebuah kebebasan kini telah direngkuhnya kebahagian kini menghampirinya.
Kebersamaan yang terjalin diantara Anissa dan Lek Khudori semakin memupuk rasa cinta diantara mereka berdua.Kebersamaa diantara mereka berdua memunculkan banyak pergunjingan di kalangan tetangga di sekitar mereka.
Anissa menikah dengan Lek Khudori, namun semua itu tak menghilangkan trauma dibenak Anissa, Namun perlakuan lembut yang diberikan oleh Lek Kudhori pelan-pelan meluruhkan traumatik akut yang melakat di benak Anissa. Kini Anissa mendapatkan perlakuan yang sangat baik bak seorang ratu, perlakuan yang sangat indah jauh dari perilaku-perilaku yang pernah diterimanya dari mantan suaminya Syamsudin.Dan kini  Anissa hidup dengan kebahagian yang haqiqi.
Tahun telah berganti tahun dan merekapun dikaruniai seorang anak yang diberi nama Mahbub.Ditengah-tengah kebahagiaan yang tengah berpihak padanya, Sebuah kabar buruk menghampirinya, Lek Khudori tewas dalam kecelakaan, ada yang mengatakan bila Syamsudinlah pelaku tabrak lari itu.
3.2  AnalisisCerminan Masyarakat Dalam Novel Perempuan Berkalung Sorban.
Ayah pergi ke kantor
Ibu memasak di dapur
Budi bermain di halaman
Ani mencuci piring
a.      Mencerminkan anak perempuan sering dipersalahkan.
Kutipan novel;
Kita jaring betinanya!”, teriak Rizal, kakakku.
“Dia mau bertelur, jangan diganggu!”, sergahku. [Annisa] (hlm.2)
Rizal tercebur ke dalam blumbang, dan Annisa menolongnya.
“Kamu lama sekali! Kalau saja terlambat sedetik, aku bisa mati. Bodoh!” [Rizal]
“Eh, sudah ditolong, bukannya terima kasih, malah maki-maki” [Annisa]
“Tetapi janji ya, nggak bilang sama Bapak. Janji?” [Rizal] (hlm.4)
Pada saat Rizal dan Annisa sampai di rumah, ayah mereka mendapati mereka basah kuyup dan tahu mereka pasti melakukan sesuatu sehingga memarahi mereka. Namun, Rizal menyalahkan Annisa dan Ayah membenarkannya.
Kutipan novel;
“Bocah bagus…bocah pinter…anak Bapak, coba sekarang katakana, kemana saja kalian berpetualang seharian!” tandasnya dengan tegas
“Dia yang mengajak, Pak,” Rizal mencari alasan dengan menunjuk mukaku.
“Tetapi kamu  mau. Salah sendiri,” aku tak mau kalah.
“O…jadi rupanya kamu yang punya inisiatif bocah wedhok. Kamu yang ngajari kakakmu jadi penyelam seperti ini ya?Kamu yang membujuk kakakmu mengembara?”(hlm.6)
Kutipan di atas menunjukkan bahwa anak perempuan sering dipersalahkan.Pertama, saat Annisa menolong Rizal saat dia tercebur, Rizal menyalahkannya karena kurang cepat, padahal Annisa sudah berusaha melarangnya mengejar katak betina.Kedua, ayah menyalahkan Annisa karena Rizal tercebur tanpa terlebih dahulu berusaha mengetahui duduk persoalannya.
b. Mencerminkan anak perempuan sering diperlakukan berbeda dari anak laki-laki sehingga anak perempuan tidak memiliki hak yang sama dengan anak laki-laki.
            Kutipan novel;
“Ow…ow…ow…jadi begitu. Apa Ibu belum mengatakan padamu kalau naik kuda hanya pantas dipelajari oleh kakakmu Rizal, atau kakakmu Wildan. Kau tahu, mengapa? Sebab kau ini anak perempuan, Nisa. Nggak pantas, anak perempuan kok naik kuda, pencilakan, apalagi keluyuran mengelilingi lading, sampai ke blumbang segala. Memalukan! Kau ini sudah besar masih bodoh juga, hehh!!” Tasbih bapak bergerak lamban, mengena kepalaku.(hlm 7)
“Benar, Mbak. Habis Rizal dan Wildan boleh kembali tidur, sementara Nisa harus membersihkan tempat tidur dan mambantu ibu memask di dapur. Sementara Rizal dan Wildan masuk lagi ke kamar, katanya mau belajar, padahal Nisa lihat sendiri mereka kembali tidur sehabis shalat shubuh.”(hlm21)
Kutipan di atas menunjukkan bahwa anak perempuan diperlakukan sangat berbeda dari anak laki-laki.Dalam hal ini, anak perempuan tidak diperkenankan belajar menunggang kuda, dan harus membantu ibu membersihkan rumah sehabis shalat shubuh.Sementara, hak “istimewa” tidur setelah shalat shubuh didapat oleh anak laki-laki.
c. Mencerminkan anak perempuan sering diperlakukan berbeda dari anak laki-laki sehingga anak perempuan tidak memiliki hak yang sama dengan anak laki-laki.
       Kutipan novel;
“…Ia seorang sarjana hukum dan putra seorang kiai ternama. Apalagi yang kurang dari dirinya. Segalanya ia miliki. Dan ia memang laki-laki yang memikat”. (hlm.105)
“Hentikan kelakuanmu!Atau aku pergi dari rumah ini.”
“Waduh, waduh!Galak amat!”Ia tertawa dan terus tertawa melecehkan.
“Kau pikir, karena kau suamiku, kau bisa seenaknya memperlakukan aku?”
“Apa yang kau katakana, Nisa?Aku hanya ingin main-main denganmu.”
“ Main – main? Permainanmu sangat menyebalkan.”
“ O, yang mana lebih menyebalkan, permainanku atau nada bicaramu.”
“ Kita lihat saja nanti.”
       Ia membuang puntung rokok dan serta merta di luar perkiraanku, laki-laki bernama Samsudin itu meraih tubuhku dalam gendongannya. Lalu membawaku ke kamar dan menidirkanku di atas ranjang. Kemudian berusaha merayuku dengan suara lelaki di sama kerejaan Majapahit. Lalu mengguling-gulingkan tubuhku dengan paksa. Dengan paksa pula ia buka bajuku, dan semua yang menempel di badan. Aku meronta kesakitan tetepi ia kelihatan semakin buas dan tenaganya semakin lama semakin berlipat-lipat. Matanya mendelik ke wajahku.Kedua tangannya mencengkeram bahuku sekaligus menekan kedua lenganku.Beban gajihnya begitu berat menindih tubuhku hingga semuanya menjadi tak tertahankan.Seperti ada pelulu karet yang menembus badanku. (hlm.96-97)
Ia [Samsudin] mencabut gigi taringnya dari tubuhku, seperti harimau lapar tengah berhadapan dengan mangsanya. Lalu menggeram untuk kemudian menekan kuat-kuat wajahku di atas bantal sambil mengeluarkan sumpah serapah tujuh turunan dan kata-kata makian yang diambil dari kamus kebun binatang. Setelah menampar, mencekik dan menjambak rambutku dengan penuh kebiadaban, setelah melihat tenagaku lemas tak berdaya, ia pergi sambil meludahi wajahku berkali-kali. Busuk sekali bau ludahnya. (hlm.103)
…Ia [Khudori] selalu memberiku cerita-cerita yang membesarkan hati. Member semangat untuk terus belajar sampai mati. “Kau mesti belajar dan mencari ilmu sampai jasadmu berbaring diantara dua batu nisan,” begitu kata Lek Khudori yang selalu kuingat. “Tapi jangan juga tergantung pada saya. Kau bisa belajar di mana saja, dan kapan saja. Kau mesti terus sekolah sampai jadi sarjana.”(hlm.26)
“Dan siapa bilang aku [Khudori]  melarangmu kuliah. Justru yang kuinginkan, pendidikanmu jauh lebih tinggi dariku. Jika kau dapat meraih gelar dkctor, itu adalah sebuah kebanggaan buatku dan anak-anak kita nanti.” (hlm.200)
…SetiapMas Khudori mulai menyibakkan rambutku dan menciumi leherku, tubuhku mengejang dan keringat dingin mulai mengalir pelan.
“Mengapa harus takut, sayang. Kita sudah menikah, kan. Apa kau takut padaku dan membayangkan aku berubah menjadi hantu. Todakkan, Nisa. AKu ini suamimu, Khudori namnya, dan tidak punya bakat untuk menakutimu.”
“Tidak! Tidak! Sama sekali tidak, Mas. Bukan itu.Bukan itu yang membuat aku takut.”
“Lalu apa?”
“Mungkin bayangan itu, Mas.”
“Bayangan.Bayangan sispa?”
“Samsudin. Bayangan Samsudin saat memperkosaku, Mas.”
“Oh, Nisa, aku tahu sekarang.”
Tiba-tiba Mas Khudori menghentikan semua serbuan mesranya.Lalu bangkit dan berusaha rasa demam di tubuh.
“Aku bikini minum, ya…Mau?” (hlm.218-219).
            Kutipan di atas menunjukkan bahwa tingkat pendidikan tidak selalu mempunyai garis tegak lurus dengan perilaku seseorang.Dalam novel ini, kondisi ini diwakili oleh Samsudin dan Khudori.Baik Samsudin maupun Lek Khudori mempunyai latar pendidikan tinggi. Samsudin memiliki perilaku yang negatif  sementara Lek Khudori mempunyai perilaku positif. Salah satunya adalah dalam memperlakukan Anisa baik secara fisik maupun mental.Samsudin selalu merendahkan Annisa dan menganggap Anisa sebagai budak nafsunya.Sementara, Lek Khudori selalu memotivasi Annisa untuk terus belajar dan mengejar cita-citanya.
d.Mencerminkan perjodohan masih terjadi ditengah-tengah masyarakat.
            Kutipan novel;
“Tetapi anak peremouan kan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi.Sudah cukup jika telah mengaji dan khatam.Sudah ikut sorogan kitab kuning.Kami juga tidak terlalu keburu.Ya, mungkin menunggu si Udin wisuda kelak. Yang penting …. Kita sepakat untuk saling menjaga. Mengenai kapan dilangsungkannya pernikahan, nanti kan bisa direbuk lagi. Bukankah begitu, Pak Hanan? Kita ini kan sama-sama orang tua…,” suara lelaki sang tamu mempengaruhi.”
Mendengar kata-kata itu, darahku berasa beku.Aku bertahan dan berdiam seperti patung.Rupanya mereka tengah merundingkan sesuatu untuk masa depanku.Alahkah jauhnya mereka melalui nasibku. (hlm.90)    
Kutipan diatas menunjukkan bahwa budaya perjodohan masih melekat di tengah-tengah masyarakat dengan berbagai alasan dan tujuan.
e. Mencerminkan suatu bentuk poligami yang tidak lazim
            kutipan novel;
…Berkali-kali Samsudin mencemoohku sebagai perempuan mandul, frigid dan egois. Akupun mengamininya dan berharap ia menceraikanku secepatnya. Dan pada suatu hari, ketika ia mengancam akan poligami, akupun mengamininya. Bahkan, aku malah menyuruhnya untuk membawa seorang perempuan lain ke rumah. Dan akan kusambut semua itu dengan senyuman serta menyuguhinya makanan sambil mengatakan welcome. Ahlan wa sahlan. (hlm.113-114)
…Ia [Kalsum] pun mulai mengatur menu makanan dan mengubah letak perabotan. …Mengatur keuangan, mengatur belanja dan segala keperluan, juga keperluanku.
Aku [Annisa] tak pernah peduli dengan semua itu….Aku pun tak pernah merasa ada pesaing di sisiku, apalagi memiliki rasa cemburu. (hlm. 117)
Karena terharu akan kejujurannya, kupeluk Kalsum dan ia mendekapku seperti seorang ibu mendekap anaknya yang hilang sekian waktu. Kami berdua sesenggukan meluapkan keharuan, seakan gunung es yang begitu tinggi telah mencair dan kami berada dalam kehangatan kasih yang lahir dari sebuah pengertian baru tentang makna dan warna kehidupan. (hlm.125)
            Kutipan di atas menggambarkan suatu bentuk poligami yang tidak lazim. Dalam hal ketidaklaziman itu terlihat pada: (1) Annisa mengizinkan Samsudin untuk berpoligami tanpa beban; (2) Annisa mengizinkan Samsudin membawa istri mudanya, Kalsum, hidup bersama satu atap dengannya; (3) Annisa tidak merasa terganggu dengan keberadaan wanita lain di rumahnya; (4) Annisa tidak pernah merasa iri dan cemburu; dan (5) Annisa memberikan dukungan moril kepada Kalsum berkenaan dengan perilaku bejad Samsudin.
f.Mencerminkan pernikahan menjadi sempuna jika segera mempunyai momongan.
            Kutipan novel;
“Tidak kesepian nih, Neng Nisa tanpa momongan? Tunggu apalagi, Neng Nisa, segalanya sudah tersedia kan?”
“Kesian bagamana, Mbak Ayu ini? Kan sekarang sudah momongan, sekalipun dari yang lain,” kata Bu Sumi gendut, mengomentari ibu yang lain.
“Tetapi kan beda dengan anak sendiri?”
“Jika tanah tandus dan gersang, ubi pun jadilah dimakan,” kata bu Mila…(hlm.152)
“Aku takut dan khawatir, Mas. Jika pada saatnya kelak, ternyata aku tak dapat member keturunan bagimu. Apa Mas akan tetap mencintaiku?” (hlm. 249)
            Kutipan di atas menggambarkan tentang keadaan masyarakat yang memandang bahwa suatu pernikahan dikatakan sempurna jika memiliki momongan. Jika dalam kurun waktu tertentu belum memiliki momongan, hal itu akan menjadi aib bagi keluarga tersebut, selalu menuai sindiran orang sekitar. Bahkan, dengan tidak adanya momongan dapat menjadi badai dalam rumah tangga.
3.3  Fungsi Sosial Novel Perempuan Berkalung Sorban
a. Fungsi Pembaharu atau Pendobrak
Ada beberapa fungsi penbaharu yang terdapat dalam novel Perempuan Berkalung Sorban, antara lain:
1) Pembaharu dalam dunia pendidikan pesentren. Dalam hal ini Annisa mendobrak kebiasaan di mana seorang santri tidak diperkenankan untuk menyanggah seorang Kyai.
2)  Pembaharu dalam hal kedudukan anak perempuan. Dalam hal ini Annisa menunjukkan bahwa anak perempuan juga bisa melakukan aktivitas yang selama ini dianggap sebagai kegiatan anak laki-laki seperti menunggang kuda.
3) Pendobrak anggapan bahwa anak perempuan tidak perlu mempunyai pendidikan yang tinggi. Dalam novel ini tokoh Annisa dengan segala upaya berusaha menyelesaikan pendidikan Sarjana.
b. Fungsi Pendidikan
1) Novel ini mengajarkan bahwa ajaran agama tidak dapat dipahami hanya secara harfiah.
2) Dalam rumah tangga seorang suami harus memperlakukan istri sebagai sahabat dan partner kerja dalam kehidupan, bukan sebagai budak atau pembantu yang mengurusi semua keperluan suami dan anak.
3)  Novel ini mengajarkan bahwa segala sesuatu yang dipaksakan akan berdampak tidak baik.
4)  Novel ini mengajarkan bahwa seorang perempuan tidak harus menggantungkan kehidupannya kepada siapa pun termasuk kepada suami. Dia harus bisa tegar dan berdiri di atas kakinya sendiri.
3.4  Kehidupan Sosial Anisa Dalam Novel Perempuan Berkalung Sorban
Tokoh utama dalam novel Perempuan Berkalung Sorban ialah Anisa. Anisa selalu muncul dalam setiap tahapan peristiwa pada novel tersebut. Sesuai kodratnya sebagai manusia, yakni manusia tidak dapat hidup sendiri atau akrab dikenal dengan sebutan makhluk sosial, maka Anisa pun demikian. Dalam cerita, Anisa digambarkan hidup bermasyarakat dengan orang-orang di sekitarnya. Ia bersosialisasi dalam berbagai bidang, baik pendidikan, rumah tangga, maupun organisasi sosialnya yang memperjuangkan kesetaraan gender kaum hawa. Ketiganya akan diulas lebih lanjut sebagai berikut.
1)      Kehidupan sosial tokoh di bidang pendidikan
Anisa adalah seorang putri kiyai yang memiliki sebuah pondok. Anisa hanya mampu menamatkan sekolah dasar sebelum dipaksa menikah dengan lelaki pilihan orang tuanya. Perjuangan Anisa tak putus di situ, dalam masa penderitaannya berumah tangga, ia memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke tsanawiyah dan aliyah.
Maka sekalipun sudah hampir dua minggu aku absen dari panggilan guru, kupaksakan diri ini untuk kembali ke sekolah tsanawiyah. Dengan penuh keyakinan bahwa segalanya akan berubah ketika lautan ilmu itu berkumpul di sini, dalam otakku. Atas nama kecintaanku pada Lek Khudori, atas nama ilmu dan atas nama perubahan, aku bergegas masuk ke dalam kelas. Kulahap semua ilmu yang diajarkan para guru dengan sepenuh hati dan kemampuan berpikirku. Tiga tahun berlalu dan kini aku telah lulus dengan menduduki ranking kedua setingkat kabupaten.
Meski telah bersuami, aku memang belum hamil. Dan jika aku hamil, tentu aku tak bisa melanjutkan sekolah ke tingkat aliyah.
Tak hanya berhenti sampai pendidikan di tingkat aliyah, rupanya cita-cita Anisa adalah menjadi seorang sarjana. Mimpi itu pun ia kejar setelah bercerai dengan sang suami.
“Uruslah pendaftaran dan segera kuliah. Dengan kuliah, kau akan memiliki banyak kesibukan,” kata Lek Khudori.
“Kupikir, itulah satu-satunya yang harus segera kulakukan, Lek” (D)
Atas dukungan ibu dan Wildan juga atas pertimbangan bahwa kondisiku kurang baik untuk tinggal terlalu lama tanpa aktivitas setelah menjanda, aku putuskan niatku untuk segera berangkat ke Yogyakarta, melanjutkan sekolah di perguruan tinggi . sekali pun Rizal dan wildan juga di Yogya, aku tidak mau tinggal bersama mereka. Aku ingin merasakan kemerdekaan hidup yang mengobsesi sekian lama dalam benakku. Toh aku sudah dewasa kini. (N)
Anisa begitu gigih dalam meraih cita-cita pendidikannya, terlebih orang yang ia cintai selalu mendukung untuk itu. Terlihat dari kutipan-kutipan di atas bahwa Anisa tetap melanjutkan sekolah meskipun sudah menikah. Selanjutnya, setelah ia menjanda ia melanjutkan sekolah di perguruan tinggi atas dorongan Lek Khudori dan dengan dukungan orang tuanya. Anisa membuktikan kepada pembaca bahwa perempuann juga memiliki kesempatan yang setara dengan laki-laki dalam bidang pendidikan. Perempuan juga boleh melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi.
2)      Kehidupan sosial tokoh dalam kehidupan berumah tangga
Orang tua Anisa telah menjodohkan Anisa dengan seorang putra kiyai sahabatnya sehingga keduanya yakin Anisa menikah dengan orang yang tepat: Syamsudin. Namun, kenyataan yang dialami Anisa rupanya jauh dari harapan orang tuanya. Rumah tangganya jauh dari kata harmonis. Anisa sering mendapat kekerasan dari Syamsudin, namun ia tak tinggal diam, ia tak jarang melakukan pembelaan atas dirinya.
“Kau memperkosaku, Samsudin! Kau telah memperkosaku!”
“Memperkosa? Heh heh heh …,” ia terbahak-bahak kecil karena merasa puas mengerjaiku. “Mana ada suami memperkosa isterinya sendiri. Kau ini aneh, Nisa. Aku belum pernah melihat perempuan sebodoh kau ini. Tetapi sekalipun bodoh, kau begitu molek. Tubuhmu begitu luar biasa, heh heh heh…”
“Hentikan ocehanmu! Perilakumu seperti bukan muslim!”(hlm 23 )
Anisa membela dirinya dengan kata-kata perlawanan terhadap Samsudin. Kata-kata untuk menyadarkan Samsudin bahwa perbuatannya terhadap istri tidak terpuji. Meskipun kata-kata itu kadang justru membuat dirinya makin dianiaya Samsudin. Selain itu, Anisa juga membela dirinya dengan perbuatan sebagai berikut.
Ia menampar mukaku bertubi-tubi hingga pipi dan pundakku lebam kebiru-biruan. Untuk kali pertamaku, kucakar wajahnya dan ia membanting badanku ke lantai. (N)
Dari narasi tersebut dapat diketahui bahwa Anisa membela dirinya dengan cara mencakar wajah Samsudin yang telah menamparnya. Begitulah pembelaan Anisa, namun Samsudin tetap tak mau kalah. Samsudin membanting Anisa ke lantai dari atas ranjang mereka. Itulah potret kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan oleh Samsudin kepada Anisa.
Anisa akhirnya bercerai dengan Samsuduin. Lantas ketika ia tengah menempuh pendidikannya di perguruan tinggi, ia pun menikah dengan orang yang selama ini ia cintai: Lek Khudori. Kehidupan rumah tangga Anisa dengan lek-nya sangat berbeda ketika ia dengan Samsudin. Dengan Khudori, ia benar-benar merasakan indahnya pernikahan, ia sangat bahagia.
Aku semakin kepayang. Malang melintang di taman keindahan. Darahku seolah mengalir ke satu titik, menyerbu dan menggempurnya untuk sesuatu yang membuatku penasaran.
Di antara rasa dan keindahan yang berlipat ganda itu, aku mendengaar mas Khudori melafalkan sebuah doa. Bismillahi Allahumma janibnas syaithan.
“Bagaimana, sayang…apa yang kau rasakan?” (D)
“Terus saja, Mas…” (D) (hlm 35)
Dari narasi dan dialog di atas, diterangkan bahwa Anisa tidak merasa terpaksa melakukan hubungan suami istri, karena Khudori bersikap lembut dan penuh kasih sayang, tidak seperti bersama Samsudin (ia merasa diperkosa).
3)      Kehidupan sosial tokoh dalam memperjuangkan kesetaraan gender
Merasa orang-orang tidak adil atas dirinya sebagai perempuan dan menghadapi masalah pelik dalam rumah tangganya, membuat Anisa tak ingin sesamanya merasakan hal yang ia rasakan. Untuk itu, semenjak ia duduk di bangku perkuliahan ia mengikuti sebuah organisasi ekstra kampus.
Dengan kuliah, aku menaiki jenjang pendidikan setapak demi setapak dengan ilmu yang merasuki otak. Membentuk pola pikir dan kepribadianku. Dengan organisasi aku mempelajari cara berdebat, berpidato dan manajemen kata untuk menguasai massa, juga lobby dengan banyak orang yang lebih lama kuliahnya. (hlm 31)
Trauma Samsudin begitu parah mengendap dalam kesadaranku, hingga beberapa teman mengira aku alergi terhadap laki-laki. Seperti Nina yang memperolokku sebagai perempuan salju. Terlebih jika aku bicara di forum mengenai laki-laki, lidahku menjadi pedas dan kata-kata yang ke luar akan semakin pedas lagi dari yang dapat dikira. Jika terjadi debat kusir dengan seorang laki-laki di luar forum, lidahku bisa melingkar-lingkar dan seluruh anggota badanku, dari gerakan tangan atau tatapan mata akan ikut memainkan peran untuk membuat lawan bicara menjadi kelenger. Klepek-klepek seperti ikan di blumbang keruh. (hlm 32 )
Dari narasi di atas dapat diketahui bahwa traumanya dengan Samsudin membuatnya menjadi sangat galak terhadap laki-laki.
“Memangnya ada apa dengan Basuni, Nin, bukankah ia kasmaran betul dengan kamu?”
“Itu urusan dia. Tetapi nggak zamannya laki-laki menguasai perempuan. Belum apa-apa sudah melarang ini melarang itu, perintah sana, perintah sini, seenaknya. Memangnya aku ini kacung?” Kata Nina sebal.
Dialog antara Anisa dan rekan organisasinya itu mengkritisi seorang laki-laki yang suka mengatur dan itu sangat tidak disukai kaum hawa karena hal itu dianggap suatu ketidakadilan.

0 komentar:

Posting Komentar

 
berita unik