Judul Cerpen Ruangan Di Dalam Kamarku
Cerpen Karangan: Ayu Novita Sari
Kategori: Cerpen Misteri
“siapa kau?” Tanyaku kepada seseorang yang berdiri membelakangiku.
Sunyi. tak ada jawaban darinya.
“vinda! bangun nak” teriakan itu membuatku seperti ditarik ke alam yang berbeda.
“Ibu” kulihat ibuku yang penuh dengan keringat dan ia langsung memeluku.
Aku sadar bahwa aku sedang terbaring di depan ruangan misteri itu.
“sudah ibu bilang kan, tidak usah membuka pintu itu. kamu membuat ibu
khawatir.” ucapnya sambil mencubit lenganku sampai berwarna merah.
“aa..aa. aduh bu. ampun.. Ibu, Sebenarnya ada apa sih dengan ruangan
itu?” ringisku kesakitan. Ibu pun meninggalkanku begitu saja tanpa
menjawab pertanyaanku dengan sepatah kata pun. sepertinya ia sangat
marah karena tadi malam aku hampir saja membuka pintu itu.
Sungguh aku sangat penasaran dengan ruangan yang ada di kamarku itu.
“kenapa Ibu sangat melarangku membukanya tanpa memberi alasan apapun.
Dan kenapa aku bisa pingsan tadi malam saat akan membuka pintu itu?
Mimpi itu juga seperti nyata. Tapi sudahlah Malam ini benar-benar akan
kubuka pintu itu.” tegasku dalam hati.
“Kenapa kau sangat penasaran dengan ruangan itu? Jangan pernah
mencoba melihatnya” ucap seorang wanita yang entah darimana asalnya.
“k..ka.. kau siapa? darimana kau tau tentang ruangan itu?” Tanyaku terbata bata.
“Namaku Hesya. 2 tahun yang lalu sebelum kau disana, rumah itu adalah
rumahku. Aku hanya memperingatkanmu, jangan pernah membuka pintu itu.
kalau tidak kau akan menyesal” ucap wanita itu yang langsung pergi
meninggalkan aku yang masih terpaku di depan kelas.
Tanganku bergetar, aku tak tau harus bagaimana. Rasa penasaranku yang
besar dan juga peringatan dari Hesya serta ibuku membuatku sangat
bingung.
“kriieeet…” akhirnya tangan ku membuka pintu itu.
Gelap aku tidak melihat apapun di sana. Kulangkahkan kakiku untuk masuk
ke ruangan itu lebih dalam. Aku melihat sebuah cahaya lilin di tengah
kegelapan itu, aku pun terus melangkah mendekati cahaya itu. Dan… Aku
tidak percaya dengan apa yang kulihat. Seorang wanita bergaun hitam
dengan rambut tergerai panjang ke lantai, wajahnya sangat menyeramkan.
“Akhirnya .. Kau datang juga. Sudah lama aku menunggumu.. Kemarilah..” ucap makhluk itu menunjukan dua taringnya.
“Si.. Si.. Siapa kau sebenarnya? Dan tempat apa ini? Juga.. Kenapa kau menungguku?” tanyaku memberanikan diri.
“Kau tidak perlu tau siapa aku. Tempat ini adalah tempat yang sangat
ingin kau kunjungi kan?. Sudah lama aku menunggu seseorang yang mau
menemaniku setelah hesya.. Dan kau! Akhirnya datang sendiri ke tempat
ini. Selamat datang di rumahku. Jiwamu tak akan pernah ke luar dari
sini. Hahaha..” jelasnya membuatku ingin menangis.
“Aku sudah mengizinkan hesya untuk memperingatimu, namun kau masih keras kepala.. Hahhaha..” Lanjutnya.
Hesya?, ternyata dia korban makhluk ini.
Kubalikan badan dan berlari untuk ke luar. Namun hasilnya nihil, pintu
itu sudah hilang entah kemana. Aku pun terduduk ketakutan menyesali
perbuatanku. Aku merasakan makhluk itu makin mendekatiku. Aku hanya bisa
menutup mataku dan berdoa, semoga ibu bisa menolongku.
“hikss.. hikss.. Ibu.. tolong aku.. Aku janji tidak akan melanggar nasihat ibu lagi.. Ibu… Ibu..” tangisku tersedu-sedu.
“Braak…” suara itu membuatku membuka mataku. Dan aku melihat cahaya yang makin mendekatiku.
Ada seseorang yang membawa cahaya itu. orang itu adalah..
“Ibuuuu…” iya, dia ibuku. dia datang dengan membawa tasbih sebagai
sinarnya sambil melantunkan Dzikir, membuat makhluk itu makin menjauh
dan berteriak ketakutan lalu menghilang. Tak lama setelah itu, ruangan
ini menjadi terang dan pintu itu kembali.
“Ibuuu.. maafkan aku bu.. maafkan aku.. Aku sangat menyesal dengan
apa yang udah aku lakuin bu.. aku menyesal” Kataku sambil menangis di
pelukan ibu ku.
“Ibu sudah tau, pasti kamu akan datang ke tempat ini, makanya ibu tidak
pernah tidur saat malam. Ibu sangat khawatir padamu, nak. untung saja
ibu tidak terlambat.” ucap ibuku sambil memelukku dan mengusap kepalaku.
“Iya bu. maafkan aku bu. aku sangat takut.”
“iya nak gak apa. jangan takut. kan ada ibu. Ibu juga salah, seharusnya ibu kasih tau kamu dari awal.” kata ibuku menenangkanku.
“Bibi, terima kasih telah menolongku… Sekarang aku bisa pergi dengan tenang.” ucap Hesya tersenyum pada Ibuku.
“iya, Hesya. Semoga kamu bahagia di sana. Maaf, bibi baru bisa
menolongmu, nak.” ucap ibuku, dan Hesya pun menghilang, pergi ke
alamnya. Aku dan Ibuku pun ke luar dari ruangan itu.
“Ibu kenal dengan Hesya?” tanyaku penasaran.
“Iya. Dia adalah keponakan Ibu yang menjadi korban makhluk itu. Dulu
kami tidak tau kemana dia menghilang, tapi arwahnya datang ke kamar ibu
dan memberitahu ibu tentang ruangan itu. maka dari itu ibu selalu
melarangmu membuka pintu itu.” jelas ibuku.
“Sekarang aku paham bu. Aku sayang Ibu..” ucapku sambil memeluk ibuku yang luar biasa ini.
Cerpen Karangan: Ayu Novita Sari
Facebook: Ayu Novita Sari
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar