Tetap Berjuang Meski MATI
Imroatul
Mufidah (04)
Sebuah
pohon tanpa daun berbaris rapi ditepi jalan, menyambut indah para pengguna
jalan. Terlihat diujung jalan berdiri sebuah kotak dengan atap lusuh tak
karuan, hanya satu ruang, satu pintu, dan satu jiwa hidup disana. Sesosok
lelaki tua keluar darisana, dengan baju luarbiasa sederhana dan siap dengan
berbagai peralatan berkebun yang hampir setiap hari ia membawanya. Entah untuk
apa peralatan-peralatan itu, para penduduk tak pernah tau apa pekerjaan lelaki
tua itu .
Semakin
hari lelaki tua itu semakin terlihat tidak se sehat biasanya, ia duduk dibawah
pohon dengan Koran pagi bekas para pengguna jalan yang sering membuang berbagai
sampah ke pinggir jalan, satu-satunya sampah yang selalu ia tunggu-tunggu yaitu
selembar koran saja, meskipun itu bekas bungkus makanan. Dengan cara itulah dia
bisa tau kabar dunia tanpa mengeluarkan biaya sepeserpun.
Suatu
ketika seorang wanita muda sedang berjalan santai melewati pelataran rumah
lelaki tua itu, dengan suasana yang tenang, suara sekecil apapun bisa
terdengar. Setelah beberapa langkah ia meninggalkan rumah lelaki tua itu, ia
mendengar seseorang sedang berbicara sangat pelan, seakan-akan tidak boleh ada
seorangpun yang mendengar suaranya. Tapi wanita muda tersebut tak menghiraukan
suara apa dan berasal darimana suara tersebut berasal. Kemudian ia melanjutkan
perjalanannya.
Keesokan
harinya, wanita muda tersebut melewati rumah lelaki tua itu untuk kedua
kalinya, dan kedua kalinya pula ia mendengar suara yang sama ketika ia melewati
rumah itu. Kemudian rasa penasaran dalam dirinya mulai menggeliat geliat ingin
keluar dari dalam dirinya. Akhirnya rasa penasarannya pun mengalahkan sifat
cueknya. Wanita itu mulai mencari sumber suara yang selama dua hari ini ia
dengar. Ia melihat seorang lelaki tua sedang berbicara pada sebuah batu yang
terlihat sangat sederhana, dan tertuliskan.
PAHLAWAN INDONESIA
Mr. Ahmad Suparman
27 Maret 1950
Dalam
hati wanita muda itu bergumam selirih mungkin, “loh, ada kuburan pahlawan ya
disini? Sejak kapan?”. Kemudian wanita muda tersebut semakin mendekat untuk
mendengarkan pembicaraan lelaki tua itu, dan ternyata syair indah yang
dikumandangkan, tapi entah apa tujuannya untuk ini, ia pun masih bertanya-tanya
pada dirinya sendiri.
Setelah
beberapa saat ia berdiri menguping, lelaki tua itu melihat dengan mata yang
tajam seakan ia sedang menyampaikan sesuatu pada wanita muda itu. Dengan
sepontan wanita itu tersentak kaget. Ternyata lelaki tua itu tau bahwa seorang
wanita muda telah mengintipnya sejak tadi.
Dengan
segera lelaki tua itu menghampiri wanita muda yang sedang tertegun saat itu,
karena baru kali ini, sejak bertahun-tahun menjadi tetangganya, ia bertatapan
langsung, dan berkomunikasi dengan lelaki tua itu. Bukan karena jahatnya wanita
muda itu, tapi karena aura kemisteriusan lelaki tua itu yang membuat para
tetangganya takut untuk mendekat kepadanya.
Sapaan
pertama menghantam telinga wanita muda itu dengan suara yang amat teramat
asing, “ada apa nak?”, dengan gelagapan dan rasa tak percaya, “oh i i iya pak,
tidak ada apa-apa kok.” Dengan senyum memaksa. “kalau begitu saya permisi dulu
ya nak.” Senyum berkilau menghiasi wajahnya, dan yang paling penting, senyumnya
itu menghancurkan aura kemisteriusan yang selama ini ia sandang.
Kemudian
ia terlihat berjalan memasuki hutan dengan seperangkat alat berkebun yang tak
pernah lepas dari dirinya. “walah ternyata bapak ini tak se seram yang aku
bayangkan, salah aku !”.
Kemudian
wanita muda itu mengikuti setiap gerak lelaki tua tersebut, rasa penasarannya
semakin menjadi-jadi, dari kejauhan lelaki tua itu berbicara tanpa melihat yang
diajaknya bicara, “apa yang kau lakukan disini nak? Bukankah hutan ini terlalu
berbahaya untuk wanita sepertimu.”. “ha? Dia berbicara padaku”, dalam hati
wanita muda itu berusaha menjaga suapaya tidak ketahuan. “iya kau nak, aku
berbicara padamu !”.
“loh kok bisa?”,
“bisa apa nak?”,
“oh tidak pak, ya saya Cuma ingin
melihat-lihat hutan ini saja pak”,
“lebih baik kau pulang, hutan ini cukup
berbahaya untuk wanita muda seperti kau ini. Jika kau mati sekarang disini,
siapa yang akan mengajar siswamu?”
“loh bapak kok tau kalo saya adalah guru?”,
“namamu Zuana Indah, kau seorang guru SMA
yang pada tanggal 12 Mei 2013 mendapat penghargaan sebagai guru yang menjunjung
tinggi nilai sejarah.”,
“bapak ini dukun apa gimana?”
Sambil
tertawa terbahak-bahak lelaki tua itu melanjutkan jalannya yang sempat terhenti
sejenak. “kau ini orang modern masih saja menganggap orang yang serba tau itu
dukun. Aku kemarin membaca kabar itu dari koran nak, makanya aku tau nama
sekaiigus pekerjaanmu”. Sambil berjalan dibelakangnya wanita muda it terus
berusaha untuk mengenal lelaki tua itu lebih dalam. “kalau boleh tau, nama
bapak siapa?”, “setelah sekian lama, baru kali ini ada yang bertanya namaku,
kau bisa memanggilku Suparmin.”. setelah banyak berkenalan satu sama lain,
mereka terlihat lebih akrab dari biasanya yang memang bisa dibilang sangat tidak akrab sekali.
Sore
itu Ana mengunjungi tetangga lamanya yang baru tadi siang ia mengenalnya,
dengan membawa beberapa benda pengisi perut untuk mencari kata PANTAS jika
berkunjung ke rumah orang.
“Permisi ! Pak Parmin?”
“iya nak, masuk saja, pintu juga tak pernah
dikunci, hehe”, tertawa terkekeh layaknya lelaki tua.
Ana
datang ke rumah pak Parmin selain menyambung pertemanan barunya itu, dalam
hatinya ia juga ingin banyak bertanya soal apa yang ia lihat kemarin, kuburan
seorang pahlawan Indonesia.
Semakin
lama Ana berada disana Ana semakin banyak mendapat cerita-cerita yang mungkin
sudah tidak asing ditelinganya, iya semua tentang sejarah, dan Ana sangat
tertarik untuk itu. Sehingga terjalin hubungan yang baik antara mereka berdua.
“berjuang, mati, dikubur, dilupakan. Itulah
yang namanya pahlawan nak!”, mata tajam seakan ingin meluapkan kemarahan. “hehe
sepertinya juga begitu pak”, “bukan sepertinya nak, memang begitu.”.
Pak
Parmin terus bercerita seakan protes terhadap keadaan. Ana mendengar dengan
penuh perhatian. Selama mendengarkan ceritanya, tumbuh pertanyaan di dalam hati
Ana. “bapak ini sebenarnya siapa ya? Kenapa begitu meledak-ledak nadanya ya
ketika mulai bercerita tentang PAHLAWAN !”.
Semua
pertanyaan pada diri Ana terjawab sudah, kuburan pahlawan yang ia lihat kemarin
adalah kuburan saudara Pak Parmin yang bernama Pak Parman, Pak Parman adalah
seorang pahlawan Indonesia yang mati karena perang, dan setelah kematiannya
keluarga Pak Parman tak pernah mendapat perhatian khusus dari pemerintah maupun
dari masyarakat sekitar, padahal jasa-jasa merekalah Indonesia bisa merdeka.
Kemudian
Ana berusaha membantu Pak Parmin dengan berbagai cara untuk kelangsungan hidup
dimasa tuanya, tdak mungkin ia bisa hidup dengan baik dengan kondisi yang
seperti itu, akhirnya Ana mencoba menulis berbagai artikel maupun
tulisan-tulisan lain, dan berharap mendapat bantuan dari pemerintah.
Setelah sekian lama, Ana sudah mulai putus asa dengan apa yang ia lakukan, bantuan tak kunjung datang untuk keluarga dari seorang pahlawan, padahal itu hal yang sangat penting, para pahlawan tidak hanya dikenang jasa dan namanya, keluarga mereka juga perlu disejahterakan sebagaimana para pahlawan telah mensejahterakan Indonesia.
0 komentar:
Posting Komentar