Para novelis Indonesia memiliki ciri khas masing-masing dalam penulisan buku. Berikut adalah beberapa gaya penulisan yang laris di pasaran Indonesia.
1. Asal ceplos – Raditya Dika
Gaya penulisan asal ceplos dan apa adanya ini dipopulerkan oleh Raditya Dika. Berawal dari sebuah blog yang isinya tentang kehidupan sehari-harinya Bang Radit (panggilan akrab Raditya Dika) yang mengisahkan kekonyolan dan ditulis dalam bahasa apa adanya asal ceplos. Blog ini akhirnya dijadikan buku dan menjadikan pelecut bagi penulis-penulis lainnya untuk mengikuti gaya tulisan Bang Radit- Asal ceplos.2. Hiperbolik Parodi – Andrea Hirata
Beberapa tahun lalu masyarakat pembaca buku Indonesia digegerkan dengan lahirnya novel ‘Laskar Pelangi’ atau disingkat LP. Novel karya Andre Hirata ini menyuguhkan kalimat-kalimat deskriptif yang mengumbar kalimat dan pencitraaan yang hiperbolis. Contohnya tentang teman kecilnya, Lintang yang digambarkan sangat pandai berhitung dan calon profesor matematika pertama dari Belitong.3. Islami – Asma Nadia
Sedikit subjektif memang jika menilik pernyataan di atas. Namun dengan jumlah penduduk Indonesia yang mayoritas muslim maka tak menjadikan keheranan pula jika novel islami macam penulis Asma Nadia, Habiburrahman El-Shirazy dan Salim A Fillah tenar di kalangan pembaca. Mereka umumnya memiliki penggemar dari pembaca muslim.4. Ringan – Dewi Lestari
Dee. Nama pena dari Dewi Lestari. Melalui novelnya ‘Perahu Kertas’ yang meledak beberapa tahun lalu, Dee menulis dengan gaya bahasanya sendiri. Sederhana dan ringan untuk dibaca berbagai kalangan. Bahasanya mengalir namun tak asal jadi dan tidak terlalu berat juga untuk pembaca pemula.Sebenarnya masih banyak gaya penulisan novel yang ada di Indonesia, namun yang ditulis di sini adalah contoh-contoh berdasar dari penulis yang dikenal akrab oleh para masyarakat pembaca Indonesia. Jadi, mana gaya yang paling kamu sukai
Review: Gaya Khas Tulisan 4 Novelis Top Indonesia
13 Januari
2014 15:03:36 Diperbarui: 24 Juni 2015 02:52:37 Dibaca : Komentar : Nilai :
Kalau anda penyuka buku,
atau anda rajin mengunjungi toko buku saya rasa anda pasti tak asing dengan
nama-nama penulis yang saya sebut : Habiburrahman El Shirazy, Tere Liye, A.
Fuadi, Andrea Hirata, Asma Nadia, Sinta Yudisia, dan masih
banyak lagi.Dikoleksi perpustakaan pribadi saya, kebanyakan adalah buku atau novel karya penulis-penulis diatas. Tetapi banyak juga karya penulis lain yang ikut andil menyemarakkan koleksi perpustakaan pribadi saya. Setiap buku yang dikarang penulis tentunya berbeda satu sama lain. Mulai dari genre yang ditulis, gaya kepenulisan, hingga plot atau alur nya (untuk buku fiksi/novel) . Nah, kali ini saya mau sedikit mereview gaya khas tulisan mereka menurut sudut pandang saya :)
4.Habiburrahman El Shirazy alias Kang Abik
Penulis alumni Jamiyyatul Al Azhar Kairo ini mulai terkenal sekitar tahun 2005-2006 saat novel Ayat-Ayat Cinta nya laris manis di pasaran dan masuk jajaran novel best seller baik dalam negeri atau di luar negeri. Saat itu saya masih duduk dibangku kelas 1 Madrasah Aliyah dan mulai jatuh cinta dengan novel-novelnya. Selain AAC yang saya baca, ada juga buku Pudarnya Pesona Cleopatra, Dalam Mihrab Cinta, Cinta Suci Zahrana, Bumi Cinta, juga Ketika Cinta Bertasbih. Intinya: saya jatuh cinta dengan semua novelnya dan begitu menginspirasi saya dalam menulis.
Gaya bahasa yang mengalir dan ringan dengan bumbu-bumbu konflik atau cerita yang mengejutkan menjadi ciri khas di setiap novelnya. Mudah dipahami, tidak perlu bertele-tele untuk menggambarkan keadaan atau suasana hati seseorang. Cerita yang diangkat pun tidak muluk-muluk, terinspirasi dari kehidupan sehari-hari sehingga pembaca merasa sangat dekat dan nyaman meambacanya. Tapi rupanya akhir-akhir periode ini, Kang Abik tidak sesering dulu menulis novel. Dan menurut saya, yang paling bagus ya novel AAC, KCB, dan Pudarnya Pesona Cleopatra. Selain itu.. bagus sih, tapi biasa saja. Apa mungkin penurunan kualitas ya ?
5Ahmad Fuadi alias Bang Fuadi
Saya langsung jatuh cinta pada tulisan Bang Fuadi sejak novel pertamanya, Negeri 5 Menara diterbitkan. Ingat saaat itu saya blusukan ke toko buku demi mendapat novel tersebut. Hasilnya, worth it lah. Perjuangan saya seharga dengan kualitas novel yang ditulis. Kalau Kang Abik lebih banyak mengupas dunia Islam dan romantika kehidupan lawan jenis, di novel Bang Fuadi lebih kepada menginspirasi pembaca melalui perjuangan hidupnya yang tak mudah selama mondok di Pondok Gontor sampai menemukan jodoh dan merantau ke Amerika (baca novel Ranah 3 Warna dan Rantau 1 Muara).
Gaya bahasa yang ditulis Bang Fuadi ini sama halnya dengan Kang Abik, begitu mengalir dan mudah dinikmati tanpa mengesampingkan unsur-unsur keindahan sastrawi nya atau literer. Bang Fuadi tak hanya sukses menyemangati pembaca lewat novelnya, tapi sukses pula membuat hati deg-degan, mengharu biru, seolah-olah saya pun sedang berada di dunia yang sama dengannya. Pengalamannya melanglang buana di negeri orang semakin memperkuat setting dari trilogi novel ini. Ditambah lagi mantra-mantranya : man jadda wa jada, man shabara zhafira, man saara ala darbi washala semakin membuat kita tergugah bahwa hidup ini layak tuk diperjuangkan.
6. Tere Liye
Nah, Tere Liye tak kalah dengan para pendahulunya. Jika Kang Abik dan Bang Fuadi menggunakan gaya bahasa yang lebih santai, dan mengalir, Tere Liye dengan kemampuannya yang luar biasa mengemas cerita yang sederhana menjadi indah diperkaya dengan bahasa yang sangat 'nyastra'. Meski terkadang kalau lagi nggak konsen, otak saya belibet menguntai kata demi kata literer-romantis yang ditulis bang Tere Liye. Tapi dari semua itu, novel-novel yang ditulisnya sukses membuat saya menangis. Sebut saja novel Hafalan Shalat Delisa, Rembulan Tenggelam di Wajahmu, Moga Bunda Disayang Allah. Ciamik...
0 komentar:
Posting Komentar