Dia
telah meraih sejumlah pengharaan atas karya-karya sastranya. Antara
lain Hadiah Sastra ASEAN (1979), Hadiah Seni (1993), Anugerah Sastra
Chairil Anwar (1998), serta Anugerah Akademi Jakarta (2007). Dia
memiliki gaya tersendiri saat membacakan puisinya, kadang kala
jumpalitan di atas panggung, bahkan sambil tiduran dan tengkurap.
Penyair
kondang lulusan FISIP Unpad jurusan Administrasi Negara, ini pada ulang
tahun ke-67 Sutardji Calzoum Bachri, Selasa (24/6/2008) malam, yang
diperingati di Pekanbaru, Riau, mendapat apresiasi dan kejutan.
Kejutan
pertama dari rekan-rekannya di Dewan Kesenian Riau berupa penerbitan
kumpulan puisi Atau Ngit Cari Agar dan buku …Dan, Menghidu Pucuk Mawar
Hujan yang berisi kumpulan tulisan mengupas perjalanan sastranya. Atau
Ngit Cari Agar adalah kumpulan puisi yang dia buat dalam kurun 1970-an
hingga 2000-an. Puisi-puisi itu tak ada dalam buku kumpulan puisinya,
Amuk (1977) dan Amuk Kapak (1981).
Kejutan
tak terduga kedua ialah dari seorang pencinta seni Riau yang tak
disebutkan namanya berupa uang Rp 100 juta. Soetardji tentu
berterimakasih atas apresiasi itu, walau dia terlihat biasa saja saat
menerima hadiah Rp 100 juta itu. “Sehebat-hebat karya sastra yang
dihasilkan seniman tak berarti jika tidak mendapat apresiasi
masyarakat,” ujarnya berterimakasih. Menurutnya, dia termasuk beruntung
karena mendapat apresiasi.
Ketua
Dewan Kesenian Riau Eddy Akhmad RM, mengatakan, pihaknya menabalkan
Juni sebagai bulan Sutardji. Penabalan ini tak bermaksud mengultuskan
Sutardji. Ini, katanya, pengakuan seniman Riau terhadap kemampuannya
menjadi rajawali di langit, menjadi paus di laut yang bergelombang,
menjadi kucing yang mencabik-cabik dalam dunia sastra Indonesia yang
sempat membeku dan membisu setelah Chairil Anwar pergi. ?e-ti/binsar
halomoan
***
Dalam
karyanya berjudul Ayo (1998) dia bertanya: Adakah yang lebih tobat
dibanding airmata adakah yang lebih mengucap dibanding airmata adakah
yang lebih hakekat dibanding airmata adakah yang lebih lembut adakah
yang lebih dahsyat dibanding airmata. (Ayo, Sutardji Calzoum Bachri,
1998)
Soetardji
membacakan puisinya pada malam terakhir dalam rangkaian Festival
Nopember 1999, Rabu (17/11/1999). Euphoria reformasi, di tangan penyair,
sepertinya telah mencapai titik antiklimaks. Pembacaan puisi malamitu
adalah buktinya. Gelar baca puisi yang menampilkan ‘presiden penyair
Indonesia’ Soetardji Calzoum Bachri itu jauh dari teriakan euphoria
reformasi, dan jauh dari sajak-sajak sosial yang gusar.
Kalau
belakangan ini hampir seluruh ekspresi seni nasional menyerukan
perjuangan dan tuntutan rakyat atas dominasi kekuasaan pemerintah, maka
malam itu di gedung Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM),
suara-suara para penyair — juga pada sajak-sajak Abdul Hadi WM, Leon
Agusta dan Ahmadun YH yang malam itu tampil bersama Soetardji — lebih
banyak mengendap dalam sajak-sajak yang kontemplatif.
Kalaulah
Sutardji menyempatkan diri mengemukakan keprihatinannya atas perjuangan
para mahasiswa melalui sajak Ayo, itu masih dalam jumlah yang kecil
dibanding puisi-puisi lain yang juga dibacanya. Pun sajak-sajak hening
yang dibawakan oleh Leon, Ahmadun, dan Abdul Hadi. Bahkan, Sutardji
membacakan puisi romantis yang diterjemahkannya dari bahasa Spanyol
tentang seorang perempuan lembut yang sarat cinta.
Pembacaan
puisi-puisi kontemplatif itu terasa menyejukkan dan lebih mengena
secara universal ketimbang sekadar sajak-sajak yang mereaksi peristiwa
sosial-politik yang tengah terjadi di masyarakat. Sutardji yang
membawakan beberapa karya terbarunya mengatakan sajak yang bermutu perlu
proses pengendapan dan penghayatan, tak sekadar instan mereaksi yang
ada. ”Ada atau tak ada peristiwa, sajak tetap bisa dibikin karena kita
terus berpikir dan bertafakur,” paparnya.
Namun,
kalau berbicara soal gaya dan pembawaan bersajak, Sutardji tetaplah
Sutardji. Edan, namun bermakna dalam. ”Setiap orang harus membikin sidik
jarinya sendiri, karakternya sendiri. Biar tak tenggelam dan bisa
memberi warna,” kata pengklaim diri Presiden Penyair Indonesia ini.
Menggandeng
dosen IKJ Tommy F Awuy sebagai pengiring musik, Sutardji membaca
sajak-sajaknya dengan ditingkahi denting piano. Tak ketinggalan pula
suara seraknya menyanyikan beberapa lagu evergreen Barat, antara lain My
Way. Dan, ini merupakan daya tarik tersendiri bagi ‘penyair mantra’
yang belakangan sering diledek sebagai calon presiden Riau itu.
Gayanya
yang jumpalitan di atas panggung, bahkan berpuisi sambil tiduran dan
tengkurap, seperti telah menempel menjadi trade mark Sutardji. ”Aku tak
pernah main-main sewaktu membikin sajak, aku serius. Tapi, ketika tampil
aku berusaha apa adanya, santai namun memiliki arti,” katanya.
Apakah
puisinya itu baik atau buruk, bagi Sutardji, ia berupaya dalam
penyajiannya tak berjarak dengan penonton. ”Kehadiran sajak itu harus
akrab dengan penonton, tak berjarak dengan kehidupan,” tambahnya. Tapi,
beberapa penonton menilai penampilan Soetardji kali ini tidak setotal
ketika ‘bertarung dalam satu panggung’ dengan Rendra dan Taufiq Ismail
tahun lalu. Soal ini, dengan nada kelakar ia berkilah, ”soalnya honornya
kecil, ya tampilnya setengah maksimal saja.”
Penyair
sufistik Abdul Hadi WM, yang membawakan sajak-sajak lama (1981-1992),
menenangkan suasana dengan tuturan kecintaan pada Allah SWT dan
kekhidmatannya pada masjid. Menampilkan delapan puisi dengan gaya kalem
ia sempat juga mengkritik keras kualitas kader bangsa. Simak saja dari
sepenggal karyanya berjudul Dalam Pasang yang dibacakannya. ”Kita adalah
penduduk negeri yang penuh pemimpin. Tapi tak seorang pun kita temukan
dapat memimpin. Kita…….”
Kritik
serupa juga hadir dalam sajak berjudul Kembali tak Ada Sahutan Disana
yang mengungkapkan bahwa suksesi yang tak berlandaskan pada kearifan dan
keadilan sama halnya lari dari kehancuran yang satu ke kehancuran
lainnya. ”Bertikai memperebutkan yang tak pernah pasti dan ada. Dari
generasi ke generasi. Menenggelamkan rumah sendiri. Ribut tak
henti-henti….,” ujar Abdul Hadi.
Berbagai
interpretasi tak terhindarkan bermunculan dari karya kontemplatif. Saat
Abdul Hadi membacakan puisi Elegi, muncul perkiraan adanya korelasi
dengan kian nampaknya eksistensi para seniman bekas anggota ormas
terlarang yang menjadi musuh para pendukung Manifes Kebudayaan.
Musuh-musuhku, namun sahabat-sahabat setiaku juga.
Saban kali datang melukaiku dan kemudian menyembuhkan:
”Mari kita bangun jembatan,” dan kami pun segera membangun jembatan dan runtuh juga.
Mereka tak tahu dan aku pun sudah lupa ….
Dan
seperti aku pula mereka adalah pemburu kekosongan dan kesia-siaan
Mereka ingin membunuhku, karena mengira aku ingin membunuh mereka Aku
ingin membunuh mereka karena mengira mereka ingin membunuhku Mari kita
tolong mereka, mari kita tolong diri kita
Leon
Agusta yang membuka acara pembacaan puisi ini tampil diam dan gagah.
Membawakan beberapa puisi serial, ia mengajak penonton mengolah pikiran
dan kebijakan atas segala fenomena kehidupan. Ayah peragawati kondang
Hukla ini, tanpa banyak kata pengantar, menyajikan tuntas semua
karyanya.
0 komentar:
Posting Komentar