Prang.....Piring
itu pecah menjadi potongan-potongan kecil.Naysa menatap wajah ayahnya
yang cacat dan merah karna marah.Ia tak dapat lagi membendung rasa
kesalnya.Kemudian,ia memutuskan masuk kekamarnya,bahkan menguncinya
sekalian.Ia sangat marah pada ayahnya.
Siang tadi,tepatnya pada pukul 10.00,tanpa sengaja Nasya memergoki
ayahnya yang sedang berjualan bubur didepan sekolah sambil melayani
beberama orang yang sedang membeli.Nasya sangat malu karna selama ini
disekolah,penampilannya selalu mewah dan ia memperkenalkan dirinya pada
kawan-kawannya sebagai seorang gadis kaya,gadis yang hidup dalam
kemewahan,selalu menghabiskan waktu pekan bersama keluarga di Villa
pribadinya diluar kota.Namun,adakah seorang penjual bubur yang hidupnya
penuh dengan kemewahan?Adakah seorang penjual bubur yang memiliki villa
pribadi diluar kota hanya untuk menghabiskan waktu bersama
keluarga?Tentu saja tidak.Dan yang membuat Naysa bertambah malu lagi
ketika semua temannya bertanya akan kebenaran tentang ayahnya yang
penjual bubur.
Sebenarnnya,alasan utama Nasya berbohong adalah karna ia takut takkan
ada orang yang mau berteman dengannya jika mereka tahu bahwa ia adalah
seorang anak penjual bubur.Ia sangat iri melihat Liona,salah satu
bintang disekolah yang mendapatkan apapun yang menjadi idaman
orang.Liona memang tidak pintar,tapi ia adalah anak seorang
pejabat.Wajahnya sangat cantik sehingga banyak kaum adam disekolah yang
bertekuk lutut padanya.Setiap hari,ia diantar kesekolah dengan limusin
hitam yang sangat mewah dan membuat semua temannya kagum dan ia tahu hal
ini.Maka,ia selalu berusaha menunjukan kekayaan orang tuanya disaat ada
kesempatan seperti mengajak beberapa temannya berlibur keluar
kota,mentraktir mereka ke restoran yang mahal dan mengadakan pesta
besar-besaran dirumahnya hanya untuk memamerkan kekayaan orang tuanya.
Malam pun telah tiba tapi Naysa belum juga keluar dari kamarnya.Ia
belum makan sejak pulang sekolah tadi karna masih marah.Berkali-kali
ibunya berusaha membujuk anaknya keluar.
“Makanlah dulu,”
Tapi tidak ada jawaban dari kamar Nasya.Bahkan,kamar itu terlihat tidak
ada penghuninya.Berkali-kali pula ibunya mengetuk kamar
anaknya.Khawatir anak itu melakukan sesuatu hal yang gila,ia pun
berbicara pada suaminya.
“Biarkan saja anak kurang ajar itu,”kata ayah Naysa.”Jika lapar nanti,ia akan keluar.”
“Tapi sejak ribut tadi,ia belum makan.”
Suaminya hanya diam saja sambil menekuni membaca korannya.Istrinya
mendesah.Sebenarnya ia sangat marah pada Naysa tadi siang.Namun,setelah
malam ini,rasa marah itu berubah menjadi rasa khawatir.
Esok paginya,tepat ketika ayah Naysa sedang mempersiapkan gerobak
dagangannya sambil megelapnya di depan teras ,nasya menghampiri ayahnya.
“Akhirnya kamu keluar juga,”ujar ayahnya.”Kupikir,kamu sudah malu untuk
menampakkan dirimu lagi didepan orangtuamu yang miskin ini.”
“Ayah.....”
“mandilah dan bersiaplah berangkat.”
“Ayah...aku....”
“Jika kau sekolah,kau bisa mengangkat derajat keluarga kita.Jadi,kau tidak lagi malu”
“Ayah aku tidak mau sekolah.”
Ayahnya terlihat terkejut.Ekspresi wajahnya yang tadi lembut kini
berganti dengan wajah yang cemas.Tidak menyangka anaknya akan mengatakan
hal seperti itu.
“Aku malu untuk sekolah,”lanjut Naysa.Ia kemudian duduk di bangku
teras.Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun.”Semua temanku pasti
membenciku setelah apa yang telah mereka ketahui kemarin.”
Seketika,ayahnya melempar lap nya ke lantai sambil menatap wajah anaknya yang tanpa ekspresi.
“Apa maksudmu berkata seperti itu,”kata ayahnya penuh kegeraman.”Apa
kau tidak menghargai usahaku yang sudah mati-matian mencari uang untuk
kau dan ibumu?Capek-capek aku kerja keras dan berpanas-panasan menjual
bubur keliling dari satu tempat ke tempat lain,kadang aku tidak makan
siang demi menghemat uang belanja makan agar bisa mendapatkan uang untuk
sekolahmu dan sekarang......sekarang kamu mau bilang bawa kamu berhenti
sekolah...?Apakah ini balasanmu terhadap orangtua yang sudah susahpayah
membesarkan kamu?Kita memang orang miskin tapi aku berharap kamu tidak
seperti aku yang hanya menjadi seorang penjual bubur keliling.Justru
karna aku ingin kamu berhasil dimasa depanlah makanya aku rela bekerja
banting tulang.”Ayahnya mengambi napas panjang.
“Jika ayah merasa capek karna kerja keras untukku.Lebih baik ayah tidak
usah lagi bersusah-susah karna aku tidak mau lagi sekolah.”Balas Naysa
terhadap ucapan ayahnya.Ia kembali berkata sambil terisak ”Ayah tidak
paham perasaanku.Aku malu Yah.Mereka tahu bahwa aku adalh anak penjual
bubur dan aku malu terhadap wajah ayah yang cacat.”
PAK!!!!Seketika,tangan ayahnya mendarat tepat di pipi Naysa.Naysa
terkejut karna tak menyangka ayahnya akan menamparnya.Ia memegang
pipinya dengan sebelah tangannya.Sakit sekali rasanya.Tapi ia merasa
hatinya lebih sakit.Sambil menahan tangis,ia segera menghambur
kekamarnya dan menangis sejadi-jadinya sambil meneriaki ayahnya.
Ayah Naysa bersandar dibangkunya.Tiba-tiba,ia dikejutkan oleh suara
istrinya dari kamar Naysa.Cepat-cepat ia berlari masuk dan menuju kamar
anaknya.Ia melihat istrinya terduduk di atas lantai sambil
menangis.Naysa tidak ada dikamarnya.Kamarnya berantakan dan jendela
kamarnya terbuka lebar.Naysa kabur.
Sudah hampir tiga jam lamanya Naysa keliling dijalanan.Ia memutuskan
keluar dari rumahnya karna tidak tahan dengan kehidupannya.Tapi ia tidak
punya tujuan pergi.Ia memutuskan untuk menyusuri taman kota.disana ia
menyaksikan beberapa anak kecil yang bermain-main dengan orangtua
mereka.Mereka terlihat bahagia dengan orangtua mereka.
“Naysa?”Tiba-tiba,lamunannya dikejutkan oleh sebuah suara yang
dikenalnya.Ia menatap orang didepannya.Leni,salah satu temannya di
kelas.Naysa menggosok matanya.
“Leni?Kenapa kamu disini?”Tanya Naysa.Suaranya agak serak.
“Harusnya aku yang tanya kenapa kamu disini?Kamu tidak sekolah tadi.”
Naysa mendengus.Tidak mungkin ia menceritakannya pada Leni.”Kamu
sendiri kenapa ada disini sih?Sekolah kan belum selesai?”
“Hari ini pulang cepat.Eh kamu tahu tidak.Ada berita mengejutkan loh disekolah tadi.”
“Berita mengejutkan?Apaan tuh?”
“Liona.Anak pejabat itu.Tadi dia didatangi polisi.Selidik-punya selidik,ternyata ayahnya korupsi.”
Mata Naysa terbelalak.”Hah,yang benar?”
Leni mengangguk.”Tadi tiga polisi datang kesekolah dan meminta Liona
menjadi saksi atas kelakuan ayahnya.Kami semua kaget.Nggak menyangka
ternyata anak itu selama ini makan dengan uang haram.Hiii....Pantas saja
anak itu sikapnya minta ampun.”Tubuh leni bergidik dan serasa
merinding.
“Aku nggak menyangka ternyata Ayah Liona seperti itu.”komentar Naysa.
Leni mengangkat bahu.”Aku juga.Jika menjadi orang kaya harus korupsi
dulu,lebih baik aku menjadi anak penjual bubur seperti kamu daripada
menjadi anak orang kaya tapi korupsi.”
Seketika,Naysa merasa takjub akan pernyataan Leni.Ia tidak menyangka
ternyata selama ini temannya sangat menghargai pekerjaan ayahnya.Jika
orang lain saja menghargai pekerjaan ayahnya,mengapa ia tidak?
“Seharusnya kamu tidak perlu berbohong dengan kami,Sa.”Kata Leni.Kamu
tidak perlu malu pada ayahmu.Meskipun ayahmu hanya penjual bubur dan
mukanya cacat,kamu tidak perlu malu.Itu kan tidak akan mengganggu
aktivitasmu disekolah.”
“Aku takut.”Jawab Naysa.”Aku takut jika kalian tahu aku anak penjual bubur,kalian tidak mau berteman denganku.”
“Kamu pikir kami hanya mau berteman dengan orang kaya saja ya?”ujar
Leni.Kemudian ia melanjutkan.”Kalau mau jujur,aku kecewa sama
kamu.Ternyata pandanganmu terhadap kami seperti itu ya?Kamu menganggap
kami hanya mau berteman dengan orang kaya saja.Asal kamu tahu,tidak
masalah kamu itu orang kaya atau bukan.Aku mau berteman dengan kamu
karna kamu bagus didalam.”Kata Leni sambil meletakkan telapak tangan
kanannya didadanya.
Astaga.....Baik didalam?Bukankah selama ini ia sangat kurang ajar pada
orangtuanya?Apanya yang baik.Tapi,Leni mengatakan bahwa ia bagus
didalam.Seharusnya ia memang harus baik didalam.Kini,Naysa menyadari
bahwa selama ini kebohongan yang ia buat tidaklah perlu.Ia sampai
bertengkar dengan ayahnya karna kebohongannya.Ia sampai kabur dari rumah
juga karna kebohongannya.Tapi,ternyata...kebohongannya ternyata sama
sekali tidak berguna karna selama ini temannya mau berteman dengannya
karna ia baik didalam,bukan karna percaya pada kebohongannya bahwa ia
anak orang kaya.
“Nay,kamu nggak apa-apakan?Kok kamu nagis?”Tanya Leni.Naysa segera mengusap matanya yang basah.Ia menggeleng.
“Tidak apa-apa.Aku...aku mau pulang.Terima kasih Leni.Perkataanmu
sangat berguna.”Kemudian ia beranjak dari tempat duduknya.
“Hati-hati dijalan!!”Teriak Leni sebelum Naysa menghilang dari pandangannya.
Ketika sampai di halaman rumahnya,Naysa melihat ibunya mondar-mandir di
teras.Ia mengerutkan kening.Ketika ibunya melihat Naysa pulang,ia
segera memeluk anaknya.
“Naysa....kamu kemana tadi.Ayahmu mencarimu.Sudah tiga jam ia belum
kembali.Ibu takut sesuatu terjadi pada kalian berdua.Syukurlah kamu
tidak apa-apa?”
“Naysa segera melepaskan pelukan ibunya.”Maaf Bu...aku....aku..”
“Sudahlah,Nak”potong ibunya.”Ibu sudah memaafkanmu.”
Naysa terisak-isak”Bu,mana ayah?”
“Ayah mencarimu.Sejak pagi tadi ia sudah keluar,nak”
“Aku akan menunggu ayah,Bu.”
Naysa pun duduk di bangku teras sambil menatap mata kedepan penuh
kegirangan.Ia sangat menentikan kehadiran ayahnya yang seorang penjual
bubur.Jika ayahnya pulang nanti,ia ingin mengatakan,”Ayah,aku
mencintaimu dan pekerjaanmu.”
0 komentar:
Posting Komentar