Translate

cerpen ayah penjual bubur

Written By iqbal_editing on Sabtu, 25 Februari 2017 | 05.47

Prang.....Piring itu pecah menjadi potongan-potongan kecil.Naysa menatap wajah ayahnya yang cacat dan merah karna marah.Ia tak dapat lagi membendung rasa kesalnya.Kemudian,ia memutuskan masuk kekamarnya,bahkan menguncinya sekalian.Ia sangat marah pada ayahnya.
          Siang tadi,tepatnya pada pukul 10.00,tanpa sengaja Nasya memergoki ayahnya yang sedang berjualan bubur didepan sekolah sambil melayani beberama orang yang sedang membeli.Nasya sangat malu karna selama ini disekolah,penampilannya selalu mewah dan ia memperkenalkan dirinya pada kawan-kawannya sebagai seorang gadis kaya,gadis yang hidup dalam kemewahan,selalu menghabiskan waktu pekan bersama keluarga di Villa pribadinya diluar kota.Namun,adakah seorang penjual bubur yang hidupnya penuh dengan kemewahan?Adakah seorang penjual bubur yang memiliki villa pribadi diluar kota hanya untuk menghabiskan waktu bersama keluarga?Tentu saja tidak.Dan yang membuat Naysa bertambah malu lagi ketika semua temannya bertanya akan kebenaran tentang ayahnya yang penjual bubur.
          Sebenarnnya,alasan utama Nasya berbohong adalah karna ia takut takkan ada orang yang mau berteman dengannya jika mereka tahu bahwa ia adalah seorang anak penjual  bubur.Ia sangat iri melihat Liona,salah satu bintang disekolah yang mendapatkan apapun yang menjadi idaman orang.Liona memang tidak pintar,tapi ia adalah anak seorang pejabat.Wajahnya sangat cantik sehingga banyak kaum adam disekolah yang bertekuk lutut padanya.Setiap hari,ia diantar kesekolah dengan limusin hitam yang sangat mewah dan membuat semua temannya kagum dan ia tahu hal ini.Maka,ia selalu berusaha menunjukan kekayaan orang tuanya disaat ada kesempatan seperti mengajak beberapa temannya berlibur keluar kota,mentraktir mereka ke restoran yang mahal dan mengadakan pesta besar-besaran dirumahnya hanya untuk memamerkan kekayaan orang tuanya.
          Malam pun telah tiba tapi Naysa belum juga keluar dari kamarnya.Ia belum makan sejak pulang sekolah tadi karna masih marah.Berkali-kali ibunya berusaha membujuk anaknya keluar.
          “Makanlah dulu,”
          Tapi tidak ada jawaban dari kamar Nasya.Bahkan,kamar itu terlihat tidak ada penghuninya.Berkali-kali pula ibunya mengetuk kamar anaknya.Khawatir anak itu melakukan sesuatu hal yang gila,ia pun berbicara pada suaminya.
          “Biarkan saja anak kurang ajar itu,”kata ayah Naysa.”Jika lapar nanti,ia akan keluar.”
          “Tapi sejak ribut tadi,ia belum makan.”
          Suaminya hanya diam saja sambil menekuni membaca korannya.Istrinya mendesah.Sebenarnya ia sangat marah pada Naysa tadi siang.Namun,setelah malam ini,rasa marah itu berubah menjadi rasa khawatir.
          Esok paginya,tepat ketika ayah Naysa sedang mempersiapkan gerobak dagangannya sambil megelapnya di depan teras ,nasya menghampiri ayahnya.
          “Akhirnya kamu keluar juga,”ujar ayahnya.”Kupikir,kamu sudah malu untuk menampakkan dirimu lagi didepan orangtuamu yang miskin ini.”
          “Ayah.....”
          “mandilah dan bersiaplah berangkat.”
          “Ayah...aku....”
          “Jika kau sekolah,kau bisa mengangkat derajat keluarga kita.Jadi,kau tidak lagi malu”
          “Ayah aku tidak mau sekolah.”
          Ayahnya terlihat terkejut.Ekspresi wajahnya yang tadi lembut kini berganti dengan wajah yang cemas.Tidak menyangka anaknya akan mengatakan hal seperti itu.
          “Aku malu untuk sekolah,”lanjut Naysa.Ia kemudian duduk di bangku teras.Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun.”Semua temanku pasti membenciku setelah apa yang telah mereka ketahui kemarin.”
          Seketika,ayahnya melempar lap nya ke lantai sambil menatap wajah anaknya yang tanpa ekspresi.
          “Apa maksudmu berkata seperti itu,”kata ayahnya penuh kegeraman.”Apa kau tidak menghargai usahaku yang sudah mati-matian mencari uang untuk kau dan ibumu?Capek-capek aku kerja keras dan berpanas-panasan menjual bubur keliling dari satu tempat ke tempat lain,kadang aku tidak makan siang demi menghemat uang belanja makan agar bisa mendapatkan uang untuk sekolahmu dan sekarang......sekarang kamu mau bilang bawa kamu berhenti sekolah...?Apakah ini balasanmu terhadap orangtua yang sudah susahpayah membesarkan kamu?Kita memang orang miskin tapi aku berharap kamu tidak seperti aku yang hanya menjadi seorang penjual bubur keliling.Justru karna aku ingin kamu berhasil dimasa depanlah makanya aku rela bekerja banting tulang.”Ayahnya mengambi napas panjang.
          “Jika ayah merasa capek karna kerja keras untukku.Lebih baik ayah tidak usah lagi bersusah-susah karna aku tidak mau lagi sekolah.”Balas Naysa terhadap ucapan ayahnya.Ia kembali berkata sambil terisak ”Ayah tidak paham perasaanku.Aku malu Yah.Mereka tahu bahwa aku adalh anak penjual bubur dan aku malu terhadap wajah ayah yang cacat.”
          PAK!!!!Seketika,tangan ayahnya mendarat tepat di pipi Naysa.Naysa terkejut karna tak menyangka ayahnya akan menamparnya.Ia memegang pipinya dengan sebelah tangannya.Sakit sekali rasanya.Tapi ia merasa hatinya lebih sakit.Sambil menahan tangis,ia segera menghambur kekamarnya dan menangis sejadi-jadinya sambil meneriaki ayahnya.
          Ayah Naysa bersandar dibangkunya.Tiba-tiba,ia dikejutkan oleh suara istrinya dari kamar Naysa.Cepat-cepat ia berlari masuk dan menuju kamar anaknya.Ia melihat istrinya terduduk di atas lantai sambil menangis.Naysa tidak ada dikamarnya.Kamarnya berantakan dan jendela kamarnya terbuka lebar.Naysa kabur.
         
          Sudah hampir tiga jam lamanya Naysa keliling dijalanan.Ia memutuskan keluar dari rumahnya karna tidak tahan dengan kehidupannya.Tapi ia tidak punya tujuan pergi.Ia memutuskan untuk menyusuri taman kota.disana ia menyaksikan beberapa anak kecil yang bermain-main dengan orangtua mereka.Mereka terlihat bahagia dengan orangtua mereka.
          “Naysa?”Tiba-tiba,lamunannya dikejutkan oleh sebuah suara yang dikenalnya.Ia menatap orang didepannya.Leni,salah satu temannya di kelas.Naysa menggosok matanya.
          “Leni?Kenapa kamu disini?”Tanya Naysa.Suaranya agak serak.
          “Harusnya aku yang tanya kenapa kamu disini?Kamu tidak sekolah tadi.”
          Naysa mendengus.Tidak mungkin ia menceritakannya pada Leni.”Kamu sendiri kenapa ada disini sih?Sekolah kan belum selesai?”
          “Hari ini pulang cepat.Eh kamu tahu tidak.Ada berita mengejutkan loh disekolah tadi.”
          “Berita mengejutkan?Apaan tuh?”
          “Liona.Anak pejabat itu.Tadi dia didatangi polisi.Selidik-punya selidik,ternyata ayahnya korupsi.”
          Mata Naysa terbelalak.”Hah,yang benar?”
          Leni mengangguk.”Tadi tiga polisi datang kesekolah dan meminta Liona menjadi saksi atas kelakuan ayahnya.Kami semua kaget.Nggak menyangka ternyata anak itu selama ini makan dengan uang haram.Hiii....Pantas saja anak itu sikapnya minta ampun.”Tubuh leni bergidik dan serasa merinding.
          “Aku nggak menyangka ternyata Ayah Liona seperti itu.”komentar Naysa.
          Leni mengangkat bahu.”Aku juga.Jika menjadi orang kaya harus korupsi dulu,lebih baik aku menjadi anak penjual bubur seperti kamu daripada menjadi anak orang kaya tapi korupsi.”
          Seketika,Naysa merasa takjub akan pernyataan Leni.Ia tidak menyangka ternyata selama ini temannya sangat menghargai pekerjaan ayahnya.Jika orang lain saja menghargai pekerjaan ayahnya,mengapa ia tidak?
          “Seharusnya kamu tidak perlu berbohong dengan kami,Sa.”Kata Leni.Kamu tidak perlu malu pada ayahmu.Meskipun ayahmu hanya penjual bubur dan mukanya cacat,kamu tidak perlu malu.Itu kan tidak akan mengganggu aktivitasmu disekolah.”
          “Aku takut.”Jawab Naysa.”Aku takut jika kalian tahu aku anak penjual bubur,kalian tidak mau berteman denganku.”
          “Kamu  pikir kami hanya mau berteman dengan orang kaya saja ya?”ujar Leni.Kemudian ia melanjutkan.”Kalau mau jujur,aku kecewa sama kamu.Ternyata pandanganmu terhadap kami seperti itu ya?Kamu menganggap kami hanya mau berteman dengan orang kaya saja.Asal kamu tahu,tidak masalah kamu itu orang kaya atau bukan.Aku mau berteman dengan kamu karna kamu bagus didalam.”Kata Leni sambil meletakkan telapak tangan kanannya didadanya.
          Astaga.....Baik didalam?Bukankah selama ini ia sangat kurang ajar pada orangtuanya?Apanya yang baik.Tapi,Leni mengatakan bahwa ia bagus didalam.Seharusnya ia memang harus baik didalam.Kini,Naysa menyadari bahwa selama ini kebohongan yang ia buat tidaklah perlu.Ia sampai bertengkar dengan ayahnya karna kebohongannya.Ia sampai kabur dari rumah juga karna kebohongannya.Tapi,ternyata...kebohongannya ternyata sama sekali tidak berguna karna selama ini temannya mau berteman dengannya karna ia baik didalam,bukan karna percaya pada kebohongannya bahwa ia anak orang kaya.
          “Nay,kamu nggak apa-apakan?Kok kamu nagis?”Tanya Leni.Naysa segera mengusap matanya yang basah.Ia menggeleng.
          “Tidak apa-apa.Aku...aku mau pulang.Terima kasih Leni.Perkataanmu sangat berguna.”Kemudian ia beranjak dari tempat duduknya.
          “Hati-hati dijalan!!”Teriak Leni sebelum Naysa menghilang dari pandangannya.

          Ketika sampai di halaman rumahnya,Naysa melihat ibunya mondar-mandir di teras.Ia mengerutkan kening.Ketika ibunya melihat Naysa pulang,ia segera memeluk anaknya.
          “Naysa....kamu kemana tadi.Ayahmu mencarimu.Sudah tiga jam ia belum kembali.Ibu takut sesuatu terjadi pada kalian berdua.Syukurlah kamu tidak apa-apa?”
          “Naysa segera melepaskan pelukan ibunya.”Maaf Bu...aku....aku..”
          “Sudahlah,Nak”potong ibunya.”Ibu sudah memaafkanmu.”
          Naysa terisak-isak”Bu,mana ayah?”
          “Ayah mencarimu.Sejak pagi tadi ia sudah keluar,nak”
          “Aku akan menunggu ayah,Bu.”
          Naysa pun duduk di bangku teras sambil menatap mata kedepan penuh kegirangan.Ia sangat menentikan kehadiran ayahnya yang seorang penjual bubur.Jika ayahnya pulang nanti,ia ingin mengatakan,”Ayah,aku mencintaimu dan pekerjaanmu.”

0 komentar:

Posting Komentar

 
berita unik