Translate

cerpen berawal dari batagor

Written By iqbal_editing on Jumat, 24 Februari 2017 | 03.31

Berawal dari BATAGOR
Di sore hari, sayup-sayup daun yang di basahi gerimis dan dingin nya titik-titik air yang membasahi kulit ku. Membuat perut ku lapar, saat itu pun ada seorang pemuda penjual batagor melintas di hadapan ku sambil tersenyum dan ketika itu aku pun membalas senyuman nya. Beberapa detik kemudian aku pun sadar bahwa alarm perut ku berbunyi dan secara spontan aku pun mengejar batagor itu. Saat aku membeli batagor tersebut,aku pun sedikit berbincang-bicang dengan tukang batagor itu, ternyata namanya ferdi dan biasa di panggil Didi dan aku pun mengenalkan nama ku Dinda karyufi dan biasa dipanggil fifi. Tukang batagor itu atau Didi ,jadwalnya  hanya sekali dalam seminggu melewati depan rumah ku.
Setelah berjalan nya waktu Didi pun mendorong gerobak nya lagi melewati depan rumah ku, lalu aku melihatnya dan lari menghampirinya dan membeli lagi batagor yg di jualnya itu. Batagor yang awalnya aku tak suka, kini menjadi makanan favorit ku, aku tidak tau setiap aku melihat dia jiwa ku tenang, hati ku tentram dan membawa senyuman yang tak terhenti. Setelah itu, aku masuk dan ia melanjutkan jualannya.
 Keesokan harinya aku pun duduk di depan rumah ku, hati ku berdebar-debar entah mengapa aku pun tak tau, lalu didi pun lewat dan aku menyetopnya. Dengan  perasaan bahagia  aku pun tersenyum-senyum melihat wajahnya. Keesokan hari nya Didi lewat lagi dan aku pun tak bosan bosan membeli batagor dan mendengarkan ceritanya.
Kemudian sudah hampir empat bulan setiap hari dia lewat depan rumah ku. Saat itu dia pun menatap wajah ku,  mengatakan saat pertama dia melihat ku malam itu dia tidak bisa tidur karna memikirkan ku, dan mengatakan bahwa dia mencintaiku, yg dia seharusnya seminggu sekali lewat namun jadi setiap hari melewati rumah ku ternyata itu semua karna  dia jatuh hati pada ku. Aku mengira bahwa cintaku bertepuk sebelah tangan ternyata dia juga merasakan hal yg sama, saat itu tak ada kata selain “ia”, akupun mengatakan bahwa aku mencintainya. Kami pun menjalin hubungan, setelah beberapa hari aku pun ingin lebih mengenalnya dan menanyakan beberapa hal tentangnya. Ternyata dia bersekolah di SMA N 4 Banda Aceh dan saat ini dia menyambung sekolah untuk kelas XII-nya di SMA N 4 TAKENGON yaitu di sekolah ku namun entah mengapa aku tak pernah melihatnya.
            Beberapa hari kemudian kami pun selalu pergi dan pulang sekolah bersama, seperti biasa ia selalu menjual batagor sehabis pulang sekolah, aku tak pernah merasa malu mempunyai pacar seorang penjual batagor karna aku murni mencintainya.
Setelah setahun sekiranya menjalani hubungan dengannya tiba saatnya untuk dia melanjutkan sekolahnya ke perguruan tinggi di bandung. Namun, hal itu tidak menjadi penghalang untuk hubungan kami. Setelah selesai ujian tibalah saatnya untuk melihat hasil ujian di mading sekolah karna malam itu dia akan berangkat aku pun pergi ke toko terdekat  membelikan sesuatu untuk nya aku berpikir  agar setiap dia melihat benda itu dia selalu mengingatku. Saat itu ternyata dia juga membelikan ku sesuatu, di perjalanan pulang saat dia menyebrang dan menolehkan kepalanya kekiri dan kekanan  sebuah truk besar menabraknya, saat itu ibu dan ayah nya yg sedang berada di dalam mobil mewah turun dan langsung membawa dia ke rumah sakit terdekat dan tepatnya jam 15.30 aku pun pergi kepangkalan kelompok orang-orang yang menjual batagor. “bang ada ferdy ??’’ tanyaku. “ferdy..? maksud ade didi ?’’ kebingungan. “ia didi yg biasa jualan batagor bang, yg siswa SMA itu loh”.  Lalu abang itu pun menceritakan bahwa Ferdy bukanlah seorang penjual batagor melainkan seorang anak pengusaha yang kaya raya. “Ferdy yg biasa di panggil didi itu sangat baik de ia ingin merasakan bagaimana susahnya mencari uang dengan keringat sendiri, ia juga ingin orang-orang menyayanginya bukan karna harta orang tuanya”, begitulah yg di ceritakan oleh penjual batagor itu.
Aku pun sangat marah dan membencinya karna ternyata ia telah membohongiku. Namun rasa benci itu sekejap hilang dari benakku. Aku pun langsung pergi ke rumahnya dengan wajah yg gembira sambil membawa bingkisan. Didi pun ternyata sudah sampai di rumahnya, namun saat aku masih di halaman rumah nya aku mendengar teriak dan tangis seseorang ternyata ibunya. Dan ketika aku di depan pintu melangkah masuk, aku berteriak semua orang tercengang padaku, tanpa sadar bingkisan yg berada di tangan ku terjatuh, melihat orang yang kusayang terbentang bujur di hadapanku tertutup kain putih, dan aku hanya bisa menatap wajahnya yg pucat, aku hanya bisa berdo’a pd tuhan agar semua amal didi di terima dan  kusadari orang yg ku cintai telah tiada orang yg selama ini selalu menghiburku dalam susah maupun senang . Tinggalah kenangan bunga yg di belikannya untuk ku. Cinta kami pun akhirnya di pisahkan oleh maut yg telah menjemputnya.
Setahun kemudian aku pun melanjutkan sekolah ku mengikuti  jejak didi yg ingin menjadi seorang dokter dan juga untuk membahagiakan kedua orang tua ku. Aku tau jika nanti cita-cita ku tercapai arwah didi pasti akan lebih tenang di alam sana Dan Agar aku bisa menyelamatkan orang-orang yg mengalami kecelakaan sehingga tidak akan terulang lagi orang yg mengalami hal sepertiku. Pesan ku untuk orang yg membaca kisah ini cintailah seseorang itu dengan tulus apa adanya jangan memandang sebelah mata, dan jadilah orang yg berguna dan gapailah cita-cita mu.
                                                                      

0 komentar:

Posting Komentar

 
berita unik