CERPEN: Wisuda Mahasiswa yang Malang
Wisuda Mahasiswa yang Malang
Oleh:
Agus Budiyanto
|
D
|
ia
adalah gadis yang baru lulus SMA, tinggi 170 cm, putih, cantik, rambut panjang lurus,
dan murah senyum. Matanya berkaca, badannya gemetar, jantungnya berdebar dan
hatinya tertegun tiap kali dia melihat pemuda-pemudi (para mahasiswa)
mendapatkan gelarnya. Dia adalah salah seorang pemimpi dari ribuan bahkan
jutaan pemimpi yang mengidamkan bangku kuliah. Sayang, dia terlahir dari
keluarga yang terbatas akan ekonomi. Memang bidikmisi adalah solusi dari
keterbasan keluarganya, namun hal itu nampaknya tak dia dapat, ia tak lulus
dalam seleksi SNMPTN, SBMPTN dan jalur seleksi lainnya, hingga akhirnya ia
harus menunda keinginannya untuk berkuliah di tahun itu.
Harapannya
waktu itu bak bola lampu yang meremang, salah satu cara untuk daftar dan masuk
di bangku kuliah adalah dengan membayarnya. Ia tak tahu harus berbuat seperti
apa. Tak sedikit instansi kerja menolak, karena ia hanya lulusan SMA. Dari situ
harapannya semakin menciut bak bola lampu yang redup. Hingga ia memutuskan
untuk menjual koran.
Ia
datang pagi-pagi buta ke pengepul koran, dibelinya sejumlah koran dan dijualnya
di lampu merah. Seharian ia mencoba mendagangkan korannya, hanya satu dua koran
yang laku terjual hari itu, dan keuntungannya hanya 500 rupiah per koran yang
terjual. Hal itu rupanya tak menyiutkan semangatnya, esoknya ia berjualan
kembali, begitu juga dengan hari-hari selanjutnya. Tiap hari disisihkan
sebagian uangnya untuk masuk ke bangku kuliah, hingga terkumpullah uangnya
selama setahun terakhir sejumlah lima juta rupiah. Uang yang begitu besar
menurutnya.
Seleksi
SBMPTN tahun berikutnya dibuka, ia harus membayar uang sebesar 200 ribu untuk
seleksi jalur tersebut, diikuti tahapan demi tahapan, hingga akhirnya ia masuk
di perguruan tinggi favoritnya. Ia pulang dengan raut wajah yang bahagia, ia
tak sabar ingin menceritakan kepada orangtuanya. Dibukanya pintu kamar ayahnya,
raut wajahnya seketika berubah, ibunya sedang mengalirkan air mata, ayahnya
sedang terlentang tak berdaya. Memang ayahnya mengidap penyakit ginjal.
Disimpannya segala kisah bahagianya. Ayahnya dibawa pergi ke rumah sakit. Tak
sampai disitu, untuk menebus obat dibutuhkan uang sebesar dua juta. Diambillah
uang celengannya hingga kini tersisa 2.8 juta uangnya.
Perlengkapan
administrasi masuk PTN terakhir tinggal dua hari lagi. Ia pun harus membayar
uang kuliah sebesar 3.5 juta. Ia pun gelisah, bingung mencari uang 700 ribu
untuk sisa administrasinya. Hingga tiba-tiba datanglah ibunya, memeluk dari
belakang, dan memberikan kalung emas. “Nak, jual kalung ibu, ibu tahu saat ini
kamu sedang membutuhkannya!” Kata lirih ibunya. “Tapi bu?” Katanya. “Sudah,
pergi dan ibu percaya kelak anak ibu akan menjadi sarjana perubah kehidupan
sederhana keluarga kecil ini.” Untai ibunya. Dijualnya kalung ibunya, dan
akhirnya ia dapat masuk ke PTN dan duduk di bangku kuliah.
Ia
adalah gadis yang tak lupa akan masa lalunya. Tiap pulang kuliah disempatkannya turun ke jalan
untuk menjual koran. Di kampus pun ia juga selalu menjual kue hasil buatannya.
Walaupun begitu kuliahnya tak pernah terganggu, ia sering mendapatkan Indeks
Prestasi yang tinggi, ia juga aktif ikut Unit Kegiatan Mahasiswa, dan selalu
rutin membuat PKM serta karyanya selalu lolos didanai DIKTI. Hingga akhirnya
semenjak semester 3 ia mendapatkan beasiswa dari kampus tempat berkuliahnya.
Empat
tahun berlalu….
Manis,
pahit, asam garam kehidupan telah dilaluinya. Hingga ia tiba di puncak yang
diharapkannya. Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Berbagai macam ujian
dan skripsi telah dilaluinya. Hari itu adalah hari dimana ia akan diwisuda.
Dari
pagi pukul tiga tepat ia sudah berdandan cantik. Diundang seluruh teman
dekatnya. Perasaannya sangat bahagia hari itu. “Ayah ibu teman-teman kalian
duluan, aku ingin naik becak menuju kampus, sudah lama aku tak pernah merasakan
hal sebahagia ini. Becak yang selalu menjadi angkutan favorit keluarga kita.”
Ayah ibu dan juga teman-temannya telah menuju ke kampus terlebih dahulu
menggunakan angkot sewaan. Jarak beberapa detik “Braaakkkkk!!” Suara truk
menghantam becak gadis itu, harapan dan perjuangan gadis itu tiba-tiba tinggallah
kena’asan, darahnya mengalir, badannya kejang, seluruh keluarga dan
teman-temannya berlari menuju ke arah gadis itu. Sambil tersenyum gadis itu
berkata “Ayah Ibu aku WISUDA!”. Seketika gadis itu menutup matanya, dan pergi
untuk selama-lamanya. Gadis malang yang kini telah tenang.
End
0 komentar:
Posting Komentar