Translate

cerpen wisuda mahasiswa yang malang

Written By iqbal_editing on Rabu, 22 Februari 2017 | 06.14

CERPEN: Wisuda Mahasiswa yang Malang

 Wisuda Mahasiswa yang Malang
Oleh: Agus Budiyanto
D
ia adalah gadis yang baru lulus SMA, tinggi 170 cm, putih, cantik, rambut panjang lurus, dan murah senyum. Matanya berkaca, badannya gemetar, jantungnya berdebar dan hatinya tertegun tiap kali dia melihat pemuda-pemudi (para mahasiswa) mendapatkan gelarnya. Dia adalah salah seorang pemimpi dari ribuan bahkan jutaan pemimpi yang mengidamkan bangku kuliah. Sayang, dia terlahir dari keluarga yang terbatas akan ekonomi. Memang bidikmisi adalah solusi dari keterbasan keluarganya, namun hal itu nampaknya tak dia dapat, ia tak lulus dalam seleksi SNMPTN, SBMPTN dan jalur seleksi lainnya, hingga akhirnya ia harus menunda keinginannya untuk berkuliah di tahun itu.
Harapannya waktu itu bak bola lampu yang meremang, salah satu cara untuk daftar dan masuk di bangku kuliah adalah dengan membayarnya. Ia tak tahu harus berbuat seperti apa. Tak sedikit instansi kerja menolak, karena ia hanya lulusan SMA. Dari situ harapannya semakin menciut bak bola lampu yang redup. Hingga ia memutuskan untuk menjual koran.
Ia datang pagi-pagi buta ke pengepul koran, dibelinya sejumlah koran dan dijualnya di lampu merah. Seharian ia mencoba mendagangkan korannya, hanya satu dua koran yang laku terjual hari itu, dan keuntungannya hanya 500 rupiah per koran yang terjual. Hal itu rupanya tak menyiutkan semangatnya, esoknya ia berjualan kembali, begitu juga dengan hari-hari selanjutnya. Tiap hari disisihkan sebagian uangnya untuk masuk ke bangku kuliah, hingga terkumpullah uangnya selama setahun terakhir sejumlah lima juta rupiah. Uang yang begitu besar menurutnya.
Seleksi SBMPTN tahun berikutnya dibuka, ia harus membayar uang sebesar 200 ribu untuk seleksi jalur tersebut, diikuti tahapan demi tahapan, hingga akhirnya ia masuk di perguruan tinggi favoritnya. Ia pulang dengan raut wajah yang bahagia, ia tak sabar ingin menceritakan kepada orangtuanya. Dibukanya pintu kamar ayahnya, raut wajahnya seketika berubah, ibunya sedang mengalirkan air mata, ayahnya sedang terlentang tak berdaya. Memang ayahnya mengidap penyakit ginjal. Disimpannya segala kisah bahagianya. Ayahnya dibawa pergi ke rumah sakit. Tak sampai disitu, untuk menebus obat dibutuhkan uang sebesar dua juta. Diambillah uang celengannya hingga kini tersisa 2.8 juta uangnya.
Perlengkapan administrasi masuk PTN terakhir tinggal dua hari lagi. Ia pun harus membayar uang kuliah sebesar 3.5 juta. Ia pun gelisah, bingung mencari uang 700 ribu untuk sisa administrasinya. Hingga tiba-tiba datanglah ibunya, memeluk dari belakang, dan memberikan kalung emas. “Nak, jual kalung ibu, ibu tahu saat ini kamu sedang membutuhkannya!” Kata lirih ibunya. “Tapi bu?” Katanya. “Sudah, pergi dan ibu percaya kelak anak ibu akan menjadi sarjana perubah kehidupan sederhana keluarga kecil ini.” Untai ibunya. Dijualnya kalung ibunya, dan akhirnya ia dapat masuk ke PTN dan duduk di bangku kuliah.
Ia adalah gadis yang tak lupa akan masa lalunya. Tiap  pulang kuliah disempatkannya turun ke jalan untuk menjual koran. Di kampus pun ia juga selalu menjual kue hasil buatannya. Walaupun begitu kuliahnya tak pernah terganggu, ia sering mendapatkan Indeks Prestasi yang tinggi, ia juga aktif ikut Unit Kegiatan Mahasiswa, dan selalu rutin membuat PKM serta karyanya selalu lolos didanai DIKTI. Hingga akhirnya semenjak semester 3 ia mendapatkan beasiswa dari kampus tempat berkuliahnya.
Empat tahun berlalu….
Manis, pahit, asam garam kehidupan telah dilaluinya. Hingga ia tiba di puncak yang diharapkannya. Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Berbagai macam ujian dan skripsi telah dilaluinya. Hari itu adalah hari dimana ia akan diwisuda.
Dari pagi pukul tiga tepat ia sudah berdandan cantik. Diundang seluruh teman dekatnya. Perasaannya sangat bahagia hari itu. “Ayah ibu teman-teman kalian duluan, aku ingin naik becak menuju kampus, sudah lama aku tak pernah merasakan hal sebahagia ini. Becak yang selalu menjadi angkutan favorit keluarga kita.” Ayah ibu dan juga teman-temannya telah menuju ke kampus terlebih dahulu menggunakan angkot sewaan. Jarak beberapa detik “Braaakkkkk!!” Suara truk menghantam becak gadis itu, harapan dan perjuangan gadis itu tiba-tiba tinggallah kena’asan, darahnya mengalir, badannya kejang, seluruh keluarga dan teman-temannya berlari menuju ke arah gadis itu. Sambil tersenyum gadis itu berkata “Ayah Ibu aku WISUDA!”. Seketika gadis itu menutup matanya, dan pergi untuk selama-lamanya. Gadis malang yang kini telah tenang.

End

0 komentar:

Posting Komentar

 
berita unik