Translate

puisi tentang kamera

Written By iqbal_editing on Minggu, 26 Februari 2017 | 15.26

Kameraku masih menyala
terdiam, sediam langkahku
Sedangkan kau berjalan, menjauh
Lensa berputar, memanjang
membuntuti langkahmu, kadang terguncang
kemudian terhenti
di titik 200 mili
tak sanggup lagi mengikuti
Kini kau sudah ada
di lain cerita
melakoni peran yang sama
dengan lawan main yang berbeda
Bila suatu waktu
kau ingin lihat rekamanmu dulu
datanglah saja, tak perlu repot membawa rindu.
Bekasi, 28 Juni 2016
Norman Adi Satria

Teronggokku di sana ..
Termenung dalam kilau – kilau lampu ..
Tangan kanan di sini ..
Tangan kiri di situ ..
Bergaya penuh makna ..
Berpose penuh tanya ..
Bergaya tanpa dosa ..
Raut tampak ceria ..
Namun, lubuk ini telah berbicara ..
Hati penuh dusta ..
Tak perduli,
Apa yang akan terjadi ..
Tak penting,
Apa yang akan tercetak ..
Sehelai kertas ..
Tercipta gambar ..
Dengan senyum mengembang ..
Walau hati ..
Kini,, terukir luka ..
Adakah yang mengerti ?
Siapakah yang tau ?
Apakah kau memahami ?
Semua berbeda ..
Dia berubah ..
Bertolak belakang ..
Tak lagi kukenal ..
Sesosok wanita ..
Penuh kebohongan ..
Mata tak bisa melihat ..
Hanya hati yang merasa ..
Kamera ..
Kemunafikkan ..

0 komentar:

Posting Komentar

 
berita unik