Translate

cerpen altar ego

Written By iqbal_editing on Senin, 06 Maret 2017 | 03.03

            Mungkin aku sudah gila, menganggap adikku memiliki kepribadian ganda. Anggi, adikku satu satunya yang kini duduk dikelas 2 SD. Kejadian ini bermula ketika aku menjemput anggi hari senin lalu. Hari itu aku sedikit merasa aneh dengan penampilan anggi. Biasanya dia mengepang dua rambutnya, memakai aksesoris serba pink dan berbicara tanpa henti. Tapi hari itu berbeda. Ia membiarkan rambut panjangnya terurai, tidak memakai aksesoris apapun, dan ia tidak berbicara. Sama sekali berbeda dengan anggi yang ku kenal cerewet dan centil.Yang aku pikirkan waktu itu adalah mungkin saja anggi sudah menginjak dewasa dan mulai meninggalkan sifat kekanak kanakannya. Ya, mungkin saja.

            Namaku Vina, aku duduk dikelas tiga SMA. Semenjak perceraian orang tuaku 3 tahun lalu, aku  tinggal bersama ibu dan anggi. Ayahku sendiri  telah menikah dengan seorang wanita  kaya dan kini tinggal bersamanya di luar jawa. Dan sejak itu juga, dia tidak pernah menemuiku maupun anggi.

            Ibuku bekerja sebagai seorang karyawan disebuah perusahaan swasta di Jakarta. Untuk membiayai sekolahku dan anggi, terkadang ibu mengambil job keluar kota untuk memperoleh uang tambahan. Setiap kali ibu akan pergi keluar kota, anggi selalu saja merengek ingin ikut. Ya, sepertinya dia tidak ingin ditinggal sendirian bersama ku. Sebenarnya aku juga keberatan dengan tindakan ibu yang sering pergi keluar kota setiap bulan, meninggalkan aku dan anggi sendirian dirumah. Tapi, mau bagaimana lagi. Aku tidak bisa memaksa ibu untuk berhenti melakukan itu. Karna, dengan uang tambahan itulah aku dan anggi bisa melanjutkan sekolah.

            Malam ini dan untuk tiga hari kedepan, aku kembali sendirian bersama anggi dirumah. Ibu akan pergi ke Yogyakarta selama 3 hari. Seperti biasa, anggi selalu merengek ingin ikut bersama ibu. Tapi, bujukan ibu selalu bisa menghentikan rengekannya.

“Nanti ibu belikan boneka beruang yang besar, tapi anggi dirumah aja ya nemenin kak Vina. Kan kasihan kalau kak vina sendirian, nanti kalau kak vina diculik hantu gimana, anggi mau kehilangan kak vina?” dengan polosnya anggi menggeleng dan berkata “Anggi sayang sama kak Vina, anggi gak mau kehilangan kak Vina. Ehm..tapi, ibu harus janji belikan  anggi boneka beruang yang besar” ibu mengangguk dan aku hanya tersenyum .

            Dentingan jam semakin membuatku tidak bisa tidur. Dari balik selimut, aku menengok kearah tempat tidur anggi. Kami berdua satu kamar tapi dengan tempat tidur yang terpisah. Kulihat tubuhnya yang mungil itu tertutup sebagian oleh selimut bergambar Barbie. Tak lupa ia memeluk sebuah boneka teddy coklat yang besarnya hampir sama dengan tinggi badannya.

            Malam semakin larut, jarum jam menunjukkan pukul 01.00 dini hari tapi mataku masih saja belum terpejam. Karna tidak bisa tidur, aku memutuskan untuk menonton tv di ruang tengah.  Satu jam berlalu, acara membosankan itu akhirnya berhasil membuatku sedikit mengantuk. Yah, hanya sedikit. Aku pun segera kembali kekamar untuk tidur.

            Tapi, ada sesuatu yang aneh saat aku kembali kekamar.Aku melihat buku diary ku tergeletak di lantai. Aku kira, anggi yang melakukannya. Tapi, kulihat ia masih tidur dengan nyenyak. Ahh, sudahlah.Aku tidak mau memikirkan hal itu. Lebih baik aku tidur sekarang atau besok aku terlambat.

            “Selamat pagi kak Vina” sapa anggi ramah sambil mengecup pipiku.

            “Sudah jam 6 seperempat, cepat makan rotinya dan setelah itu kita berangkat” ucapku

            “Kak, tolong kepangin rambut aku dong. Kepang dua ya” pinta anggi dengan nada manjan khasnya

            Mau tak mau aku harus menuruti kata katanya. Memang biasanya ibu yang melakukan ini setiap pagi. Tapi, disaat seperti ini, harus aku yang melakukannya. Selesai mengepang rambut anggi, aku segera melahap cepat rotiku.Kami pun segera berangkat kesekolah. Aku mengantar terlebih dulu anggi ke sekolahnya, setelah itu aku segera tancap gas menuju sekolahku. Hari ini ada upacara bendera dan aku tidak boleh terlambat.

            Seharian ini, aku merasa sangat lelah. Pelajaran hari ini full, tidak ada yang kosong. Namanya juga hari senin. Selesai sekolah, aku segera pergi menuju rumah Nadia, teman anggi.

            Sudah menjadi kebiasaan, setiap pulang sekolah anggi selalu pergi kerumah Nadia. Ini karna anggi pulangnya lebih ceppat di banding aku. Jadi, selagi menungguku pulang sekolah, ia biasannya main kerumah Nadia.

            “Tidak, anggi tidak ada disini” ucap mamanya nadia

            “Lalu, apa tante tau dia dimana” tanyaku dengan cemas

            “Sepertinya tante tidak melihat anggi sejak pagi, tante kira dia tidak berangkat kesekolah”

            Bukankah tadi anggi aku antar kesekolahnya.Apa dia membolos ya? Tidak mungkin, anggi tidak pernah membolos selama ini. Tunggu sebentar, jangan jangan anggi diculik. Aku segera menelepon ibu untuk mengabarkan hal ini.

Aku meminta ibu untuk segera pulang dan melaporkan hal ini ke polisi. Tapi, ibu tidak bisa. Dia bilang hari ini ada tamu penting sehingga ia tidak bisa pergi meninggalkan kantor. Ibu menyuruhku untuk tenang dan segera pulang kerumah, mungkin saja Anggi sudah ada dirumah. Aku pun mengikuti semua perkata ibu. Walaupun sebenarnya aku tidak yakin dengan hal itu.

            Dengan perasaan campur aduk, aku kembali kerumah. Aku terkejut begitu melihat anggi sedang duduk di depan tv.

            “Anggi?”

            Aku bersyukur anggi tidak diculik. Tapi, beribu pertanyaan muncul dari otakku. Bagaimanai bisa berada disini. Bukankah jarak sekolah dengan rumah jauh, dan ia juga tidak mungkin berani naik angkot sendiri.

            Aku mulai mewawancarainya. Tapi, tatapan mata anggi sangat aneh.Ia terlihat berbeda. Rambutnya terurai panjang, pakaiannya serba hitam dan ia menatapku dengan tatapan asing. Ia tidak menjawab pertanyaanku satupun. Ia malah pergi meninggalkanku. Ada apa dengannya?

            Malam harinya, untuk pertama kalinya sejak tadi siang, anggi keluar dari kamarnya. Nada bicaranya kembali normal, dan ia mengenakan baju berwarna pink, warna kesukaannya.

            “Anggi tidak tahu” selalu itu yang ia ucapkan ketika aku menjejalinya dengan pertanyaan tadi siang. Kenapa dia jadi amnesia seperti ini? atau mungkin Anggi kecapekan dan  ia butuh istirahat. Aku segera melupakan kejadian tadi siang dan bersama anggi kulahap makan malam sederhana ini dengan nikmat.

            Dua hari kemudian, kejadian ini berulang kembali. Kepribadian anggi  berubah. Ia menjadi pribadi yang tomboy, berani, keras, pendiam. Ia bukan lagi seperti Anggi yang aku kenal. Saat menjemputnya kemarin, aku sempat ditegur oleh salah satu guru bahwa Anggi telah memukul salah satu teman laki lakinya dengan kayu sampai berdarah. Tentu saja aku memarahi Anggi saat dirumah.Tapi lagi lagi, anggi menjadi amnesia. Ia tidak ingat telah memukul temannya denga kayu. Apa yang sebenarnya terjadi pada Anggi?

            Malam ini, ibu pulang kerumah. Aku menceritakan semua kejadian aneh anggi padanya. Tapi, tanggapan ibu hanya biasa saja. Ia tidak mempermasalahkan hal ini. Ini sedikit membuatku kecewa. Aku berjalan lemas menuju kamarku. Kuambil buku diaryku yang sudah seminggu ini tidak tersentuh. Aku ingin menumpahkan semuanya dibuku ini. Terkadang buku lebih mendengarkan daripada manusia.

            Aneh, saat aku membuka buku diaryku, terlihat sebuah tulisan yang berbunyi “aku kangen ayah” apa mungkin Anggi yang menulisnya. Aku jadi ingat malam ketika aku menemukan buku diaryku jatuh dilantai.Mugnkin saja Anggi yang mengambil buku diaryku dan menuliskan kata kata itu. Tapi, saat aku menannyakan hal ini pada Anggi, ia bilang ia tidak melakukan apapun. Aku jadi semakin heran dengan hal ini. Apa yang sebenarnya terjadi.

            Aku segera mencari hal ini di internet.Perubahan sikap, kepribadian yang tiba tiba berubah, kepribadian ganda, kata kata itu aku tuliskan di google.dan akhirnya ketemu.

            Alter ego, atau aku yang lain adalah kepribadian lebih dari satu. Alter ego terbentuk karna adanya trauma dimasa kecil. Alter ego biasanya memiliki sifat berkebalikan dengan sifat aslinya. Dan biasanya ia tidak akan ingat hal hal yang dilakukan oleh si alter ego dengan tubuhnya.


            Jadi begitu, Anggi memiliki alter ego. Pantas saja ia tidak mengingat saat ia memukul temannya dengan kayu. Aku segera memberitahukan hal ini pada ibu.Ibu akhirnya percaya. Keesokan harinya kami membawa Anggi ke seorang psikolog.

0 komentar:

Posting Komentar

 
berita unik