Mungkin aku sudah gila, menganggap adikku memiliki
kepribadian ganda. Anggi, adikku satu satunya yang kini duduk dikelas 2 SD.
Kejadian ini bermula ketika aku menjemput anggi hari senin lalu. Hari itu aku
sedikit merasa aneh dengan penampilan anggi. Biasanya dia mengepang dua
rambutnya, memakai aksesoris serba pink dan berbicara tanpa henti. Tapi hari
itu berbeda. Ia membiarkan rambut panjangnya terurai, tidak memakai aksesoris
apapun, dan ia tidak berbicara. Sama sekali berbeda dengan anggi yang ku kenal
cerewet dan centil.Yang aku pikirkan waktu itu adalah mungkin saja anggi sudah
menginjak dewasa dan mulai meninggalkan sifat kekanak kanakannya. Ya, mungkin
saja.
Namaku Vina, aku duduk dikelas tiga SMA. Semenjak
perceraian orang tuaku 3 tahun lalu, aku
tinggal bersama ibu dan anggi. Ayahku sendiri telah menikah dengan seorang wanita kaya dan kini tinggal bersamanya di luar
jawa. Dan sejak itu juga, dia tidak pernah menemuiku maupun anggi.
Ibuku bekerja sebagai seorang karyawan disebuah
perusahaan swasta di Jakarta. Untuk membiayai sekolahku dan anggi, terkadang
ibu mengambil job keluar kota untuk memperoleh uang tambahan. Setiap kali ibu
akan pergi keluar kota, anggi selalu saja merengek ingin ikut. Ya, sepertinya
dia tidak ingin ditinggal sendirian bersama ku. Sebenarnya aku juga keberatan
dengan tindakan ibu yang sering pergi keluar kota setiap bulan, meninggalkan
aku dan anggi sendirian dirumah. Tapi, mau bagaimana lagi. Aku tidak bisa
memaksa ibu untuk berhenti melakukan itu. Karna, dengan uang tambahan itulah
aku dan anggi bisa melanjutkan sekolah.
Malam ini dan untuk tiga hari kedepan, aku kembali
sendirian bersama anggi dirumah. Ibu akan pergi ke Yogyakarta selama 3 hari.
Seperti biasa, anggi selalu merengek ingin ikut bersama ibu. Tapi, bujukan ibu
selalu bisa menghentikan rengekannya.
“Nanti
ibu belikan boneka beruang yang besar, tapi anggi dirumah aja ya nemenin kak
Vina. Kan kasihan kalau kak vina sendirian, nanti kalau kak vina diculik hantu
gimana, anggi mau kehilangan kak vina?” dengan polosnya anggi menggeleng dan
berkata “Anggi sayang sama kak Vina, anggi gak mau kehilangan kak Vina. Ehm..tapi,
ibu harus janji belikan anggi boneka
beruang yang besar” ibu mengangguk dan aku hanya tersenyum .
Dentingan jam semakin membuatku tidak bisa tidur. Dari
balik selimut, aku menengok kearah tempat tidur anggi. Kami berdua satu kamar
tapi dengan tempat tidur yang terpisah. Kulihat tubuhnya yang mungil itu
tertutup sebagian oleh selimut bergambar Barbie. Tak lupa ia memeluk sebuah
boneka teddy coklat yang besarnya hampir sama dengan tinggi badannya.
Malam semakin larut, jarum jam menunjukkan pukul 01.00
dini hari tapi mataku masih saja belum terpejam. Karna tidak bisa tidur, aku
memutuskan untuk menonton tv di ruang tengah. Satu jam berlalu, acara membosankan itu
akhirnya berhasil membuatku sedikit mengantuk. Yah, hanya sedikit. Aku pun
segera kembali kekamar untuk tidur.
Tapi, ada sesuatu yang aneh saat aku kembali kekamar.Aku
melihat buku diary ku tergeletak di lantai. Aku kira, anggi yang melakukannya.
Tapi, kulihat ia masih tidur dengan nyenyak. Ahh, sudahlah.Aku tidak mau
memikirkan hal itu. Lebih baik aku tidur sekarang atau besok aku terlambat.
“Selamat pagi kak Vina” sapa anggi ramah sambil mengecup
pipiku.
“Sudah jam 6 seperempat, cepat makan rotinya dan setelah
itu kita berangkat” ucapku
“Kak, tolong kepangin rambut aku dong. Kepang dua ya”
pinta anggi dengan nada manjan khasnya
Mau tak mau aku harus menuruti kata katanya. Memang biasanya
ibu yang melakukan ini setiap pagi. Tapi, disaat seperti ini, harus aku yang
melakukannya. Selesai mengepang rambut anggi, aku segera melahap cepat
rotiku.Kami pun segera berangkat kesekolah. Aku mengantar terlebih dulu anggi
ke sekolahnya, setelah itu aku segera tancap gas menuju sekolahku. Hari ini ada
upacara bendera dan aku tidak boleh terlambat.
Seharian ini, aku merasa sangat lelah. Pelajaran hari ini
full, tidak ada yang kosong. Namanya juga hari senin. Selesai sekolah, aku
segera pergi menuju rumah Nadia, teman anggi.
Sudah menjadi kebiasaan, setiap pulang sekolah anggi
selalu pergi kerumah Nadia. Ini karna anggi pulangnya lebih ceppat di banding
aku. Jadi, selagi menungguku pulang sekolah, ia biasannya main kerumah Nadia.
“Tidak, anggi tidak ada disini” ucap mamanya nadia
“Lalu, apa tante tau dia dimana” tanyaku dengan cemas
“Sepertinya tante tidak melihat anggi sejak pagi, tante
kira dia tidak berangkat kesekolah”
Bukankah tadi anggi aku antar kesekolahnya.Apa dia
membolos ya? Tidak mungkin, anggi tidak pernah membolos selama ini. Tunggu
sebentar, jangan jangan anggi diculik. Aku segera menelepon ibu untuk
mengabarkan hal ini.
Aku
meminta ibu untuk segera pulang dan melaporkan hal ini ke polisi. Tapi, ibu
tidak bisa. Dia bilang hari ini ada tamu penting sehingga ia tidak bisa pergi
meninggalkan kantor. Ibu menyuruhku untuk tenang dan segera pulang kerumah,
mungkin saja Anggi sudah ada dirumah. Aku pun mengikuti semua perkata ibu. Walaupun
sebenarnya aku tidak yakin dengan hal itu.
Dengan perasaan campur aduk, aku kembali kerumah. Aku
terkejut begitu melihat anggi sedang duduk di depan tv.
“Anggi?”
Aku bersyukur anggi tidak diculik. Tapi, beribu
pertanyaan muncul dari otakku. Bagaimanai bisa berada disini. Bukankah jarak
sekolah dengan rumah jauh, dan ia juga tidak mungkin berani naik angkot sendiri.
Aku mulai mewawancarainya. Tapi, tatapan mata anggi
sangat aneh.Ia terlihat berbeda. Rambutnya terurai panjang, pakaiannya serba
hitam dan ia menatapku dengan tatapan asing. Ia tidak menjawab pertanyaanku
satupun. Ia malah pergi meninggalkanku. Ada apa dengannya?
Malam harinya, untuk pertama kalinya sejak tadi siang,
anggi keluar dari kamarnya. Nada bicaranya kembali normal, dan ia mengenakan
baju berwarna pink, warna kesukaannya.
“Anggi tidak tahu” selalu itu yang ia ucapkan ketika aku
menjejalinya dengan pertanyaan tadi siang. Kenapa dia jadi amnesia seperti ini?
atau mungkin Anggi kecapekan dan ia
butuh istirahat. Aku segera melupakan kejadian tadi siang dan bersama anggi
kulahap makan malam sederhana ini dengan nikmat.
Dua hari kemudian, kejadian ini berulang kembali.
Kepribadian anggi berubah. Ia menjadi
pribadi yang tomboy, berani, keras, pendiam. Ia bukan lagi seperti Anggi yang
aku kenal. Saat menjemputnya kemarin, aku sempat ditegur oleh salah satu guru
bahwa Anggi telah memukul salah satu teman laki lakinya dengan kayu sampai
berdarah. Tentu saja aku memarahi Anggi saat dirumah.Tapi lagi lagi, anggi
menjadi amnesia. Ia tidak ingat telah memukul temannya denga kayu. Apa yang
sebenarnya terjadi pada Anggi?
Malam ini, ibu pulang kerumah. Aku menceritakan semua
kejadian aneh anggi padanya. Tapi, tanggapan ibu hanya
biasa saja. Ia tidak mempermasalahkan hal ini. Ini sedikit membuatku kecewa. Aku
berjalan lemas menuju kamarku. Kuambil buku diaryku yang sudah seminggu ini
tidak tersentuh. Aku ingin menumpahkan semuanya dibuku ini. Terkadang buku
lebih mendengarkan daripada manusia.
Aneh, saat aku membuka buku diaryku, terlihat sebuah
tulisan yang berbunyi “aku kangen ayah” apa mungkin Anggi yang menulisnya. Aku
jadi ingat malam ketika aku menemukan buku diaryku jatuh dilantai.Mugnkin saja Anggi
yang mengambil buku diaryku dan menuliskan kata kata itu. Tapi, saat aku
menannyakan hal ini pada Anggi, ia bilang ia tidak melakukan apapun. Aku jadi
semakin heran dengan hal ini. Apa yang sebenarnya terjadi.
Aku segera mencari hal ini di internet.Perubahan sikap,
kepribadian yang tiba tiba berubah, kepribadian ganda, kata kata itu aku
tuliskan di google.dan akhirnya ketemu.
Alter ego, atau aku yang lain adalah kepribadian lebih
dari satu. Alter ego terbentuk karna adanya trauma dimasa kecil. Alter ego
biasanya memiliki sifat berkebalikan dengan sifat aslinya. Dan biasanya ia
tidak akan ingat hal hal yang dilakukan oleh si alter ego dengan tubuhnya.
Jadi begitu, Anggi memiliki alter ego. Pantas saja ia tidak mengingat saat ia memukul temannya dengan kayu. Aku segera memberitahukan hal ini pada ibu.Ibu akhirnya percaya. Keesokan harinya kami membawa Anggi ke seorang psikolog.
0 komentar:
Posting Komentar