“Kayaknya ini bagus deh. Temen-temenku sudah pada nonton,” kata Aulia sambil menunjuk iklan film hantu.
“Jangan deh Au. Kamu tahu kan, aku itu anaknya penakut,” kata Nana.
“kalau kamu gimana, Rin?” lanjut Nana sambil menarik bajuku.
“Udah deh gak apa-apa, lagian kan kita nonton filmnya bareng-bareng. Gak usah takut deh,” aku meyakinkan Nana. Akhirnya, dengan berat hati Nana menyetujui film pilihan Aulia.
Kami bertiga mengantre di loket nomor dua. Aulia menarik lengan bajuku.
“Hei Arin. Filmnya main jam satu. Gimana nih?” tanya Aulia.
“Kamu tahu dari mana?” aku meyakinkan Aulia. Ia menunjukkan tangannya kepada layar iklan di belakang mbak-mbak yang jual tiket. Aku hanya menganggukkan kepala dan mengisyaratkan bahwa aku punya ide. Setelah antre tiket, aku hanya melihat bahwa di tiket tercantum gedung C yang akan menayangkan film yang kami pilih. Jadi kami merencanakan untuk membeli makanan di food court seberang gedung bioskop.
Sungguh ini sangat aneh. Kenapa pintu gedung C sepi dan terbuka. Apa jangan-jangan belum dimulai? Aulia si cewek pemberani itu menarik tanganku dan Nana untuk memasuki gedung C. Beneran. Ini mimpi. Gedung C kosong, tapi kenapa filmnya main? Seketika pipiku memerah. Ternyata banyak orang yang sudah duduk di kursinya masing-masing. Di dalam gelap, kami mencari kursi yang sudah kami pesan sebelumnya. Di saat kami kebingungan mencari kursi, layar lebar itu menayangkan sosok hantu yang menyeramkan. Sontak seluruh penonton termasuk aku, Aulia, dan Nana. Sungguh itu memalukan sekali. Kami tidak menemukan kursi kami. Tapi kami menemukan dua kursi kosong. Dan pada akhirnya kami duduk di sana. Aku berdua dengan Lia. Bertepatan di belakangku, ada Putri, Nada dan tiga teman laki-lakinya. Salah satu teman laki-lakinya menendang-nendang kursiku. Setahuku, dia namanya Julian.
“Kamu ke mana aja Au?” tanya Nada kepada Aulia.
“Emang udah dari tadi?” tanya Aulia.
“Sudah. Tuh filmnya sudah mau habis,” jawab Julian yang masih menendang belakang kursiku.
“Please Na, aku pingin lihat tiketnya. Bisa jadi kita salah gedung,” Nana pun mengeluarkan tiketnya dan aku membacanya dengan diterangi cahaya handphone.
“Tuh, di sini di tulis jam mainnya pukul dua belas lebih tiga puluh menit,” Nana dan Aulia hanya menepuk jidat.
Pantesan aja, perasaanku dari tadi gak enak. Aku beneran menyesal. Aku kasihan sama kedua temenku. Apalagi Aulia yang menahan malu kepada lima teman sekelasnya. Setelah filmnya selesai, aku hanya duduk lemas di depan food court. Aulia memegang pundakku. “Kamu tahu, saat kita cari tempat duduk tadi, aku ngelihat Afra dengan beberapa temen sekelasnya,” Afra adalah anak hitz sekolahku yang sekarang lagi menjabat sebagai ketua OSIS. “Udahlah, itu buat dia tambah malu aja. Apalagi, Arin pengurus OSIS. Takutnya dia dibully lagi nih,” tambah Nana. Itu tambah membuatku takut untuk datang ke sekolah besok pagi.
Tak lama kemudian, Afra lewat di depan kami bersama beberapa temannya, yang salah satunya ada yang menyapaku. Aku bersikap layaknya aku seperti biasa. Kami hanya merennugkan kejadian tadi. Pada akhirnya, kami ke luar dari mall dan mencari angkutan umum untuk pulang ke rumah. Aku mendapat satu pelajaran hari ini. Aku harus lebih teliti dalam menerima sesuatu. Aku tidak boleh melupakan kejadian ini. Sungguh kejadian konyol yang pernah aku alami. Mengingatnya, aku merasa sangat malu. Tapi jika melupakannya, itu adalah bagian dari materi pelajaran hidupku dan kenangan konyol bersama sahabatku.
Cerpen Karangan: Zahra Yasmina Wahyudiono
0 komentar:
Posting Komentar