Translate

cerpen menyontek

Written By iqbal_editing on Kamis, 02 Maret 2017 | 20.16

Budi hanya bisa diam. Dilihatnya lagi soal itu satu persatu, namun tetap saja tidak ada jawaban yang terbesit di benaknya. Ruangan kelas mendadak terasa begitu panas, meski terdapat dua kipas angin besar di dalamnya.
Keringat dingin Budi keluar saat mengingat waktu ujian tinggal empat puluh menit lagi. Sementara saat itu ia baru mengisi setengah dari semua soal yang ada. Itu pun tidak tahu apakah yang ia jawab betul semua atau tidak. Budi jadi semakin cemas. Ini adalah ujian yang menentukan lulus tidaknya ia dari sekolah ini!
Dalam diamnya, tiba-tiba terbayang wajah Ibunya tadi malam. “Budi, besok kamu ujian, kan?” tanya Ibunya yang terbaring lemah. Sudah dua pekan ini Ibunya sakit dan dijaga Budi. Kata dokter di puskesmas, Ibunya terkena gelaja thypus. Mungkin ini efek dari tubuh yang tak sanggup lagi menahan lelah akibat bekerja sebagai pembantu rumah tangga guna membantu suaminya yang bekerja sebagai sopir, semata-mata untuk menghidupi Budi dan dua adiknya yang masih SD.
“Iya, Bu. Mohon doanya. Biar lancar.” jawab Budi sembari memijit kaki Ibunya.
Ibunya tersenyum, “Insya Allah. Ibu selalu doakan yang terbaik untuk kamu,” sesaat Ibunya menarik napas, lalu melanjutkan, “Sudah belajar belum?”
Glek! Budi menahan ludah. “Su… sudah, Bu.” Terpaksa ia berbohong. Karena sebetulnya ia belum sempat belajar. Buku-bukunya rusak saat rumahnya banjir sepekan lalu. Saat sedang dijemur di belakang rumah, ternyata buku-buku itu hilang. Budi mengira buku-buku itu diambil pemulung yang kebetulan lewat, mungkin karena rusak jadi dianggapnya sampah. Hal ini sengaja tidak ceritakan kepada orangtuanya karena ia tidak ingin membuat mereka cemas. Tapi Budi beruntung, beberapa hari lalu ia sempat meminjam buku catatan teman-temannya dan merangkumnya menjadi secarik kertas yang kini telah ia selipkan di balik kaos kakinya.
Tapi… haruskah Aku menyontek? batin Budi.
Budi bimbang. Kembali ia lihat kertas jawabannya yang masih kosong setengah. Kalau tidak ia isi, nilainya akan jelek dan bisa-bisa ia tidak lulus. Kalau tidak lulus, ia pasti mendapati orangtuanya sedih. Jelas ia tidak mau itu terjadi. Tapi kalau ia lulus dengan hasil menyontek, bukankah orangtuanya semakin sedih saat mengetahui kerja kerasnya selama ini ternyata sia-sia karena tidak mampu membuat anaknya cerdas di sekolah, karena anaknya lulus bukan dari kemampuannya sendiri, tapi hasil menyontek!
Budi semakin pusing. Apa pun yang ia pikirkan, selalu berakhir pada wajah Ibu dan Ayahnya yang ia cintai. Ibunya sedang sakit dan terbaring di rumah. Sementara Ayahnya sedang giat bekerja untuknya. Sekali lagi ia beranikan diri untuk melihat jam dinding kelas, Sial tinggal tiga puluh menit lagi! gerutunya dalam hati.
Diliriknya teman-teman di sekelilingnya sembari memerhatikan bapak guru pengawas, yang ternyata terlihat asik terlelap di depan kelas. Sementara teman-temannya sudah dari tadi mengambil kesempatan ini untuk melakukan ‘jurus-jurus’ rahasia mereka. Budi masih ragu. Dirinya tidak terbiasa menyontek. Selama ini kalau ujian ia bisa mengerjakannya sendiri karena Budi memang tidak senang menyontek. Baginya, menyontek itu sama saja dengan mencuri atau korupsi yang kerap diberitakan di televisi. Hanya saja untuk Ujian Nasional kali ini, tekanan psikis itu benar-benar terasa. Ditambah tuntutan untuk lulus begitu besar hingga membuatnya semakin gamang. Ah, coba kalau saya lebih rajin belajar, keluhnya.
“Ssstt… Ssstt…” tiba-tiba Budi dikagetkan dengan adanya colekkan dari belakang, “Nomor tiga puluh apa, Bud? Buruan!” bisik Deril yang duduk persis di belakang Budi.
Dengan ragu, Budi perhatikan lagi guru pengawas di depan, kuatir kalau tiba-tiba ia bangun dan memerhatikan dirinya. Setelah dianggap aman, dengan cepat Budi memberi isyarat angka lima dengan jarinya. Entah mengapa Deril tidak lagi bertanya. Mungkin puas dengan jawaban Budi yang dianggapnya lima jari itu berarti jawabannya “E”, karena memang pertanyaannya itu pilihan ganda. Padahal Budi saat itu memberi lima jari yang artinya ia tidak tahu. Karena ia sendiri juga belum mengisinya.
Karena merasa situasi cukup kondusif, maka Budi mencoba memberanikan diri. Pura-pura ia jatuhkan pensilnya untuk dapat menunduk dan mengambil catatannya yang ada di balik kaos kaki. Dada Budi berdebar keras sambil perlahan tubuhnya mulai membungkuk.
Ibu, Ayah, maafkan Budi ya. Budi harus lulus. Budi tidak ingin mengecewakan Ibu dan Ayah.
“Hey, kamu yang di situ!” tiba-tiba terdengar bentakan dari arah depan kelas.
Glek! Budi tercekat. Bukankah itu suara guru pengawas? Sejak kapan ia terjaga?
Budi yang masih di bawah meja dengan posisi membungkuk semakin ketakutan. Apalagi dapat ia dengar ketukan langkah kaki guru pengawas yang semakin jelas mendekatinya. “Apa yang kamu lakukan tadi!?” bentakan guru pengawas kembali terdengar.
Rasanya Budi begitu malu dan kehilangan tenaga untuk menatap guru pengawas itu. Tapi mau bagaimana lagi, bukankah ia sudah tertangkap basah? Ia pun menegakkan tubuhnya. Tapi heran, guru pengawas itu bukannya segera berhenti, tetapi terus melangkah. Hingga kemudian berhenti persis di belakang Budi, tepatnya di tempatnya Deril.
“Apa yang kamu sembunyikan itu? Cepat serahkan!” tukas guru itu masih dengan wajah yang galak.
Yang dibentak akhirnya ciut juga nyalinya. “Tidak ada apa-apa, Pak…” jawab Deril gemetar.
“Bohong! Sudah jangan mengelak lagi. Memangnya tadi saya tidak lihat apa yang kamu lakukan? Kemarikan kertasmu. Biar saya laporkan ke pihak sekolah kalau kamu hari ini menyontek!” kata guru itu tegas sambil mengambil kertas jawaban Deril.
“Yang lain cepat selesaikan ujian kalian! Waktu tinggal sedikit lagi! Jangan menyontek!” kata guru itu lagi.
Deril mendadak lemah, pasrah, tidak bisa berbuat apa-apa. Sementara Budi, ternyata lebih lemas daripada Deril. Ia menyaksikan Deril dan guru itu dengan perasaan campur aduk luar biasa. Apa jadinya kalau ternyata itu Aku? batinnya. Mendadak Budi tersadar kesalahannya. Astagfirullah…terima kasih ya Allah!
***
Di saat yang sama, di sebuah rumah sederhana, terbaringlah perempuan paruh baya yang lemah. Bibirnya basah dengan doa, “Ya Allah, berkahilah ujian anakku hari ini. Berikanlah hasil yang terbaik baginya. Ampunkan dosanya. Tunjuki jalan kebaikan untuknya…”

[Limo, 17 April 2012]

0 komentar:

Posting Komentar

 
berita unik