Translate

cerpen tangisan seorang ibu

Written By iqbal_editing on Kamis, 09 Maret 2017 | 18.05

Namaku Adinda Adya Shinta, kalian bisa memanggilku Dinda, aku sekarang ini masih duduk di bangku kelas 1 SMP, aku tinggal bersama ayah dan ibuku, kebetulan aku anak tunggal loh. Pada malam itu aku melihat ibuku sedang salat dan ia sambil menangis, entah aku pun tak tahu apa penyebab ibu menangis, apa karena aku nakal, apa juga karena aku tidak mematuhi perintah ibu. Setelah ibu selesai salat aku melihat ibu mengusap air matanya, dan aku pun langsung menanyakan kepada ibu.
“Ibu, Ibu kenapa menangis? Aku punya salah ya sama Ibu?” tanyaku. Ibu pun terdiam, hanya ada garis senyuman ibu yang sangat manis, menghiasi pipinya. Aku kembali menanyakan. “Ibu, jawab Ibu kenapa menangis? Maafkan Dinda ya Bu, Dinda tahu kalau Ibu menangis karena Dinda,” tanyaku.
“Tidak Nak, Ibu tidak menangis karenamu, Ibu tadi tidak menangis kok Nak,” jawab ibu.
“Lalu mengapa Ibu sehabis salat tadi mengusap air mata yang membasahi pipi Ibu?” tanyaku.
“Tidak Nak Ibu hanya mengantuk, jadi Ibu mengusap mata Ibu,” jawab ibu
“Yang bener Bu? Ya sudah kalau begitu Bu. Dinda tidur dulu ya Bu,” ucapku.
“Iya Nak, kamu cepat tidur ya, nanti pagi kamu sekolah,” jawab ibu.
“Iya Bu.” ucapku.
Setelah itu pun aku tidur, dan terbangun jam 05:00 pagi. Ibu sudah menyiapkan sarapan untukku dan ayah. Aku selalu melihat ibu tidak ikut sarapan, setelah ibu menyiapkan sarapan, ibu langsung mencuci baju, ia tidak pernah ikut sarapan.
Pulang sekolah.
“Assalamualaikum,”
“Assalamualaikum, aku masuk ya,”
Aku melihat ibu tertidur di depan tv, sepertinya ibu lelah, terlihat dari wajah ibu dan keringat yang menetes.
“Oh… Dinda sudah pulang?” tanya ibu dengan kaget.
“Iya Bu,” ucapku dan langsung ke kamar mengganti pakaianku.
Aku melihat di meja makan, sudah banyak makanan, sepertinya belum ada yang makan, karena nasi masih tetep seperti semula dan lauknya pun masih banyak.
“Nak, kamu cepat makan ya,” ucap ibu.
“Ya Bu, Ibu belum makan ya Bu?” tanyaku.
“Sudah kok Nak.” jawab ibu dengan halus.
Aku pun makan dengan lahap, aku berhenti sejenak ketika ibu melihatku dengan senyuman.
“Makanlah Nak, Ibu sudah makan tadi kok,” ucap ibu.
“Baiklah Bu.” jawabku. Aku melanjutkan makannya.
Ketika malam sudah menghampiri, aku selalu melihat ibu sehabis salat menangis, hampir setiap malam aku melihatnya. Aku juga tak tahu apa penyebabnya. Ketika aku menanyakan soal itu, ibu tidak pernah menjawab soal itu. Ia hanya menjawab dengan senyuman yang manis. Aku bersyukur mempunyai seorang ibu seperti ibuku yang selalu sabar melakukan segala hal.
Cerpen Karangan: Silvia Nur Arinda

0 komentar:

Posting Komentar

 
berita unik