Translate

cerpen tangisan di malam hari

Written By iqbal_editing on Kamis, 09 Maret 2017 | 18.45

Malam itu Zahrana tidur bersama Neysa, Rosi dan Mutia. Mereka tidur di kamarnya Mutia. Sebelum tidur, mereka bercanda tawa dan berbincang mengenai apa yang akan mereka lakukan besok pagi. Mereka berencana besok akan bersepeda ke alun-alun kemudian di sana akan bermain bulu tangkis. Untuk melancarkan rencananya mereka pun memasang alarm pukul 04.30 agar besoknya tidak kesiangan bangunnya.
“Zahra… beresin dulu tempat tidurnya, jangan langsung tidur!”, Mutia mencoba mengingatkan Zahrana.
“Iya Zahra. Tadi kan kita habis ngemil juga, tuh lihat masih ada sisa snak di kasur. Ayoo bangun, diberesin dulu”, Rosi mencoba membujuk Zahrana.
“Ah… aku sudah ngantuk banget”, Zahrana tidak menghiraukan perkataan teman-temannya. Ia tetap melanjutkan tidurnya dan teman-temannya pun menyusul tidur.

“Neysa bangun… bangun Neysa… Rosi bangun… ayo bangun”, Mutia mencoba membangunkan Neysa dan Rosi.
“Emm… sudah pagi toh?”, tanya Neysa sambil mengucek-ngucek kedua matanya.
“Belum. Ini masih jam dua pagi”, jawab Mutia.
“Teus kenapa kamu bangunin kita? Masih ngantuk tahu!”, jawab Rosi dan kembali membaringkan tubuhnya ke kasur.
“Maaf… maaf… Eits.. jangan pada tidur lagi”, cegah Mutia dan menarik tangan Rosi.
“Hmm… ada apa tho?”, tanya Neysa agak kesal.
“Coba kalian dengarkan!”
Neysa dan Rosi pun memasang telinga baik-baik. Mereka mendengar ada suara tangisan. Rosi yang penakut pun langsung memeluk Mutia. Pelukannya begitu erat hingga Mutia sesak untuk bernafas. Setelah disadarinya mutia engap-engapan, Rosi pun melepaskan pelukannya. Tangisan itu berasal dari kamar mandi. Mutia yang penasaran pun mmengajak teman-temannya untuk menggechecknya ke kamar mandi, untuk memastikan siapa yang sedang menangis di kamar mandi. Namun Rosi menolaknya, ia merasa takut. Namun daripada ia ditinggal sendirian di Kamar, maka ia pun lebih memilih mengikuti jejak 2 temannya tersebut.
Mutia yang pemberani, berjalan di depan. Ia memimpin teman-temannya. Sedang Rosi yang penakut, memilih berjalan di tengah. Menurutnya di tengah lebih aman, karena jika di belakang ia takut akan diculik kolong wewe. Haha, Rosi memang kadng-kadang suka ngaco’. Setelah berjalan sejauh 3 meter dari kamar Mutia, mereka pun sampai di depan kamar mandi. Suara tangisan itu terdengar semakin jelas. Mutia semakin penasaran. Ia ingin membuka pintu kamar mandi, ia ingin mengetahui siapa yang ada di dalamnya. Namun saat ia akan membukanya Rosi mencegahnya.
“jangann Mutia!”, Rosi meraih tangan Mutia.
“kenapa?”, Mutia menatap Rosi.
“nanti kalau yang di dalam ternyata kuntilanak, kemudian menerkam kita gimana? Aku takut.”, jelas Rosi. Tangannya dingin dan wajahnya pucat.
Mutia dan Neysa pun mencoba menenangkan Rosi. Setelah Rosi sudah sedikit lebih tenang, mereka pun kembali mendekat ke kamar mandi. Namun suara itu sudah tidak terdengar lagi. Mutia semakin penasaran ia pun kembali mencoba membuka kamar mandi. Namun tiba-tiba…
“aaa….”, Mutia, Rosi dan Neysa menjerit.
Pintu kamar mandi membuka sendiri. Namun ternyata di belakang pintu ada Zahrana. Zahranalah yang telah membuka pintu dari dalam. Dan Zahrana pulalah yang dari tadi menangis di kamar mandi, yang telah membuat teman-temannya takut dan penasaran. Ia menangis karena kesakitan. Telinga kanannya dimasuki semut, dan semut itu menggigitnya. Ia mencoba mengeluarkannya dengan mengaliri air ke telinganya. Namun semut tersebut tak kunjung keluar. Dan setelah mencobanya berkali-kali akhirnya semut tersebut pun keluar bersamaan keluarnya air yang tadi dialirkan ke telinganya.
“huu.. dasar. Makanya kalau tidur tuh tempatnya diberesin dulu. Dasar jorok”, Rosi, mutia dan Neysa meledek Zahrana. Dan Zahrana hanya nyengir.
Cerpen Karangan: Na’imah Az Zahra

0 komentar:

Posting Komentar

 
berita unik