Pada suatu hari, Lolo, si ayam jago,
berjalan-jalan di sebuah tanah pertanian. Tiba-tiba, ia melihat sebuah
peti besar. Dengan agak ragu-ragu, Lolo membuka peti itu. Olala,
ternyata di dalamnya terdapat berbagai macam benda! Ada setrika, pulpen,
pisau rumput, panci, sapu, dan lain-lain.
Lolo bersorak gembira, ”Asyik, sekarang aku punya perlengkapan rumah yang lengkap. Mulai sekarang, aku tidak perlu lagi meminjam barang kepada teman-temanku.” Ia berusaha mengangkat peti. Aduh ternyata peti itu berat sekali! Lolo meminta tolong kepada teman-temannya agar membantunya membawa peti itu sampai ke rumahnya.
Beberapa hari kemudian, Cici, si kelinci datang ke rumah Lolo.
“Lolo, bolehkah aku meminjam setrikamu? Setrikaku rusak dan aku belum sempat memperbaikinnya,” kata Cici dengan kata memelas. Lolo tampak tidak senang mendengar perkataan Cici.
“Aduh, setrikaku dipinjam saudaraku,” kata Lolo berdusta. Ia tidak ingin Cici meminjam setrikanya. Akhirnya, Cici pulang dengan tangan kosong.
Keesokan paginya, Bing-bing, si kambing, datang meminjam pisau rumput kepada Lolo.
“Lolo, boleh aku pinjam pisau rumputmu? Pisauku patah,” kata Bing-bing dengan serius. ”Nanti sore aku kembalikan.”
“Yah, bagaimana kalau pisauku patah juga?” tanya Lolo dengan berat hati. ”Sudahlah kau potong saja dengan pisaumu yang patah itu!” kata Lolo sambil meninggalkan Bing-bing.
Keesokan paginya, Nia, si kucing, meminjam sebuah panci kepada Lolo. “Lolo, pinjamkan aku pancimu, sebentar saja! Panciku bocor dan aku tidak bisa memakainya. Sebentar lagi, adik-adikku pulang sekolah. Kasihan mereka pasti sudah lapar,” kata Nia hampir menangis.
”Aduh, panciku sedang dipinjam saudaraku,” kata Lolo berbohong. Akhirnya, Nia pulang dengan sangat kecewa.
Siang harinya, Nyet-nyet, si Monyet, meminjam pulpen kepada Lolo.
“Lolo, tolong pinjamkan pulpenmu. Aku mau ikut lomba mengarang. Pulpenku tidak bisa dipakai lagi,” kata Nyet-nyet dengan tergesa-gesa.
“Aku tidak punya pulpen! Sekarang aku mau tidur,” kata Lolo dengan kesal. Akhirnya, Nyet-nyet pulang dengan kecewa.
Lolo tidak suka menerima tamu, apalagi kalau tamu itu ingin meminjam barangnya. Ia segera menutup pintu dan jendela lalu berangkat tidur walaupun hari masih siang. Akhirnya ia tertidur dengan nyenyak hingga menjelang pagi. Tiba-tiba, ia terbangun dari tidurnya.
“Oh, sudah pagi! Aku harus berkokok! Kalau tidak leherku akan dipotong Pak Tani,” katanya tergesa-gesa. Lolo segera membuka pintu rumahnya.
“Oh, sebentar lagi hujan turun! Bagaimana ini? Meskipun hujan, aku harus tetap berkokok untuk membangunkan Pak Tani. Wuah, aku tidak punya payung. Ke mana harus kupinjam, ya?” kata Lolo dalam hati. ”Ah, sebaiknya aku pinjam dari teman-temanku.” Lolo segera berangkat menuju rumah teman-temannya. Sepanjang jalan ia ketakutan membayangkan kemarahan Pak Tani.
Akhirnya, sampailah Lolo di rumah Cici. Sayang sekali, Cici tidak mau meminjamkan payung kepadanya. Kemudian Lolo pergi ke rumah Bing-bing. Bing-bing pun tidak mau meminjamkan payung kepadanya. Demikian pula Nia dan Nyet-nyet. Mereka mengatakan bahwa payung mereka rusak.
Tak lama kemudian hujan turun dengan deras. Lolo tak berani pulang karena Pak Tani sudah menunggunya di depan kandang. Ia tampak marah karena terlambat bangun. Setelah hujan reda, Lolo segera pulang. Melihat Pak Tani, Lolo menangis dengan keras. Mendengar tangisan Lolo, teman-temannya segera mendatangi Pak Tani. Teman-teman Lolo berusaha membela Lolo.
“Maafkanlah Lolo, Pak Tani. Ini karena kesalahan kami. Seandainya, kami mau meminjamkan payung kepadanya, dia tidak akan terlambat untuk berkokok.” Untunglah, Pak Tani mau memaafkan Lolo.
Setelah Pak Tani pulang, Lolo segera meminta maaf kepada teman-temannya.
“Maafkan aku teman-teman! Mulai sekarang, aku tidak akan pelit lagi,” kata Lolo sambil mengeluarkan peti barangnya.”Nah, kalau kalian mau meminjam barangku, ambilah!” kata Lolo dengan tulus. Akhirnya, semua binatang itu tertawa gembira.
Lolo bersorak gembira, ”Asyik, sekarang aku punya perlengkapan rumah yang lengkap. Mulai sekarang, aku tidak perlu lagi meminjam barang kepada teman-temanku.” Ia berusaha mengangkat peti. Aduh ternyata peti itu berat sekali! Lolo meminta tolong kepada teman-temannya agar membantunya membawa peti itu sampai ke rumahnya.
Beberapa hari kemudian, Cici, si kelinci datang ke rumah Lolo.
“Lolo, bolehkah aku meminjam setrikamu? Setrikaku rusak dan aku belum sempat memperbaikinnya,” kata Cici dengan kata memelas. Lolo tampak tidak senang mendengar perkataan Cici.
“Aduh, setrikaku dipinjam saudaraku,” kata Lolo berdusta. Ia tidak ingin Cici meminjam setrikanya. Akhirnya, Cici pulang dengan tangan kosong.
Keesokan paginya, Bing-bing, si kambing, datang meminjam pisau rumput kepada Lolo.
“Lolo, boleh aku pinjam pisau rumputmu? Pisauku patah,” kata Bing-bing dengan serius. ”Nanti sore aku kembalikan.”
“Yah, bagaimana kalau pisauku patah juga?” tanya Lolo dengan berat hati. ”Sudahlah kau potong saja dengan pisaumu yang patah itu!” kata Lolo sambil meninggalkan Bing-bing.
Keesokan paginya, Nia, si kucing, meminjam sebuah panci kepada Lolo. “Lolo, pinjamkan aku pancimu, sebentar saja! Panciku bocor dan aku tidak bisa memakainya. Sebentar lagi, adik-adikku pulang sekolah. Kasihan mereka pasti sudah lapar,” kata Nia hampir menangis.
”Aduh, panciku sedang dipinjam saudaraku,” kata Lolo berbohong. Akhirnya, Nia pulang dengan sangat kecewa.
Siang harinya, Nyet-nyet, si Monyet, meminjam pulpen kepada Lolo.
“Lolo, tolong pinjamkan pulpenmu. Aku mau ikut lomba mengarang. Pulpenku tidak bisa dipakai lagi,” kata Nyet-nyet dengan tergesa-gesa.
“Aku tidak punya pulpen! Sekarang aku mau tidur,” kata Lolo dengan kesal. Akhirnya, Nyet-nyet pulang dengan kecewa.
Lolo tidak suka menerima tamu, apalagi kalau tamu itu ingin meminjam barangnya. Ia segera menutup pintu dan jendela lalu berangkat tidur walaupun hari masih siang. Akhirnya ia tertidur dengan nyenyak hingga menjelang pagi. Tiba-tiba, ia terbangun dari tidurnya.
“Oh, sudah pagi! Aku harus berkokok! Kalau tidak leherku akan dipotong Pak Tani,” katanya tergesa-gesa. Lolo segera membuka pintu rumahnya.
“Oh, sebentar lagi hujan turun! Bagaimana ini? Meskipun hujan, aku harus tetap berkokok untuk membangunkan Pak Tani. Wuah, aku tidak punya payung. Ke mana harus kupinjam, ya?” kata Lolo dalam hati. ”Ah, sebaiknya aku pinjam dari teman-temanku.” Lolo segera berangkat menuju rumah teman-temannya. Sepanjang jalan ia ketakutan membayangkan kemarahan Pak Tani.
Akhirnya, sampailah Lolo di rumah Cici. Sayang sekali, Cici tidak mau meminjamkan payung kepadanya. Kemudian Lolo pergi ke rumah Bing-bing. Bing-bing pun tidak mau meminjamkan payung kepadanya. Demikian pula Nia dan Nyet-nyet. Mereka mengatakan bahwa payung mereka rusak.
Tak lama kemudian hujan turun dengan deras. Lolo tak berani pulang karena Pak Tani sudah menunggunya di depan kandang. Ia tampak marah karena terlambat bangun. Setelah hujan reda, Lolo segera pulang. Melihat Pak Tani, Lolo menangis dengan keras. Mendengar tangisan Lolo, teman-temannya segera mendatangi Pak Tani. Teman-teman Lolo berusaha membela Lolo.
“Maafkanlah Lolo, Pak Tani. Ini karena kesalahan kami. Seandainya, kami mau meminjamkan payung kepadanya, dia tidak akan terlambat untuk berkokok.” Untunglah, Pak Tani mau memaafkan Lolo.
Setelah Pak Tani pulang, Lolo segera meminta maaf kepada teman-temannya.
“Maafkan aku teman-teman! Mulai sekarang, aku tidak akan pelit lagi,” kata Lolo sambil mengeluarkan peti barangnya.”Nah, kalau kalian mau meminjam barangku, ambilah!” kata Lolo dengan tulus. Akhirnya, semua binatang itu tertawa gembira.
Nagiga
Rumah Oren
0 komentar:
Posting Komentar