Gajiku bulan
ini dipotong. Uang yang ditransfer kantor ke rekeningku nominalnya berkurang.
Dari slip gaji yang kuterima melalui email, terlihat pemotongan itu besarnya
mencapai sepertiga dari besaran nilai uang yang seharusnya kuterima. Bulan ini
terpaksa harus merogoh tabungan untuk menombok cicilan rumah dan kendaraan yang
masih harus kubayar. Duh, kepalaku tiba-tiba pusing tujuh keliling, terasa
cenut-cenut di bagian kiri. Tercatat sepuluh hari dalam sebulan aku telat
ngantor karena kesiangan. Akhir-akhir ini bangun siang seperti telah menjadi
kebiasaanku yang baru. Tepatnya sejak pertengahan bulan yang lalu. Saat bertemu
kawan lama yang ternyata kantornya berada tak jauh dari kantorku. Teman kuliah
di Bandung, namanya Dirga. Kami tak sengaja bertemu saat sama-sama sedang makan
siang di salah satu warung steak ternama. Aku kaget, Dirga pun kukira demikian.
Terlihat dari ekspresi terkejut yang muncul di wajahnya. Sambil tertawa ia
sigap merangkulku erat dan kubalas rangkulan itu dengan tepukan keras beberapa
kali di punggungnya, aku pun tak kalah gembiranya. Kami sama sekali tak
menyangka bakal bertemu kembali hari itu. Hampir empat tahun hilang kabar. Dan
ternyata ia sempat mengambil master selama dua tahun di Australia. Sayangnya
kami hanya sempat mengobrol sebentar; sekedar bertukar kabar saja. Terbatas
waktu istirahat kantor yang hanya satu jam itu. Melalui pesan singkat Dirga
kemudian mengajak bertemu kembali di sebuah tempat nongkrong paling hits di
Jakarta. Aku meng-iya-kan saja; malam ini pasti akan jadi reunian yang menyenangkan,
pikirku. Lagi pula jarang-jarang aku pulang malam. Kalaupun pernah itu hanya
untuk lembur menyelesaikan pekerjaan yang telah lama menumpuk. Dan sejak saat
itu aku jadi rutin keluar malam dengannya. *** Gajiku sebetulnya tidak
kecil-kecil amat. Meskipun harus dipotong sampai sepertiganya tetapi masih
cukup untuk memenuhi kebutuhan selama satu bulan, termasuk untuk membayar
cicilan. Masalahnya pemotongan itu mengurangi bagian yang selalu kualokasikan
untuk orang tua. Tak mungkin aku turut memotongnya. Belum lagi jika ada
keperluan-keperluan mendadak. Sudah pasti dana tabunganlah yang akan
kukorbankan. Dan benar saja apa yang dikhawatiran terjadi juga. Saat sedang
pusing mengatur pos-pos pengeluaran sebuah pesan tiba-tiba saja masuk ke
ponselku. “Bang, boleh pinjam uang dua juta?! Nanti tiap bulan dicicil tiga
ratus.” Pesan itu dari adikku. Aku tidak segera membalasnya. Meletakkan kembali
ponsel itu di atas meja dan melanjutkan menyusun list pada agenda berwarna
hitam. Dalam kondisi begini aku sebenarnya sedikit kesal jika mendapat
pesan-pesan seperti itu. Inginnya tak menghiraukan, dan memang sudah seharusnya
aku tak mengindahkan pesan-pesan seperti itu karena sebetulnya aku juga sedang
dalam kondisi sulit. Tapi tak bisa, selalu saja terpikirkan. Apalagi jika
pesan-pesan itu datang dari keluargaku sendiri. Aku meraih ponselku kembali dan
berusaha untuk tetap tenang tidak terpancing emosi. Sebab kalau tidak begitu
balasan yang kukirim biasanya berupa kalimat-kalimat sinis yang bersifat
menceramahi. Aku sudah sangat berpengalaman dengan semua kesalahan itu. Dan tak
ingin hal itu terjadi lagi hingga membuatku kembali menyesal. Pernah suatu hari
salah satu kakak perempuanku ingin meminjam uang. Ia telah menikah dan memiliki
satu orang putra. Ia meminjam uang untuk membayar rumah kontrakan yang sudah
jatuh tempo. Kebetulan suaminya baru menyelesaikan kontrak kerja di sebuah
pabrik dan tidak diperpanjang sehingga menganggur dan tidak ada penghasilan.
Aku yang saat itu sedang pusing dengan urusan rumah sakit karena Ibu jatuh di
kamar mandi dan terkena struk ringan, tak dapat menahan diri hingga emosi dan
berkata sangat kasar kepadanya. Aku mengatainya dengan kalimat-kalimat yang
mengecilkan ia dan suaminya, seperti hanya bisa menyusahkan dan tidak banyak membantu.
Serta banyak kata menyakitkan lainnya yang aku yakin telah keluar dari mulutku
ini. Kakakku hanya diam tak menanggapi. Tidak marah apalagi balik memaki. Ia
kemudian melangkah pergi begitu saja sambil menggendong anaknya yang masih
berumur dua tahun. Sejurus kemudian aku sadar telah berbuat salah dan segera
meminta maaf kepadanya. Namun saat itu hanya isak tangis yang kudapatkan dari
balik kain yang ia gunakan untuk menutupi wajahnya. Baru kutahu setelah itu
kalau kepongahanku telah begitu dalam menyayat-nyayat hatinya. Selepas itu aku
benar-benar menyesal. Menyesal telah merasa paling bersusah payah di dalam
keluarga. Menyesal telah menganggap hanya aku yang selalu dibebani dengan
persoalan uang keluarga. Jika saja tidak demikian barangkali aku tak akan
menjadi sedurhaka ini kepada kakakku. Mulai saat itu aku belajar untuk bisa
menahan emosi dan mengingatkan diri sendiri bahwa segala hal selalu bisa
dibicarakan bila memiliki pikiran yang tenang. *** “Pinjam buat apa?” “Buat
service motor. Sudah banyak yang harus diganti.” Adikku ini yang bernama Dayat
dulu buruk kelakuannya minta ampun. Kerjaannya cuma begadang,
nongkrong-nongkrong di pinggir jalan. Saking bandelnya ia pernah membikin malu
keluarga dengan membobol warung milik tetangga. Saat itu tengah malam, bersama
teman-temannya ia mengambil rokok berdus-dus dan sempat kepergok warga kemudian
ditangkap. Kami sekeluarga memarahinya. Mungkin aku yang paling murka di antara
yang lain. Semua karena perasaan malu dan kecewa. Sementara Bapak, Ibu, serta
dua kakak perempuanku hanya memandanginya sedih. Satu adikku yang paling kecil
hanya bisa menangis sesenggukan. Sepanjang dimarahi, Dayat hanya menunduk
sambil mendekap kedua lututnya, tanpa suara. Sejak kejadian itu tak ada yang
berubah dari diri Dayat. Kukira ia akan tobat dan menjadi anak baik.
Membahagiakan ibu bapak. Ternyata ia tetap keluar bersama dengan teman-teman
nakalnya itu. Tetap nongkrong di pinggir jalan sambil merokok. Bahkan
bulan-bulan ke depan penampilannya telah berubah layaknya seorang preman. Kaos
tengkorak dengan jeans ketat menempel pada tubuhnya yang tinggi ceking, semua
serba hitam. Jeans itu dipenuhi dengan sobekan-sobekan. Kepalanya botak di
bagian pinggir, sementara rambut yang tersisa di tengah dicat berwarna cokelat
pirang dan dibentuk seperti duri-duri raksasa. Ujung telinganya ditindik,
bagian sekitar matanya juga gelap. Rantai menjuntai di belakang celana.
Sementara sepatunya tinggi seperti tentara namun terlihat lebih seram. Ia
biasanya bergerombol ke sana kemari. Sesekali aku sempat melihatnya di sebuah
terminal. Mendekati angkot satu demi satu. Mengamen dengan hanya bermodalkan
tepukan tangan. Beberapa ibu-ibu terlihat memberikan uang receh, yang lain
menunduk dengan wajah pucat karena ketakutan. Ia sama sekali tak canggung keluar-masuk
rumah. Seperti tak ada satu pun yang telah ia ubah dari dirinya. Ia seperti tak
peduli lagi pada tatapan dan pendapat orang lain. Sepanjang hari, minggu,
bahkan bulan tak ada satu anggota keluarga pun termasuk diriku yang tahu ke
mana ia sering pergi dan apa yang telah dilakukannya. Hanya sesekali saja aku
melihatnya di terminal saat itu, selebihnya ia benar-benar menghilang. Kadang
berhari-hari bahkan berminggu ia tidak pulang. Kalaupun pulang sosok yang
nampak tidak lebih dari seorang gelandangan; kurus, kotor, bau tak terurus.
Bahkan jika mau jujur gembel pun masih terlihat lebih baik daripada dirinya.
Ibu Bapak cuma bisa mengelus dada. Hanya aku yang berani turut campur
menasihatinya. Namun seringnya ia hanya menjawab sekenanya, dengan kata-kata
yang tidak jelas di telinga. Perkataan-perkataannya terdengar seperti orang
sedang mabuk. Ngelantur. Terserahlah kataku pada Bapak dan Ibu; selama ia tidak
membuat onar dan membikin malu keluarga lagi seperti dulu, aku tak peduli. Aku
sudah capek menegurnya. Nampaknya kedua orang tuaku pun demikian dengan
sikapnya. Kelamaan kami pun tak lagi menghiraukannya. *** Saat Dayat
mengirimkan pesan itu, aku telah lama tinggal sendiri di sebuah perumahan,
sudah tidak lagi bersama orang tua. Sebagai anak satu-satunya di keluarga yang
sempat mengenyam pendidikan hingga bangku kuliah, aku memang memiliki jalan
hidup yang jauh lebih baik dari anggota keluarga lainnya. Punya pekerjaan bagus
dengan penghasilan cukup untuk bisa dibilang mapan. Sejauh ini aku masih menjadi
tumpuan keluarga, mungkin akan begitu seterusnya. Bapak dan Ibu sudah tua.
Kedua kakakku pun sudah menikah dan hidup dari penghasilan suami yang juga
hanya cukup untuk hidup mereka sekeluarga. Tak bisa terlalu diharapkan.
Sementara adikku yang paling kecil masih di bangku SMP. Masih jauh untuk sampai
kuliah dan bekerja. Sementara Dayat jangankan menjadi tulang punggung keluarga.
SMA saja ia tidak tamat; saat itu jalanan masih lebih dipilihnya daripada harus
menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mendengarkan guru mengajar. Satu hal
yang kutahu dan bisa diandalkan dari dirinya adalah kemahirannya dalam
mengutak-atik mesin motor. Kepandaiannya itu mungkin ia dapatkan dulu sewaktu
sering menghabiskan waktu nongkrong di salah satu bengkel bersama temannya. Beberapa
kali aku sempat memanggilnya datang ke rumah untuk men-service atau sekedar
mengganti oli motor. Seringnya ia akan membawa motor itu dan men-service-nya di
tempat biasa ia menyimpan segala peralatan bengkel miliknya. Saat-saat itu ia
sudah tidak seberandal dulu. Tidak bertindik dan garis bawah matanya juga tidak
hitam. Pakaiannya normal sebagaimana remaja umumnya. Namun rambut cokelat
pirangnya masih gondrong karena tak pernah dipotong. Bagi siapa pun yang baru
melihatnya pasti akan menyangsikan tiap sikap dan perkataannya. Bahkan
cenderung mencurigai. Ya, penampilan memang sumber awal lahirnya sebuah kesan.
Baik atau buruk tergantung sejauh mana seseorang mempunyai kemahiran dalam
bersolek. Saat itu adikku datang ke rumah dengan membonceng motor temannya. Ia
mengambil motorku yang akan di-service. Setelah beberapa saat meninggalkan
rumah tiba-tiba seseorang terdengar memanggil-manggilku dari luar pagar. Aku
lantas membuka pintu dan betapa kagetnya saat kulihat di sana telah berdiri dua
orang sekuriti perumahan sedang mengapit adikku dan temannya. Sekuriti itu
bertanya padaku. Mengonfirmasi apakah benar motor milikku itu dibawa atas
sepengetahuan dan ijin dariku. Sebuah tindakan yang barangkali tidak akan
pernah mereka lakukan jika saja adikku itu tidak berpenampilan seperti seorang
preman pasar. Aku lantas membenarkan dan saat itu juga adikku dan temannya
dipersilahkan pergi. Setelah peristiwa itu tiba-tiba aku tercenung. Aku tahu
dan mengerti bahwa apa yang dilakukan kedua sekuriti itu adalah sebuah keharusan
karena tugas. Tapi rasa-rasanya ada sebuah ketersinggungan yang tiba-tiba
hadir. Ya, ketersinggungan yang seharusnya menjadi milik adikku. Sudah pasti
dan aku yakin ia telah menyampaikan hal yang sebenarnya kepada kedua sekuriti
itu; mengatakan bahwa ia adalah adikku dan motor itu dibawa atas
sepengetahuanku. Namun mereka tetap tak percaya. Mereka tak percaya adikku
karena perihal penampilannya hingga kemudian menggiringnya ke rumah ini.
Bukankah seharusnya adikku yang bertahun-tahun berada di jalanan itu
tersinggung dan marah. Terutama saat aku mengonfirmasi mengenai kebenaran tiap
ucapannya pada kedua sekuriti itu. Kenapa ia tidak berteriak di depan wajah
mereka dan menuntut harga dirinya untuk dikembalikan. Kenapa ia tidak bertindak
sekasar penampilannya. Ia bahkan diam saja saat digiring, menerima tiap tatapan
orang-orang yang dilewatinya dengan tenang. Saat itulah aku tahu kalau adikku
itu telah berubah. Ia telah menjadi dewasa dan mengerti arti sebuah
konsekuensi. Jauh di lubuk hatinya barangkali ia telah tersinggung juga malu.
Namun ia berusaha menahannya. *** Aku dengar kalau Dayat telah bekerja. Namun
aku tak pernah menanyakan di mana tempatnya bekerja. Ibu pernah bilang katanya
ia kerja di bengkel motor, tapi kemudian kabarnya berubah-ubah. Saat itu aku
tahu kalau Ibu pun sebenarnya tidak tahu dengan pasti di mana adikku itu
bekerja. “Punya gaji berapa?” “Satu juta tiga ratus.” “Kalau begitu jangan tiga
ratus, ganti lima ratus tiap bulannya.” “Iya.” “Jangan suka pinjam-pinjam,
kalau punya kebutuhan ya menabung.” “Iya.” Aku meletakkan ponsel kembali dan
setuju meminjamkannya uang dua juta. Sesulit apa pun keadaanku, keadaannya
pasti jauh lebih pahit. Aku selalu yakin bahwa suatu hari Tuhan juga akan
memudahkan tiap urusanku. Lagi pula tak akan ada yang bisa hidup tenang
berkecukupan sementara tega membiarkan saudaranya dalam kekurangan. Meski
tindakan itu harus kulakukan dengan menguras tabunganku sendiri. Sampai dua
hari kemudian tiba-tiba kunci motorku hilang. Saat itu aku pulang kerja dan memarkir
motorku di stasiun. Aku pulang ke rumah menggunakan angkutan umum. Keesokan
paginya aku minta Dayat datang ke stasiun untuk mengakali motor tersebut.
Pagi-pagi sekali kami pergi ke stasiun. Dengan harapan kondisi masih sepi
sehingga leluasa mengutak-atik kendaraan roda dua tersebut. Aku membonceng pada
motor Dayat yang telah di-service meminjam uang dariku. Dibawanya sebuah kotak
yang berisi kunci-kunci mesin berbagai ukuran. Saat mengakali kunci motor
itulah tiba-tiba ia memohon; “Bang, bayar utangnya tiga ratus dulu ya bulan
ini, soalnya sisa gajinya sedikit.” Belum sempat protes kemudian ia
melanjutkan; “Tiap bulan bantu Ibu lima ratus, Bapak tiga ratus. Buat Empok Nur
dua ratus, kasihan suaminya belum lagi kerja, Bang.” Serasa ada sesuatu yang menusuk-nusuk
tenggorokan dan napasku menjadi sesak. Aku lantas berdehem-dehem agar bisa
leluasa bicara, wajahku kuatur sebisa mungkin tanpa ekspresi. “Memang kerja di
mana?” “Kerja di rumah makan seafood di Jakarta, Bang. Oh ya, sebentar lagi
kalau bonus turun, langsung saya kasih uangnya ke Abang.” “Bonus?!” “iya Bang,
jadi karyawan terbersih.” Kata-kata terakhir itu diucapkannya dengan malu-malu.
Ada sedikit senyum bangga yang tertahan di ujung bibirnya. Namun ia tetap tak
mau melepaskan. Seolah berita itu bukan sesuatu hal yang penting buatku. Mataku
tiba-tiba terasa panas. Dengan cepat aku membalikkan badan melangkah pergi.
Kukatakan padanya ingin membeli minum. Sementara saat semua perasaan hampir
tumpah menjadi air mata, tiba-tiba ponsel di saku celanaku berbunyi. Sebuah
pesan dari Dirga: “Kapan kita dugem lagi, Bro?!” Aku tertegun membaca pesan
tersebut, untuk kemudian segera menghapusnya. ---o0o--- Depok, 01 Juli 2016
Selengkapnya : http://fiksiana.kompasiana.com/andrisipildepok/cerpen-meminjam-uang_577705f21593731d0dd6f649
Selengkapnya : http://fiksiana.kompasiana.com/andrisipildepok/cerpen-meminjam-uang_577705f21593731d0dd6f649
0 komentar:
Posting Komentar