SAHUR WOY!
Bulan
ramadhan adalah bulan yang sangat ditunggu-tunggu umat muslim di seluruh dunia.
Umumnya orang-orang akan melaksanakan ibadah puasa bersama keluarga tercinta
mereka. Namun berbeda dengan orang-orang yang sangat sibuk dan harus menunggu hari
libur untuk bisa berpuasa bersama keluargam, seperti halnya mahasiswa yang
sedang ujian akhir semester (UAS) dan menanti hari libur untuk segera pulang ke
kampung halaman.
Selama
setahun kuliah di kota Yogyakarta, gue baru nemuin dua orang teman yang udah
gue anggap sebagai sahabat. Mereka adalah Parma dan Ady. Mereka ini ibaratkan
sebuah handphone yang selalu gue butuhkan. Setiap hari kami selalu pergi ke
kampus bersama, jalan-jalan, makan, ngerjain tugas, dll. Walaupun sebenarnya
gue tidak satu kos dengan Parma dan Ady (mereka satu kos).
Kampus
kami bisa dibilang salah satu kampus yang telat dalam melaksanakan UAS, karena
banyak kampus yang sudah lebih dulu mengadakan UAS dan sudah libur. Inilah yang
membuat kami harus merasakan puasa di kota orang dan sedang dalam kondisi UAS.
Suasana puasa jauh dari orangtua memang sangat terasa ketika tidak ada yang
menyiapkan makanan untuk buka puasa dan membangunkan saat sahur. Bagi Parma dan
Ady ini adalah pertama kalinya mereka buka puasa dan sahur jauh dari orangtua,
namun bagi gue ini adalah ke dua kalinya harus buka puasa dan sahur jauh dari
orangtua. Tahun lalu gue sempat menjadi penyiar di salah satu radio Cilacap
yang mengharuskan gue buka puasa dan sahur di radio.
Parma: aih gimana ya kita puasa jauh dari orangtua?
Kayaknya bakal ga sahur terus nih, soalnya ga ada yang bangunin.
Ady: haha iya par, di rumah kan enak ada yang
bangunin. Ga kayak di sini.
Gue: yaelah, tinggal sahur aje susah, ntar lah gue
bangunin. Gue udah biasa kok bangun jam segitu.
Ady: serius lo?
Gue: iya lah tenang aja.
Tepat
jam tiga dini hari pun gue bangunin mereka yang sedang nyenyaknya tidur. Di
situ gue baru sadar kalau mereka memang sangat sulit dibangunkan. Sungguh
membutuhkan kesabaran dan kerja keras.
Gue: par, dy, bangun woy.... sahur. (sambil
menggerakan tubuh mereka).
*namun mereka tidak menunjukkan tanda-tanda bangun,
kemudian gue bangunkan lagi untuk ke dua kalinya.
Gue: bangun lah, udah jam tiga ini... mau sahur ga?
(dengan nada tinggi dan menggerakan tubuh mereka)
Ady: hmmmm... jam berapa sih? (sambil mengucek-ucek
mata)
Gue: jam tiga lewat, buruan bangun... bangunin tuh
Parma, susah banget dibangunin.
*setelah beberapa menitpun akhirnya Parma bangun dan
kami bertiga segera menuju warung atau yang sering disebut dengan burjo.
Keesokan
harinya kami bangun siang, karena setelah shalat subuh tidur lagi. Untungnya
hari ini tidak ada kuliah. Selama puasa, kami banyak menghabiskan waktu di kos
untuk sekedar main laptop, nonton film, baca buku, main game, atau bahkan tidur
sampai sore. Kumandang adzan pun terdengar, kami bergegas untuk berbuka puasa
di burjo. Setelah itu, kami pun tak lupa untuk menunaikan ibadah shalat tarawih
di masjid.
Tak
terasa jika puasa sudah memasuki hari ke dua puluh, namun Parma dan Ady masih
sangat sulit dibangunkan untuk sahur. Saya benar-benar seperti orangtua atau
lebih spesifiknya lagi sebagai ibu yang harus membangunkan mereka, tak jarang
saya pun sampai kesal dibuatnya.
Gue: dy bangun dy, sahur yok udah jam tiga.
*Ady pun langsung bangun dalam beberapa menit. Namun
berbeda dengan Parma yang masih saja susah dibangunkan.
Gue: par bangun par, sahur udah jam tiga.
*tidak ada jawaban.
Gue: par ayo par, mau sahur ga?
*masih tidak ada jawaban.
Gue: udahlah gue cape bangunin lo terus, susah
banget dibangunin. Mending kalo gampang bangun. Yaudahlah gue tinggal.
Parma: yaelah gitu aja marah... yaudah ayo.
*dengan masih rasa ngantuk yang menyelimuti, Parma
pun bangun untuk sahur.
Suatu
ketika gue berpesan kepada mereka untuk merubah kebiasaan mereka yang susah
bangun untuk sahur. Gue terus terang kepada mereka jika gue capek bangunin
sahur terus. Mereka pun meminta maaf jika telah merepotkan. Semenjak itu, Ady
mulai merubah kebiasannya untuk bangun sahur. Terkadang ia tidak tidur agar
bisa tidak merepotkan atau bahkan sahur lebih awal sebelum ia tidur. Namun
tidak bagi Parma, iya masih tetap pada kebiasaannya yang susah bangun.
UAS
telah berakhir, itu artinya libur telah tiba dan waktunya kami untuk pulang ke
kampung halaman. Ady lebih dulu pulang ke kampung halamannya Riau, sehingga
hanya menyisakan gue dan Parma. Gue pulang kampung tanggal sembilan dan Parma
tanggal lima belas. Sebelum gue tinggal dia ke kampung, masih ada dua kali
sahur lagi yang mengharuskan gue bangunin dia. Tepat di sahur yang terakhir,
gue berpesan pada Parma agar bisa bangun untuk sahur.
Gue: par, nanti pagi kan gue pulang, lo harus bisa
bangun sendiri buat sahur ya.
Parma: iya insyaallah, gue bakal berusaha buat
bangun. Tapi kalo ga bisa bangun ya terpaksa ga sahur.
Tepat
jam setengah sembilan pagi gue dijemput oleh travel. Gue diantar Parma yang
membawakan tas sampai kampus. Di situ lagi-lagi gue berpesan pada Parma untuk
jangan lupa bangun sahur dan berhati-hati di kos sampai ia pulang ke kampung
halamannya. Setelah itu gue pun masuk ke dalam travel yang akan membawa gue ke
kampung halaman.
Setelah
sampai di rumah, gue pun merasa bahagia dan senang karena bisa berkumpul
bersama keluarga. Namun di sisi lain gue masih kepikiran Parma yang menurut gue
bakal kesiangan untuk sahur. Akhirnya gue pun telphone dia, BBM, dan SMS, namun
tidak ada jawaban. Beberapa menit kemudian pun ia membalas lewat BBM “gue udah
bangun kok.” Di situ gue merasa senang dan ternyata di hari-hari berikutnya pun
ia tidak pernah kesiangan lagi untuk sahur.
“Dari pengalaman gue ini semoga bisa
bermanfaat buat kalian semua yang baca. Pesan dari pengalam gue ini adalah setiap
orang pasti mempunyai titik kejenuhan atau kesabaran, maka tahu dirilah jika
kita melibatkan orang lain dalam urusan kita. Setiap orang pasti bisa merubah
suatu sikap atau kebiasaan tertentu, hanya butuh waktu untuk berproses.
Pengalaman ini menurut saya sangat menarik karena pasti tidak hanya saya yang
merasakan keadaan seperti ini. Dari pengalaman ini saya bisa belajar banyak
hal.”
0 komentar:
Posting Komentar