Seketika pupil mataku berubah menjadi pupil mata ular, tidak hanya itu irisnya juga menjadi berwarna biru. Aura biru memancar keluar dari tubuhku, aku merasakannya, kekuatan yang besar, lebih besar dari sebelumnya. “Hyaa…!!”, teriakku sambil melepaskan kekuatanku. Seketika cahaya biru menerangi seluruh lembah yang sudah tak lagi utuh bentuknya. “Shiing..!”, armor yang kupakai berganti menjadi berwarna biru dengan ukiran naga dari dada yang menyebar hingga ke tangan dan kakiku. Helm dengan bentuk kepala naga ini benar-benar keren, ditambah dengan sepasang sayap biru langit di punggunggku, semakin menambah nilai artistik armor ini. Sekarang aku yang tersenyum sinis ke arahnya.
Dia melepas armornya, hahaahaa… akhirnya menyerah juga, pasti karena armorku ini.. batinku senang. “Hyaaaa…”, teriaknya tiba-tiba dengan posisi seakan hendak mengeluarkan seluruh kekuatannya. Seketika aura merah menyelimutinya, cahayanya begitu menyilaukan. Saat kubuka mataku, tiba-tiba ia sudah menyandarkan tangannya ke bahu kiriku, “kau! Kenapa kau memakai armor yang sama denganku!”, “matamu kau taruh dimana? Armorku ini warnanya merah, punyamu kan warnanya biru”, “aku tahu itu, tapi bentuknya sama persis!”, dia tersenyum mengejek. Siaal… “khiing.. strak… krek…”, sebuah meriam muncul di pundak kiriku, kunamakan ia “Shoulder Blaster”. Jake mengambil jarak, sepertinya dia tahu aku akan menyerang dengan kekuatan penuh. “Makan ini dasar plagiat!! Shoulder blaster, water!!”, kau bodoh ya, harusnya kau teriak “fire” bukan “water”, “itu kalau yang keluar api!”, balasku.
Aku melangkah maju sambil menjaga tumpuanku. Sepertinya Jake juga berpikiran sama, dia juga bergerak maju. Kami saling berhadapan, uap air ini menghalangi pandanganku, untungnya ada pelindung mata di helm ini. Dorongan yang tercipta dari serangan kami sedikit menyulitkan kami untuk mendekat. Ini dia… aku mengayunkan tinjuku tepat ke wajahnya, Jake juga melakukan hal yang sama. Sedikit lagi… uhk… sial, aku sudah mencapai batasku. Kupikir aku akan kalah, tapi… dia pukulannya terhenti, ha.. ha.. ha… dia juga sudah mencapai batasnya. “Match Draw, Game Over”, ini sudah kesekian kalinya aku mendengar ini.
Kami bertarung di ruangan khusus, kami menggunakan kacamata Virtual Reality juga sarung tangan dan sepatu khusus, jadi kami bisa masuk ke dunia virtual dan bertarung sesuka hati tanpa cidera apapun. “Aku su..dah tida…k kuat… aku… menyerah”, ujar Jake tersengal. “ya, tapi kau tetap harus membayar apa yang sudah kau lakukan”, “tentu, tapi sebelum itu, aku akan membayar ini dulu”, “aku akan menunggu di luar”, aku berjalan gontai. Entah sudah berapa jam kami ada disini, kami bahkan menyewa tempat ini untuk hal “itu”. “kita pergi?”, “tentu”, jawabku.
“Ini, maaf untuk yang sebelumnya, jadi ini sebagai gantinya”, katanya sambil memberiku es krim. Sebenarnya kami bertarung tadi karena Jake menghabiskan es krimku. “Ya, tidak masalah. Pada akhirnya benarlah sebuah peribahasa “kalah jadi abu, menang jadi arang”, ucapku mendapat pencerahan. “Ya, kau benar, berkelahi tidak menyelelesaikan masalah, justru malah memperburuknya. Kalau saja waktu itu aku langsung meminta maaf dan mengganti es krimmu, tentu uang yang “terbuang” tadi bisa kumanfaatkan untuk hal yang berguna”, ucap Jake menyesal. Sore itu, kami mentertawakan kebodohan kami sambil menikmati es krim. Benar-benar pengalaman berharga dari sebuah es krim
Cerpen Karangan: Sigit Pamungkas
0 komentar:
Posting Komentar