Cobaan untuk Kekuatan
Lorong-lorong
dipenuhi kerumunan orang yang berlalu lalang. Berjalan, mendorong,
berlari, menagis, dan tertawa. Wajah sedih dan khawatir menyelimuti raut
mukanya. Dia berjalan mondar-mandir
di depan pintu ICU. Ada yang ditunggunya, seseorang didalam tengah
berjuang dari perihnya derita. Air matanya tak dapat terbendung akibat
kekhawatiran itu. Ini bukan yang pertama dia menunggu seseorang itu,
tapi sudah ke-sekian kalinya. Tidak ada rasa biasa dalam benaknya,
justru rasa khawatirnya semakin memuncak saat dokter menyatakan hal itu.
Suatu hal yang membuat hati tak dapat menerimanya, perih luka dan
gejolak dada yang ada.
“Bagaimana keadaan Bisma, Dokter? Apa lukanya parah?” Tanya Rani cemas
“Maafkan saya Nona, tulang kaki pasien retak dan bergeser. Apabila Bisma harus dipasang pen
pada tulangnya, maka akan membutuhkan waktu yang lama untuk kenormalan
kakinya kembali. Perlu terapi berulang setiap 2 minggu 3 kali. Namun
jika ada tulang disisi lain yang parah, mungkin kakinya harus di amputansi.
Saya hanya ingin Anda menandatangi pernyataan ini. Tulislah apa yang
terbaik untuk pasien. Keputusan operasinya akan laksanakan 2 hari lagi.”
Jelas Dokter Faris di ruangannya.
Penjelasan
dari dokter dua hari yang lalu itulah, yang menyebabkan Bisma harus
berada di ICU untuk di operasi kembali. Dia mengalami patah tulang pada
kaki kanannya. Kecelakaan malam itu telah membuatnya hilang motivasi
hingga hari ini. Dia seakan sudah tak mau hidup lagi di dunia. Tanpa dia
tau, masih banyak orang-orang yang menginginkan hadirnya dia di dunia
ini.
Sudah
2 jam, Rani menunggu keadaan operasi didalam ruangan itu. Masih tak ada
tanda-tanda Dokter keluar. Rani duduk di tempat tunggu yang disediakan,
tepat disamping pintu ruang operasi. Matanya masih saja tak sanggup
menahan air mata khawatirnya itu. Dia berusaha menenangkan dirinya dalam
balutan do’a yang terucap di bibirnya. Seseorang pun datang dan duduk
disampingnya.
“Sudahlah, Bisma pasti akan baik-baik saja.” Ucap lelaki yang baru saja duduk itu.
“Morgan?”
Kata Rani kaget melihat sahabatnya datang. Dipeluknya erat tubuh
Morgan, dicurahkannya segala pelik yang ada dihatinya.
“Bagaimana kamu tau Bisma disini?” Tanya Rani mengusap air matanya.
“Aku
memang jauh dari kalian, tapi aku selalu mengawasi kalian.” Jawab
Morgan mengusapkan air mata Rani yang masih jatuh. “Kalau kamu terus
menangis, Bisma tidak akan bisa bertahan didalam.”
“Iyaa, aku tau. Tapi aku masih saja mengkhawatirkannya.”
Belum sempat Morgan merespon, Dokter Faris telah keluar dari ruang operasi.
“Bagaimana operasinya Dok? Apakah berhasil?” Pertanyaan Rani menyerbu.
“Sudah, tenanglah..” Ucap Morgan merangkulnya penuh hangat.
“Operasi berhasil. Pen
sudah saya pasang dengan baik. Bisma harus istirahat penuh, jangan
biarkan dia terlalu banyak menggerakkan kakinya.” Jelas Dokter Faris
“Baik Dok, saya akan merawat Bisma dengan baik. Terima kasih Dok..” Kata Rani menyimpulkan senyum pertamanya kembali.
“Saya tunggu Anda di ruangan saya. Saya ke ruangan dulu, permisi..” Ucap Dokter Faris pamit kembali ke ruangannya.
“Baik Dok, silahkan.”
“Sekarang kita tunggu Bisma dipindahkan keruang kamarnya semula, aku akan ke ruangan Dokter Faris dulu.” Kata Rani pada Morgan.
“Aku ikut dengan mu, aku juga ingin mengetahui keadaan Bisma.” Jawab Morgan
“Baik, ayo..”
Rani
dan Morgan pun berjalan menyusuri lorong Rumah Sakit Endunies ini.
Senyum simpul Rani kembali terpancar bahagia, tak sanggup dia
membayangkan Bisma akan seperti gadis kecil di taman itu. Gadis itu
duduk di kursi roda, dan berusaha mengambil sepucuk bunga yang mekar di
taman itu. Tak ada yang membantunya, entah dimana keluarganya sekarang.
Rani pun berjalan mendekati gadis itu, dan membantunya memetik bunga
untuknya. Gadis itu tersenyum dan mengucapkan, “Terima kasih kakak.. kakak cantik dan baik yaa..”. Rani tersenyum dan mencolek pipi gadis itu, berlalu meninggalkannya sendirian lagi.
Sesampainya diruang Dokter Faris, Morgan mengetuk pintu dan masuk dengan Rani.
“Siang Dokter.” Sapa Morgan duduk di kursi depan meja sang Dokter itu.
“Iyaa, siang.”
“Bagaimana dengan kondisi Bisma tadi Dok?” Tanya Rani lagi
“Sudah
seperti yang saya bilang tadi, Bisma harus banyak istirahat dan jangan
melakukan aktivitas dahulu. Bisma juga memerlukan terapi berkala, untuk
jadwalnya bisa disesuaikan dengan jadwal saya nanti.” Jelas Dokter Faris
sambil menggenggam kedua tangannya itu.
“Apakah harus dengan Dokter Faris?” Kini Morgan bertanya.
“Oh
tidak, Anda bisa membawa Bisma terapi dengan dokter manapun. Nanti akan
saya buatkan rujukan pada dokter tersebut. Dokter yang baru, seharusnya
mengetahui keadaan Bisma.” Jawab Dokter Faris kembali.
“Baiklah
Dok, tapi Bisma masih kecil Dok. Dia pasti ingin bermain dengan
teman-temannya. Bagaimana cara saya untuk menjaganya Dok?”
“Anda
adalah kakak yang baik untuk Bisma. Dia sangat membutuhkan perhatian
keluarganya untuk saat ini. Bisma bisa saja kehilangan semangat untuk
hidupnya kelak. Anda harus lebih sering memberinya motivasi agar cepat
sembuh.”
“Baik Dok, terima kasih.” Jawab Rani tersenyum.
“Kapan Bisma bisa pulang Dok?” Tanya Morgan.
“Hari
ini kondisi badannya masih lemah, dia bahkan masih belum sadar dengan
keadaannya. Besok pagi saja, Bisma sudah boleh pulang. Disini terus, dia
bisa bosan.” Tutur Dokter tersenyum.
“Iya Dok, makasih.” Kata Morgan
“Untuk
selanjutnya, Anda bisa konsultasi dengan saya dilain hari. Perkembangan
Bisma harus sering dipantau. Ini resep obat untuk Bisma, silahkan
menebusnya di apotik.”
“Baiklah
Dok, terimakasih banyak atas bantuannya. Saya pamit dulu, mari Dok..”
Kata Morgan berjabat tangan dan Rani mengikutinya.
Mereka berjalan melalui kodidor Rumah Sakit lagi, Morgan pun terlihat tenang. Tidak dengan Rani.
“Kamu kenapa?” Kata Morgan
“Tidak, aku hanya takut Bisma akan lebih terpuruk dalam kondisinya.”
“Bisma
anak yang kuat, dia pasti punya tekat yang tinggi untuk sembuh. Jangan
buat pesimis seperti ini. Kamu yang harus terus membuatnya optimis dalam
hidupnya.”
“Yaa, semoga semua akan lebih baik kelak.”
“Amien”
“Aku
akan ke apotik menebus resep dokter ini, sekalian mengurus
administrasinya. Kamu temuin Bisma di ruangannya yaa..” Kata Rani
“Nggak, biar aku saja yang mengurusnya. Kamu yang nemenin Bisma!!” Jawab Morgan merebut kertas dokter dari tangan Rani.
“Ahh, kamu ini.. selalu saja begitu. Makasih yaa, aku ke arah sana dulu. Bye..” Sahut Rani tersenyum riang.
Rani
pun berjalan menuju lorong ang berbeda dengan Morgan. Dia menuju ruang
Purple kamar 279. Morgan menuju ruang apotik di lantai dasar. Rani
membuka pintu pelan, Bisma masih tertidur dalam obat biusnya tadi. Rani
meletakkan tasnya di meja samping tempat Bisma tidur. Rani mengeluarkan
buku diary-nya dari tas. Menarinya bolpoin di atas kertas.
Hari
ini, adikku telah usai di operasi. Aku ada disampingnya sekarang. Dia
masih tidur dalam obat bius. Saat dia membuka matanya nanti, aku ingin
melihat senyumnya di wajah ini. Aku janji Tuhan, jika KAU mengijinkan
aku menemani hari-harinya nanti.. aku akan menjaganya sepenuh hati ku,
aku akan selalu ada disampingnya setiap saat..
Tuhan,
kanker otak ku sudah hampir mendekati stadium akhir. Tak ada yang tau
tentang ini. KAU telah mengambil kedua orang tua ku, aku tak ingin KAU
mengambil Bisma lebih dulu. Jangan biarkan aku meninggalkan Bisma
sendirian Tuhan.. aku masih ingin melihat Bisma sehat seperti dulu
lagi..
Rani
pun menutup bukunya, dipandangnya wajah Bisma lekat. Tangan kanannya
mengusap rambut Bisma yang lebut, tangan kirinya menggenggam erat tangan
Bisma. Air mata keluar lagi, namun dia tak ingin Bisma melihatnya
menangis. Tiba-tiba tangan Bisma bergerak, matanya berusaha membuka.
Sedikit dan perlahan, Bisma pun dapat melihat suasana siang ini.
“Kak Rani..” Ucap Bisma pelan.
“Iya sayaang, ini Kak Rani..” Jawab Rani lembut.
“Kaki Bisma berat kak, ada batu diatasnya yaa? Kenapa tak bis bergerak?” Tanya Bisma polos.
“Tidak
ada batu sayaang, itu hanya perasaan mu saja. Jangan banyak bergerak
yaa, nanti kamu nggak sembuh-sembuh lagi..” Jelas seakan dihujani ribuan
panah dihatinya, miris sekali melihat adiknya terbaring dengan
kesakitan.
“Bisma
kan harus latihan dance di sekolah kak.. pensi tahun ini, kelompok
dance Bisma yang mewakili, Bisma mau pulang kak..” Kata Bisma merengek
berusaha bangun dari tempat tidurnya.
“Jangan
dulu sayaang, jangan bangun.. kamu besok sudah pulang kok. Tapi,
sekarang Bisma harus istirahat disini dulu. Jangan bergerak sayaang..
ikutin kata kakak yaa..” Pinta Rani menahan Bisma yang terus bergerak
tak menentu.
“Hallo jagoan..” Sapa Morgan datang memasuki kamar Bisma.
“Yee,
ada kak Superman. Hallo kakak..” Sahut Bisma gembira dan memancarkan
senyumnya. Rani pun terlihat tenang dan ikut tersenyum kecil.
“Masih mau jadi Superman kayak kak Morgan nggak?”
“Mau mau mau..” Jawab Bisma riang.
“Kalau masih mau, kamu harus diem dulu. Istirahat yang tenang, jangan banyak bergerak. Mau kan?”
“Yaah, sama saja kayak Kak Rani. Enggak mau.” Ucap Bisma memajukan mulutnya.
“Heeyy,
anak jagoan itu harus nurut sama kakak-kakaknya. Kalau anak jagoan
nggak mau nurut, berarti sekarang ini Bisma itu bukan anak jagoan lagi.”
Canda Morgan
“Lalu, Bisma anak apa??” Tanya Bisma bingung.
“Anak kecil yang bodoh dan nggak punya sopan santun sama orang tua.”
“BUKAN, Bisma bukan anak yang bodoh. Bisma anak jagoan. Bisma anak jagoan. Bisma anak jagoan.” Teriaknya
“Iya
iya iya, Bisma itu anak jagoan. Sekarang, Bisma makan ini mau? Setelah
itu minum obat. Eits, jagoan itu berani minum obat lho..” Goda Morgan
berlanjut.
“Oke, siapa takut.. wekk..” Kata Bisma menjulurkan lidahnya.
Rani
tersenyum melihat candaan Morgan pada Bisma. Morgan memang pantas
menjaga Bisma dengan baik. Senyum Bisma pun dapat meredakan kekhawatiran
Rani tadi, semua hilang dengan canda-tawa Morgan dan Bisma. Rani
menyuapi Bisma dengan lahapnya, membantunya meminum obat, dan melihatnya
tertidur lagi dengan tenang.
_***_
Pagi
ini, Rani sudah membereskan pakaian Bisma semenjak di Rumah Sakit.
Morgan masih membantu Bisma mandi yang memakai kursi dorongnya. Setelah
semua siap, Rani mendorong kursi roda Bisma untuk turun menuju lobby
depan. Morgan membawakan tas koper milik Rani dan Bisma. Dokter Faris
sudah menunggunya di lobby.
“Cepat sembuh Bisma, jangan lupa check-up yaa..” Saran Dokter padanya.
“Iya Dok, terima kasih atas bantuannya.” Jawab Bisma tersenyum.
“Terima kasih Dok, kami pulang dulu. Sesuai jadwal nanti, saya akan kembali mengantarnya check-up teratur.” Sambung Rani
“Mari Dok.. permisi..” Lanjut Morgan bersalaman.
Morgan
telah memesan taksi untuk mengantar Bisma dan Rani. Setelah memasukkan
koper ke bagasi belakang, Morgan membantu Bisma duduk ke dalam taksi.
Bisma duduk bersampingan dengan Rani, Morgan duduk di depan dengan supir
taksi. Dalam perjalanan, Bisma hanya memandangi lingkungan luar melalui
jendela taksi yang tertutup rapat.
Hingga
akhirnya, mereka sampai di rumah Rani dan Bisma. Morgan membantu Bisma
turun dari taksi, Rani yang mengambil kopernya dan membawanya ke kamar.
Morgan membawa Bisma berkeliling kompleks perumahan dengan mendorong
kursi rodanya. Banyak hal yang dibicarakannya, sebagai motivasi yang di
wujudkan Morgan untuk Bisma. Rani tidak ikut dengan kegiatan mereka, dia
membereskan rumahnya yang sudah lama ditinggalkannya. Rani pun masuk
kedalam kamarnya, dan membuka kembali buku diary-nya.
Terima
kasih Tuhan, KAU masih memberikan kesehatan yang lebih untukku dan adik
ku. Aku telah melihatnya tersenyum semenjak dia operasi. Aku ingin dia
cepat menuntaskan terapinya nanti, agar Bisma cepat sembuh.
Tuhan,
KAU tak salah mengirimkan sahabat sebaik Morgan. Dia begitu baik dengan
aku dan adikku. Kalau aku akan kembali pada-MU nanti, ijinkan ku
titipkan Morgan untuk menjaga Bisma. Lindungi keduanya Tuhan, aku
menyayanginya..
Morgan
pun kembali dengan Bisma, masih penuh canda-tawa yang terukir jelas.
Rani menyiapkan makanan dan meminta Morgan dan Bisma untuk makan
bersama. Kehangatan dan kebahagiaan kini di rasakan oleh Rani. Orang
yang disayanginya memang tak sempurna, tapi yang namanya rasa sayang,
akan ada apapun bentuknya.
Biarkan ku titipkan rasa sayang ku
Untuk seseorang yang ku damba
Teriring iringan kasih MU
Penuh rasa untuk dirinya
Jika kau memberi ku ijin
Akan ku hias senyum di wajahnya
Melukisnya dengan tawanya
Kalau dia harus pergi dalam hidup ku
Ijinkan aku bertemunya
Walau lewat mimpi malam
Dalam gelap dunia fana
Tuhan, aku menyayanginya
Aku merindukannya
Sosok yang kini telah KAU ambil nyawanya
Hampir setahun lalu Tuhan
Aku masih mengingatnya
Aku yang ada disampingnya
Aku yang tak ingin di tinggalkannya
Biarkan ku pandang dunia
Dengan harapan pada MU
0 komentar:
Posting Komentar