Translate

cerpen saat dina menyontek

Written By iqbal_editing on Senin, 12 Juni 2017 | 16.53

SAAT DINA MENYONTEK
               Hari Senin, ada ulangan PKN. Faiza belajar seperti biasa. Ia tak melakukan apa yang dikerjakan temannya saat ulangan tiba. Baginya, mendengarkan bu guru ketika mengajar, ditambah dengan membaca buku-buku yang mendukung materi, itu sudah ia lakukan jauh-jauh hari. Baginya belajar adalah sepanjang waktu. Lain Faiza lain pula dengan Dina. Ia sengaja membuat contekan dari  kertas yang di gulung menyerupai undian arisan. Menyontek dengan cara seperti itu sudah sering dilakukan Dina. Tidak hanya untuk pelajaran PKN saja, tetapi hampir semua mata pelajaran.
               Meskipun teman sekelas Dina sudah tahu, tetapi mereka tidak mau melaporkan kebiasaan buruknya kepada Bu Sevia guru mereka. Dina mengancam, jika perbuatannya dilaporkan, maka akan terjadi sesuatu pada sekolah ini. Sebenarnya perbuatan Dina tidak dapat dibenarkan, Faiza yakin itu hanya gertakan saja. Kalau kebiasan menyonteknya dibiarkan, maka yang dirugikan tidak hanya teman sekelasnya tapi juga dirinya sendiri. Ia mendapatkan nilai yang baik, tetapi bukan dari hasil usahanya untuk belajar sungguh-sungguh. Yang pasti, teman-teman merasa dirugikan karena perbuatan  Dina yang suka menyontek. Semester lalu ia rangking 3 di kelasnya. Tentu saja teman sekelasnya tidak bisa menerima ini. Tapi apa mau dikata, ternyata Bu Sevia tidak mengetahui kalau Dina menyontek.
                Dina memang pandai mencuri kesempatan. Ia pun pintar bermain kata-kata. Sehingga  Orang sepandai Bu sevia berhasil dikelabuhi. Lama-lama Faiza tidak tahan. Ia justru kasihan dengan Dina. Ia khawatir perbuatannya akan membawa dampak buruk bagi masa depannya. Pada dasarnya ia anak yang baik, pandai bergaul dan suka memberi pertolongan jika ada yang membutuhkan. Suatu hari Faiza dan teman-teman berkumpul di taman dan menyusun sebuah rencana.
               “Bagaimana teman-teman, apakah kalian setuju menjalankan misi ini?” Tanya Faiza pada teman-teman.
               “Kau yakin, cara ini akan berhasil?” Tanya Jelita memastikan
               “Ya, setidaknya, kita sudah melakukan sesuatu.” Jawab Faiza yakin. Ia sangat berharap bahwa  Dina akan segera menghentikan kebiasaan buruknya.
               “Hari Jumat ada ulangan matematika. Kita harus mempersiapkan sesuatu.” Kata Jelita mengingatkan.
               “Baiklah, aku akan membawa kamera, kebetulan ayahku memiliki canon power shot A470. Semoga kita berhasil.”
               Hari yang ditunggu telah tiba. Semua duduk di kursi masing-masing. Bu Sevia membagikan selembar kertas dan fotocopian soal dari kertas buram. Faiza sengaja memilih tempat  duduk di dekat  Dina. Ia sudah memperkirakan tempat yang akan digunakan untuk mengambil gambar  saat Dina beraksi. Bagi faiza, memotret objek bukan hal yang baru, karena ia sering diajak ayah untuk berburu foto. Maklum saja ayahnya seorang wartawan. Balajar mengambil objek  dari berbagai sudut pernah ia lakukan. Bahkan Faiza memiliki album yang isinya foto-foto hasil jepretannya bersama ayah. Ada foto bertema pemandangan alam, aktivitas orang-orang di pasar, para petani di sawah, bahkan  foto bencana alam. Kalau objek yang ini, merupakan hal baru bagi faiza. Tapi ia merasa tertantang. Rasanya ia menjadi detektif yang sesungguhnya.
                Sepuluh menit telah berlalu. Tidak ada gerakan yang mencurigakan pada diri Dina. Kepalanya tertunduk menatap kertas yang masih kosong. Bolpoint yang ada di tangannya tak sekalipun digerakkan. Ternyata ia belum menulis satu angkapun. Tiba-tiba, Bu Sevia mengatakan bahwa ia akan ke kantor sebentar. Ada sesuatu yang tertinggal di sana.
               Sepeninggal Bu Sevia, suasana kelas tetap sepi seperti semula. Semua sibuk dengan tugasnya masing-masing. Mereka berjanji akan bersaing dengan sehat, tanpa  ada yang berbuat curang, menyontek. Tapi kesepakatan itu tentu saja tidak berlaku untuk Dina. Melihat kesempatan ada di depan mata, Dina segera mengeluarkan jurus-jurusnya. Ia begitu lihai membuka lembaran-lembaran kecil yang berisi rumus-rumus matematika. Sepertinya tak ada kendala baginya.
               Faiza segera menjalankan misinya. Ia mengambil gambar saat Dina beraksi. Tentu saja tanpa sepengetahuan Dina. Ia tidak ingin mempermalukannya dihadapan teman-teman. Tiga gambar dan  video berdurasi dua menit berhasil ia  dapatkan. Ia menyimpan kembali kamera digitalnya. Lega rasanya. Harapannya untuk menyadarkan perilaku Dina yang buruk semakin besar.
               Lima menit kemudian, Bu Sevia kembali ke kelas. Ia tidak mengetahui bahwa ada salah satu siswanya yang menyontek. Satu jam telah berlalu, waktu untuk mengerjakan telah usai. Semua kertas dikumpulkan di meja Bu Sevia. Waktu istirahat telah tiba. Faiza tidak menyia-nyiakan kesempatan baik itu untuk menemui Bu Sevia di kantornya. Ia ingin menunjukkan gambar dan video hasil bidikannya. Ditemani  Jelita, ia menemui Bu Sevia. Ia sengaja tidak mengajak semua teman-temannya karena khawatir menimbulkan kecurigaan. Bagaimanapun, mereka semua sayang pada Dina.
               “Selamat siang Bu,” Ucap Faiza dan Jelita di hadapan Bu Sevia.
               “Siang, ada apa kalian menemui Ibu?” Faiza dan Jelita saling berpandangan, akhirnya Faiza angkat bicara.
               “Begini Bu, sebenarnya, diantara kami ada yang menyontek ketika  ulangan.”
               “Oya! siapa yang menyontek?”
               “Mm… Dina Bu!” Jawab Faiza dengan perlahan.
               “Kamu yakin? Apakah kamu memiliki bukti kalau ia menyontek?” Bu Sevia terlihat ragu. Selama ini ia menganggap tidak pernah terjadi sesuatu pada Dina. Menurutnya ia anak yang cerdas. Buktinya ia termasuk tiga besar di kelasnya.
               “Maaf Bu Sevia, Dina memang cerdas secara akademik, tetapi belum tentu juga kalau dia cerdas dalam hal yang lain.”
               “Maksud kamu apa Faiza?” Tanya Bu Sevia bertambah heran.
               “Begini Bu, Kami dan teman-teman sekelas, ingin menyadarkan Dina dari kebiasaan buruknya yaitu menyontek. Karena perbuatan ini sudah dilakukan berkali-kali. Kami ingin bersaing secara sehat dalam belajar. Bagi kami apalah artinya sebuah nilai dalam bentuk angka-angka. Kalau dalam memperolehnya tidak menggunakan cara-cara yang baik.”         
               “Iya Bu, bagi kami, kejujuran lebih penting. Bukankah proses itu lebih penting dalam sebuah pembelajaran?”  Jelita menambahkan.
               “Lalu, apakah kalian berdua memiliki buktinya?’
               “Ya.” Jawab mereka serempak. “ Ini bukti yang telah kami dapatkan. Memang hanya ini bukti yang bisa kami tunjukkan kepada Bu Sevia, sedangkan bukti yang lain, teman-teman siap jika disuruh untuk memberikan kesaksian.” Jawab Faiza meyakinkan.
               Faiza memberikan gambar yang telah didapatkannya. Bu Sevia terdiam. Ia tidak menyangka bahwa salah satu muridnya berbuat demikian.
               “Lalu, apa langkah selanjutnya?” Tanya Bu Sevia sambil menatap kedua muridnya. Ia terlihat sedih mendengar pengaduan kedua muridnya. Ia menyesal karena bukan ia sendiri yang mengetahui kalau diantara muridnya ada yang menyontek.
               “Kami hanya ingin mengatakan kepada Ibu, bahwa Dina suka menyontek. Kami sangat sayang pada Dina.” Jelita menjelaskan.
               “Dina adalah teman kami, kami ingin mengubah kebiasan buruknya tanpa menyakiti perasaannya. Saya harap, Bu sevia tidak mengatakan tentang video ini pada Dina. Saya khawatir, nanti dia tersinggung.” Kata Faiza menambahkan.
               “Kalian tidak usah khawatir, Ibu sangat berterima kasih pada kalian. Sekarang kembalilah ke kelas, bel sudah berbunyi.”
               Lega rasanya, kini mereka menunggu langkah apa yang akan dilakukan Bu sevia. Setelah kejadian itu, suasana kelas berjalan seperti biasa, seolah tak pernah terjadi apa-apa. Faiza dan teman-teman hanya bisa mendoakan agar Dina meninggalkan kebiasaan buruknya.
               Minggu berikutnya, Bu Sevia mengatakan bahwa akan ada ulangan  sains. Faiza dan teman sekelasnya belajar seperti biasa, baginya pelajaran sains sangatlah menyenangkan. Ia bisa tahu segala hal mengenai lingkungan yang ada di sekitarnya. Misalnya hewan yang memiliki ciri-ciri  khusus untuk memenuhi kebutuhannya, perubahan fisik tubuh laki-laki dan perempuan pada masa pubertas, serta mengidentifikasi berbagai cara hewan berkembang biak. Itu hanya sebagian saja materi tentang sains,  materi yang lain, tidak kalah menyenangkan.
               Hari yang ditentukan telah tiba. Semua murid menempati kursi masing-masing. Ada yang berbeda dari ulangan kali ini. Bu Sevia tidak membagikan kertas lembar kerja. Apa yang akan dilakukan Bu Sevia? Murid-murid bertanya dalam hati masing- masing. Beberapa saat kemudian, Bu Sevia membuka suara.
               “Selamat pagi anak-anak!”
               “Selamat  pagi Bu Guru!” Jawab mereka serempak. Suasana memndadak hening.
               “Hari ini, ulangannya tidak seperti yang telah lalu. Ibu ingin mencoba dengan bentuk yang lain. Biasanya ulangan kalian dalam bentuk tertulis. Kali ini, Ibu ingin dalam bentuk lisan, selain untuk melatih daya ingat, juga melatih keberanian untuk menyatakan pendapat. Ibu akan mulai dari nomor urut presensi pertama. Alif! Silahkan maju.”
               Suasana menjadi sedikit gaduh. Maklum saja baru kali ini, Bu Sevia mengadakan ulangan lisan. Tapi kegaduhan itu tak berlangsung lama setelah  Alif berdiri di depan kelas. Semua mata tertuju pada sosok Alif. Bagi alif, ulangan dengan tulisan atau lisan, sama saja. Jadi ketika Bu Sevia memberikan pertanyaan tentang bagaimana cara katak berkembang biak, ia dapat dengan mudah menjawabnya. Setelah Beny, Budi dan Citra, kini giliran Dina maju ke depan. Dina melangkahkan kakinya dengan pelan, seolah kedua kakinya ada yang menahannya untuk berjalan. Kepalanya menunduk, menatap lantai ubin berbentuk persegi. Pandangannya nanar, tubuhnya gemetar. Ia takut jika tak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan Bu Sevia.
               “Bagaimana Dina? Kamu sudah siap?” Tanya Bu Sevia lembut. Ia tahu perubahan sikap Dina. Ia terlihat sangat cemas. Dina mengangguk saja tanpa ada satupun kata yang terucap. Pertanyaan pertama dimulai. Bu Sevia bertanya mengenai  perkembangbiakan secara vegetatif dan generatif. Beberapa saat lamanya, dina terdiam. Ingatannya mendadak hilang. Ia tak mampu berkata apapun.
               “Kalau begitu, sekarang pertanyaan kedua, ini mengenai perkembangbiakan hewan. Ada jenis hewan yang menyusui sekaligus melahirkan, Kamu tahu, hewan apa namanya?”
                Pertanyaan Bu Sevia sudah dijelaskan pada minggu yang lalu. Namanya  Platypus, paruhnya seperti bebek, ekor seperti berang-berang, sedangkan kakinya berselaput di jari-jarinya, dan tubuhnya berbulu lembut. Platypus, bertelur tapi setelah anaknya menetas, platypus menyusui anaknya.
               Dina terdiam seribu bahasa. Tangannya memilin-milin ujung roknya. Ia  sama sekali tak menyangka akan diberi pertanyaan yang tak bisa dijawabnya. Padahal  sebenarnya ia cerdas. Ada apa dengan Dina?.
               “Kalau kamu tidak bisa menjawab, sekarang kamu boleh duduk. Bagi siswa yang belum maju, akan dilanjutkan pada pertemuan berikutnya.” Kata Bu Sevia  lantang.
                Bel tanda pulang sekolah berbunyi. Murid-murid kelas enam SD N  Cerdik Pandai segera bergegas pulang, kecuali Dina. Ia tetap duduk di tempatnya semula. Wajahnya tertunduk. Suasana kelas menjadi sepi. Bu Sevia menghampiri Dina di tempat duduknya. Air matanya berlinang.
               “Ada apa Dina? Kamu sakit?” Sapa Bu sevia dengan lembut tapi penuh ketegasan. Dina menggeleng perlahan. Diusapnya pundak Dina dengan penuh kasih sayang.
               “Ibu boleh tahu apa masalahmu?” Bu Sevia menyelidik, sebenarnya Ia sudah bisa mengira apa yang dirasakan Dina pada saat itu, tapi Bu Sevia tak ingin menebak-nebak. Biarlah Dina menceritakan sendiri apa masalahnya.
               “Bu Sevia, Dina meminta maaf, karena selama ini Dina selalu menyontek pada saat ulangan.” Ucap Dina mengakui perbuatannya. Bu Sevia tidak terkejut, tapi iapun bersikap wajar. Ia tidak ingin menghakimi Dina yang sudah menyesali perbuatannya. Baginya itu sudah sangat menggembirakan.
               “Benarkah?” Bu Sevia pura-pura tidak mengetahuinya. Dina mengangguk.
                “ Lalu mengapa kamu sampai berbuat demikian? Kamu tahu kan, hal itu akan merugikan kamu sendiri?”
               “Benar, saya  baru menyadarinya saat ini. Sekarang saya menyesal.”
               “Kalau begitu, sekarang  hapus air matamu. Kita ke kantin sekarang. Kita rayakan kemenangan ini.”
               “Kemenangan apa Bu?” Tanya Dina heran.
               “Tentu saja kemenanganmu atas hilangnya sikap burukmu yang suka menyontek itu! Kamu sudah berhasil melawannya.”
               “Bu Sevia memaafkan saya?”
               “Pasti! Sebagai tanda bahwa kamu telah merubah sikapmu, Bu Sevia akan mengajakmu makan mi ayam di kantin sekolah. Kamu bersedia?”
               Dina hanya tersenyum sambil mengangguk. Matanya yang masih sembab memandang Bu Sevia penuh kekaguman. Batapa baiknya Bu  Sevia. Ia jadi malu pada diri sendiri. Hari ini, ia merasa baru terbangun dari mimpinya. Tetapi ia tidak tahu, bahwa teman-teman sekelasnya juga sangat berperan dalam menyadarkan Dina

0 komentar:

Posting Komentar

 
berita unik