Senja menyapa, bumi ditenggelamkan oleh gelapnya malam. Seorang
pemuda memandangi atap rumahnya yang hampir tak terurus karena
kesibukannya diluar kota. Sembari membenahi area rumah yang terbengkalai
sebulan lamanya, ia memanaskan air untuk menyeruput secangkir teh untuk
sedikit menghangatkan tubuhnya yang tersentuh dinginnya hawa angin
malam. Lantunan musik rohani mengiringi pekerjaannya yang memakan waktu
yang tidak sedikit.
“Furqon, tidakkah kamu selesaikan pekerjaanmu yang lebih penting
ketimbang mengurusi rumah yang tidak ada ujung penyelesaiannnya?” ucap
seorang wanita paruh baya dengan nada suara yang penuh dengan
kelembutan. “Tinggal menunggu beberapa hari akan segera selesai kok Bu,”
sahut Furqon dengan gaya khas senyum simpulnya.
Furqon panggilannya, ia adalah seorang pemuda yang sederhana dan
penuh tanggung jawab serta sangat menyayangi kedua orang tuanya,
terutama ibunya yang masih hidup bersamanya hingga saat ini. Rumah
sederhana ialah tempat ia bernaung sebagai saksi bisu ketika ditinggal
oleh ayahnya sejak ia berusia 6 tahun. Pekerjaan yang dirintisnya pun
tak jauh dari kata sederhana namun sangat mulia. Ia menjadi seorang
tenaga pengajar di sebuah pesantren ternama. Meski rezeki hasil jerih
payah yang dikumpulkannya selama ini bernilai tinggi, namun hingga saat
ini hidupnya tak pernah berubah sedikitpun, terlebih rumah yang
ditempatinya masih sangat sederhana. Untuk menuju ke tempat pesantren
dimana ia mengabdikan ilmunya masih menggunakan alat transportasi umum.
Semua pekerjaan yang seharusnya bisa diupahkan untuk dikerjakan oleh
orang lain pun masih ia mengandalkan dirinya sendiri.
“Istirahatlah nak, biarkan rezekimu bulan ini untuk membeli
kendaraan”. Ujar sang ibu merasa kasihan dengan putra semata wayangnya.
“Tidak bu, biarkan kendaraan itu kita dapatkan di surga, serta rumah
bak istana juga di surga.” Sahut Furqon dengan keyakinan hati. “Biarkan
rezeki kita menjadi hak fakir miskin yang lebih membutuhkan.” Ujarnya
lagi. Dengan berkumandangya adzan Isya’ menandakan pekerjaan Furqon
harus dihentikan sejenak. “Begitulah Rasulullah mengajarkan bu”, tambah
Furqon sambil berbisik di daun telinga ibunya yang hampir keriput.
Matahari menampakkan perangainya, merdu kicau sekawanan burung
mengiringi dahan pohon yang mengusik, embun pagi hampir lenyap diterpa
angin yang lalu lalang seketika. “Jum’at Berkah”, ucap syukur Furqon
sembari menengadahkan kedua telapak tangan. “Bu, minta do’anya ya”,
ujarnya berpamitan setiap kali hendak meninggalkan rumah. “Amiinnn,
semoga mendapat ridho Allah nak”, kata sang ibu dengan penuh kasih.
Langkah kaki dipercepat untuk menunaikan tugasnya sebagai mukallaf di
bumi ini. Furqon selalu haus akan menimba ilmu dan membagi ilmu.
Rasulullah tak kenal lelah untuk mengajarkan kepada umatnya, begitu ia
berpegang teguh kepada prinsip. Ia mengagung-agungkan sosok pribadi
Rasulullah, tidak banyak orang mencemooh prinsipnya. Hingga ia tiba di
pesantren tempatnya membagi ilmu dengan wajah yang sumringah dan
semangat yang membara.
“Furqon, gaji bulan ini sebaiknya dialihkan dengan menginvestasikan
dana ke pesantren tetangga kita”, saran seorang staff yang selalu
menaruh iri padanya. “Baiklah pak Imron, tetapi sebagian lagi di
sumbangkan kepada anak-anak di panti asuhan ya pak?”, Furqon mencoba
memberi saran. “Saya hanya ingin agar pesantren sebelah melirik kita
sebagai pesantren yang rajin sedekah,” ucap staff tersebut dengan nada
ketus. “Masya Allah, sungguh Rasulullah tidak pernah mengajarkan hal
mudhorat seperti itu pak”. Furqon menggeleng-gelengkan kepalanya.
Hari di kalender pun berganti, tanggal pun semakin mendekati akhir
bulan, Furqon mulai mengalami krisis dalam keuangan. “Ya Allah,
kuatkanlah hambamu ini, sesungguhnya rasullullah memperjuangkan umatnya
hingga akhir hayatnya sekalipun”, Furqon mengadu kepada Yang Maha
Pemilik segalanya ditengah pahit getir yang dirasakan. Bukan karena ia
kekurangan harta untuk digunakan seorang diri, namun ia sangat khawatir
jika ia tidak bisa bersedekah lagi jika hasil gajinya ditahan untuk
beberapa bulan lamanya karena perselisihan yang terjadi dengan pihak
staaff tempat ia bekerja. “Ya Allah, jika permadani taman surgaku
terhenti sampai disini, ampunkanlah hambamu ini”, ucap Furqon setiap
selesai mengerjakan shalat. Diri Furqon sempat terombang-ambing,
cemoohan demi cemoohan menghantui, ia difitnah berkhianat, hingga ia
terancam dipecat. Para mahasantri yang mengenalnya pun menjauh. Cobaan
silih berganti, ujian tak kenal batas menerpa, begitu sulit untuk
meyakinkan orang lain agar menjadi pribadi yang bukan sekedar identitas
diri, namun bernilai Islami itu jauh lebih berarti.
Pesantren yang dulu digandrungi oleh banyak orang, kini tercemar
akibat dari simpang siurnya berita. Furqon berusaha untuk membersihkan
kembali nama baik pesantren yang telah membesarkan dirinya untuk
besedekah. Namun karena perselisihan yang terjadi karena materilah yang
membuat tali silahturahmi seakan menjadi duri.
“Rasulullah memperjuangkan kehidupan umatnya apapun yang terjadi,
bahkan beliau rela menghabiskan masa hidupnya hanya untuk memberi ajaran
yang baik, dan beliau merupakan sosok seorang pemimpin yang bijaksana
dan…………..”, Furqon mematikan siaran radio yang membuatnya rindu akan
beribaah kepada Allah dan merenungkan teladan Rasulullah. Dengan
mengambil air wudhu dan bersegera untuk menunaikan ibadah shalat
Tahajjud ia mencurahkan segala keluh dan kesahnya kepada Allah. Di malam
yang sunyi dan ketenangan yang melimpah ruah, Furqon merenungi semua
kekhilafannya, ia merintih pilu karena malu telah memutus tali
silahturahmi dengan saudara-saudaranya yang berada si pesantren, serta
anak didiknya yang masih sangat membutuhkan dirinya sebagai ustad yang
selalu mengedepankan ajaran Rasulullah. Di malam itulah Furqon
bermuhasabah diri, tepantnya di malam Jum’at yang berkah.
Tabu berbunyi gemparkan malam sunyi, selang-seling sahutan ayam.
Furqon segera menunaikan perintah Allah, lalu bersiap untuk menyebarkan
agama Islam meski hidupnya terasa genting. Kegentingan itu hanyalah
sebagian kecil dari berbagai macam ujian terhadapnya. Namun dengan
keteguhan prinsipnya, Furqon tetap berjuang dan bangkit demi tegaknya
para generasi muda yang murah sedekah. Berdakwah ke setiap penjuru ia
tekuni, berbagi ilmu ia lakoni, demi mencapai salah satu permadani
menuju taman surga.
Bukan harta maupun tahta yang menjadi tujuan utama. Namun mengharap
ridho Allah merupakan semulianya cita-cita. Pemuda yang sangat mengagumi
sosok Rasulullah sedang digoncang jiwanya. Namun, tetap istoqomah
sebagai Penegak panji Islam adalah cita-citanya. Furqon masih terus
mencari semua ridho itu. Meski sulit untuk mendapatkannya, namun ia tak
kenal lelah. Hanya sajaddah tempat bersujud dan Allah tempatnya mengadu
yang dapat menenangkan hati yang dirundung duka.
Hati sendu namun tenang, jiwa bergemuruh namun senang, raga yang
rapuh namun tetap berjuang, begitulah keadaan Furqon yang setiap
hitungan hari, setiap hitungan jam, setiap hitungan menit menyampaikan
syariat Islam. Hingga tiba di sebuah pesantren yang telah lama tak ia
kunjungi sejak tragedi perselisihan yang terjadi.
Perlahan-lahan Furqon melangkah menyusuri tempat naungan mahasantri
yang sudah cukup lama ia tinggalkan. Ia menghirup udara disekitar
pesantren masih sama segarnya ketika ia mengajar disana. Ia menatap satu
persatu bagian dari pesantren itu yang sudah banyak berubah. Tentu saja
ia sudah mendekati zona setengah abad tidak menginjakkan kaki lagi
disana. Namun kerinduan selalu menyelimuti.
“Assalamu’alaikum ya akhi”, terdengar sapaan dari balik pintu ruang admninistrasi yang tak jauh dari Furqon berdiri.
“Wa’alaikumussalam, maaf saya mengganggu kenyamanan disini”, ujar
Furqon dengan hati yang sedikit khawatir akan kedatangannya yang tanpa
permisi.
“Wah, tentu saja tidak, ustad ini saya Syafira, salah satu mahasantri
yang selalu mencari ustad ketika tidak ada kabarnya lagi”, ungkap
seorang mahasantri yang telah mengenal Furqon jauh sebelum
kedatangannya kembali.
“Benarkah? Subhanallah, ternyata masih diingatkah diri ini walau penuh dengan dosa”, sahut Furqon merendahkan diri.
“Mari ustad saya kenalkan dengan para staff pesantren yang baru”,
mahasantri melangkah menuju ruang administrasi diikuti dengan Furqon
dengan raut wajah yang masih kebingunan.
“Ini pak Ali pengganti pak Imron yang meninggal 3 tahun lalu”, ucap mahasantri itu dengan nada sendu.
“Innalilahiwainnailaihiroji’un, saya sangat berdosa karena tidak
bertegur sapa dengannya ketika ia msih hidup”, jwab Furqon tersentak dan
terisak.
“Pak Imron menitipkan wasiat kepada ustad agar dipenuhi jika saya
dipertemukan kembali dengan ustad”, ujar mahasantri dengan penuh harap.
Angin berhembus kencang, seakan mewakili perasaan Furqon yang kalut
beberapa hari yang lalu karena kabar yang tak mengenakkan hati dan
pikirannya. Furqon hampir tidak percaya jika ia menyimpan dosa yang
teramat dalam. Dengan mengambil air wudhu sebagai tanda ia memohon ampun
kepada Allah dengan mengerjakan shalat taubat.
Furqon yang kuat dan bertanggung jawab sangat mengerti isi wasiat
dari sahabatnya Imron. Ia bekerja keras demi mewujudkan permadani taman
surga yang diimpikan Imron, dan tentu saja menjadi impian mereka berdua
karena Furqon lah yang mencetuskannya pertama kali. Dengan permadani itu
maka akan menuju surga yang dijanjikan Allah. Melalui sedekah yang
diajarkan Rasulullah maka akan dibekali permadani untuk mencapai ridho
Allah. Begitulah prinsip Furqon dalam mencapai impiannya.
Musim pun berganti, wasiat dari rekan kerjanya pun dipenuhi, Furqon
mendirikan sebuah pesantren dekat dengan lokasi rumahnya yang sederhana
namun menentramkan hati. Ternyata semua cobaan yang melanda dan ujian
yang menerpa dapat dilewati. Dengan kerja keras dan ketekunannya sebagai
Da’i membuahkan hasil. Apa yang ia impikan diijabah oleh Allah, bukan
hanya mampu memenuhui wasiat dari sahabatnya Imron, dan bukan pula hanya
bisa bersedekah kepada anak yatim piatu di panti asuhan, tetapi ia juga
mendirikan sebuah pesantren sebagai permadani taman surga.
Nilai moral yang terkandung dalam cerpen ini adalah Ikutilah cara
Rasulullah SAW yang tidak pernah absen untuk bersedekah. Bersedekahlah,
karena sedekah merupakan salah satu permadani menuju taman surga.
Cerpen karangan : Tria Agustina
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar