Translate

cerpen permadani taman surga

Written By iqbal_editing on Senin, 12 Juni 2017 | 16.34

Senja menyapa, bumi ditenggelamkan oleh gelapnya malam. Seorang pemuda memandangi atap rumahnya yang hampir tak terurus karena kesibukannya diluar kota. Sembari membenahi area rumah yang terbengkalai sebulan lamanya, ia memanaskan air untuk menyeruput secangkir teh untuk sedikit menghangatkan tubuhnya yang tersentuh dinginnya hawa angin malam. Lantunan musik rohani mengiringi pekerjaannya yang memakan waktu yang tidak sedikit.
“Furqon, tidakkah kamu selesaikan pekerjaanmu yang lebih penting ketimbang mengurusi rumah yang tidak ada ujung penyelesaiannnya?” ucap seorang wanita paruh baya dengan nada suara yang penuh dengan kelembutan. “Tinggal menunggu beberapa hari akan segera selesai kok Bu,” sahut Furqon dengan gaya khas senyum simpulnya.
Furqon panggilannya, ia adalah seorang pemuda yang sederhana dan penuh tanggung jawab serta sangat menyayangi kedua orang tuanya, terutama ibunya yang masih hidup bersamanya hingga saat ini. Rumah sederhana ialah tempat ia bernaung sebagai saksi bisu ketika ditinggal oleh ayahnya sejak ia berusia 6 tahun. Pekerjaan yang dirintisnya pun tak jauh dari kata sederhana namun sangat mulia. Ia menjadi seorang tenaga pengajar di sebuah pesantren ternama. Meski rezeki hasil jerih payah yang dikumpulkannya selama ini bernilai tinggi, namun hingga saat ini hidupnya tak pernah berubah sedikitpun, terlebih rumah yang ditempatinya masih sangat sederhana. Untuk menuju ke tempat pesantren dimana ia mengabdikan ilmunya masih menggunakan alat transportasi umum. Semua pekerjaan yang seharusnya bisa diupahkan untuk dikerjakan oleh orang lain pun masih ia mengandalkan dirinya sendiri.
“Istirahatlah nak, biarkan rezekimu bulan ini untuk membeli kendaraan”. Ujar sang ibu merasa kasihan dengan putra semata wayangnya.
“Tidak bu, biarkan kendaraan itu kita dapatkan di surga, serta rumah bak istana juga di surga.” Sahut Furqon dengan keyakinan hati. “Biarkan rezeki kita menjadi hak fakir miskin yang lebih membutuhkan.” Ujarnya lagi. Dengan berkumandangya adzan Isya’ menandakan pekerjaan Furqon harus dihentikan sejenak. “Begitulah Rasulullah mengajarkan bu”, tambah Furqon sambil berbisik di daun telinga ibunya yang hampir keriput.
Matahari menampakkan perangainya, merdu kicau sekawanan burung mengiringi dahan pohon yang mengusik, embun pagi hampir lenyap diterpa angin yang lalu lalang seketika. “Jum’at Berkah”, ucap syukur Furqon sembari menengadahkan kedua telapak tangan. “Bu, minta do’anya ya”, ujarnya berpamitan setiap kali hendak meninggalkan rumah. “Amiinnn, semoga mendapat ridho Allah nak”, kata sang ibu dengan penuh kasih.
Langkah kaki dipercepat untuk menunaikan tugasnya sebagai mukallaf di bumi ini. Furqon selalu haus akan menimba ilmu dan  membagi ilmu. Rasulullah tak kenal lelah untuk mengajarkan kepada umatnya, begitu ia berpegang teguh kepada prinsip. Ia mengagung-agungkan sosok pribadi Rasulullah, tidak banyak orang mencemooh prinsipnya. Hingga ia tiba di pesantren tempatnya membagi ilmu dengan wajah yang sumringah dan semangat yang membara.
“Furqon, gaji bulan ini sebaiknya dialihkan dengan menginvestasikan dana ke pesantren tetangga kita”, saran seorang staff yang selalu menaruh iri padanya. “Baiklah pak Imron, tetapi sebagian lagi di sumbangkan kepada anak-anak di panti asuhan ya pak?”, Furqon mencoba memberi saran. “Saya hanya ingin agar pesantren sebelah melirik kita sebagai pesantren yang rajin sedekah,” ucap staff tersebut dengan nada ketus. “Masya Allah, sungguh Rasulullah tidak pernah mengajarkan hal mudhorat seperti itu pak”. Furqon menggeleng-gelengkan kepalanya.
Hari di kalender pun berganti, tanggal pun semakin mendekati akhir bulan, Furqon mulai mengalami krisis dalam keuangan. “Ya Allah, kuatkanlah hambamu ini, sesungguhnya rasullullah memperjuangkan umatnya hingga akhir hayatnya sekalipun”, Furqon mengadu kepada Yang Maha Pemilik segalanya ditengah pahit getir yang dirasakan. Bukan karena ia kekurangan harta untuk digunakan seorang diri, namun ia sangat khawatir jika ia tidak bisa bersedekah lagi jika hasil gajinya ditahan untuk beberapa bulan lamanya karena perselisihan yang terjadi dengan pihak staaff tempat ia bekerja. “Ya Allah, jika permadani taman surgaku terhenti sampai disini, ampunkanlah hambamu ini”, ucap Furqon setiap selesai mengerjakan shalat. Diri Furqon sempat terombang-ambing, cemoohan demi cemoohan menghantui, ia difitnah berkhianat, hingga ia terancam dipecat. Para mahasantri yang mengenalnya pun menjauh. Cobaan silih berganti, ujian tak kenal batas menerpa, begitu sulit untuk meyakinkan orang lain agar menjadi pribadi yang bukan sekedar identitas diri, namun bernilai Islami itu jauh lebih berarti.
Pesantren yang dulu digandrungi oleh banyak orang, kini tercemar akibat dari simpang siurnya berita. Furqon berusaha untuk membersihkan kembali nama baik pesantren yang telah membesarkan dirinya untuk besedekah. Namun karena perselisihan yang terjadi karena materilah yang membuat tali silahturahmi seakan menjadi duri.
“Rasulullah memperjuangkan kehidupan umatnya apapun yang terjadi, bahkan beliau rela menghabiskan masa hidupnya hanya untuk memberi ajaran yang baik, dan beliau merupakan sosok seorang pemimpin yang bijaksana dan…………..”, Furqon mematikan siaran radio yang membuatnya rindu akan beribaah kepada Allah dan merenungkan teladan Rasulullah. Dengan mengambil air wudhu dan bersegera untuk menunaikan ibadah shalat Tahajjud ia mencurahkan segala keluh dan kesahnya kepada Allah. Di malam yang sunyi dan ketenangan yang melimpah ruah, Furqon merenungi semua kekhilafannya, ia merintih pilu karena malu telah memutus tali silahturahmi dengan saudara-saudaranya yang berada si pesantren, serta anak didiknya yang masih sangat membutuhkan dirinya sebagai ustad yang selalu mengedepankan ajaran Rasulullah. Di malam itulah Furqon bermuhasabah diri, tepantnya di malam Jum’at yang berkah.
Tabu berbunyi gemparkan malam sunyi, selang-seling sahutan ayam. Furqon segera menunaikan perintah Allah, lalu bersiap untuk menyebarkan agama Islam meski hidupnya terasa genting. Kegentingan itu hanyalah sebagian kecil dari berbagai macam ujian terhadapnya. Namun dengan keteguhan prinsipnya, Furqon tetap berjuang dan bangkit demi tegaknya para generasi muda yang murah sedekah. Berdakwah ke setiap penjuru ia tekuni, berbagi ilmu ia lakoni, demi mencapai salah satu permadani menuju taman surga.
Bukan harta maupun tahta yang menjadi tujuan utama. Namun mengharap ridho Allah merupakan semulianya cita-cita. Pemuda yang sangat mengagumi sosok Rasulullah sedang digoncang jiwanya. Namun, tetap istoqomah sebagai Penegak panji Islam adalah cita-citanya. Furqon masih terus mencari semua ridho itu. Meski sulit untuk mendapatkannya, namun ia tak kenal lelah. Hanya sajaddah tempat bersujud dan Allah tempatnya mengadu yang dapat menenangkan hati yang dirundung duka.
Hati sendu namun tenang, jiwa bergemuruh namun senang, raga yang rapuh namun tetap berjuang, begitulah keadaan Furqon yang setiap hitungan hari, setiap hitungan jam, setiap hitungan menit menyampaikan syariat Islam. Hingga tiba di sebuah pesantren yang telah lama tak ia kunjungi sejak tragedi perselisihan yang terjadi.
Perlahan-lahan Furqon melangkah menyusuri tempat naungan mahasantri yang sudah cukup lama ia tinggalkan. Ia menghirup udara disekitar pesantren masih sama segarnya ketika ia mengajar disana. Ia menatap satu persatu bagian dari pesantren itu yang sudah banyak berubah. Tentu saja ia sudah mendekati zona setengah abad tidak menginjakkan kaki lagi disana. Namun kerinduan selalu menyelimuti.
“Assalamu’alaikum ya akhi”, terdengar sapaan dari balik pintu ruang admninistrasi yang tak jauh dari Furqon berdiri.
“Wa’alaikumussalam, maaf saya mengganggu kenyamanan disini”, ujar Furqon dengan hati yang sedikit khawatir akan kedatangannya yang tanpa permisi.
“Wah, tentu saja tidak, ustad ini saya Syafira, salah satu mahasantri yang selalu mencari ustad ketika tidak ada kabarnya lagi”, ungkap seorang mahasantri yang telah  mengenal Furqon jauh sebelum kedatangannya kembali.
“Benarkah? Subhanallah, ternyata masih diingatkah diri ini walau penuh dengan dosa”, sahut Furqon merendahkan diri.
“Mari ustad saya kenalkan dengan para staff pesantren yang baru”, mahasantri melangkah menuju ruang administrasi diikuti dengan Furqon dengan raut wajah yang masih kebingunan.
“Ini pak Ali pengganti pak Imron yang meninggal 3 tahun lalu”, ucap mahasantri itu dengan nada sendu.
“Innalilahiwainnailaihiroji’un, saya sangat berdosa karena tidak bertegur sapa dengannya ketika ia msih hidup”, jwab Furqon tersentak dan terisak.
“Pak Imron menitipkan wasiat kepada ustad agar dipenuhi jika saya dipertemukan kembali dengan ustad”, ujar mahasantri dengan penuh harap.
Angin berhembus kencang, seakan mewakili perasaan Furqon yang kalut beberapa hari yang lalu karena kabar yang tak mengenakkan hati dan pikirannya. Furqon hampir tidak percaya jika ia menyimpan dosa yang teramat dalam. Dengan mengambil air wudhu sebagai tanda ia memohon ampun kepada Allah dengan mengerjakan shalat taubat.
Furqon yang kuat dan bertanggung jawab sangat mengerti isi wasiat dari sahabatnya Imron. Ia bekerja keras demi mewujudkan permadani taman surga yang diimpikan Imron, dan tentu saja menjadi impian mereka berdua karena Furqon lah yang mencetuskannya pertama kali. Dengan permadani itu maka akan menuju surga yang dijanjikan Allah. Melalui sedekah yang diajarkan Rasulullah maka akan dibekali permadani untuk mencapai ridho Allah. Begitulah prinsip Furqon dalam mencapai impiannya.
Musim pun berganti, wasiat dari rekan kerjanya pun dipenuhi, Furqon mendirikan sebuah pesantren dekat dengan lokasi rumahnya yang sederhana namun menentramkan hati. Ternyata semua cobaan yang melanda dan ujian yang menerpa dapat dilewati. Dengan kerja keras dan ketekunannya sebagai Da’i membuahkan hasil. Apa yang ia impikan diijabah oleh Allah, bukan hanya mampu memenuhui wasiat dari sahabatnya Imron, dan bukan pula hanya bisa bersedekah kepada anak yatim piatu di panti asuhan, tetapi ia juga mendirikan sebuah pesantren sebagai permadani taman surga.
Nilai moral yang terkandung dalam cerpen ini adalah Ikutilah cara Rasulullah SAW yang tidak pernah absen untuk bersedekah. Bersedekahlah, karena sedekah merupakan salah satu permadani menuju taman surga.
Cerpen karangan : Tria Agustina

0 komentar:

Posting Komentar

 
berita unik