Kalender
Karya : Dinda Fitria Sabila
Sepertinya baru kemarin aku membalik
halaman benda ini. Sepertinya memang baru kemarin. Aku lupa kalau ini
bahkan sudah menaiki tanggal tua, aku lupa. Sejatinya yang terlintas
dipikiranku kala melihat benda ini sekali lagi adalah… ah pernikahanmu.
Kalender ini mengemis dalam cinta bagai wujud yang telah gersang. Aku
memandangnya begitu iba, sampai-sampai lupa seharunya benda itu yang
iba padaku.Aku mengurung diri selama satu bulan. Menutup kemungkinan akan datangnya matahari dan bulan untuk memberitahuku, “Hai, hari sudah berganti.”
Tidak peduli, sungguh. Aku tidak peduli apapun. Aku hanya ingin menutup telinga, membutakan mata dan mematikan semua indera ku untuk bisa melampaui bulan-bulan panjang agar segera di dera kebahagiaan.
Sedang sekarang, aku bisa apa. Ketika tiba-tiba tangan berlakon dengan sendirinya membalik kalender dari bulan Februari menuju Maret. Miris, sayang. Hatiku tidak pernah sekuat itu. Aku bukan wanita tegar, aku tidak berbohong. Lantas bisakah kamu, kalender, teruslah membalik diri sampai tanggal ketika aku mampu menjajaki lagi hidup ini.
Aku masih ingat pertemuan itu, 18 Agustus tahun lalu. Kamu, sayang, dengan kemeja warna merah muda agak ungu, serta celana pensil nuansa kayu. Kamu duduk bersila di bawah pohon Baobab, hanya satu di Indonesia, ya di situ, di ranah kampus yang mewakilimu selalu.
Dengan muka bersemu yang tak pernah bisa ku artikan maksudnya, kita saling berjabat tangan, bertukar nama dan kiasan segala hal tentang sastra.
“Jadi, bagaimana? Masih mengagumi Paulo Coelho?” tanyaku padanya sembari memulai topik hangat untuk bisa kita jajaki bersama.
Kamu mengangguk cepat, “Tentu saja. Bagiku segalanya tentang dia itu senada dengan…”
“… Dewi Lestari,” jawab kita bersamaan.
Bibirku menyunggingkan senyumnya, lantas kamu hanya diam dengan aura wajah terkesima.
“Aku tidak tahu kamu adalah seorang fahdisme,” katamu ketika kita mulai membicarakan seorang penulis yang sama-sama kita kagumi, Fahd Djibran.
“Aku tidak tahu juga kalau kamu… adalah fahdisme nomer satu.”
Semuanya berlanjut, tanpa kita sadari mentari agung pada balik lautan menggelap. Sore menghadangku untuk menerka sekali lagi makna apa yang tersirat dalam wajahmu. Tapi kamu diam saja, seolah kita baik-baik saja untuk terus berteman dan mengagungkan sastra dalam cinta.
Tapi… tapi… tapi…
Tapi aku mencintaimu. Dalam lebih dan kurangmu.
Tapi aku benar-benar tertagih sekali lagi untuk menikmati pesona parasmu.
Tapi aku sangat ingin merangkul hatimu karena iman yang sama dan dunia baca yang senada.
Tapi aku, tidak tahu akan akan tanggal ketika cincin siap melingkar di jemari manismu begitu cepat.
Bahkan belum setahun.
Bahkan aku belum sempat membuatkanmu puisi tentang Pohon Baobab, yang katamu itu akan menjadi puisi terindah, yang pernah kamu dengar.
“Kapan kamu wisuda?” tanyaku suatu hari ketika dunia laba-laba ini jatuh pada teknologi.
“2015, ah iya aku belum memberitahumu.”
“Apa?”
“Aku akan cuti setahun dan menikah.”
Sudah. Masa balik itu hanyalah emosiku yang tak pernah usai. Dalam hati aku mengutuk masa dimana kalender diciptakan di dunia ini.
Aku mengutuk cinta.
Aku mengutuk asmara dalam dunia.
Aku mengutukmu.
Ah tidak, jangan. Itu terlalu jahat.
Kali ini aku terbangun kala pagi membawaku berjalan menuju tanggal satu, bulan Maret. Harimu, sayang. Itu harimu.
Bolehkan aku bahagia? Bisakah aku?
Jemari tanganku kian mengeras. Kuambil kalender meja yang kecil itu menuju jarak dekat pandanganku. Ada sebuah lingkaran yang terukhir indah berwarna merah merujuk padanya.
Tanggal satu Maret ya.
Harusnya tanggal itu, kamu menerbitkan novel perdanamu. Dan aku juga.
Memang hanya kalender. Mengingatkan tanpa mengiyakan apapun.
0 komentar:
Posting Komentar