Translate

cerpen kampung kerang

Written By iqbal_editing on Selasa, 13 Juni 2017 | 17.03

Pemukiman yang kumuh dan rumah yang berdempetan sudah biasa dijalani oleh warganya. Kampung itu terletak di pinggir laut. “Kampung Kerang” nama kampung itu. Banyak lelaki yang menjadi nelayan di Kampung Kerang itu, dan perempuannya menjual hasil laut ke pasar. Matahari sangat terik menyengat kulit Pak Madrun, nelayan paruh baya yang sedang memasang jaring ikan di laut dan menariknya pelan-pelan. “Lagi-lagi ikan menipis persediannya,” Keluhnya yang terlontar dari bibirnya melihat jaringnya hanya mendapatkan dua sampai lima ikan. “Sejak ada pembangunan itu, pemerintah tidak memperdulikan rakyat miskin di Kampung Kerang ini.” Lanjutnya sembari melihat sebuah gundukan pasir atau pulau baru yang ada di depannya. Ekspresinya berubah ketika ia menengok ke belakang. Kampung Kerang berubah menjadi ‘bukan kampung, tetapi hanya tinggal puing-puing bangunan’. Bukannya Kampung Kerang berubah menjadi lebih ‘layak’ tetapi menjadi ‘hancur’ .
Ia putuskan untuk kembali pulang ke rumahnya, tempat kelahirannya 31 tahun lalu. “Sabdi! bapak pulang nak” Pak Madrun memanggil anak laki-lakinya yang seharusnya tahun ini sudah duduk di kelas 3 SMA namun karena faktor ekonomi, Sabdi tidak melanjutkan pendidikannya. “Ini tehnya, Pak.” Sabdi menyodorkan segelas teh hangat ke Pak Madrun. “Sabdi, daripada kamu hanya diam di rumah saja, lebih baik kamu belajar supaya pinter, biar jadi presiden.” Sabdi terkejut mendengarkan apa kata Pak Madrun, ia duduk di samping Pak Madrun. “Pak! Sabdi hanya kepengen bantu bapak jadi nelayan. Kan uang kita gak cukup untuk biaya sekolah Sabdi. Lagian juga Sabdi senang bisa bantu bapak.”
“Sekarang lihat, pemerintah tidak mempedulikan kita lagi. Dimatanya hanya uang, gedung besar, dan rumah mewah. Tanpa dipikirkan nasib rakyat miskin seperti kita, Di.” Pak Madrun menghela nafas “Lihatlah kita dan rakyat Kampung Kerang, sebentar lagi kita akan digusur seperti rumah Pak Ruhin.” Pak Madrun menunjuk ke luar rumahnya yang tampak puing-puing bangunan yang tak kurang dari 5 meter dari rumahnya. “Sabdi ngerti pak. Tapi caranya gimana pak? orang kita hidupnya kaya gini.” Sabdi terlihat sedih, ia menundukkan kepalanya.
“Sabdi, kamu harus cari teman belajar yang mau mengajarimu. Carilah dan belajarlah dengan dia.” Diusapnya rambut Sabdi, anak semata wayangnya. “Baiklah pak, Sabdi usahakan. Demi Kampung Kerang, Demi Bangsa Indonesia!” Ucap Sabdi berteriak semangat, Pak Madrun tersenyum.
Keesokan harinya, Sabdi berjalan-jalan di kota. Ia melihat sekeliling. Orang berjas, gedung tinggi, mobil mewah, uang dan ponsel canggih dan mahal. “Ya Allah, sungguh bersyukur mereka.” Batin Sabdi menggelengkan kepalanya. Dia menemui laki-laki berseragam abu-abu tengah duduk di halte bis. “Seragam SMA!!” Teriak Sabdi tersenyum lebar dan berlari menuju laki-laki itu.
“Mas, tolong bantu saya mas.”
“Eh, saya gak punya receh.”
“Saya bukan pengemis. Saya pengen belajar.”
“Kan bisa sekolah?”
“Gak ada biaya mas, bapak saya nelayan di Kampung Kerang, ibu saya udah meninggal, saya anak satu-satunya. Tolong bantu saya, saya meski orang miskin saya pengen belajar.”
“Maaf ya.”
“Tolong mas, apa mas gak lihat di tipi? Kampung Kerang mau digusur mas. Saya pengen belajar supaya jadi presiden.”
“Haaahaha presiden? orang sepertimu jadi presiden? mimpi ah kamu”
“Tolong saya mas. Saya pengen bahagiain bapak saya.”
“Yakin?”
“Iya mas, tolong saya”
“Baiklah.. ayo ikut aku ke rumahku. Tapi naik bis ya?”
“Ya ya mas! gak apa-apa!, makasih ya mas! makasih!”
“Iya sama-sama.”
“Namanya siapa mas?”
“Sabdimas.”
“Namanya mau sama mas, saya Sabdi.”
Di perjalanan, Sabdi merasa lega sekali bisa bertemu dengan Sabdimas. Tak sangka ada orang yang akan membantunya belajar. “Ayo masuk Di!” Sabdimas mempersilahkan masuk Sabdi. “Rumahmu mewah ya? Tapi kok gak naik mobil mewah?” Sabdi bertanya “Lagian nyaman pakai bis.” Sabdimas tersenyum. “Oh ya, kamu mau belajar apa?” Sabdimas mengeluarkan beberapa buku dari dalam tasnya. “Semuanya hehe.” Cengir Sabdi. Akhirnya Sabdimas mengajari Sabdi selama 6 jam dengan istirahat.
“Aku beri kamu bukuku yang semester lalu ya. lalu kamu bisa belajar di rumah.” Sabdimas memberikan buku semester lalunya, buku tulis, pensil, penghapus, bolpoint, rautan dan tas masih layak untuk Sabdi. “Makasih ya mas.. Sabdi pamit dulu. Assalamualikum.” “Waalaikum salam. Hati-hati.”
Sabdi pulang ke Kampung Kerang dengan berlari semangatnya.
“Bapak! Sabdi pulang! Sabdi punya teman belajar pak! Sabdi dikasih buku!” Sabdi tersenyum lebar memperlihatkan buku yang diberi Sabdimas “Syukurlah, namanya siapa Di?” Pak Madrun membuka-buka buku yang dibawa Sabdi. “Sabdimas pak. Namanya mau mirip ya pak sama Sabdi?” Sabdi terkekeh pelan. “Iya, Di. Ya udah kamu harus belajar ya.”
Sabdi akhirnya belajar terus menerus sampai 6 tahun dengan perjuangan keras melawan pahitnya dunia. Dia pernah diejek, direndahkan dan dikucilkan. Sabdi dan Sabdimas akhirnya mencalonkan diri menjadi Presiden dan Wakil Presiden Indonesia.
Hingga suatu hari pengumuman presiden diumumkan.
“Baiklah, kali ini saya akan mengumumkan Presiden dan Wakil Presiden tahun ini. Dengan perolehan pemilu tertinggi adalah…”
Sabdimas dan Sabdi merasa deg deg an siapa yang akan terpilih selama 5 tahun kedepan kelak.
“Pasangan Ir. Sabdi dan Mohammad Sabdimas!!”
Sabdi dan Sabdimas sontak terloncat. Semua yang ada di ruangan itu bertepuk tangan meriah. Sabdi dan Sabdimas dilantik menjadi presiden dan wakil presiden tahun ini.
“Suyuti! Sabdi jadi presiden! Suyuti anakmu!” Pak Madrun terharu melihat anak nelayan yang akhirnya menjadi presiden di tv tetangga. Suyuti adalah nama Alm ibu Sabdi. Pak Madrun tidak menyangka, anak nelayan miskin dan mau tergusur, kini menjadi presiden. Berkat semangat belajar Sabdi, Sabdi bisa menjadi orang nomor satu di Indonesia.
Kini Presiden Ir. Sabdi dan Mohammad Sabdimas mengatur tata letak dan masalah yang ada di seluruh Indonesia, tak ada korupsi lagi. Akhirnya “Kampung Kerang” , kampung kelahirannya menjadi kampung yang lebih rapi dan bersih.
Tamat
Cerpen Karangan: Latania Rokhim

0 komentar:

Posting Komentar

 
berita unik