Mata
Cerpen Karangan: Dhea CLPKategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 12 September 2015 Lelaki itu menoleh ke kiri ke kanan. Mencari sosok yang sudah tidak sabar ingin ia temui. Tapi harapannya seketika pupus karena saat itu hujan turun sangat lebat, seakan dengan sengaja memudarkan harapan-harapan yang telah ia catat rapi di hatinya. Dengan segera lelaki itu mengahantam derasnya hujan tanpa sebuah payung, dan hanya dengan sebuah kemeja tipis dan tas kerja kulit yang ia harap bisa melindungi apa saja yang ada di dalamnya. Dalam derasnya hujan dan gelapnya malam, nanar ia melihat sebuah halte tidak jauh dari taman kota yang baru saja ia tinggalkan. Dengan yakin ia hendak berteduh di situ. Ia duduk meringkuk di sudut kursi dan menyandar berusaha mencari kehangatan yang sia belaka. Tanpa ia sadari, saat itu ada seseorang bersamanya di sana. Seorang gadis.
Meski hujan sangat deras dan bunyi rintikan-rintikan air itu menghantam atap halte hingga menimbulkan suara yang memekakkan telinga, namun masih jelas di sela bunyian itu terdengar suatu bunyian yang berbeda. Lelaki itu sedikit merinding memeluk lututnya dan membenamkan kepalanya di antara lutut menggigill itu. Bunyian yang terdengar seperti rintihan, isakan, sesuatu yang pilu itu semakin jelas tertangkap oleh telinganya. Dengan setengah enggan dan menggigil ketakutan juga kedinginan ia memberanikan diri memeriksa sekitarnya. Luar biasa terkejut lelaki itu ketika mengetahui ada seorang gadis yang sama basah kuyup seperti dirinya, tengah menunduk sambil menangis terisak.
Masih setengah percaya bahwa itu benar-benar seorang gadis, bukan makhluk gaib, ia coba memanggil.
“Hei… kenapa menangis?” tanyanya gemetar.
Gadis itu masih asyik dengan isakannya. Kemunginan suara hujan mengalahkan suara gemetarnya. Ia mendekati gadis itu dengan berani.
“a..a..ku ta..kut. Ibu belum jemput. Aku sudah tunggu 2 jam.” Jawab gadis itu gemetar.
“oh… aku Fahzi. Jangan takut. Mungkin Ibu kamu lagi berteduh juga. Hujannya lebat. Malam begini sudah tak ada angkot. Nanti aku antar kalau sudah agak teduh.” Fahzi, sedikit canggung mencoba mencairkan suasana. Terlebih ia melihat gadis itu tidak kalah menggigilnya.
“Ibu tidak akan datang. Tidak akan…” Gadis itu menggeleng histeris melotot ke arah Fahzi. Bukannya takut, Fahzi menatap mata cemas itu.
“Matamu terlalu indah untuk dinodai dengan air mata.” Dengan berani Fahzi mengusap lembut air mata yang bercucuran itu. “Kalau Ibumu tidak datang menjemput, aku yang akan mengantarmu.”
“Tidak malam ini. Sudah terlalu malam. Aku harus pulang.” Gadis itu berlari menembus gelapnya malam. Saat itu juga, hujan berganti gerimis.
Fahzi juga meninggalkan halte itu dengan rasa penasaran yang luar biasa besarnya. Gadis itu seperti telah menyihirnya ketika mata mereka bertemu. Mata yang indah. Berkali-kali sudah hati Fahzi menyerukannya. Akhirnya ia juga memutuskan untuk pulang. Tubuhnya sudah terlalu beku untuk menghadapi dinginnya malam.
—
Pukul 17.00. Fahzi duduk tenang di bangku taman kota. Dengan sabar dirinya menanti sebuah harapan yang sempat tertunda karena derasnya hujan kemarin. Sesekali ia melepas pandangan ke sekitar, menikmati suasana taman yang dipenuhi oleh muda-mudi kasmaran. Kelelahan duduk sejam menunggu, ia berjalan mengikuti trotoar di tepi taman. Seketika berkelebat bayangan gadis tadi malam di pikirannya. Mata gadis itu. Ah… sampai-sampai membuat ia susah tidur memikirkannya.
Iseng, Fahzi berjalan menuju halte. Hari sudah hampir gelap. Taman kota berangsur sunyi. Jalan pun hanya dipenuhi oleh mobil pribadi. Angkutan umum hanya satu dua yang lewat. Gadis itu! ternyata ia duduk sendirian di sana. Kali ini dia lebih rapi tentunya. Dan membuat Fahzi panas dingin.
“Hai! Kenapa kamu di sini?” Fahzi duduk di sampingnya. Kali ini ada senyum di bibir gadis itu. Rambutnya yang sebahu menari indah tertiup angin senja. “nunggu Ibumu lagi?”
“Bukan. Nunggu kamu.” Jawab gadis itu santai. Fahzi jadi gelagapan salah tingkah.
“Aku? Kenapa?” tanya Fahzi yang mulai gugup.
“Demi menegakkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.” Celoteh gadis itu ngawur. “Haha.”
Tiba-tiba dia tertawa lepas melihat muka tolol Fahzi.
“Aku cuma merasa punya utang sama kamu. Tadi malam kamu sudah punya niat baik, sudah mengenalkan diri kamu, tapi aku pergi begitu saja tanpa menyebut nama panggilanku.” Jelas gadis itu dengan riang. Berbeda dengan tadi malam yang penuh air mata, kepiluan.
“Oh. Tidak apa-apa. Aku tahu kamu sedang takut kemarin. Malam itu juga terlalu dingin untuk menjadi suasana kita berkenalan. Aku juga sudah sangat senang bertemu kamu lagi di sini. Nama aku…” Fahzi mengulurkan tangannya.
“Fahzi. Aku Rahma.” Rahma mengingat nama yang terucap dari mulut empunya tadi malam.
Fahzi merasa senang. Lebih lagi Rahma menatap lekat ke dalam matanya. Dalam waktu yang cukup lama tangan mereka berjabat, dan Fahzi bisa memuaskan keinginannya menatap mata indah itu.
“Kenapa kamu suka duduk di halte?”
“Memangnya sudah berapa kali kamu lihat aku duduk di sini sampai-sampai menyimpulkan bahwa aku suka duduk di halte?” Rahma bertanya balik hingga membuat muka Fahzi merah padam, malu.
“Memang baru dua kali. Tapi ini dua hari berturut-turut.” Fahzi berusaha memberi alasan.
“Bagaimana dengan kamu sendiri, Fahzi? Aku juga sudah dua kali melihat kamu di sini.” Fahzi menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
“Kemarin itu, kamu sendiri tahu kalau aku sedang berteduh. Kalau sekarang, aku seperti sengaja disapu angin menuju ke sini.” Terang Fahzi sedikit berlebihan. Rahma tersenyum manis dan lagi-lagi mata mereka bertemu lebih lama. Fahzi terdiam tanpa ekspresi, tersihir pesona indah mata itu.
“Ah, aku rasa ini takdir kamu. Bagaimanapun kamu pasti akan bertemu hal yang sangat ingin kamu temui.” Rahma bicara tanpa gugup meski Fahzi masih menatap matanya.
“Kenapa takdir aku? Bukan takdir kita?” Fahzi bertanya. Gadis itu hanya tersenyum.
“Ya… takdir kamu bertemu aku. Akhirnya juga merupakan takdir buat aku. Tuhan adil, ya?” Rahma memalingkan wajahnya dan menatap jalan yang masih dilalui beberapa kendaraan.
“Kamu bicara apa Rahma? Dari tadi ucapan kamu buat aku bingung.”
“Bukan maksud aku buat kamu bingung. Aku cuma bicara saja.” Tiba-tiba suara Rahma menjadi dingin. Dan angin sepoi menyapu rambut yang menutupi sebagian wajahnya. Fahzi terkesima melihat itu.
“Kamu kenapa di sini?” Fahzi sengaja mengganti topik pembicaraan mereka yang dirasa sudah tidak searah lagi.
“Masih menunggu Ibu. Ibu janji menjemput aku.” Rahma semakin menjadi dingin. Tidak ada lagi senyuman di wajahnya.
“Ibu kamu pergi? Kamu ada alamatnya? Aku bisa bantu kamu…” Fahzi bersungguh-sungguh ingin membantu gadis cantik itu. Rahma menatap Fahzi dingin.
“Fahzi, kenapa kamu tidak selesaikan dulu masalah kamu?” Rahma bertanya seperti menyuruh. Fahzi sedikit terkejut.
“Apa?”
“Aku tahu kamu ke sini bukan hanya untuk bertemu aku. Selesaikan saja dulu masalahmu. Setelah itu kita bicara lagi.” Rahma berdiri dari duduknya berjalan meninggalkan Fahzi.
“Kamu ke mana?” Fahzi berdiri ingin mengejar Rahma.
“Pergi saja. Aku tetap di sini sampai Ibu menjemput aku.” Akhrinya Fahzi memutuskan untuk kembali ke taman kota.
Alasan yang membuat Fahzi kembali ke taman sore itu telah menunjukkan batang hidungnya. Di sebuah bangku, seorang lelaki penentu keberuntungannya telah duduk di situ menanti kedatangan seseorang, dirinya. Fahzi berlari seolah ingin menembus waktu, tidak ingin ada halangan lagi yang datang hingga mengancurkan harapannya.
“Terima kasih kamu sudah datang. Maaf saya terlambat. Saya keliling sebentar.” Fahzi duduk di samping lelaki yang kira-kira 10 tahun lebih tua dari dirinya itu.
“Tidak masalah. Em, saya yang harusnya minta maaf. Karena keterlambatan saya, juga karena suatu masalah.” Lelaki itu memasang muka menyesal menatap Fauzi.
“Kenapa? Apa harganya kamu tambah? Secepatnya akan saya usahakan. Ini sudah saya bawa 50 persennya.” Fauzi menyerahkan tas kulitnya ke pangkuan lelaki itu. Tetapi lelaki itu menggeleng dan mengembalikannya pada Fauzi.
“Keadaan Kakak saya membaik. Suaminya membawa dia ke pengobatan alternatif. Jangankan masa kritis, kankernya pun sedang berangsur dihilangkan. Maaf atas semua ini. Ini di luar perkiraan kami semua. Saya ingin membantu anda, tapi tidak mungkin saya…”
“Saya mengerti. Saya juga ingin yang terbaik untuk Adik saya. Ini bukan salah kamu. Ternyata Tuhan lebih sayang Kakak kamu daripada Adik saya. Terimakasih.” Fauzi pergi meninggalkan lelaki itu dengan kekecewaan yang besar. Setelah satu minggu ia tunggang langgang ke sana kemari mencari duit untuk menebus apa yang sangat dibutuhkannya untuk Adiknya.
Entah bagaimana akhirnya Fauzi tiba di halte kembali. Hari sudah mulai gelap menelan cahaya matahari beserta harapan-harapan besarnya yang hampir ia genggam di tangan. Angin malam menyapu dedaunan di jalan yang mulai sunyi. Fauzi tidak sadar ada seorang gadis yang mendekat dan duduk di sampingnya, hingga gadis itu menggenggam tangannya seolah ingin mentransfer kekuatan.
“Aku tidak sedih. Aku sudah putus asa.” Fauzi menatap Rahma hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja. Mata indah itu seakan mengobrak-abrik perasaan Fauzi saat ini. Ia terpaku melihat mata berkilauan itu.
“Kamu harus percaya aku, Fauzi. Ini takdir kamu. Kamu akan lihat bagaimana indahnya Tuhan merencanakan semua ini.” Tiba-tiba Rahma menggenggam tangannya erat. Dan kedua mata berkilauan itu masih terbuka dan mereka masih saling bertatapan.
“Ibu aku sudah datang. Aku pergi, Fauzi. Kamu tidak akan kehilangan hal yang kamu inginkan itu Fauzi… aku hadiahkan untuk kamu…”
Rahma berdiri dan berjalan mendekati jalan di depan halte. Fauzi masih terdiam di posisinya, berusaha menetralkan kembali perasaannya yang masih tidak karuan. Hingga terdengar suara benturan keras serta bunyi rem mendadak sebuah mobil itu. Sangat jelas di telinganya. Saat ia mengalihkan pandangan ke arah suara itu berasal, tubuhnya seketika kaku. Titik-titik air itu mengalir begitu saja tanpa hambatan dari matanya. Kakinya yang berat dilangkahkan itu ia paksakan mendekati tubuh sosok seorang gadis, yang baru saja memberi fantasi di hatinya. Seluruh tubuh itu berlumuran darah. Mata itu masih terbuka, seperti memperlihatkan kebebasan, kelegaan, tidak ada kesakitan. Fauzi mendekap tubuh Rahma di pelukannya. Dia yakini ini sama sekali bukan rencana indah dari Tuhan.
Di depan pintu ruangan ICU Fauzi berdiri resah. Kemejanya yang sudah kusut dan kotor oleh darah masih setia membalut tubuhnya yang gemetaran. Ini untuk kedua kalinya ia berdiri di sini. Menanti sebuah kabar tentang mati hidupnya seseorang.
—
Dua minggu yang lalu, Adik perempuannya mengalami kecelakaan yang mengenaskan. Motor yang Adiknya kendarai terjebak tabrakan beruntun yang juga terjadi di depan halte bus itu. Adiknya ditabrak taksi hingga kepalanya membentur keras kaca belakang mobil sedan yang ada di depannya, hingga kaca itu pecah berkeping-keping. Kondisi otak serta organ vital Adiknya sama sekali tidak ada masalah. Tapi tidak dengan matanya. Kaca-kaca itu menyebabkan kornea mata Adiknya rusak dan harus mencari pendonor kornea jika ingin melihat lagi. Tapi harapan Fauzi pupus saat tahu pendonor yang awalnya sekarat dan sudah tidak ada harapan lagi itu berangsur sembuh. Adiknya masih terbaring di salah satu kamar di rumah sakit yang sama. Menanti pendonor mata yang dijanjikan Kakaknya.
Dokter ke luar dari ruang ICU dengan tampang kusut. Kepalanya menggeleng saat bertemu dengan muka Fauzi yang penuh harap dan kekhawatiran. Dokter menepuk pelan pundak Fauzi memberi ketabahan.
“Kamu sudah berusaha, Zi.” Saat dokter hendak kembali ke ruag ICU, ia kembali memanggil Fauzi.
“Fauzi… dia ingin matanya untuk kamu.” Kemudian dokter berlalu meninggalkan Fauzi yang penuh rasa sakit dan sedikit bingung.
Bagaimana mungkin Rahma bilang ini takdir Tuhan? Bagaimana bisa ia tahu apa yang aku inginkan? Rahma, inikah rencana Tuhan yang kau bilang indah itu?
Beberapa saat kemudian…
“Fauzi,” Dokter yang menangani mata Adiknya mendatangi ia yang sedang duduk di koridor rumah sakit.
“Kornea mata Rahma cocok untuk Zahra. Kami sudah berusaha menghubungi keluarga Rahma. Tapi, satu-satunya keluarga yang ia punya hanya Ibunya yang meninggal dalam kecelakaan beruntun 2 minggu lalu. Kamu ingin mengoperasi mata Zahra?”
“Kamu tidak akan kehilangan hal yang kamu inginkan itu Fauzi… aku hadiahkan untuk kamu” Fauzi teringat perkataan terakhir Rahma di telinganya. Ia hanya mengangguk, ia setuju dengan rencana Tuhan.
—
“Kak Fauzi Zahra sudah bisa melihat lagi!” teriakan senang Adiknya itu segera menyadarkan Fauzi dari tidur lelapnya. Ia lihat dokter dan suster sudah meninggalkan kamar Adiknya. Fauzi berjalan mendekati tempat tidur Adiknya.
“Syukurlah… sekarang kamu sudah bisa melihat dunia lagi, Zah…” tepat saat memandang mata Zahra, sejuta perasaan kembali berkelebat di hati Fauzi.
Bayang-bayang malam saat ia bersama Rahma, saat ia bersama Rahma di detik teakhir napasnya. Muka Fauzi berubah pucat.
“Kak Fauzi kenapa? Kakak sakit?” Zahra berusaha mendekati Kakaknya. Tapi Fauzi malah semakin menjauh. Melihat mata itu menciptakan kengerian tersendiri di perasaannya.
“Ini… ini bukan takdir Tuhan, Rahma! Aku tidak mau lagi mata itu!!!” tiba-tiba Fauzi meledak, membentak Adiknya yang keheranan dan ketakutan. Wajah Zahra langsung berubah menjadi sosok Rahma yang memukau dengan matanya yang indah. “Jangan begini caranya, Rahma”
“Kamu tidak akan kehilangan hal yang kamu inginkan itu Fauzi… aku hadiahkan untuk kamu…” kembali terngiang kata-kata Rahma itu. Mata Rahmalah, yang menjadi hasrat dalam diri Fauzi sejak awal ia melihat mata itu. Bagaimanapun mata itu tetap ingin menjadi hasrat di dalam diri Fauzi. Ia tidak akan meninggalkan Fauzi. tidak akan.
“Kakak, kakak kenapa? Jangan kak! Zahra mohon!!!” Zahra berteriak dan menangis histeris saat melihat Fauzi memegang pisau buah yang ada di atas meja.
“Kalau kamu ingin terus aku lihat, Rahma, aku buat hal itu tidak akan pernah terjadi!” dalam waktu sekejap, Fauzi menusuk kedua matanya dengan pisau itu. Ia terbaring di lantai dengan mata berlumuran darah.
Saat Rahma mengatakan mata itu akan Fauzi dapatkan, mata yang selama dua hari menjadi hasrat terbesar dalam dirinya, mata yang berhasil mempermainkan perasaan hatinya, Fauzi sendiri yang memutuskan untuk berhenti menatap mata itu. Mata itu tidak akan berhenti menatapnya. Mata itulah yang ingin menatap Fauzi, tidak peduli walau Fauzi tidak bisa menatapnya kembali.
Tamat
Cerpen Karangan: Dhea CLP
0 komentar:
Posting Komentar