Jam pelajaran pertama telah dimulai. Pintu yang tertutup rapat itu kemudian dibuka dari luar, masuklah wali kelasku diikuti seorang anak lelaki bermata agak cokelat (wow, aku teliti sekali). “Perkenalkan saya Arisma Hendrawan, biasa dipanggil Hendra. Saya pindahan dari Jawa.” begitu kata si murid baru itu. Walikelasku kemudian mempersilakan teman yang lain untuk bertanya mengenai Hendra. Banyak yang bertanya. Terkadang pula terdengar kocak, Hendra pun menjawabnya dengan bahasa santai yang juga kocak. Walikelasku kemudian memintanya untuk duduk di belakangku karena bangku itu masih kosong, takut ada penunggunya.
Pelajaran pun dilanjutkan seperti biasa. Kemudian guruku itu meminta untuk membentuk kelompok yang terdiri dari 4 orang. Seperti biasa, kami sekelas mencari teman yang dekat dari tempat duduk. Dan akhirnya kelompokku terdiri dari aku, Eka, Agung, dan Hendra. Kami pun mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Sesekali aku melirik mata milik Hendra itu. Seperti pernah mengenal mata itu. Hendra kemudian menatapku, aku kaget kemudian memalingkan wajahku ini ke hadapan Eka. Sepulang sekolah, hujan turun lagi. Kali ini cukup deras. Tapi aku tak memikirkan hujan. Sebaliknya aku malah memikirkan mata milik Hendra. Seperti milik… DAAARR, sebuah teriakan mengagetkanku.
“Puas dah tuh?” kataku.
“Iyalah, betewe kamu kok masih di sini, gak pulang nih?” tanyanya.
“Ya pulanglah. Lagian kan masih hujan.” jawabku.
“Yaelah, sama hujan aja takut.” katanya.
“Bukannya takut, tapi kan…”
“Aku pulang duluan yaa.” potongnya sambil berlari menembus kerumunan air hujan.
Dan seketika aku mengingatnya. Hendra mirip seperti Andra, teman semasa kecilku dulu. Terakhir kali kami bertemu, kami baru kelas lima SD. Saat itu ia pindah rumah ke Malang, karena ayahnya dipindah tugaskan. Sebelum pindah rumah, aku dan Andra sering sekali bermain bersama, bahkan hujan-hujanan hingga telinga kami dijewer oleh ibu masing-masing. Kenangan yang tidak bisa dilupakan. Perlahan hujan telah mulai reda, aku segera pulang ke rumah dan menceritakan tentang teman baruku itu. Setibanya di rumah, ku masuki ruang kecil milikku untuk mengganti seragam sekolahku dengan pakaian rumah yang lebih santai. Seusai itu, itu aku mencari ibuku yang ternyata sedang memasak di dapur.
“Ibu…” kataku dengan manja, maklumlah aku kan anak bungsu.
“Kenapa sayang?” jawab ibuku dengan lembut.
“Ibu inget gak sama Andra?” tanyaku.
“Andra siapa?” tanya balik ibuku sambil memotong sayuran.
“Itu loh Bu, anaknya Pak Ngurah sama Bu Dewi, tetangga kita dulu.” perjelasku.
“Oh anak yang nakal itu, yang metik rambutan dulu baru minta izin?” tanya Ibuku.
“Ih Ibu, sampai yang kayak gitu diingat.” cetusku.
“Bener kan? Emang dia kenapa?” tanya Ibuku.
“Iya sih bener. Aku cuma lagi kepikiran aja. Habisnya ada murid baru di kelasku, mirip banget sama dia tahu Bu.” kataku. “Oh iya, kira-kira kabarnya Andra gimana ya?” lanjutku. Ibuku sontak terdiam. Lantas Ibuku membalikkan badan dengan sayur dan pisau yang masih digenggam.
“Emang kamu gak tahu ya?” tanya Ibuku.
“Tahu apa Bu?” tanyaku yang memang tidak tahu apa-apa.
Ibuku mendekatiku, dan berkata, “An….”
“Bu itu pisau sama sayurnya ditaruh dulu. Serem Bu.” potongku. Dengan wajah kecewa, ibuku meletakkan sayur dan pisaunya di atas talenan. Kemudian kembali mendekatiku. “Andra itu sebenarnya udah meninggal setahun yang lalu, dan minggu depan bakal di-aben-in.” kata ibuku.
“Hah setahun yang lalu?! Kok aku gak tahu sih Bu?” tanyaku.
“Waktu itu kamu kan lagi kemah sama temen-temen kamu. Ibu juga lupa ngasih tahunya. Maafin Ibu ya.” jelas Ibuku.
“iya deh Bu. Aku mau ke kamar dulu.” jawabku sambil menuju ke istana kecilku.
Di dalam sana aku tak habis pikir. Aku mencoba untuk melupakan tentang Andra dengan membaca buku, mendengarkan musik, bahkan bermain game cat mario. Itu pun belum bisa membuatku menjauhkan pikiran tentang Andra. Sampai saat sore tiba, Ibuku memintaku untuk mengantarnya ke rumah Pak Ngurah, keluarga Andra yang ada di ujung desa. Segeralah aku mandi dan mengenakan pakaian adat madya. Kemudian ku starter motor di halaman rumah. Kemudian Ibuku ke luar sambil membawa sokasi berisi beras, kain, dan dupa yang akan diberikan kepada keluarga yang berduka, Keluarga Pak Ngurah. Ku bonceng ibuku dengan mengendarai motor matic ini menuju ke rumah pak Ngurah. Sesampai di sana, ku parkir motor di sebelah selatan gerbang rumah Pak Ngurah. Aku masuk dengan mengikuti langkah ibuku. Di sana tanpa sengaja ku lihat seorang anak lelaki yang sudah tak asing lagi.
“Oiya itu Hendra, sedang apa dia di sini?” pikirku. Aku lantas melangkah menuju ke arah Hendra. Namun langkahku terhenti oleh genggaman tangan seorang wanita.
“Kamu mau ke mana?” tanya Ibuku.
“Mau ketemu temen, Bu di sana. Bentar aja.” kataku.
“Jangan lama ya.” jawab Ibuku sambil melepas genggaman tangannya. Aku kemudian melanjutkan langkahku ke arah Hendra.
“Hendra!!” begitu panggilku.
“Eh Ayu, kamu ngapain di sini?” tanyanya.
“Hei, harusnya aku yang nanya kayak gitu.” cetusku.
“Oh iya ya.” jawabnya.
“Jadi kamu ngapain di sini?” tanyaku.
“Oh aku ke sini buat ikut bantuin keluarganya Pak Ngurah sebagai rasa terima kasihku.” jawabnya.
“Rasa terima kasih?” cetusku bingung.
“Iya. Jadi sebenarnya kornea mataku itu rusak dan itu bikin aku gak bisa lihat. Anak Pak Ngurah itu yang mendonorkan matanya buat aku sebelum dia meninggal. Aku bersyukur banget.” jawabnya.
“Maksudmu Andra?” tanyaku ragu. Hendra mengangguk dengan yakin.
Saat itu aku sadar. Pantas saja mata itu tak asing lagi untukku. Mata yang sama yang menemaniku bermain hujan. Mata yang sama yang menjadi saksi jeweran ibu yang mendarat di telingaku. Meskipun pemilik asli mata itu telah tiada. Tapi mata itu akan mengingatkanku padamu, Andra.
Cerpen Karangan: Ayu Gita
0 komentar:
Posting Komentar