Translate

cerpen kurela meskipun terluka

Written By iqbal_editing on Rabu, 07 Juni 2017 | 06.06

 
KURELA MESKIPUNKU TERLUKA
BY : GALUH AYU VARINDA
“Hari itu, ku tengok mereka berdua di taman.Sengaja aku bersembunyi di balik pohon yang setidaknya menutupi seluruh bagian tubuhku, supaya mereka tak mengetahui keberadaanku.  Melihat mereka berdua saling tesenyum bahagia ketika  saling bertatapan, membuat air mataku tak bisa menahan tetesan demi tetesan yang berlinang di kedua pipiku. Air mata apakah ini?Bahagia kah?Atau rasa itu? Tuhan, sungguh ku tak tau rasa apa yang membuatku amat tertekan dalam dada ini..”
**
Namaku Rin Errika Fiany. Aku adalah anak pertama dari 2 bersaudara. Semenjak Bundaku tiada setelah kelahiran Kira, kini kami berdua tinggal di rumah yang ukurannya cukup mewah, hasil jeri payah ayahku sebagai menager restoran yang cukup terkenal di kota. Dimulai dari bangunku yang kesiangan, kini ku mulai hari pertama sekolah di SMAN Cendana Bogor...
            “1,2,3.. turun! 1,2,3.. turun! Sekarang kalian jalan jongkok menelilingi lapangan sambil bernyanyi bintang monyet!”, kata salah seorang kakak OSIS yang mendampingi gugusku saat hari pertama. Aku sudah mengira akan terlambat, dan ternyata hukuman push up dan jalan jongkok pun ku jalani juga bersama teman-teman yang sama terlambatnya denganku. Termasuk Rezza, sahabat sejak kecilku. Dia berbeda gugus denganku, tapi siapa saja yang terlambat atau tidak taat aturan ataupun perlengkapannya tidak lengkap,akan berada pada tempat yang sama denganku kini. Dia melihatku saat aku melihatnya.
            “lo telat juga?”, kataku sambil memberi isyarat tanpa suara. Karena dia bersebrangan denganku. Dia mengangguk tanda dia pun juga sama telatnya denganku. Aku tertawa kecil sambil tetap jalan jongkok.Dia terlihat mencari batu krikil yang tampaknya hendak di lemparkan padaku.Dan ternyata benar, akupun membalasnya dengan krikil yang lebih besar dari miliknya.Ketika kakak osis tak memperhatikanku, aku melemparnya dengan kekuatan penuh.Tapi, Rezza berhasil menghindar.Aku kesal karena lemparanku tak mengenainya.Tapii..? Oh. No… Batu itu mengenai seorang laki-laki yang sedang duduk tepat di belakang Rezza, cukup tampan bila di bandingkan dengan teman sekawannya.Dan wajahnya, seperti tak asing lagi buatku, tapi siapa peduli, aku melemparnya barusan.Dia berbalik badan sambil memegangi kepala bagian belakangnya.Setelah aku tahu, ternyata dia kakak osis bernomor dada 01, itu artinya dia adalah ketua umum osis. Osis di sini sengaja menutup nama yang ada di baju mereka dengan kertas yang bertuliskan nomor sesuai tingkatannya. Errika, kau dalam masalah besar! Ucapku dalam hati.Aku segera perpaling dan bersikap seperti tidak ada apa-apa.Laki-laki itu berjalan menuju tengah lapangan.Dan menghentikan hukuman jalan jongkok saat itu.
            “siapa pelempar batu ini? Jawab jujur!”, katanya sambil menatap setiap anak yang ada di sekelilingnya. “siapa? Kalau tidak ada yang mau mengaku.Semua akan saya tambah hukumannya”, ucapnya dengan santai.Mau tidak mau aku harus mengaku, kalau tidak semua akan terkena imbasnya. Dengan rasa ragu-ragu di campur takut aku menundukkan wajah dengan mata terpejam, aku angkat tangan dengan perlahan.
            “Nah, akhirnya mau mengaku juga kamu”, kata kakak bernomor 01 itu.Aku masih menundukkan wajah dan juga masih dengan mata terpejam.Dengan terbatah-batah aku beranikan diri berbicara.
            “ma..maa..maaf kak, sa.. sa.. saya.. . .“, belum selesai berbicara, “kenapa kamu? Mau izin ke kamar kecil?Silahkan saja, ngga perlu takut seperti itu, uda lugu di tambah tampang aneh begitu”, katanya sambil sedikut tertawa.Membuat semua mata tepaku padaku dan tertawa.Apa yang sebenarnya terjadi sih? Tanyaku heran.Aku membuka mata dan melihat kearah kakak 01 itu berada.Di sampingnya berdiri seorang laki-laki yang wajahnya terhalang oleh kakak 01.Aku mencoba menengok siapa sosok itu, ternyata dia Rezza. Sedang apa dia berdiri di sana?
            “oke, kembali ke topik kita. Kamu mau saya hukum apa? Oh, sebentar. Sebelumnya saya mau tanya, kenapa kamu melempar saya dengan batu ini?”,kata kakak 01. Apa? Rezza yang melempar? Seharusnya kan aku. Kenapa dia yang mengaku, Rezza apa-apaan sih.Gerutuku dalam hati dengan wajah tetap terheran-heran.
**
            “tugas kali ini adalah mencari 5 tanda tangan kakak osis. Jika kalian tidak mendapatkannya, maka akan di beri hadiah. Yaitu hukuman.Kalian kembali dalam waktu 30 menit.Sekarang kalian boleh keluar”, kata kakak 07 mempersilahkan keluar kelas.Kebetulan tugas ini untuk seluruh gugus pada saat yang bersamaan.Di maksudkan agar semakin sulit mencarinya dalam waktu 30 menit itu.Aku dan Rezza mencari bersama-sama.Ketika tanda tangan kelima, aku ingin tanda tangan itu milik kakak 01. Tapi dari tadi aku tidak melihatnya sama sekali. Aku memutuskan untuk mencarinya sendiri.
            “za, untuk tanda tangan terakhir ini, gue mau cari sendiri aja deh. Mau cari di sekitar kelas gugus gue aja.Biar cepet baliknya. Gimana?”, tanyaku pada Rezza.“Emm..oke lah. Gue juga mau cari yang deket kelas aja. Kita ketemu di depan gerbang sepulang sekolah ya?”, Tanya Rezza sembari meninggalkanku. Aku hanya memberi isyarat mengangguk saja.“ok.. oh ya za, thanks yah buat yang tadi?”, “haha.. biasa aja kali ka. Bye..” sapanya sambil beranjak pergi. “bye..” jawabku pelan..
            Aku bingung harus mulai dari mana.  Kaki rasanya udah capek. Aku pikir, aku mau istirahat dulu aja ke taman. Mumpung kelas gugusku berada cukup dekat dengan taman sekolah. Segera aku melangkahkan kaki kesana.Kebetulan, ternyara di taman sepi, jadi bisa istirahat dengan tenang. Aku pun duduk di dekat air mancur yang berada di tengah taman. Tak jauh dari tempatku duduk, ada pohon yang ukurannya cukup besar yang membuat sinar matahari terhalang karenanya.Aku memeriksa pekerjaanku sambil mendengarkan MP3 kesayanganku, karena waktu yang tersisa masih 15 menit. Tiba-tiba dari belakang pohon besar itu, muncul  sebuah kepala yang menengok kearahku, sembari berkata.“lo ngapain??”.
            “AAAAA…!!”,seketika itu aku berteriak dan melempar pekerjaanku, termasuk MP3 kesayanganku karena kejadian itu. “si..siapa lo?”,tanyaku.Kemudian dia berpaling lalu berdiri dan berjalan menghampiriku.Dengan wajah separuh takut, aku beranikan diri membuka mata.Dan dia berada tepat di depanku.Aku pun mencoba mengingat wajah itu.“Fian”, katanya dengan lembut.Dan, panggilan itu?Panggilan itu takkan pernah terucap kecuali dari kawan kecilku yang berada di Paris. Dan aku yakin,pasti ini hanyalah ilustrasi ku saja. Karena dia takkan mungkin berada di sini.
            ga..gamungkin. Da..darimana kamu tau namaku, dan panggilan itu?”, tanyaku terheran-heran. Tiba-tiba terdenger suara dari arah belakangku.Entah siapa sosok yang ada di belakangku itu.
            “tak ada yang tak mungkin Errika, dia adalah sosok yang lo rindukan selama ini”, katanya. Dari suaranya, yang tak lain adalah Rezza.
            “Rezza, maksud lo apa? Eh, lo apa-apaan sih? apa yang sebenernya terjadi? Gue ngga ngerti sama sekali”, Tanyaku pada Rezza yang berjalan menghampiriku sambil mengambil pekerjaanku yang tadi ku jatuhkan.Begitu juga kakak 01 yang mengambilkan MP3 milikku dan memberikannya padaku.
            “jangan di buang MP3 dariku ini.. nih", kata kakak 01 sambil memberikannya padaku.
            “tapi.. ini kan dari.. Dari?....”, kataku sambil mengingat-ingat. Lalu,
“…..Astaga.Michell? Lo Michell? Temen masa kecil gue waktu di Paris?”, kataku yang berhasil mengingat dengan senyuman yang bercampur antara senang, kaget, dan rasa tidak percaya.
“lo pikir gue ngga menepati janji gue buat nemuin lo ke Indonesia?”, kata Michell. Sosok yang selama hampir 8 tahun ku nanti-nanti.Sosok pria satu-satunya yang berhasil membuatku memahami dan mengerti arti dari sebuah cinta.Namun, karena terpisah jarak dan waktu, rasanya sia-sia saja bila seorang Michell bisa mencintaiku.Sungguh, aku belum bisa berpaling dari cinta pertamaku ini.Air mataku pun jatuh tak tertahan lagi.Rasa rindu dan bahagia ketika ku dapat menatap matanya membuatku merasa hidup untuk kedua kalinya.
“Fian, aku takkan pernah datang kemari kalau aku tak memiliki satu kalimat yang ingin aku sampaikan.Kalau aku, aku cinta sama kamu”, katanya dengan wajah serius, duarius malah.Kini, berakhir sudah penantian yang panjang ini.Saat melepas rindu, aku baru sadar.Bahwa Rezza tak ada lagi di belakangku. Di taman itu, hanya ada aku dan Michell. Aku mencoba mencarinya di sekitar taman tapi aku tak menemukannya.
**
            Sweet seventeen.Hari ini aku berulangtahun yang ke 17 tentunya.Walau tanpa Michell lagi di sisiku, tapi ku harap acara ini berjalan lancar.Kami sengaja memutuskan hubungan kami karena paksaan dari orangtua Michell yang ingin menjodohkannya dengan gadis Paris yang lebih baik dariku.Ketika pemotongan kue, pemberian selamat, dan party, belum juga ku lihat batang hidung si Rezza.Ku coba hubungi dia tapi tetap tak ada jawaban.Saat ku beranjak keluar rumah, Nina, kawan sebangkuku menghampiriku dan menodongkan sebuah bungkusan kado kecil dengan pita kertas pink cantik di salah satu sisinya. “ini titipan dari Rezza”, kata Nina. “thankz ya.. terus, Rezzanya kemana?”, kataku menerima kado itu.“gue ngga tau, dia nitipin ini sambil buru-buru pergi. Gue juga ngga sempet nanya. Gue kesana dulu ya?”, jelasnya.“oh, ya. oke-oke..”,kataku sambil terus berjalan keluar.
**
            “emm… malam tiba. Membuka kado pun tiba.enaknya mulai dari mana ya?”, pikirku sambil menatap satu persatu tumpukan kado yang berserakan di atas tempat tidurku. Tatapanku berhenti pada bungkusan kado yang di berikan Nina tadi pagi.Aku mengambilnya.
            “apa kado dari Rezza ya?, ini dulu aja deh..”, aku membukanya sambil berjalan ke arah jendela kamar atasku. Dan akupun duduk.Sedikit demi sedikit, kado itu ku buka.Dan mulai terlihat isinya. Sebuah boneka panda mungil yang lucu, sebuah kartu ucapan dan sebuah surat. Aku sempat heran, ‘seorang Rezza masa sih bisa membuat surat’.Batinku sambil tertawa kecil. Aku mulai membuka sepucuk surat itu, dan membacanya.
Dear Errika si mungil, Happy Birthday ya sobat! Semoga lo baik2 aja di sana. Maaf karna gue ngga bisa datang ke acara Birthday Party lo.Karena kemarin malem gue dapat undangan ke singapura. Lo tau ngga, hasil foto2 gue di muat di majalah, dan mungkin saat lo baca ini gue lagi hadiri pameran pemotretan. Emm..ka, lo tau ga, foto-foto itu adalah foto cewek yang selama ini gue suka. Dia cinta pertama gue.Dan cewek itu adalah lo…” aku sempat terkejut ketika membacanya. Ternyata selama ini Rezza suka sama aku.
“…gue suka sama lo sejak pertama lo duduk di samping gue waktu lo baru pindah dari Paris. Gue pikir, gue ga bakal kenal dan deket sama lo. Karena wajah lo tuh murung uda gitu nakutin pula, hahaha..Udah lama banget gue cari tau, dan waktu perpisahan SMP dulu gue ngga sengaja nemuin buku diary lo.Dan gue baca lembar demi lembar dan sebuah foto. Ternyata yang buat lo murung adalah karena lo terpisah sama cinta pertama lo. Michell, yang kebetulan dia adalah sepupu jauh gue.Gue coba hubungin dia, dan ternyata dia mau datang buat lo. Dan saat lo ketemu sama Michell di taman, rasanya gue tuh lega banget. Karena baru saat itulah gue lihat senyuman lo yang begitu tulus. Walau hati ini rasanya seperti tertusuk ribuan jarum…” tak sampai ku melanjutkan membaca surat itu, tanpa di sadar air mataku berlinang. Aku takkan bisa membaca lanjutan dari surat itu. Karena aku bisa membayangkan, betapa perih dan sakit pengorbanan Rezza untukkku.Kini ku sadar, orang yang selama ini mencintaiku dengan tulus dan penuh rasa pengorbanan hanyalah dia seorang.Sahabatku, Rezza.
THE END

0 komentar:

Posting Komentar

 
berita unik