KURELA MESKIPUNKU TERLUKA
BY
: GALUH AYU VARINDA
“Hari itu, ku tengok mereka berdua di
taman.Sengaja aku bersembunyi di balik pohon yang setidaknya menutupi seluruh
bagian tubuhku, supaya mereka tak mengetahui keberadaanku. Melihat mereka berdua saling tesenyum bahagia
ketika saling bertatapan, membuat air
mataku tak bisa menahan tetesan demi tetesan yang berlinang di kedua pipiku.
Air mata apakah ini?Bahagia kah?Atau rasa itu? Tuhan, sungguh ku tak tau rasa
apa yang membuatku amat tertekan dalam dada ini..”
**
Namaku
Rin Errika Fiany. Aku adalah anak pertama dari 2 bersaudara. Semenjak Bundaku
tiada setelah kelahiran Kira, kini kami berdua tinggal di rumah yang ukurannya
cukup mewah, hasil jeri payah ayahku sebagai menager restoran yang cukup
terkenal di kota. Dimulai dari bangunku yang kesiangan, kini ku mulai hari
pertama sekolah di SMAN Cendana Bogor...
“1,2,3.. turun! 1,2,3.. turun!
Sekarang kalian jalan jongkok menelilingi lapangan sambil bernyanyi bintang
monyet!”, kata salah seorang kakak OSIS yang mendampingi gugusku saat hari
pertama. Aku sudah mengira akan terlambat, dan ternyata hukuman push up dan jalan jongkok pun ku jalani
juga bersama teman-teman yang sama terlambatnya denganku. Termasuk Rezza,
sahabat sejak kecilku. Dia berbeda gugus denganku, tapi siapa saja yang
terlambat atau tidak taat aturan ataupun perlengkapannya tidak lengkap,akan
berada pada tempat yang sama denganku kini.
Dia melihatku saat aku melihatnya.
“lo telat juga?”, kataku sambil
memberi isyarat tanpa suara. Karena dia bersebrangan denganku. Dia mengangguk
tanda dia pun juga sama telatnya denganku. Aku tertawa kecil sambil tetap jalan
jongkok.Dia terlihat mencari batu krikil yang tampaknya hendak di lemparkan
padaku.Dan ternyata benar, akupun membalasnya dengan krikil yang lebih besar
dari miliknya.Ketika kakak osis tak memperhatikanku, aku melemparnya dengan
kekuatan penuh.Tapi, Rezza berhasil menghindar.Aku kesal karena lemparanku tak
mengenainya.Tapii..? Oh. No… Batu itu mengenai seorang laki-laki yang sedang
duduk tepat di belakang Rezza, cukup tampan bila di bandingkan dengan teman
sekawannya.Dan wajahnya, seperti tak asing lagi buatku, tapi siapa peduli, aku
melemparnya barusan.Dia berbalik badan sambil memegangi kepala bagian belakangnya.Setelah
aku tahu, ternyata dia kakak osis bernomor dada 01, itu artinya dia adalah
ketua umum osis. Osis di sini sengaja menutup nama yang ada di baju mereka
dengan kertas yang bertuliskan nomor sesuai tingkatannya. Errika, kau dalam masalah
besar! Ucapku dalam hati.Aku segera perpaling dan bersikap seperti tidak ada
apa-apa.Laki-laki itu berjalan menuju tengah lapangan.Dan menghentikan hukuman
jalan jongkok saat itu.
“siapa pelempar batu ini? Jawab
jujur!”, katanya sambil menatap setiap anak yang ada di sekelilingnya. “siapa?
Kalau tidak ada yang mau mengaku.Semua akan saya tambah hukumannya”, ucapnya
dengan santai.Mau tidak mau aku harus mengaku, kalau tidak semua akan terkena
imbasnya. Dengan rasa ragu-ragu di campur takut aku menundukkan wajah dengan
mata terpejam, aku angkat tangan dengan perlahan.
“Nah, akhirnya mau mengaku juga
kamu”, kata kakak bernomor 01 itu.Aku masih menundukkan wajah dan juga masih
dengan mata terpejam.Dengan terbatah-batah aku beranikan diri berbicara.
“ma..maa..maaf kak, sa.. sa.. saya..
. .“, belum selesai berbicara, “kenapa kamu? Mau izin ke kamar kecil?Silahkan
saja, ngga perlu takut seperti itu, uda lugu di tambah tampang aneh begitu”,
katanya sambil sedikut tertawa.Membuat semua mata tepaku padaku dan tertawa.Apa
yang sebenarnya terjadi sih? Tanyaku heran.Aku membuka mata dan melihat kearah
kakak 01 itu berada.Di sampingnya berdiri seorang laki-laki yang wajahnya
terhalang oleh kakak 01.Aku mencoba menengok siapa sosok itu, ternyata dia
Rezza. Sedang apa dia berdiri di sana?
“oke, kembali ke topik kita. Kamu
mau saya hukum apa? Oh, sebentar. Sebelumnya saya mau tanya, kenapa kamu
melempar saya dengan batu ini?”,kata kakak 01. Apa? Rezza yang melempar?
Seharusnya kan aku. Kenapa dia yang mengaku, Rezza apa-apaan sih.Gerutuku dalam
hati dengan wajah tetap terheran-heran.
**
“tugas kali ini adalah mencari 5
tanda tangan kakak osis. Jika kalian tidak mendapatkannya, maka akan di beri
hadiah. Yaitu hukuman.Kalian kembali dalam waktu 30 menit.Sekarang kalian boleh
keluar”, kata kakak 07 mempersilahkan keluar kelas.Kebetulan tugas ini untuk
seluruh gugus pada saat yang bersamaan.Di maksudkan agar semakin sulit
mencarinya dalam waktu 30 menit itu.Aku dan Rezza mencari bersama-sama.Ketika
tanda tangan kelima, aku ingin tanda tangan itu milik kakak 01. Tapi dari tadi
aku tidak melihatnya sama sekali. Aku memutuskan untuk mencarinya sendiri.
“za, untuk tanda tangan terakhir
ini, gue mau cari sendiri aja deh. Mau cari di sekitar kelas gugus gue aja.Biar
cepet baliknya. Gimana?”, tanyaku pada Rezza.“Emm..oke lah. Gue juga mau cari
yang deket kelas aja. Kita ketemu di depan gerbang sepulang sekolah ya?”, Tanya
Rezza sembari meninggalkanku. Aku hanya memberi isyarat mengangguk saja.“ok..
oh ya za, thanks yah buat yang tadi?”, “haha.. biasa aja kali ka. Bye..”
sapanya sambil beranjak pergi. “bye..” jawabku pelan..
Aku bingung harus mulai dari
mana. Kaki rasanya udah capek. Aku
pikir, aku mau istirahat dulu aja ke taman. Mumpung kelas gugusku berada cukup
dekat dengan taman sekolah. Segera aku melangkahkan kaki kesana.Kebetulan,
ternyara di taman sepi, jadi bisa istirahat dengan tenang. Aku pun duduk di
dekat air mancur yang berada di tengah taman. Tak jauh dari tempatku duduk, ada
pohon yang ukurannya cukup besar yang membuat sinar matahari terhalang karenanya.Aku
memeriksa pekerjaanku sambil mendengarkan MP3 kesayanganku, karena waktu yang
tersisa masih 15 menit. Tiba-tiba dari belakang pohon besar itu, muncul sebuah kepala yang menengok kearahku, sembari
berkata.“lo ngapain??”.
“AAAAA…!!”,seketika itu aku
berteriak dan melempar pekerjaanku, termasuk MP3 kesayanganku karena kejadian
itu. “si..siapa lo?”,tanyaku.Kemudian dia berpaling lalu berdiri dan berjalan
menghampiriku.Dengan wajah separuh takut, aku beranikan diri membuka mata.Dan
dia berada tepat di depanku.Aku pun mencoba mengingat wajah itu.“Fian”, katanya
dengan lembut.Dan, panggilan itu?Panggilan itu takkan pernah terucap kecuali
dari kawan kecilku yang berada di Paris. Dan aku yakin,pasti ini hanyalah
ilustrasi ku saja. Karena dia takkan mungkin berada di sini.
“ga..gamungkin.
Da..darimana kamu tau namaku, dan panggilan itu?”, tanyaku
terheran-heran. Tiba-tiba terdenger suara dari arah belakangku.Entah siapa
sosok yang ada di belakangku itu.
“tak ada yang tak mungkin Errika,
dia adalah sosok yang lo rindukan selama ini”, katanya. Dari suaranya, yang tak
lain adalah Rezza.
“Rezza, maksud lo apa? Eh, lo
apa-apaan sih? apa yang sebenernya terjadi? Gue ngga ngerti sama sekali”,
Tanyaku pada Rezza yang berjalan menghampiriku sambil mengambil pekerjaanku
yang tadi ku jatuhkan.Begitu juga kakak 01 yang mengambilkan MP3 milikku dan
memberikannya padaku.
“jangan di buang MP3 dariku ini..
nih", kata kakak 01 sambil memberikannya padaku.
“tapi.. ini kan dari.. Dari?....”,
kataku sambil mengingat-ingat. Lalu,
“…..Astaga.Michell?
Lo Michell? Temen masa kecil gue waktu di Paris?”, kataku yang berhasil
mengingat dengan senyuman yang bercampur antara senang, kaget, dan rasa tidak
percaya.
“lo
pikir gue ngga menepati janji gue buat nemuin lo ke Indonesia?”, kata Michell.
Sosok yang selama hampir 8 tahun ku nanti-nanti.Sosok pria satu-satunya yang
berhasil membuatku memahami dan mengerti arti dari sebuah cinta.Namun, karena terpisah
jarak dan waktu, rasanya sia-sia saja bila seorang Michell bisa
mencintaiku.Sungguh, aku belum bisa berpaling dari cinta pertamaku ini.Air
mataku pun jatuh tak tertahan lagi.Rasa rindu dan bahagia ketika ku dapat
menatap matanya membuatku merasa hidup untuk kedua kalinya.
“Fian,
aku takkan pernah datang kemari kalau aku tak memiliki satu kalimat yang ingin
aku sampaikan.Kalau aku, aku cinta sama kamu”, katanya dengan wajah serius,
duarius malah.Kini, berakhir sudah penantian yang panjang ini.Saat melepas
rindu, aku baru sadar.Bahwa Rezza tak ada lagi di belakangku. Di taman itu,
hanya ada aku dan Michell. Aku mencoba mencarinya di sekitar taman tapi aku tak
menemukannya.
**
Sweet
seventeen.Hari ini aku berulangtahun yang ke 17 tentunya.Walau tanpa Michell lagi di
sisiku, tapi ku harap acara ini berjalan lancar.Kami sengaja memutuskan
hubungan kami karena paksaan dari orangtua Michell yang ingin menjodohkannya
dengan gadis Paris yang lebih baik dariku.Ketika pemotongan kue, pemberian
selamat, dan party, belum juga ku
lihat batang hidung si Rezza.Ku coba hubungi dia tapi tetap tak ada jawaban.Saat
ku beranjak keluar rumah, Nina, kawan sebangkuku menghampiriku dan menodongkan
sebuah bungkusan kado kecil dengan pita kertas pink cantik di salah satu
sisinya. “ini titipan dari Rezza”, kata Nina. “thankz ya.. terus, Rezzanya
kemana?”, kataku menerima kado itu.“gue ngga tau, dia nitipin ini sambil
buru-buru pergi. Gue juga ngga sempet nanya. Gue kesana dulu ya?”,
jelasnya.“oh, ya. oke-oke..”,kataku sambil terus berjalan keluar.
**
“emm… malam tiba. Membuka kado pun
tiba.enaknya mulai dari mana ya?”, pikirku sambil menatap satu persatu tumpukan
kado yang berserakan di atas tempat tidurku. Tatapanku berhenti pada bungkusan
kado yang di berikan Nina tadi pagi.Aku mengambilnya.
“apa kado dari Rezza ya?, ini dulu
aja deh..”, aku membukanya sambil berjalan ke arah jendela kamar atasku. Dan
akupun duduk.Sedikit demi sedikit, kado itu ku buka.Dan mulai terlihat isinya.
Sebuah boneka panda mungil yang lucu, sebuah kartu ucapan dan sebuah surat. Aku
sempat heran, ‘seorang Rezza masa sih bisa membuat surat’.Batinku sambil
tertawa kecil. Aku mulai membuka sepucuk surat itu, dan membacanya.
“Dear Errika si mungil, Happy Birthday ya sobat!
Semoga lo baik2 aja di sana. Maaf karna gue ngga bisa datang ke acara Birthday
Party lo.Karena kemarin malem gue dapat undangan ke singapura. Lo tau ngga,
hasil foto2 gue di muat di majalah, dan mungkin saat lo baca ini gue lagi hadiri
pameran pemotretan. Emm..ka, lo tau ga, foto-foto itu adalah foto cewek yang selama
ini gue suka. Dia cinta pertama gue.Dan cewek itu adalah lo…”
aku sempat terkejut ketika membacanya. Ternyata selama ini Rezza suka sama aku.
“…gue suka sama lo sejak pertama lo duduk di
samping gue waktu lo baru pindah dari Paris. Gue pikir, gue ga bakal kenal dan
deket sama lo. Karena wajah lo tuh murung uda gitu nakutin pula, hahaha..Udah
lama banget gue cari tau, dan waktu perpisahan SMP dulu gue ngga sengaja nemuin
buku diary lo.Dan gue baca lembar demi lembar dan sebuah foto. Ternyata yang
buat lo murung adalah karena lo terpisah sama cinta pertama lo. Michell, yang
kebetulan dia adalah sepupu jauh gue.Gue coba hubungin dia, dan ternyata dia
mau datang buat lo. Dan saat lo ketemu sama Michell di taman, rasanya gue tuh
lega banget. Karena baru saat itulah gue lihat senyuman lo yang begitu tulus.
Walau hati ini rasanya seperti tertusuk ribuan jarum…”
tak sampai ku melanjutkan membaca surat itu, tanpa di sadar air mataku
berlinang. Aku takkan bisa membaca lanjutan dari surat itu. Karena aku bisa
membayangkan, betapa perih dan sakit pengorbanan Rezza untukkku.Kini ku sadar,
orang yang selama ini mencintaiku dengan tulus dan penuh rasa pengorbanan
hanyalah dia seorang.Sahabatku, Rezza.
THE
END

0 komentar:
Posting Komentar