Translate

CERPEN MAAF PANGERANKU

Written By iqbal_editing on Jumat, 30 Juni 2017 | 19.08

MAAF, PANGERANKU...
 “Auw!”pekikku kesakitan.
Aku tersungkur jatuh tersandung kaki sebuah kursi roda. Dengan perasaan kesal, aku bangkit dan menatap kesal orang sedang di hadapanku.
“Heh! Kamu bisa ngak sih, kalau…”Kata-kataku terhenti.
Betapa kagetnya aku, melihat pemilik kursi roda di hadapanku. Wajahnya yang pucat, tubuhnya lemah, hanya hembusan nafas yang masih terdengar. Wajahnya yang tampan, dengan usianya yan masih begitu muda, berdesis hatiku iba melihatnya. Aku masih terpaku diam menatap pria tampan di hadapanku, menggetarkan hatiku. Seorang perawat datang menghampiriku dan pria tampan di hadapanku.
“Maaf, mbak! Sudah waktunya pasien untuk istirahat. Jadi, saya harus membawanya masuk.”ucapnya dengan ramah, beranjak pergi meninggalkanku dan mendorong kursi roda pasiennya.
Dua hari telah berlalu…
Perasaan bersalah terhadap pria tampan itu masih menyelimuti hari-hariku. Meskipun, dua hari akhir-akhir ini aku selalu mondar mandir ke rumah sakit, tapi aku tidak pernah melihatnya. Perasaan bersalah karena aku telah memarahinya hingga membuatnya kaget, terus saja mengitari hari-hariku.
“Dokter! Dokter!”seorang ibu terus saja berteriak hingga seorang perawat mendengarnya.
Dokter dan dua orang perawat lainnya, berlari menuju ke ruangan itu. 15 menit kemudian, pintu ruangan itu terbuka dan terlihat para suster dan keluarganya terburu-buru membawanya ke ruang ICU dan melewati tempat dudukku. Itu kan, cowok yang di taman! Oh ya! Itu si tampan kursi roda!pikirku teringat pria yang pernah kutemui. Aku bergegas berlari menemui ibunya yang sedang panic menunggunya sendirian.
“Bu! Apa yang terjadi?”tanyaku ikutan pank dan mendekati ibunya yang sedang menunggu dengan keringat panic yang terus mengaliri wajahnya.
“Ngak tahu, non! Tiba-tiba, mas Rais jatuh dari kursi rodanya.”jawabnya masih terengah-engah karena lelah.
“Tenanglah, bu! Semua pasti baik-baik saja!” ucapku menenangkannya dan membimbingnya duduk dengan tenang.
-***-
15 menit telah berlalu, tapi tak ada satupun yang keluar dari ruangan itu. Ibunya bangkit dan melihat ke dalam ruangan yang pintunya tertutupi tirai biru gelap, lalu kembali duduk.
“Tenanglah, bu! Dia pasti baik-baik saja!”ulangku menatapnya.
“Makasih, non!”jawabnya balas menatapku, lalu kembali diam. “Maaf, kalau saya lancang, non. Kalau boleh tahu, bagaimana non bisa kenal dengan mas rais? Temannya, ya?”sambungnya bertanya pelan.
“Em, bukan, bu! Saya hanya kebetulan bertemu dengannya di taman dua hari yang lalu.”jawabku. “ saya Sakura, bu!”sambungku. “Oh ya, ibu ini orangtuanya….”
“Bukan, non! Saya pembantunya. Dan kebetulan,….”jawabnya memotong.
Aku baru tahu, ternyata ibu itu bukan ibunya, tapi hanya pembantunya. Menurut penjelasan yang sempat disinggungnya, cowok itu hidup dengan ayahnya yang berprofesi sebagai seorang direktur perusahaan yang begitu terkenal dan amat terkenal di Australia. So, ayahnya jadi super duper sibuk gitu. Tapi sayang, cowok kursi roda itu tidak pernah mendapat perhatian sedikitpun dari ayahnya selama penyakit ganas itu mengidap di  tubuhnya. Maksudku, limfoma Hodgkin. Ibunya meninggal sejak dia masih berumur 10 tahun. Penyakit itu telah mengidap dan menggerogoti tubuh ibunya dan juga dia, membuatnya begitu kurus, pucat, dan lemah. Tidak ada satu orangpun yang tahu tentang penyakit itu termasuk dirinya sendiri. Penyakit ganas itu menggerogoti tubuhnya sejak dia masih berumur 12 tahun, dan tak pernah dipedulikan hingga 3 tahun lamanya.
Semalaman aku berada di rumah sakit, menemani seseorang yang tidak pernah dan belum pernah aku kenal. Tepat setelah mata kuliahku selesai, aku kembali ke rumah sakit untuk menjenguknya.
“Hai! Aku sakura! Ah ya, kamu rais, kan? Ya, aku sudah tahu tentang kamu. Gimana keadaan kamu hari ini?”tanyaku mencoba akrab dan mencoba membuatnya bicara, tapi hanya tatapan kosongnya yang aku dapatkan. Aku terus mencoba melakukan apapun untuk pria di hadapanku hingga berkali-kali. Dan akhirnya dia tersenyum, hanya karena aku tersungkur jatuh dan tanpa sengaja menarik tirai yang menutupi pemandangan indah di luar sana, dan terlihat hujan deras yang turun mengguyuri kota. “Kamu suka? Ok! Akan aku biarkan dia terbuka.”ucapku ikut senang melihat pangeran tampan itu bahagia.
Aku melewati hari-hari indahku bersama pangeran kursi roda yang tampan. Menemaninya, menghiburnya, membuatnya tertawa, dan yang paling ,membahagiakannya, membuatnya tersenyum bebas dan membuka mulut untuk bicara. Dan mengenalkannya pada banyak orang, memberitahunya bahwa dia tidak sendiri.
Setahun telah berlalu…
Tanpa terasa, waktu telah berlalu begitu lama dan waktu luangkupun selalu aku gunakan bersama pangeran kursi roda yang tampan itu. Bahkan, hingga saatnya final, aku selalu menghabiskan waktu belajarku di rumah sakit bersamanya. Dan beruntungnya, IPku lebih bagus dari yang aku bayangkan. Dan senangnya, pangeran kursi roda telah kembali sehat, meski penyakit itu masih menggerogoti tubuhnya. Meskipun, dia masih belum menatap kecerahan hidupnya.
Gred…gred…gred…Telepon genggamku bergetar, dan seseorang menghubungiku.
“Halo!”
“Sakura! Ini aku, Alvin! Datanglah ke taman, aku menunggumu!” jawabnya bergegas menutup telepon tanpa menunggu jawaban dariku.
Alvin adalah pria yang aku suka sejak kelas 2 SMA, yang akhirnya dekat denganku hanya karena kami privat di tempat yang sama. Tapi, karena dua tahun lalu dia menjalani pendidikannya di Kanada, kami terpisahkan dengan jarak yang amat jauh. Tapi untungnya, keluarganya mengenal orangtuaku sehingga membuat kami menjadi lebih akrab.
“Aku ingin bilang sesuatu sama kamu.”ucapnya, menatapku lama.
“Aku suka sama kamu. Kamu mau jadi pacar aku?”tanyanya menatapku, dengan suaranya yang terlihat gemetar. Aku kaget dan terpaku diam tak tahu harus berkata apa.
-***-
 Telepon genggamku berbunyi, dan itu adalah deringan alarm agendaku, memutuskan pembicaraan dan pertemuan kami. Aku bergegas pergi dan menunggu pangeran kursi roda di bawah rindangnya pohon.
Satu jam telah berlalu dan hujanpun membasahiku. Pangeran kursi roda tak kunjung datang, hingga dua jam lamanya. Telepon genggamku kembali berdering. Aku bergegas mengangkatnya dengan perasaan bahagia, dan berharap itu adalah pangeran tampan yang sedang aku tunggu.
 “Halo, non! Mas rais masuk ke rumah sakit, non! Dia…”
Aku tidak mendengar apapun lagi dan bergegas berlari dengan terburu-buru. Bergegas menumpangi taksi menuju rumah sakit dengan perasaan yang amat panik.
“Bi! Apa yang terjadi?”tanyaku panik dan bergegas menuju ruang ICU. Tapi, sese-orang menghalangi jalanku, dan aku mengenalinya. Dia laki-laki yang pernah aku lihat di pajangan besar foto keluarga pangeran tampan itu, dia ayahnya.
“Kenapa, nak? Kenapa kamu menghancurkannya lagi? Setelah kamu memperbakinya. Kenapa, nak?”tanyanya dengan nada lirih dan menatapku yang masih bingung. “Kamu telah memperbaikinya, memberinya kesempatan menikmati hidup, memberinya nafas kehidupan, dan hari ini kamu menghancurkannya dalam sekejap. Dengan mudahnya! Dimana perasaan kamu, nak? Kamu tahu, aku mengorbankan segalanya hanya untuk kesembuhannnya! Menghabiskan semua yang aku miliki! Termasuk harga diri dan kehormatanku! Kamu sadar apa yang kamu lakukan? Hah?”pekiknya, dengan air bening yang mengaliri pipinya.
“Tenanglah, tuan! Tenang!”sopirnya menenangkan majikannya
“Bi! Ada apa ini? Aku benar-benar ngak paham, bi!” tanyaku mencoba tenang.
“Maaf, non! Sebenarnya, mas rais ingin melamar non sakura, dan meminta kami untuk menemaninya. Tapi, dia meminta kami membiarkannya mengatakan itu sendiri, tanpa ada yang menemaninya. Tapi, dia melihat pria yang bersama non sakura. Dan pergi dengan terburu-buru. Dia terjatuh dari kursi rodanya karena kursi rodanya tersandung dengan sebuah batu besar.”sambungnya. Hatiku sakit dan sesak rasanya. Air bening tak terbendung lagi mengalir dan membasahi pipiku.
“Aku mohon! Jangan biarkan dia pergi! Katakan! Siapa yang lebih kamu sayang, nak? Aku mohon!” tanyanya berlutut penuh harapan, dan air bening yang terus mengalir membasahi pipinya.
 “Maaf, om! Aku ngak mungkin melakukan itu! Aku ngak bisa!” jawabku memegang tangannya yang gemetar dan tangankupun ikut gemetar sepertinya.
Aku menatap wajah lelaki paruh baya itu yang juga menatapku dengan wajah harapan dan permohonan, dan kuberlalu masuk. Tubuh itu telah terbaring lemah dengan pipa-pipa yang terhubung dengan mesin-mesin aneh yang terus bekerja. Mesin pendeteksi jantung yang terus berdetik, pipa transfusi darah yang masih berjalan, hanya ada hembusan nafas di sini. Air bening dingin mengalir di pipiku.
“Hai! Aku rais! Kamu ingat! Aku belum pernah mengenalkan diriku padamu.”candanya menahan rasa sakit di tubuhnya.
“Iya! Aku hampir saja lupa! Kepala kamu, kenapa harus dipakai topi seperti itu?” tanyaku balas canda.
“Aku hanya ingin terlihat tampan untuk kamu. Kamu bahagia?”sambungnya.
“Pasti! Aku pasti bahagia! Karena aku ngak akan pernah sedih untuk kamu. Kamu sehat, kan?”balasku menahan tangis.
“Pasti! Aku, ukhuk! Ukhuk! Aku pasti sehat. Aku sudah menjaganya untuk kamu. Kamu selalu bilang, kalau aku harus menjaganya, karena aku harus membayar mahal untuk itu. Ya, kan? Dan kamu juga bilang, kalau aku harus kuat dan terus sabar, kan?”tanyanya kembali mengingatkanku, membuatku tersenyum dalam linangan air mata.
“Biarkan aku menatap hujan turun!” pintanya menatap ke arah jendela. Aku menarik gorden dan menatap pemandangan kota yang diguyuri hujan bersamanya.
“Jagalah selalu, ukhuk!ukhuk!ukhuk! diri kamu! Karena, kamu adalah kekuatanku untuk bertahan. Kamu mau, jadi pacarku?”tanyanya mengagetkanku. Aku hanya mengangguk, tak tahu harus berkata apa. Aku terpaksa berbohong padanya, meskipun aku memang menyukainya. Tapi, pria yang telah lama menyukaiku, telah lebih dulu menanyakannya.
“Tapi, dia telah mendahuluiku, kan? Kamu pasti bahagia bersamanya. Iya, kan?” sambungnya membuat hatiku terasa sesak dan sakit.
“Ngak, rais! Aku akan lebih bahagia jika aku bersamamu. Aku ngak mau kamu pergi! Aku mohon, rais!” jawabku dengan air bening dingin yang terus mengaliri pipiku.
Tangannya berdarah, dan mata indahnya akan menutup, membuat tanganku gemetar dan menggigil kedinginan.
“Aku ingin tidur, sakura! Aku bahagia sekali. My, princess!”pintanya merebahkan kepalanya di atas tanganku yang dingin. Dan aku tak sanggup menahan bendungan yang sudah penuh untuk tidak mengalir di pipiku.
Hembusan nafas terakhirnya, melemah dalam genggaman tanganku, menjemput redanya hujan menuju ufuk kegelapan malam. Aku menyesali kesalahanku, mendekatinya, memberinya harapan, dan menghancurkannya dengan mudah. Betapa mereka begitu mengharapkan senyumannya. Tapi, hanya dengan tanganku, membuatnya kembali menjemput sakit parahnya. Maafkan aku, pangeran. Aku sangat menyesali kesalahan itu. Andaikan waktu itu bisa kuulang, aku takkan pernah membuatmu menderita karenaku. Apalagi, memberimu harapan yang begitu besar.
MAAF, PANGERANKU...
 “Auw!”pekikku kesakitan.
Aku tersungkur jatuh tersandung kaki sebuah kursi roda. Dengan perasaan kesal, aku bangkit dan menatap kesal orang sedang di hadapanku.
“Heh! Kamu bisa ngak sih, kalau…”Kata-kataku terhenti.
Betapa kagetnya aku, melihat pemilik kursi roda di hadapanku. Wajahnya yang pucat, tubuhnya lemah, hanya hembusan nafas yang masih terdengar. Wajahnya yang tampan, dengan usianya yan masih begitu muda, berdesis hatiku iba melihatnya. Aku masih terpaku diam menatap pria tampan di hadapanku, menggetarkan hatiku. Seorang perawat datang menghampiriku dan pria tampan di hadapanku.
“Maaf, mbak! Sudah waktunya pasien untuk istirahat. Jadi, saya harus membawanya masuk.”ucapnya dengan ramah, beranjak pergi meninggalkanku dan mendorong kursi roda pasiennya.
Dua hari telah berlalu…
Perasaan bersalah terhadap pria tampan itu masih menyelimuti hari-hariku. Meskipun, dua hari akhir-akhir ini aku selalu mondar mandir ke rumah sakit, tapi aku tidak pernah melihatnya. Perasaan bersalah karena aku telah memarahinya hingga membuatnya kaget, terus saja mengitari hari-hariku.
“Dokter! Dokter!”seorang ibu terus saja berteriak hingga seorang perawat mendengarnya.
Dokter dan dua orang perawat lainnya, berlari menuju ke ruangan itu. 15 menit kemudian, pintu ruangan itu terbuka dan terlihat para suster dan keluarganya terburu-buru membawanya ke ruang ICU dan melewati tempat dudukku. Itu kan, cowok yang di taman! Oh ya! Itu si tampan kursi roda!pikirku teringat pria yang pernah kutemui. Aku bergegas berlari menemui ibunya yang sedang panic menunggunya sendirian.
“Bu! Apa yang terjadi?”tanyaku ikutan pank dan mendekati ibunya yang sedang menunggu dengan keringat panic yang terus mengaliri wajahnya.
“Ngak tahu, non! Tiba-tiba, mas Rais jatuh dari kursi rodanya.”jawabnya masih terengah-engah karena lelah.
“Tenanglah, bu! Semua pasti baik-baik saja!” ucapku menenangkannya dan membimbingnya duduk dengan tenang.
-***-
15 menit telah berlalu, tapi tak ada satupun yang keluar dari ruangan itu. Ibunya bangkit dan melihat ke dalam ruangan yang pintunya tertutupi tirai biru gelap, lalu kembali duduk.
“Tenanglah, bu! Dia pasti baik-baik saja!”ulangku menatapnya.
“Makasih, non!”jawabnya balas menatapku, lalu kembali diam. “Maaf, kalau saya lancang, non. Kalau boleh tahu, bagaimana non bisa kenal dengan mas rais? Temannya, ya?”sambungnya bertanya pelan.
“Em, bukan, bu! Saya hanya kebetulan bertemu dengannya di taman dua hari yang lalu.”jawabku. “ saya Sakura, bu!”sambungku. “Oh ya, ibu ini orangtuanya….”
“Bukan, non! Saya pembantunya. Dan kebetulan,….”jawabnya memotong.
Aku baru tahu, ternyata ibu itu bukan ibunya, tapi hanya pembantunya. Menurut penjelasan yang sempat disinggungnya, cowok itu hidup dengan ayahnya yang berprofesi sebagai seorang direktur perusahaan yang begitu terkenal dan amat terkenal di Australia. So, ayahnya jadi super duper sibuk gitu. Tapi sayang, cowok kursi roda itu tidak pernah mendapat perhatian sedikitpun dari ayahnya selama penyakit ganas itu mengidap di  tubuhnya. Maksudku, limfoma Hodgkin. Ibunya meninggal sejak dia masih berumur 10 tahun. Penyakit itu telah mengidap dan menggerogoti tubuh ibunya dan juga dia, membuatnya begitu kurus, pucat, dan lemah. Tidak ada satu orangpun yang tahu tentang penyakit itu termasuk dirinya sendiri. Penyakit ganas itu menggerogoti tubuhnya sejak dia masih berumur 12 tahun, dan tak pernah dipedulikan hingga 3 tahun lamanya.
Semalaman aku berada di rumah sakit, menemani seseorang yang tidak pernah dan belum pernah aku kenal. Tepat setelah mata kuliahku selesai, aku kembali ke rumah sakit untuk menjenguknya.
“Hai! Aku sakura! Ah ya, kamu rais, kan? Ya, aku sudah tahu tentang kamu. Gimana keadaan kamu hari ini?”tanyaku mencoba akrab dan mencoba membuatnya bicara, tapi hanya tatapan kosongnya yang aku dapatkan. Aku terus mencoba melakukan apapun untuk pria di hadapanku hingga berkali-kali. Dan akhirnya dia tersenyum, hanya karena aku tersungkur jatuh dan tanpa sengaja menarik tirai yang menutupi pemandangan indah di luar sana, dan terlihat hujan deras yang turun mengguyuri kota. “Kamu suka? Ok! Akan aku biarkan dia terbuka.”ucapku ikut senang melihat pangeran tampan itu bahagia.
Aku melewati hari-hari indahku bersama pangeran kursi roda yang tampan. Menemaninya, menghiburnya, membuatnya tertawa, dan yang paling ,membahagiakannya, membuatnya tersenyum bebas dan membuka mulut untuk bicara. Dan mengenalkannya pada banyak orang, memberitahunya bahwa dia tidak sendiri.
Setahun telah berlalu…
Tanpa terasa, waktu telah berlalu begitu lama dan waktu luangkupun selalu aku gunakan bersama pangeran kursi roda yang tampan itu. Bahkan, hingga saatnya final, aku selalu menghabiskan waktu belajarku di rumah sakit bersamanya. Dan beruntungnya, IPku lebih bagus dari yang aku bayangkan. Dan senangnya, pangeran kursi roda telah kembali sehat, meski penyakit itu masih menggerogoti tubuhnya. Meskipun, dia masih belum menatap kecerahan hidupnya.
Gred…gred…gred…Telepon genggamku bergetar, dan seseorang menghubungiku.
“Halo!”
“Sakura! Ini aku, Alvin! Datanglah ke taman, aku menunggumu!” jawabnya bergegas menutup telepon tanpa menunggu jawaban dariku.
Alvin adalah pria yang aku suka sejak kelas 2 SMA, yang akhirnya dekat denganku hanya karena kami privat di tempat yang sama. Tapi, karena dua tahun lalu dia menjalani pendidikannya di Kanada, kami terpisahkan dengan jarak yang amat jauh. Tapi untungnya, keluarganya mengenal orangtuaku sehingga membuat kami menjadi lebih akrab.
“Aku ingin bilang sesuatu sama kamu.”ucapnya, menatapku lama.
“Aku suka sama kamu. Kamu mau jadi pacar aku?”tanyanya menatapku, dengan suaranya yang terlihat gemetar. Aku kaget dan terpaku diam tak tahu harus berkata apa.
-***-
 Telepon genggamku berbunyi, dan itu adalah deringan alarm agendaku, memutuskan pembicaraan dan pertemuan kami. Aku bergegas pergi dan menunggu pangeran kursi roda di bawah rindangnya pohon.
Satu jam telah berlalu dan hujanpun membasahiku. Pangeran kursi roda tak kunjung datang, hingga dua jam lamanya. Telepon genggamku kembali berdering. Aku bergegas mengangkatnya dengan perasaan bahagia, dan berharap itu adalah pangeran tampan yang sedang aku tunggu.
 “Halo, non! Mas rais masuk ke rumah sakit, non! Dia…”
Aku tidak mendengar apapun lagi dan bergegas berlari dengan terburu-buru. Bergegas menumpangi taksi menuju rumah sakit dengan perasaan yang amat panik.
“Bi! Apa yang terjadi?”tanyaku panik dan bergegas menuju ruang ICU. Tapi, sese-orang menghalangi jalanku, dan aku mengenalinya. Dia laki-laki yang pernah aku lihat di pajangan besar foto keluarga pangeran tampan itu, dia ayahnya.
“Kenapa, nak? Kenapa kamu menghancurkannya lagi? Setelah kamu memperbakinya. Kenapa, nak?”tanyanya dengan nada lirih dan menatapku yang masih bingung. “Kamu telah memperbaikinya, memberinya kesempatan menikmati hidup, memberinya nafas kehidupan, dan hari ini kamu menghancurkannya dalam sekejap. Dengan mudahnya! Dimana perasaan kamu, nak? Kamu tahu, aku mengorbankan segalanya hanya untuk kesembuhannnya! Menghabiskan semua yang aku miliki! Termasuk harga diri dan kehormatanku! Kamu sadar apa yang kamu lakukan? Hah?”pekiknya, dengan air bening yang mengaliri pipinya.
“Tenanglah, tuan! Tenang!”sopirnya menenangkan majikannya
“Bi! Ada apa ini? Aku benar-benar ngak paham, bi!” tanyaku mencoba tenang.
“Maaf, non! Sebenarnya, mas rais ingin melamar non sakura, dan meminta kami untuk menemaninya. Tapi, dia meminta kami membiarkannya mengatakan itu sendiri, tanpa ada yang menemaninya. Tapi, dia melihat pria yang bersama non sakura. Dan pergi dengan terburu-buru. Dia terjatuh dari kursi rodanya karena kursi rodanya tersandung dengan sebuah batu besar.”sambungnya. Hatiku sakit dan sesak rasanya. Air bening tak terbendung lagi mengalir dan membasahi pipiku.
“Aku mohon! Jangan biarkan dia pergi! Katakan! Siapa yang lebih kamu sayang, nak? Aku mohon!” tanyanya berlutut penuh harapan, dan air bening yang terus mengalir membasahi pipinya.
 “Maaf, om! Aku ngak mungkin melakukan itu! Aku ngak bisa!” jawabku memegang tangannya yang gemetar dan tangankupun ikut gemetar sepertinya.
Aku menatap wajah lelaki paruh baya itu yang juga menatapku dengan wajah harapan dan permohonan, dan kuberlalu masuk. Tubuh itu telah terbaring lemah dengan pipa-pipa yang terhubung dengan mesin-mesin aneh yang terus bekerja. Mesin pendeteksi jantung yang terus berdetik, pipa transfusi darah yang masih berjalan, hanya ada hembusan nafas di sini. Air bening dingin mengalir di pipiku.
“Hai! Aku rais! Kamu ingat! Aku belum pernah mengenalkan diriku padamu.”candanya menahan rasa sakit di tubuhnya.
“Iya! Aku hampir saja lupa! Kepala kamu, kenapa harus dipakai topi seperti itu?” tanyaku balas canda.
“Aku hanya ingin terlihat tampan untuk kamu. Kamu bahagia?”sambungnya.
“Pasti! Aku pasti bahagia! Karena aku ngak akan pernah sedih untuk kamu. Kamu sehat, kan?”balasku menahan tangis.
“Pasti! Aku, ukhuk! Ukhuk! Aku pasti sehat. Aku sudah menjaganya untuk kamu. Kamu selalu bilang, kalau aku harus menjaganya, karena aku harus membayar mahal untuk itu. Ya, kan? Dan kamu juga bilang, kalau aku harus kuat dan terus sabar, kan?”tanyanya kembali mengingatkanku, membuatku tersenyum dalam linangan air mata.
“Biarkan aku menatap hujan turun!” pintanya menatap ke arah jendela. Aku menarik gorden dan menatap pemandangan kota yang diguyuri hujan bersamanya.
“Jagalah selalu, ukhuk!ukhuk!ukhuk! diri kamu! Karena, kamu adalah kekuatanku untuk bertahan. Kamu mau, jadi pacarku?”tanyanya mengagetkanku. Aku hanya mengangguk, tak tahu harus berkata apa. Aku terpaksa berbohong padanya, meskipun aku memang menyukainya. Tapi, pria yang telah lama menyukaiku, telah lebih dulu menanyakannya.
“Tapi, dia telah mendahuluiku, kan? Kamu pasti bahagia bersamanya. Iya, kan?” sambungnya membuat hatiku terasa sesak dan sakit.
“Ngak, rais! Aku akan lebih bahagia jika aku bersamamu. Aku ngak mau kamu pergi! Aku mohon, rais!” jawabku dengan air bening dingin yang terus mengaliri pipiku.
Tangannya berdarah, dan mata indahnya akan menutup, membuat tanganku gemetar dan menggigil kedinginan.
“Aku ingin tidur, sakura! Aku bahagia sekali. My, princess!”pintanya merebahkan kepalanya di atas tanganku yang dingin. Dan aku tak sanggup menahan bendungan yang sudah penuh untuk tidak mengalir di pipiku.
Hembusan nafas terakhirnya, melemah dalam genggaman tanganku, menjemput redanya hujan menuju ufuk kegelapan malam. Aku menyesali kesalahanku, mendekatinya, memberinya harapan, dan menghancurkannya dengan mudah. Betapa mereka begitu mengharapkan senyumannya. Tapi, hanya dengan tanganku, membuatnya kembali menjemput sakit parahnya. Maafkan aku, pangeran. Aku sangat menyesali kesalahan itu. Andaikan waktu itu bisa kuulang, aku takkan pernah membuatmu menderita karenaku. Apalagi, memberimu harapan yang begitu besar.
The end
The end

0 komentar:

Posting Komentar

 
berita unik