MAAF,
PANGERANKU...
“Auw!”pekikku kesakitan.
Aku
tersungkur jatuh tersandung kaki sebuah kursi roda. Dengan perasaan kesal, aku
bangkit dan menatap kesal orang sedang di hadapanku.
“Heh!
Kamu bisa ngak sih, kalau…”Kata-kataku terhenti.
Betapa
kagetnya aku, melihat pemilik kursi roda di hadapanku. Wajahnya yang pucat,
tubuhnya lemah, hanya hembusan nafas yang masih terdengar. Wajahnya yang
tampan, dengan usianya yan masih begitu muda, berdesis hatiku iba melihatnya. Aku
masih terpaku diam menatap pria tampan di hadapanku, menggetarkan hatiku.
Seorang perawat datang menghampiriku dan pria tampan di hadapanku.
“Maaf,
mbak! Sudah waktunya pasien untuk istirahat. Jadi, saya harus membawanya
masuk.”ucapnya dengan ramah, beranjak pergi meninggalkanku dan mendorong kursi
roda pasiennya.
Dua
hari telah berlalu…
Perasaan
bersalah terhadap pria tampan itu masih menyelimuti hari-hariku. Meskipun, dua
hari akhir-akhir ini aku selalu mondar mandir ke rumah sakit, tapi aku tidak
pernah melihatnya. Perasaan bersalah karena aku telah memarahinya hingga
membuatnya kaget, terus saja mengitari hari-hariku.
“Dokter!
Dokter!”seorang ibu terus saja berteriak hingga seorang perawat mendengarnya.
Dokter
dan dua orang perawat lainnya, berlari menuju ke ruangan itu. 15 menit
kemudian, pintu ruangan itu terbuka dan terlihat para suster dan keluarganya
terburu-buru membawanya ke ruang ICU dan melewati tempat dudukku. Itu kan, cowok yang di taman! Oh ya! Itu si
tampan kursi roda!pikirku teringat pria yang pernah kutemui. Aku bergegas
berlari menemui ibunya yang sedang panic menunggunya sendirian.
“Bu!
Apa yang terjadi?”tanyaku ikutan pank dan mendekati ibunya yang sedang menunggu
dengan keringat panic yang terus mengaliri wajahnya.
“Ngak
tahu, non! Tiba-tiba, mas Rais jatuh dari kursi rodanya.”jawabnya masih
terengah-engah karena lelah.
“Tenanglah,
bu! Semua pasti baik-baik saja!” ucapku menenangkannya dan membimbingnya duduk
dengan tenang.
-***-
15
menit telah berlalu, tapi tak ada satupun yang keluar dari ruangan itu. Ibunya
bangkit dan melihat ke dalam ruangan yang pintunya tertutupi tirai biru gelap,
lalu kembali duduk.
“Tenanglah,
bu! Dia pasti baik-baik saja!”ulangku menatapnya.
“Makasih,
non!”jawabnya balas menatapku, lalu kembali diam. “Maaf, kalau saya lancang,
non. Kalau boleh tahu, bagaimana non bisa kenal dengan mas rais? Temannya,
ya?”sambungnya bertanya pelan.
“Em,
bukan, bu! Saya hanya kebetulan bertemu dengannya di taman dua hari yang
lalu.”jawabku. “ saya Sakura, bu!”sambungku. “Oh ya, ibu ini orangtuanya….”
“Bukan,
non! Saya pembantunya. Dan kebetulan,….”jawabnya memotong.
Aku
baru tahu, ternyata ibu itu bukan ibunya, tapi hanya pembantunya. Menurut
penjelasan yang sempat disinggungnya, cowok itu hidup dengan ayahnya yang
berprofesi sebagai seorang direktur perusahaan yang begitu terkenal dan amat
terkenal di Australia. So, ayahnya jadi super duper sibuk gitu. Tapi sayang,
cowok kursi roda itu tidak pernah mendapat perhatian sedikitpun dari ayahnya
selama penyakit ganas itu mengidap di
tubuhnya. Maksudku,
limfoma Hodgkin. Ibunya meninggal sejak dia masih
berumur 10 tahun. Penyakit itu telah mengidap dan menggerogoti tubuh ibunya dan
juga dia, membuatnya begitu kurus, pucat, dan lemah. Tidak ada satu orangpun
yang tahu tentang penyakit itu termasuk dirinya sendiri. Penyakit ganas itu
menggerogoti tubuhnya sejak dia masih berumur 12 tahun, dan tak pernah dipedulikan
hingga 3 tahun lamanya.
Semalaman
aku berada di rumah sakit, menemani seseorang yang tidak pernah dan belum
pernah aku kenal. Tepat setelah mata kuliahku selesai, aku kembali ke rumah
sakit untuk menjenguknya.
“Hai!
Aku sakura! Ah ya, kamu rais, kan? Ya, aku sudah tahu tentang kamu. Gimana
keadaan kamu hari ini?”tanyaku mencoba akrab dan mencoba membuatnya bicara,
tapi hanya tatapan kosongnya yang aku dapatkan. Aku terus mencoba melakukan
apapun untuk pria di hadapanku hingga berkali-kali. Dan akhirnya dia tersenyum,
hanya karena aku tersungkur jatuh dan tanpa sengaja menarik tirai yang menutupi
pemandangan indah di luar sana, dan terlihat hujan deras yang turun mengguyuri
kota. “Kamu suka? Ok! Akan aku biarkan dia terbuka.”ucapku ikut senang melihat
pangeran tampan itu bahagia.
Aku
melewati hari-hari indahku bersama pangeran kursi roda yang tampan. Menemaninya,
menghiburnya, membuatnya tertawa, dan yang paling ,membahagiakannya, membuatnya tersenyum
bebas dan membuka mulut untuk bicara.
Dan mengenalkannya pada banyak orang, memberitahunya bahwa dia tidak sendiri.
Setahun
telah berlalu…
Tanpa
terasa, waktu telah berlalu begitu lama dan waktu luangkupun selalu aku gunakan bersama
pangeran kursi roda yang
tampan itu. Bahkan, hingga saatnya final, aku selalu menghabiskan waktu
belajarku di rumah sakit bersamanya. Dan beruntungnya, IPku lebih bagus dari
yang aku bayangkan. Dan senangnya, pangeran kursi roda telah kembali sehat,
meski penyakit itu masih menggerogoti tubuhnya. Meskipun, dia masih belum menatap kecerahan hidupnya.
Gred…gred…gred…Telepon
genggamku bergetar, dan seseorang menghubungiku.
“Halo!”
“Sakura!
Ini aku, Alvin! Datanglah ke taman, aku menunggumu!” jawabnya bergegas menutup
telepon tanpa menunggu jawaban dariku.
Alvin
adalah pria yang aku suka sejak kelas 2 SMA, yang akhirnya dekat denganku hanya
karena kami privat di tempat yang sama.
Tapi, karena dua tahun lalu dia menjalani pendidikannya di Kanada, kami
terpisahkan dengan jarak yang amat jauh. Tapi untungnya, keluarganya mengenal
orangtuaku sehingga membuat kami menjadi lebih akrab.
“Aku
ingin bilang sesuatu sama kamu.”ucapnya, menatapku lama.
“Aku
suka sama kamu. Kamu mau jadi pacar aku?”tanyanya menatapku, dengan suaranya
yang terlihat gemetar. Aku kaget dan terpaku diam tak tahu harus berkata apa.
-***-
Telepon genggamku berbunyi, dan itu adalah deringan
alarm agendaku, memutuskan pembicaraan dan pertemuan kami. Aku bergegas pergi
dan menunggu pangeran kursi roda di bawah rindangnya pohon.
Satu
jam telah berlalu dan hujanpun membasahiku. Pangeran kursi roda tak kunjung
datang, hingga dua jam lamanya. Telepon genggamku kembali berdering. Aku
bergegas mengangkatnya dengan perasaan bahagia, dan berharap itu adalah
pangeran tampan yang sedang aku tunggu.
“Halo, non! Mas rais masuk ke rumah sakit,
non! Dia…”
Aku
tidak mendengar apapun lagi dan bergegas berlari dengan terburu-buru. Bergegas
menumpangi taksi menuju rumah sakit dengan perasaan yang amat panik.
“Bi!
Apa yang terjadi?”tanyaku panik dan bergegas menuju ruang ICU. Tapi, sese-orang
menghalangi jalanku, dan aku mengenalinya. Dia laki-laki yang pernah aku lihat
di pajangan besar foto keluarga pangeran tampan itu, dia ayahnya.
“Kenapa,
nak? Kenapa kamu menghancurkannya lagi? Setelah kamu memperbakinya. Kenapa,
nak?”tanyanya dengan nada lirih dan menatapku yang masih bingung. “Kamu telah
memperbaikinya, memberinya kesempatan menikmati hidup, memberinya nafas
kehidupan, dan hari ini kamu menghancurkannya dalam sekejap. Dengan mudahnya!
Dimana perasaan kamu, nak? Kamu tahu, aku mengorbankan segalanya hanya untuk
kesembuhannnya! Menghabiskan semua yang aku miliki! Termasuk harga diri dan
kehormatanku! Kamu sadar apa yang kamu lakukan? Hah?”pekiknya, dengan air
bening yang mengaliri pipinya.
“Tenanglah,
tuan! Tenang!”sopirnya menenangkan majikannya
“Bi!
Ada apa ini? Aku benar-benar ngak paham, bi!” tanyaku mencoba tenang.
“Maaf,
non! Sebenarnya, mas rais ingin melamar non sakura, dan meminta kami untuk
menemaninya. Tapi, dia meminta kami membiarkannya mengatakan itu sendiri, tanpa
ada yang menemaninya. Tapi, dia melihat pria yang bersama non sakura. Dan pergi
dengan terburu-buru. Dia terjatuh dari kursi rodanya karena kursi rodanya
tersandung dengan sebuah batu besar.”sambungnya. Hatiku sakit dan sesak
rasanya. Air bening tak terbendung lagi mengalir dan membasahi pipiku.
“Aku
mohon! Jangan biarkan dia pergi! Katakan! Siapa yang lebih kamu sayang, nak?
Aku mohon!” tanyanya berlutut penuh harapan, dan air bening yang terus mengalir
membasahi pipinya.
“Maaf, om! Aku ngak mungkin melakukan itu! Aku
ngak bisa!” jawabku memegang tangannya yang gemetar dan tangankupun ikut
gemetar sepertinya.
Aku
menatap wajah lelaki paruh baya itu yang juga menatapku dengan wajah harapan
dan permohonan, dan kuberlalu masuk. Tubuh itu telah terbaring lemah dengan
pipa-pipa yang terhubung dengan mesin-mesin aneh yang terus bekerja. Mesin
pendeteksi jantung yang terus berdetik, pipa transfusi darah yang masih
berjalan, hanya ada hembusan nafas di sini. Air bening dingin mengalir di
pipiku.
“Hai!
Aku rais! Kamu ingat! Aku belum pernah mengenalkan diriku padamu.”candanya
menahan rasa sakit di tubuhnya.
“Iya!
Aku hampir saja lupa! Kepala kamu, kenapa harus dipakai topi seperti itu?”
tanyaku balas canda.
“Aku
hanya ingin terlihat tampan untuk kamu. Kamu bahagia?”sambungnya.
“Pasti!
Aku pasti bahagia! Karena aku ngak akan pernah sedih untuk kamu. Kamu sehat,
kan?”balasku menahan tangis.
“Pasti!
Aku, ukhuk! Ukhuk! Aku pasti sehat. Aku sudah menjaganya untuk kamu. Kamu
selalu bilang, kalau aku harus menjaganya, karena aku harus membayar mahal
untuk itu. Ya, kan? Dan kamu juga bilang, kalau aku harus kuat dan terus sabar,
kan?”tanyanya kembali mengingatkanku, membuatku tersenyum dalam linangan air
mata.
“Biarkan
aku menatap hujan turun!” pintanya menatap ke arah jendela. Aku menarik gorden
dan menatap pemandangan kota yang diguyuri hujan bersamanya.
“Jagalah
selalu, ukhuk!ukhuk!ukhuk! diri
kamu! Karena, kamu adalah kekuatanku
untuk bertahan. Kamu mau, jadi
pacarku?”tanyanya mengagetkanku. Aku hanya mengangguk, tak tahu harus berkata
apa. Aku terpaksa berbohong padanya, meskipun aku memang menyukainya. Tapi, pria yang telah lama menyukaiku, telah lebih dulu
menanyakannya.
“Tapi, dia telah mendahuluiku, kan? Kamu pasti bahagia
bersamanya. Iya, kan?” sambungnya membuat hatiku terasa sesak dan sakit.
“Ngak, rais! Aku akan lebih bahagia jika aku bersamamu.
Aku ngak mau kamu pergi! Aku mohon, rais!” jawabku dengan air bening dingin
yang terus mengaliri pipiku.
Tangannya
berdarah, dan mata indahnya akan menutup, membuat tanganku gemetar dan menggigil
kedinginan.
“Aku
ingin tidur, sakura! Aku bahagia sekali.
My, princess!”pintanya merebahkan kepalanya di atas
tanganku yang dingin. Dan aku tak sanggup menahan bendungan yang sudah penuh untuk tidak mengalir
di pipiku.
Hembusan
nafas terakhirnya, melemah dalam genggaman tanganku, menjemput redanya hujan
menuju ufuk kegelapan malam. Aku menyesali kesalahanku, mendekatinya,
memberinya harapan, dan menghancurkannya dengan mudah. Betapa mereka begitu
mengharapkan senyumannya. Tapi, hanya dengan tanganku, membuatnya kembali
menjemput sakit parahnya. Maafkan aku,
pangeran. Aku sangat menyesali kesalahan itu. Andaikan waktu itu bisa kuulang,
aku takkan pernah membuatmu menderita karenaku. Apalagi, memberimu harapan yang
begitu besar.
MAAF,
PANGERANKU...
“Auw!”pekikku kesakitan.
Aku
tersungkur jatuh tersandung kaki sebuah kursi roda. Dengan perasaan kesal, aku
bangkit dan menatap kesal orang sedang di hadapanku.
“Heh!
Kamu bisa ngak sih, kalau…”Kata-kataku terhenti.
Betapa
kagetnya aku, melihat pemilik kursi roda di hadapanku. Wajahnya yang pucat,
tubuhnya lemah, hanya hembusan nafas yang masih terdengar. Wajahnya yang
tampan, dengan usianya yan masih begitu muda, berdesis hatiku iba melihatnya. Aku
masih terpaku diam menatap pria tampan di hadapanku, menggetarkan hatiku.
Seorang perawat datang menghampiriku dan pria tampan di hadapanku.
“Maaf,
mbak! Sudah waktunya pasien untuk istirahat. Jadi, saya harus membawanya
masuk.”ucapnya dengan ramah, beranjak pergi meninggalkanku dan mendorong kursi
roda pasiennya.
Dua
hari telah berlalu…
Perasaan
bersalah terhadap pria tampan itu masih menyelimuti hari-hariku. Meskipun, dua
hari akhir-akhir ini aku selalu mondar mandir ke rumah sakit, tapi aku tidak
pernah melihatnya. Perasaan bersalah karena aku telah memarahinya hingga
membuatnya kaget, terus saja mengitari hari-hariku.
“Dokter!
Dokter!”seorang ibu terus saja berteriak hingga seorang perawat mendengarnya.
Dokter
dan dua orang perawat lainnya, berlari menuju ke ruangan itu. 15 menit
kemudian, pintu ruangan itu terbuka dan terlihat para suster dan keluarganya
terburu-buru membawanya ke ruang ICU dan melewati tempat dudukku. Itu kan, cowok yang di taman! Oh ya! Itu si
tampan kursi roda!pikirku teringat pria yang pernah kutemui. Aku bergegas
berlari menemui ibunya yang sedang panic menunggunya sendirian.
“Bu!
Apa yang terjadi?”tanyaku ikutan pank dan mendekati ibunya yang sedang menunggu
dengan keringat panic yang terus mengaliri wajahnya.
“Ngak
tahu, non! Tiba-tiba, mas Rais jatuh dari kursi rodanya.”jawabnya masih
terengah-engah karena lelah.
“Tenanglah,
bu! Semua pasti baik-baik saja!” ucapku menenangkannya dan membimbingnya duduk
dengan tenang.
-***-
15
menit telah berlalu, tapi tak ada satupun yang keluar dari ruangan itu. Ibunya
bangkit dan melihat ke dalam ruangan yang pintunya tertutupi tirai biru gelap,
lalu kembali duduk.
“Tenanglah,
bu! Dia pasti baik-baik saja!”ulangku menatapnya.
“Makasih,
non!”jawabnya balas menatapku, lalu kembali diam. “Maaf, kalau saya lancang,
non. Kalau boleh tahu, bagaimana non bisa kenal dengan mas rais? Temannya,
ya?”sambungnya bertanya pelan.
“Em,
bukan, bu! Saya hanya kebetulan bertemu dengannya di taman dua hari yang
lalu.”jawabku. “ saya Sakura, bu!”sambungku. “Oh ya, ibu ini orangtuanya….”
“Bukan,
non! Saya pembantunya. Dan kebetulan,….”jawabnya memotong.
Aku
baru tahu, ternyata ibu itu bukan ibunya, tapi hanya pembantunya. Menurut
penjelasan yang sempat disinggungnya, cowok itu hidup dengan ayahnya yang
berprofesi sebagai seorang direktur perusahaan yang begitu terkenal dan amat
terkenal di Australia. So, ayahnya jadi super duper sibuk gitu. Tapi sayang,
cowok kursi roda itu tidak pernah mendapat perhatian sedikitpun dari ayahnya
selama penyakit ganas itu mengidap di
tubuhnya. Maksudku,
limfoma Hodgkin. Ibunya meninggal sejak dia masih
berumur 10 tahun. Penyakit itu telah mengidap dan menggerogoti tubuh ibunya dan
juga dia, membuatnya begitu kurus, pucat, dan lemah. Tidak ada satu orangpun
yang tahu tentang penyakit itu termasuk dirinya sendiri. Penyakit ganas itu
menggerogoti tubuhnya sejak dia masih berumur 12 tahun, dan tak pernah dipedulikan
hingga 3 tahun lamanya.
Semalaman
aku berada di rumah sakit, menemani seseorang yang tidak pernah dan belum
pernah aku kenal. Tepat setelah mata kuliahku selesai, aku kembali ke rumah
sakit untuk menjenguknya.
“Hai!
Aku sakura! Ah ya, kamu rais, kan? Ya, aku sudah tahu tentang kamu. Gimana
keadaan kamu hari ini?”tanyaku mencoba akrab dan mencoba membuatnya bicara,
tapi hanya tatapan kosongnya yang aku dapatkan. Aku terus mencoba melakukan
apapun untuk pria di hadapanku hingga berkali-kali. Dan akhirnya dia tersenyum,
hanya karena aku tersungkur jatuh dan tanpa sengaja menarik tirai yang menutupi
pemandangan indah di luar sana, dan terlihat hujan deras yang turun mengguyuri
kota. “Kamu suka? Ok! Akan aku biarkan dia terbuka.”ucapku ikut senang melihat
pangeran tampan itu bahagia.
Aku
melewati hari-hari indahku bersama pangeran kursi roda yang tampan. Menemaninya,
menghiburnya, membuatnya tertawa, dan yang paling ,membahagiakannya, membuatnya tersenyum
bebas dan membuka mulut untuk bicara.
Dan mengenalkannya pada banyak orang, memberitahunya bahwa dia tidak sendiri.
Setahun
telah berlalu…
Tanpa
terasa, waktu telah berlalu begitu lama dan waktu luangkupun selalu aku gunakan bersama
pangeran kursi roda yang
tampan itu. Bahkan, hingga saatnya final, aku selalu menghabiskan waktu
belajarku di rumah sakit bersamanya. Dan beruntungnya, IPku lebih bagus dari
yang aku bayangkan. Dan senangnya, pangeran kursi roda telah kembali sehat,
meski penyakit itu masih menggerogoti tubuhnya. Meskipun, dia masih belum menatap kecerahan hidupnya.
Gred…gred…gred…Telepon
genggamku bergetar, dan seseorang menghubungiku.
“Halo!”
“Sakura!
Ini aku, Alvin! Datanglah ke taman, aku menunggumu!” jawabnya bergegas menutup
telepon tanpa menunggu jawaban dariku.
Alvin
adalah pria yang aku suka sejak kelas 2 SMA, yang akhirnya dekat denganku hanya
karena kami privat di tempat yang sama.
Tapi, karena dua tahun lalu dia menjalani pendidikannya di Kanada, kami
terpisahkan dengan jarak yang amat jauh. Tapi untungnya, keluarganya mengenal
orangtuaku sehingga membuat kami menjadi lebih akrab.
“Aku
ingin bilang sesuatu sama kamu.”ucapnya, menatapku lama.
“Aku
suka sama kamu. Kamu mau jadi pacar aku?”tanyanya menatapku, dengan suaranya
yang terlihat gemetar. Aku kaget dan terpaku diam tak tahu harus berkata apa.
-***-
Telepon genggamku berbunyi, dan itu adalah deringan
alarm agendaku, memutuskan pembicaraan dan pertemuan kami. Aku bergegas pergi
dan menunggu pangeran kursi roda di bawah rindangnya pohon.
Satu
jam telah berlalu dan hujanpun membasahiku. Pangeran kursi roda tak kunjung
datang, hingga dua jam lamanya. Telepon genggamku kembali berdering. Aku
bergegas mengangkatnya dengan perasaan bahagia, dan berharap itu adalah
pangeran tampan yang sedang aku tunggu.
“Halo, non! Mas rais masuk ke rumah sakit,
non! Dia…”
Aku
tidak mendengar apapun lagi dan bergegas berlari dengan terburu-buru. Bergegas
menumpangi taksi menuju rumah sakit dengan perasaan yang amat panik.
“Bi!
Apa yang terjadi?”tanyaku panik dan bergegas menuju ruang ICU. Tapi, sese-orang
menghalangi jalanku, dan aku mengenalinya. Dia laki-laki yang pernah aku lihat
di pajangan besar foto keluarga pangeran tampan itu, dia ayahnya.
“Kenapa,
nak? Kenapa kamu menghancurkannya lagi? Setelah kamu memperbakinya. Kenapa,
nak?”tanyanya dengan nada lirih dan menatapku yang masih bingung. “Kamu telah
memperbaikinya, memberinya kesempatan menikmati hidup, memberinya nafas
kehidupan, dan hari ini kamu menghancurkannya dalam sekejap. Dengan mudahnya!
Dimana perasaan kamu, nak? Kamu tahu, aku mengorbankan segalanya hanya untuk
kesembuhannnya! Menghabiskan semua yang aku miliki! Termasuk harga diri dan
kehormatanku! Kamu sadar apa yang kamu lakukan? Hah?”pekiknya, dengan air
bening yang mengaliri pipinya.
“Tenanglah,
tuan! Tenang!”sopirnya menenangkan majikannya
“Bi!
Ada apa ini? Aku benar-benar ngak paham, bi!” tanyaku mencoba tenang.
“Maaf,
non! Sebenarnya, mas rais ingin melamar non sakura, dan meminta kami untuk
menemaninya. Tapi, dia meminta kami membiarkannya mengatakan itu sendiri, tanpa
ada yang menemaninya. Tapi, dia melihat pria yang bersama non sakura. Dan pergi
dengan terburu-buru. Dia terjatuh dari kursi rodanya karena kursi rodanya
tersandung dengan sebuah batu besar.”sambungnya. Hatiku sakit dan sesak
rasanya. Air bening tak terbendung lagi mengalir dan membasahi pipiku.
“Aku
mohon! Jangan biarkan dia pergi! Katakan! Siapa yang lebih kamu sayang, nak?
Aku mohon!” tanyanya berlutut penuh harapan, dan air bening yang terus mengalir
membasahi pipinya.
“Maaf, om! Aku ngak mungkin melakukan itu! Aku
ngak bisa!” jawabku memegang tangannya yang gemetar dan tangankupun ikut
gemetar sepertinya.
Aku
menatap wajah lelaki paruh baya itu yang juga menatapku dengan wajah harapan
dan permohonan, dan kuberlalu masuk. Tubuh itu telah terbaring lemah dengan
pipa-pipa yang terhubung dengan mesin-mesin aneh yang terus bekerja. Mesin
pendeteksi jantung yang terus berdetik, pipa transfusi darah yang masih
berjalan, hanya ada hembusan nafas di sini. Air bening dingin mengalir di
pipiku.
“Hai!
Aku rais! Kamu ingat! Aku belum pernah mengenalkan diriku padamu.”candanya
menahan rasa sakit di tubuhnya.
“Iya!
Aku hampir saja lupa! Kepala kamu, kenapa harus dipakai topi seperti itu?”
tanyaku balas canda.
“Aku
hanya ingin terlihat tampan untuk kamu. Kamu bahagia?”sambungnya.
“Pasti!
Aku pasti bahagia! Karena aku ngak akan pernah sedih untuk kamu. Kamu sehat,
kan?”balasku menahan tangis.
“Pasti!
Aku, ukhuk! Ukhuk! Aku pasti sehat. Aku sudah menjaganya untuk kamu. Kamu
selalu bilang, kalau aku harus menjaganya, karena aku harus membayar mahal
untuk itu. Ya, kan? Dan kamu juga bilang, kalau aku harus kuat dan terus sabar,
kan?”tanyanya kembali mengingatkanku, membuatku tersenyum dalam linangan air
mata.
“Biarkan
aku menatap hujan turun!” pintanya menatap ke arah jendela. Aku menarik gorden
dan menatap pemandangan kota yang diguyuri hujan bersamanya.
“Jagalah
selalu, ukhuk!ukhuk!ukhuk! diri
kamu! Karena, kamu adalah kekuatanku
untuk bertahan. Kamu mau, jadi
pacarku?”tanyanya mengagetkanku. Aku hanya mengangguk, tak tahu harus berkata
apa. Aku terpaksa berbohong padanya, meskipun aku memang menyukainya. Tapi, pria yang telah lama menyukaiku, telah lebih dulu
menanyakannya.
“Tapi, dia telah mendahuluiku, kan? Kamu pasti bahagia
bersamanya. Iya, kan?” sambungnya membuat hatiku terasa sesak dan sakit.
“Ngak, rais! Aku akan lebih bahagia jika aku bersamamu.
Aku ngak mau kamu pergi! Aku mohon, rais!” jawabku dengan air bening dingin
yang terus mengaliri pipiku.
Tangannya
berdarah, dan mata indahnya akan menutup, membuat tanganku gemetar dan menggigil
kedinginan.
“Aku
ingin tidur, sakura! Aku bahagia sekali.
My, princess!”pintanya merebahkan kepalanya di atas
tanganku yang dingin. Dan aku tak sanggup menahan bendungan yang sudah penuh untuk tidak mengalir
di pipiku.
Hembusan
nafas terakhirnya, melemah dalam genggaman tanganku, menjemput redanya hujan
menuju ufuk kegelapan malam. Aku menyesali kesalahanku, mendekatinya,
memberinya harapan, dan menghancurkannya dengan mudah. Betapa mereka begitu
mengharapkan senyumannya. Tapi, hanya dengan tanganku, membuatnya kembali
menjemput sakit parahnya. Maafkan aku,
pangeran. Aku sangat menyesali kesalahan itu. Andaikan waktu itu bisa kuulang,
aku takkan pernah membuatmu menderita karenaku. Apalagi, memberimu harapan yang
begitu besar.
The end
The end
0 komentar:
Posting Komentar