Translate

CERPEN BUBUR CINTA

Written By iqbal_editing on Jumat, 30 Juni 2017 | 19.14

erita ini mengandung fiktif belaka, Apabila ada kesamaan nama itu bukan merupakan kesengajaan. Hal ini dimaksudkan untuk menyesuaikan dengan alur cerita. Terima kasih atas perhatiannya.
Enjoy, and Happy reading, people!


Pernahkah kamu merasakan hidup tanpa terasa seperti hidup? Hanya berbaring di ranjang atau duduk di kursi roda, lalu meminta seseorang mendorong kursi roda itu? Sekujur tubuhmu rasanya sudah terlalu kaku untuk melakukan aktivitas orang normal – karena memang kamu sudah tidak normal lagi. Jantung yang masih berdetak, nadi yang masih terus berdenyut, terasa sudah tidak lagi begitu berarti karena sebagian tulang yang semestinya tegap menopang tubuh, kini sudah digerogoti kanker ganas. Ya, kanker tulang atau akrab dengan istilah osteosarkoma memang bukan kanker paling ganas yang memicu kematian. Akan tetapi, Kanker yang menempati urutan kedelapan setelah kanker otot lurik atau rabdomiosarkoma sebagai pembawa kematian ini, biasanya menyerang anak usia remaja, yaitu antara 10 hingga 18 tahun.

Aku begitu membenci kanker ini. Penyakit ini telah banyak mengubah hidupku. Bahkan,
kanker ini juga telah memisahkanku dari orang yang kusayang dan menyayangiku – seperti sahabat-sahabatku di sekolah. Tidak hanya itu, kanker ini juga telah merenggut banyak mimpiku, seperti sebuah tembok besar yang memisahkanku dengan mimpiku – yang nampaknya tidak bisa kupanjat karena tulangku terlalu rapuh, berdiri pun aku kesulitan.

Untuk membuatku merasa lebih baik, Ayah dan Bunda sepakat untuk membeli rumah baru di Bandung dengan kondisi alam yang cukup menarik perhatianku. Mereka memang tahu betul kalau aku sangat menyukai saat di mana sang fajar terbit menempati singgasana di alam semesta, lalu pulang kembali ke peraduannya dan membiarkan rembulan menggantikan posisinya. Akan tetapi, ini tidak sepenuhnya memperbaiki hidupku – karena di tempat ini aku merasa kesepian. Hanya Ayah dan Bunda yang kukenal di sini, tidak ada yang lain. Padahal, aku sangat mengharapkan kehadiran seseorang yang sebaya denganku untuk diajak bercerita.
**
“Bun, Aly mau jalan-jalan ke taman.” ujarku pada Bunda di suatu pagi. Bunda tengah sibuk di dapur.

“Ayo, Bunda antar.”

“Tidak perlu, Bun. Aly mau jalan-jalan sendiri saja. Bunda juga sedang repot. Lagipula tamannya dekat, ‘kan?”

“Tapi bagaimana kalau nanti kamu membutuhkan sesuatu?” raut wajah Bunda terlihat mulai khawatir.

“Aku membawa ponselku. Aku janji kalau ada apa-apa, aku segera menghubungi Bunda. Bunda tidak perlu khawatir.” Aku berusaha meyakinkan Bunda.

“Baiklah. Tapi kamu harus bawa ini juga. Makan bekal ini ketika sampai di taman nanti.” Bunda berjalan ke arahku dan menyodorkan sebuah tas ungu berisi kotak makan. “Ini bubur kesukaanmu, seperti biasa.”

“Oh ayolah, Bun. Aku…”

“Sudah jangan banyak mengelak, atau Bunda tidak akan memperbolehkanmu pergi.”

“Baiklah.” Aku menerima tas itu dan meletakkannya di pangkuanku. “Aku berangkat dulu ya, Bun. Assalamu’alaikum.” Aku mencium punggung tangan Bunda dan mulai memutar kedua roda pada kursi rodaku.
**
Udara Bandung yang begitu sejuk tak mampu tertahankan oleh jaket ungu yang kusematkan di tubuhku dan syal yang kulingkarkan di leherku. Rambut pendekku seolah menari-nari di udara karena ditiup angin – aku bahkan memakai kupluk agar tidak terlalu berantakan. Pemandangan taman di atas bukit teh memang indah. Para petani yang sibuk mencari nafkah terlihat kecil dari sini. Akan tetapi, objek tersebut malah menambah aksen indah pada pemandangan taman.

Kubuka kotak bekal yang diberi Bunda dan mulai menyantap bubur di dalamnya. Aku ingat tadi Bunda mengatakan kalau bubur ini adalah makanan kesukaanku. Tapi nyatanya, hal itu tidak sepenuhnya benar. Ini hanya tuntutan bagiku karena aku sakit – terlalu banyak mengunyah membuat beberapa titik di tubuhku nyeri.

“Sedang apa kamu di sini?” tiba-tiba terdengar suara asing di dekatku. Suaranya sedikit berat. Seketika aku kaget dan jantungku berdebar cepat. Aku ingat cerita Bunda tentang penculik dadakan yang bisa menculik siapa saja, termasuk penderita osteosarkoma sepertiku. Mereka akan menculikku lalu meminta tebusan kepada kedua orang tuaku. Aku sungguh takut.

“Tolong jangan culik aku. Kasihan kedua orang tuaku jika kamu meminta tebusan atas penculikanku. Mereka telah membayar mahal untuk pengobatan kankerku yang menyebalkan.” Aku memejamkan mataku sambil berkata dengan nada ketakutan.

Seketika aku mendengar suara tertawa yang begitu renyah dan terdengar agak meledek. “Apa suaraku terdengar seperti seorang penculik profesional? Kamu bahkan belum melihatku. Aku terlalu tampan untuk menjadi seorang penculik.” Ia begitu percaya diri.

Perlahan aku membuka mataku dan menoleh ke arah sumber datangnya suara.“Fyuh, ternyata kamu memang sama sekali tidak berperawakan seperti penculik.” Aku menghembuskan napas di antara udara dingin di atas bukit teh.

“Sudah kubilang, aku terlalu tampan untuk jadi seorang penculik.” Ia tersenyum ke arahku. “Kamu lucu sekali. Siapa namamu? Kenapa kamu ada di sini? Aku baru melihatmu di sini.”

“Kamu terlalu percaya diri untuk mengatakan hal itu dua kali. Hahaha.” Aku tertawa kecil tanpa menatapnya. Kalau boleh jujur, ia memang tampan. Tubuh tinggi, kulit putih, rambut ikal, dan senyuman manis yang begitu memanah hati, tidak mampu menyembunyikan ketampanannya. Jaket biru dongker dan celana jeans membuatnya semakin memancarkan aura tampan seorang laki-laki berumur kisaran lima belas atau enam belas tahun. “Namaku Allysa Adni’ Adeeba. Aku memang baru pindah ke Bandung beberapa waktu lalu. Siapa namamu?” Aku balik bertanya.

“Nama yang indah. Kedua orang tuamu begitu pandai merangkai nama indah itu. Namaku Asvathama Prawira. Tapi aku mengubah nama Asvathama menjadi Surya. Jadi, panggil saja Sur.” kini ia mendudukkan dirinya di atas rerumputan hijau, tepat di samping kursi rodaku.

“Kenapa kamu mengubah namamu? Bukankah itu pemberian kedua orang tuamu? Harusnya kamu menghargai nama itu.” Ucapku dengan tatapan heran. Aku baru menemui orang seperti ini. Padahal, menurutku Asvathama adalah nama yang unik.

“Aku merasa aneh dengan nama itu walaupun aku menyukainya. Jadi aku ganti Surya. Dan kedua orang tuaku juga sudah setuju jika aku mengubah nama Asvathama menjadi Surya hanya untuk panggilan. Aku bilang kalau kebanyakan temanku kesulitan. Padahal tidak hahaha.” Tukasnya lalu tertawa kecil menghadap lurus ke hamparan bukit teh yang luas.

“Jadi?”

“Jadi, nama di akte kelahiranku tetaplah Asvathama. Sedangkan ketika aku memperkenalkan diri, aku lebih suka menyebut panggilanku sebagai Surya.” Dia seolah sudah dapat menerka apa yang aku pikirkan.

“Oh, baiklah.” Jawabku mengerti.

“Ini adalah tempat favoritku. Kalau aku sedang jenuh bermain games di kamarku, aku pergi ke sini untuk sekedar mencari udara segar dan melihat pemandangan. Dan hari ini, aku mendapati seorang gadis cantik menemukan tempat indah ini juga. Selamat! Aku yakin kamu pasti menyukai tempat ini.” Ia tersenyum lagi ke arahku.

“Ya. Kurasa ini juga akan menjadi tempat favoritku untuk melihat mahatari terbit dan terbenam setiap harinya.”

“Kamu suka itu?”

“Ya. Karena matahari memberi tanpa pamrih. Ia berikan sinarnya kepada makhluk bumi. Tidak hanya itu, ia juga berikan sinarnya pada rembulan untuk bersinar di tengah gelapnya malam.” Aku menyapukan pandanganku ke perkebunan teh di depanku, lalu mencoba menatapnya.

“Waw, ya. Aku setuju.” Ia menyunggingkan senyum untuk yang kesekian kalinya ke arahku. Dan kali ini aku membalasnya. “Kamu tahu? Nama Asvathama yang diberikan oleh kedua orang tuaku punya arti Matahari.”

“Sungguh?”

“Ya. Aku diberi nama Asvathama Prawira dengan tujuan kelak kedua orang tuaku ingin aku menjadi seperti matahari yang selalu menyinari orang banyak tanpa pamrih. Dan Prawira, emm… selain karena ini ada hubungannya dengan profesi ayahku sebagai tentara, kedua orang tuaku juga ingin aku bisa melindungi orang-orang yang kucinta dan mencintaiku, seperti seorang perwira yang berusaha keras melindungi negara yang ia cintai.” Sur nampak menghayati setiap detail penjelasannya.

“Nama yang sangat berarti.” ujarku kagum.

“Terima kasih, ngomong-ngomong, apa yang kamu bawa?” ia melirik kotak makanku.

“Oh, ini bubur. Semenjak aku sakit aku tidak mau makan selain bubur, karena itu akan menyiksaku.”

“Menyiksamu? Kamu sakit apa?” raut wajahnya terlihat begitu penasaran.

“Osteosarkoma atau kanker tulang. Kanker menyebalkan itu telah menggerogoti sebagian tulangku. Makanya aku menggunakan kursi roda, karena aku tidak kuat untuk berdiri apalagi berjalan. Dan jika aku mengunyah terlalu keras, maka aku akan merasakan nyeri di beberapa titik. Walaupun hidupku sudah tidak lama lagi, tapi sebisa mungkin aku ingin memperpanjang kemungkinan hidupku. Aku masih menyayangi kedua orangtuaku. Aku bisa menebak bagaimana terpukulnya mereka jika nanti kehilanganku. Ya, walaupun aku hidup juga hanya merepotkan mereka saja. Tapi aku belum mau mati.” Keputusasaanku mulai timbul lagi. Mataku berkaca-kaca mencoba menahan derai air mata. Tapi tidak. Aku tidak mau terlihat begitu lemah di hadapan teman baruku. “Perlu dicatat, aku tidak selemah yang kamu pikirkan. Tidak akan.”

“Hahaha. Siapa yang berpikir kamu lemah? Aku justru kagum dengan perjuanganmu. Nampaknya aku tertarik untuk mengetahui tentangmu lebih jauh lagi. Bagaimanapun, kamu harus menjadi gadis yang kuat. Hidup atau mati bukan ada di tangan dokter, tapi semua tergantung pada Suratan takdir yang telah Tuhan tulis untukmu.” Sur berusaha memberiku semangat.

“Ya. Terima kasih, Sur.” Aku tersenyum.

“Oh, iya. Jika kamu mau, aku tahu tempat terenak untuk makan bubur. Bubur Bandung beda dengan bubur biasanya. Kamu mau coba?” Sur terdengar begitu sumringah dengan ajakannya.

“Baiklah. Tapi lain waktu, ya!”

“Oke. Bagaimana kalau sekarang kamu kuantar pulang? Hari sudah mulai terik.”

“Tidak. Terima kasih. Aku bisa sendiri.” Tolakku halus.

“Ayolah. Aku ingin tahu di mana rumah teman baruku.” Ia terdengar seperti membujukku agar mengubah keputusanku.

“Baiklah jika kamu tidak keberatan.”

Akhirnya, Sur mendorong kursi rodaku dan mengantarku pulang.
**
Nampaknya nama Asvathama Prawira tidak jauh berbeda dengan sosoknya. Ia seperti matahari di hidupku beberapa waktu belakangan ini semenjak pertemuan kami di taman bukit teh waktu itu. Karena tanpa kusadari – ia telah menyinari kekosongan hati dan hari-hariku, nampak seperti memberikan sebuah energi kepada tulang-tulangku yang rapuh. Aku seperti berdiri dan mampu berjalan bahkan berlari dengan energi itu – walau hanya dalam imajinasi. Dan Prawira, nama itu juga pantas untuknya. Selain perawakannya yang cocok menjadi seorang tentara seperti ayahnya, ia juga sudah berhasil membuatku merasa terlindungi dengan hadirnya dia di hari-hariku. Bila suatu hari dirinya utuh menjadi milikku, aku akan memonopoli sinarnya. Sinar terangnya – hanya aku yang boleh mempunyai sebagai energi bagi kehidupan indahku. Sedangkan berkas-berkas tipis lainnya – kuikhlaskan untuk dimiliki siapapun. Ah, mengapa aku berpikir sampai situ?

Dari hari ke hari, kami semakin bertambah akrab. Kami rutin melihat senja bersama di taman – yang mempertemukan kami. Kami sering bertukar cerita satu sama lain dan mengisi pertemuan dengan gelak tawa dan ukiran senyum di bibir.

Akan tetapi, walaupun kebahagiaanku begitu merekah atas kehadiran Sur, ini tidak membuat kanker di tubuhku berhenti menggerogoti. Kanker ini semakin menyebalkan dan membuatku menjadi benci dengan penyakit ini. Bahkan penyakit ini semakin menyiksa. Baru-baru ini aku harus kehilangan rambutku yang rontok habis karena kanker. Dan aku benci atas itu. Aku menangis memandang diriku sendiri di depan cermin. Aku begitu pucat, kini kepalaku plontos tidak berambut, pipiku mulai menirus, dan tatapanku begitu sayu.

“Bun, bolehkah aku pergi ke taman? Kumohon.” rengekku yang masih terbaring lemah di atas ranjang – dengan infus yang menyuplai makanan lewat pembuluh darah.

“Tidak untuk kali ini, Sayang. Kamu terlalu lemah untuk itu. Berbaringlah dan istirahat sampai kondisimu membaik.” Bunda menahanku.

“Tapi, Bun, sampai kapanpun aku tidak akan membaik. Aku tidak akan sembuh. Sebentar lagi aku akan mati, Bun. Meninggalkan semua ini. Meninggalkan Bunda, meninggalkan Ayah. Aku tidak akan lagi merepotkan kalian dengan biaya pengobatanku yang mahal. Aku tidak akan lagi minum obat-obat peredam rasa nyeri yang jumlahnya belasan itu. Aku tidak akan lagi makan bubur. Aku tidak akan pakai barang-barang aneh rumah sakit ini lagi. Tidak akan, Bun! Aku akan mati. Kumohon, izinkan aku menemui matahariku sebagai peredam rasa nyeriku kali ini.” Pipiku basah oleh derai air mata yang tak henti mengalir. Aku terisak seketika mengingat ucapanku tadi. Begitu bodohnya aku berkata seperti itu. Aku yakin Bunda sangat terpukul mendengar ucapanku tadi. Aku bisa mengetahui raut wajahnya yang menyiratkan kesedihan. Matanya terlihat berkaca-kaca. Hidungnya seketika memerah tapi ia menutupinya dengan telapak tangan kanannya. Ia mendekat ke arahku, duduk di samping ranjangku. Sedetik kemudian, ia memeluk tubuhku yang sedang berbaring di ranjang dengan selang infus menancap di tangan kiriku. Ia menangis bisu di pundakku. Ini membuatku semakin merasa bodoh telah berkata yang tidak sepantasnya. “Maafkan Aly, Bun. Aly tidak bermaksud menyinggung Bunda. Maafkan keegoisan Aly.” Dengan kakunya aku berusaha mengakui kesalahanku.

“Bunda memang belum bisa menjadi ibu terbaik buatmu, tapi kamu telah berhasil menjadi anak kesayangan Bunda. Kamu udah ngasih Bunda banyak pelajaran. Apapun yang terjadi nanti, Bunda akan terus menyayangi kamu melebihi dari apa yang bisa kamu perhitungkan.” Pelukan Bunda semakin erat.

“Aku tahu itu, Bun. Aku akan selalu mempercayai ucapanmu. Terima kasih banyak. Maafkan aku.” Aku mengisyaratkan Bunda untuk melepas dekapannya, lalu aku menatapnya sambil menyunggingkan senyum dan menyapu air mata yang membekas di kedua pipi chubby Bunda dengan kedua tanganku. Bunda tersenyum ke arahku dan aku membalas senyumnya.

“Istirahatlah, Sayang.” Ujar Bunda lembut, lalu ia beranjak keluar dari kamarku. Kurasa hatinya masih terpukul dengan perkataanku. Tapi aku berusaha meredamnya dari pikiranku. Kupejamkan mataku dan mulai menjajah dunia mimpi.
**
Aku bangun di tengah udara dingin yang begitu memekik. Sebuah selimut dengan bulu sintetis yang tebal bahkan tidak mampu meredamnya. Aku meringkuk kedinginan – mencoba menghangatan sendiri tubuhku. Tapi hal itu sia-sia. Yang kurasa justru rasa nyeri yang begitu hebat menerkam tubuhku karena aku terlalu banyak bergerak. Aku menoleh ke arah jendela yang berembun di tengah kesakitanku. “Sur di mana ya? Mengapa ia tidak mencariku karena beberapa hari aku tidak ke taman? Apa ia sudah menemukan teman baru? Apakah ia sudah lupa denganku?” batinku begitu kacau.

Di tengah kekacauanku dengan segala pikiran buruk, tiba-tiba aku mendengar seperti ada yang hendak membuka pintu kamarku. Aku balik menoleh ke arah pintu. Kulihat Bunda berjalan ke arahku diikuti sosok laki-laki yang perawakannya sudah tidak asing kulihat. Ia terlihat kebasahan, tapi ada handuk di atas kepalanya. Sepertinya Bunda yang memberikan handuk itu. Kulihat ia membawa sebuah plastik putih yang berisi kotak makan sterofoam.

“Sur?” aku tercengang ketika sosok itu mendekat dan semakin jelas.

“Halo, Allysa. Apa kabar? Senang melihatmu lagi setelah beberapa hari kita tidak bertemu.” Sur menyunggingkan senyum ke arahku.

“Bunda mau buat teh hangat dulu ya buat Surya. Kalian mengobrol saja dulu.” Bunda memotong pembicaraan kami.

“Terima kasih banyak, Tante.” Ujar Sur tersipu.

“Harusnya Tante yang berterima kasih karena kamu sudah banyak memberi semangat untuk Aly.” Bunda menepuk pundak Sur dan berlalu pergi.

“Jadi, emm… aku merindukanmu.” Aku memberanikan diriku untuk berkata sejujurnya setelah Bunda tak lagi ada di kamarku.

“Aku tahu itu.” Ia tersenyum jahil. Aku memanyunkan bibirku pertanda kesal.

“Jangan begitu, kamu membuatku tidak tahan dan ingin mencubit pipimu.” Ia tertawa. “Oh iya, seperti janjiku. Ini bubur khas Bandung yang waktu itu aku janjikan. Sebenarnya aku beli dua dan aku ingin kita makan bersama di taman. Tapi kamu tidak kunjung datang jadi aku makan punyaku dan mengantarkan punyamu ke rumahmu. Tapi saat di tengah jalan, hujan turun begitu deras. Aku takut kalau aku menunggu hujan reda, nanti buburnya jadi tidak enak. Jadi, aku nekad.” Sur meletakkan bungkusan buburnya di meja samping ranjangku.

“Terima kasih sudah repot-repot. Seharusnya kamu tidak melakukan ini. Terima kasih banyak.” Lagi-lagi aku merasa bersalah.

“Aku tidak merasa direpotkan. Lagipula, entah kenapa beberapa hari belakangan aku merasakan hatiku berbisik kalau kamu merindukanku. Benar begitu, ‘kan?” lagi-lagi ia begitu percaya diri. Ini membuatku tersenyum. “Ayo dimakan buburnya. Mau aku suapin? Yasudah sini aku suapin ya.” Sur mengambil bubur yang tadi ia letakkan di meja dan membuka tutup sterofoamnya, mengambil sendok dan mulai menyuapkannya kepadaku.

Aku diam sejenak, tidak menerima suapannya. Mataku menatapnya cukup dalam. Beberapa detik kemudian, aku tersenyum dan memalingkan tatapanku ke sembarang arah.

“Kamu kenapa?” Sur nampak keheranan.

“Aku senang. Sangat amat senang mempunyai matahari pelindung sepertimu. Boleh aku minta sesuatu?”

“Apa?” ia semakin keheranan.

“Maukah kamu tetap ada untukku? Menjadi matahariku yang selalu memberikan energi lewat sinarmu?”

Suasana hening sesaat. Sur menatapku begitu dalam. “Kuharap aku bisa melakukannya. Dan kamu… emm aku merasa kamu seperti seorang wanita kiriman dari Surga yang benar-benar istimewa. Yang butuh cahaya matahari untuk menerangi dan menghangatkannya! Ya. kamu harus jatuh pada seseorang yang benar-benar berhak memilikinya!” Sur begitu yakin dengan ucapannya.

“Dan kuharap, matahari yang selama ini memberiku energi-lah yang berhak memilikiku.” Jawabku berusaha tenang.

“Ya. Itulah yang kuharapkan.” ujarnya lirih – terdengar ketidakyakinan dari nada bicaranya.

“Oh, ayolah. Aku lebih suka Sur yang percaya diri dibanding Sur yang pesimis seperti ini.” Aku tersenyum.

“Jadi, apa aku berhak mendapatkan wanita istimewa itu?”

“Kenapa tidak?” tanyaku.

Seketika raut wajah Sur berubah. Matanya terlihat berbinar dan senyum manisnya mampu kulihat jelas untuk kesekian kalinya. “Aku akan berusaha terus menjadi matahari pelindungmu, Allysa!” ia begitu mantap dengan ucapannya. “Jadi, aaa?” ia menyodorkan sesendok bubur yang ia beli mendekat ke mulutku. Aku tertawa dan menerima suapannya.

Sejak suapan pertama itulah, aku menamai bubur yang selalu Sur bawa ketika menjengukku – bubur cinta.

Banyak hal yang kupelajari dari pertemuanku dengan Sur. Salah satunya adalah teori tentang cinta. “Cinta itu berhak dirasakan oleh siapapun, termasuk orang sakit sepertiku sekalipun. Kita memang tidak tahu apakah cinta yang saat ini kita rasakan abadi atau tidak. Tapi yang jelas, segala bentuk pencurahan cinta, akan membuat kita berada dalam pusaran kehidupan yang lebih baik. Seperti penderita osteosarkoma yang mendapat cinta – mereka akan merasakan tulangnya seperti diberi sebuah energi magic, lantas mereka merasa lebih baik.”
TAMAT.


0 komentar:

Posting Komentar

 
berita unik