Lola adalah peri muda yang tinggal di Kampung Peri. Ia peri yang malas
dan selalu ingin cepat mendapat hasil tanpa kerja keras. Benda yang
paling diidamkan Lola adalah tongkat ajaib seperti milik Peri Lili .
“Pasti asyik, jika aku punya tongkat ajaib! Nilaiku di sekolah bisa bagus tanpa perlu belajar. Kamarku juga bisa bersih tanpa perlu menyapu,” pikir Lola.
Padahal tongkat ajaib Peri Lili bukan untuk bersenang-senang. Tongkat itu berguna untuk menolong peri-peri yang kesusahan. Pemegang tongkat itu punya tanggung jawab yang besar. Hanya peri terbaik, pandai, jujur, dan bijaksana yang berhak menerima tongkat ajaib itu. Tongkat ajaib itu adalah hadiah dari Ratu Peri.
Setiap pulang dari sekolah peri, Lola selalu mampir ke pondok Peri Lili. Ia mengintip ke dalam pondok, berharap Peri Lili meninggalkan tongkatnya. Selama ini, tongkat ajaib itu tak pernah tertinggal.
“Pasti asyik, jika aku punya tongkat ajaib! Nilaiku di sekolah bisa bagus tanpa perlu belajar. Kamarku juga bisa bersih tanpa perlu menyapu,” pikir Lola.
Padahal tongkat ajaib Peri Lili bukan untuk bersenang-senang. Tongkat itu berguna untuk menolong peri-peri yang kesusahan. Pemegang tongkat itu punya tanggung jawab yang besar. Hanya peri terbaik, pandai, jujur, dan bijaksana yang berhak menerima tongkat ajaib itu. Tongkat ajaib itu adalah hadiah dari Ratu Peri.
Setiap pulang dari sekolah peri, Lola selalu mampir ke pondok Peri Lili. Ia mengintip ke dalam pondok, berharap Peri Lili meninggalkan tongkatnya. Selama ini, tongkat ajaib itu tak pernah tertinggal.
Akan tetapi,
hari itu berbeda. Ketika Lola mengintip lewat jendela, ia melihat
tongkat itu tergeletak di meja rias Peri Lili! Lola sangat girang.
Setelah yakin tak ada yang melihatnya, Lola menyelinap masuk ke pondok
itu.
“Aku cuma mau pinjam tongkat ini sebentar,” bisik Lola membela diri.
Setelah mendapat tongkat ajaib itu, Lola buru-buru keluar dari pondok. Ia menyembunyikan tongkat ajaib itu di balik bajunya. Namun, betapa terkejutnya ia ketika berpapasan dengan Peri Lili.
“Lola, sedang apa kamu di sini?”
“Aku... eh... aku hanya lewat,” ujar Lola gugup.
“Hm, kamu baru pulang sekolah, ya? Lekaslah pulang. Ayah ibumu pasti sudah menunggu di rumah,” kata Peri Lili lembut.
Lola mengangguk cepat, lalu terbang menjauh. Namun, saat itu juga Lola menyadari sesuatu. Tadi Peri Lili memegang sebuah tongkat. Lola buru-buru melihat ke balik jaketnya. Tongkat ajaib itu masih ada di jaketnya.
“Lo, tongkat siapa yang tadi dibawa Peri Lili?” gumam Lola heran.
Setelah berpikir, ia menarik kesimpulan sendiri. “Oh, Peri Lili pasti punya dua tongkat ajaib! Ini pasti kembaran tongkat ajaib. Oh, aku sudah tak sabar ingin menguji keajaibannya!” pekik Lola dalam hati.
“Aku cuma mau pinjam tongkat ini sebentar,” bisik Lola membela diri.
Setelah mendapat tongkat ajaib itu, Lola buru-buru keluar dari pondok. Ia menyembunyikan tongkat ajaib itu di balik bajunya. Namun, betapa terkejutnya ia ketika berpapasan dengan Peri Lili.
“Lola, sedang apa kamu di sini?”
“Aku... eh... aku hanya lewat,” ujar Lola gugup.
“Hm, kamu baru pulang sekolah, ya? Lekaslah pulang. Ayah ibumu pasti sudah menunggu di rumah,” kata Peri Lili lembut.
Lola mengangguk cepat, lalu terbang menjauh. Namun, saat itu juga Lola menyadari sesuatu. Tadi Peri Lili memegang sebuah tongkat. Lola buru-buru melihat ke balik jaketnya. Tongkat ajaib itu masih ada di jaketnya.
“Lo, tongkat siapa yang tadi dibawa Peri Lili?” gumam Lola heran.
Setelah berpikir, ia menarik kesimpulan sendiri. “Oh, Peri Lili pasti punya dua tongkat ajaib! Ini pasti kembaran tongkat ajaib. Oh, aku sudah tak sabar ingin menguji keajaibannya!” pekik Lola dalam hati.
Setiba di
rumah, Lola langsung masuk ke kamarnya. Ia mencoba menyihir kamarnya
agar menjadi bersih tanpa perlu lelah membersihkannya. Ia mencoba
beberapa mantra yang biasa diucapkan Peri Lili.
“Abrakadabra! ” ucap Lola.
Tak terjadi apa pun. Kamarnya tetap saja berantakan.
“Hokus pokus! ” ucap Lola lagi.
Tak ada yang bergerak. Mainannya tetap tergeletak di lantai. Buku-buku yang semalam dibacanya, masih tetap berhamburan di tempat tidurnya.
“Buku-buku! Aku mau kalian kembali ke rak buku!” perintah Lola sambil menganyunkan tongkat ajaib itu ke arah buku-bukunya.
Buku-buku itu bergerak. Lola tersenyum senang. Tetapi, aneh! Buku-buku itu tidak bergerak ke arah rak buku. Malah terbang melayang ke arah Lola.
BUKK! Buku-buku itu menimpa kepala Lola.
“Aduh!” jerit Lola kesakitan.
Lola kembali menyulap ke arah mainannya. “Mainan, ayo masuk ke keranjang mainan!” perintahnya.
PLOKK! BUKK! PLAK! Mainan-mainan itu melayang ke arah Lola.
“Aduuuh! Tongkat payah!” teriak Lola kesal.
“Sekarang, ayo, buat perutku kenyang tanpa harus makan!” Lola mengayunkan tongkat itu ke arah perutnya. Namun, perutnya malah jadi sakit sekali!
“Aduh! Aduh! Ayah! Ibu! Tolong!” teriak Lola. Mendengar teriakan Lola, Ibu segera masuk ke kamar Lola. Ibu lalu meminta Ayah memanggilkan Peri Lili untuk menyembuhkan Lola.
“Abrakadabra! ” ucap Lola.
Tak terjadi apa pun. Kamarnya tetap saja berantakan.
“Hokus pokus! ” ucap Lola lagi.
Tak ada yang bergerak. Mainannya tetap tergeletak di lantai. Buku-buku yang semalam dibacanya, masih tetap berhamburan di tempat tidurnya.
“Buku-buku! Aku mau kalian kembali ke rak buku!” perintah Lola sambil menganyunkan tongkat ajaib itu ke arah buku-bukunya.
Buku-buku itu bergerak. Lola tersenyum senang. Tetapi, aneh! Buku-buku itu tidak bergerak ke arah rak buku. Malah terbang melayang ke arah Lola.
BUKK! Buku-buku itu menimpa kepala Lola.
“Aduh!” jerit Lola kesakitan.
Lola kembali menyulap ke arah mainannya. “Mainan, ayo masuk ke keranjang mainan!” perintahnya.
PLOKK! BUKK! PLAK! Mainan-mainan itu melayang ke arah Lola.
“Aduuuh! Tongkat payah!” teriak Lola kesal.
“Sekarang, ayo, buat perutku kenyang tanpa harus makan!” Lola mengayunkan tongkat itu ke arah perutnya. Namun, perutnya malah jadi sakit sekali!
“Aduh! Aduh! Ayah! Ibu! Tolong!” teriak Lola. Mendengar teriakan Lola, Ibu segera masuk ke kamar Lola. Ibu lalu meminta Ayah memanggilkan Peri Lili untuk menyembuhkan Lola.
Tak lama kemudian, Peri Lili datang. Ia menyembuhkan sakit perut Lola dengan tongkat ajaibnya.
“Maafkan aku, Peri Lili,” kata Lola takut-takut, setelah perutnya sembuh.
“Kenapa? Memangnya Lola salah apa?” tanya Peri Lili.
Lola tertunduk malu. Ia akhirnya menceritakan kenakalannya mencuri tongkat wasiat Peri Lili. Mendengar cerita itu, Peri Lili tersenyum.
“Tongkat wasiatku ini berguna untuk menyembuhkan. Tapi tongkat yang kamu ambil itu punya kegunaan yang berbeda. Tongkat itu berguna untuk melawan kejahatan,” Peri Lili menjelaskan.
“Maafkan aku, Peri Lili,” kata Lola takut-takut, setelah perutnya sembuh.
“Kenapa? Memangnya Lola salah apa?” tanya Peri Lili.
Lola tertunduk malu. Ia akhirnya menceritakan kenakalannya mencuri tongkat wasiat Peri Lili. Mendengar cerita itu, Peri Lili tersenyum.
“Tongkat wasiatku ini berguna untuk menyembuhkan. Tapi tongkat yang kamu ambil itu punya kegunaan yang berbeda. Tongkat itu berguna untuk melawan kejahatan,” Peri Lili menjelaskan.
Lola mengangguk mengerti. Pantas
tongkat kembaran itu membuatnya sakit. Bukankah ia telah berbuat jahat,
mencuri tongkat peri lain. Di dalam hati, Lola bersyukur juga. Tongkat
itu telah membuatnya sadar, kalau ia telah berbuat jahat. Lola juga
sadar, kalau selama ini ia terlalu malas. Bahkan untuk makan pun ia
malas. Lola jadi malu. Ia tertunduk sedih.
“Kalau kau pintar dan rajin, Ratu Peri pasti akan memberikan tongkat seperti ini untukmu!” hibur Peri Lili.
“Aku yakin, kau bisa berubah menjadi peri yang rajin, Lola,” kata Peri Lili lagi. Lola tersenyum senang.
“Kalau kau pintar dan rajin, Ratu Peri pasti akan memberikan tongkat seperti ini untukmu!” hibur Peri Lili.
“Aku yakin, kau bisa berubah menjadi peri yang rajin, Lola,” kata Peri Lili lagi. Lola tersenyum senang.
PROFIL PENULIS
Nama: Neha Rendita Sundari
Tanggal lahir; 26 Januari 2002
Alamat: Ciaigebang, Kuningan, Jawa Barat
Facebook: Neha Rendita Sundari
Twitter: @NehaRendita_
Nama Pengarang: Arumi Ekowati
Tanggal lahir; 26 Januari 2002
Alamat: Ciaigebang, Kuningan, Jawa Barat
Facebook: Neha Rendita Sundari
Twitter: @NehaRendita_
Nama Pengarang: Arumi Ekowati
0 komentar:
Posting Komentar