Translate

CERPEN TONGKAT PERI RERE

Written By iqbal_editing on Jumat, 30 Juni 2017 | 19.41

Hoam… Rere yang masih kelas 2 Sd itu terbangun dari tidurnya yang lelap. “Wah! ada tongkat peri di kasurku!!” pekik Rere sampai membangunkan kakak keduanya yang masih kelas 4, Rara.
Rere anak ketiga dari 3 bersaudara. Namanya Reshafa Aulfya Septhana. Kakaknya kedua namanya Rannita Veriska Septhana. Kakak pertama yang masih kelas 1 SMP namanya Risyahnaz Atiqah Septhana atau disapa Riri. 3 saudara itu blasteran Arab Saudi-Brunei Darussalam. Ibunya Arab Ayahnya Brunei. Rara dan Rere bersekolah di International Islamica Muhammadiyah School (IIMS). Kakaknya, Riri High School Islamic School (HSIS). Rara, Riri, dan Rere memang satu kamar. Karena ini liburan tengah semester, jadi tidurnya bangunnya agak siang (tentunya habis sholat subuh..).
“Apaan, sih dek teriak-teriak!” gerutu Rara sembari menghampiri adik semata wayangnya. “Ini, Kak Rara, ada tongkat peri yang ada di kasur De Rere,” jelas Rere. “Mungkin seorang peri sengaja menjatuhkan tongkatnya di kasur!” sambungnya seraya mengambil tongkat di atasnya berhias bintang besar berkilau dan taburan glitter. “Alah, kamu banyak imajinasi, Dek. Kan peri itu hanya dongeng Fiksi!” cela Rara. Mereka tak sadar, Riri mengintip mereka dari depan pintu kamar sembari tersenyum penuh rahasia.
Rere segera mandi, lalu sibuk memakai gaun bersayap. Tak lupa rambutnya yang coklat (nggak dicat ya…) bergelombang diurai dan diberi mahkota. Juga berdandan seperti ibu-ibu. “Sudah!” gumam Rere. Rere keluar kamar. Dilihat, Riri asyik membaca buku cerita dongeng nusantara di sofa sembari minum es teh yang diletakkan di meja sampingnya.
“Trilili Lalalala, tumpah,” mantra Rara dengan suara agak keras. Riri yang mau meneguk es tehnya pun, tumpah ke kerudungnya dan baju. Penyebab tumpah ialah kaget mendengar seruan Rere. “Wah! ini asli, betulan,” girang Rere. Lalu mengerjain orang lagi. Targetnya ialah Rara. Rere melihat Rara ingin ke kamar mandi. “Trilili lalala, kak Rara jatuh!” karena tak hati-hati dan kaget mendengar mantra Rere, sebuah genangan air di depannya tak dilihat. Jduk!!… “Auwwhh sakit!” erang Rara sembari mengelus bokongnya karena sakit. “Wah! terbukti tongkat ini asli!” seru pelan Rere.
Rere sibuk menyeret meja ke ruang keluarga. Menata 4 kursi, dan mengambil boneka kucing kesayangannya. “Re, makan siang dulu!!” teriak Riri lembut dari ruang makan. “Ok, kak!!!” teriak Rere seraya menuju ruang makan. “Nanti, abis sholat Dhuhur, kalian ke ruang keluarga, ya…,” kata Rere yang dimulutnya dipenuhi Semur ayam, menu makan siang mereka. “Ditelan dulu, sayang..,” tegur Ibunya yang bernama Hafawati atau sering dipanggil semua orang dengan sebutan Hafa. “Iya, Bu!” ujar Rere. “Emang kenapa? kok kamu pakai gaun ini, sih!” sahut ayahnya yang bernama Irsyad. “Udahlah, Yah! nggak usah kepo,” ujar polos Rere.
Usai makan, Rere wudhu dan sholat Dhuhur. Usai sholat dan merapikan alat sholat, ia menuju ruang keluarga. Belum ada siapa-siapa. “Halo, dek!” sapa seseorang di ruang keluarga. Itu Rara dan Riri. “Hai! silakan duduk!” perintah Rere. Mereka mengikuti perintah Rere. Akhirnya semua keluarga kecil Rere berkumpul. “Halo! Aku Rere, peri kecil no. 1 di dunia! kali ini, Rere menyulap boneka kucing ini bisa jalan,” basa-basi Rere. “Trilili Lalala… boneka, jalan!” teriak Rere. Bonekanya tetap diam di tempat. Setelah diulang 10, hasilnya nihil! “Huhuhu.. kok nggak bisa, sih…,” ujar Rere sembari menangis. “Sayang, tongkat itu kakak yang kasih, itu hanya tongkat mainan, tak ajaib!” jelas lembut Riri. “Huhuhu… tapi kenapa es teh kak Riri sama kak Rara bisa jatuh,” tanya Rere sembari sesegukan. Tapi tak nangis lagi. “Kakak kaget, jadi tumpah deh,” jawab Riri. Disambut. jawaban Rara “kak Rara tadi kurang hati-hati sama kaget. Jadi jatuh, deh,”. “Kan kakak ngasih ini untuk nanti datang ke pesta ultah Mewah (sahabat Rere di sekolah), oya, nih ada hadiah lagi untuk adek!” jelas Riri seraya memberi kotak. Isinya berupa gaun sampai menutupi semua badan bewarna putih berhias payet-payet dan mutiara, juga kerudung putih berhias payet-payet dan renda putih. “Wah, makasih!” ujar Rere seraya memeluk kakak sulungnya.
Cerpen Karangan: Alyaniza Nur Adelawina

0 komentar:

Posting Komentar

 
berita unik