PETI MATI
Saat aku membuka mataku
ke sekian kalinya, aku tersadar akan bunyi itu. Bunyi keras tetes-tetes air
yang jatuh cepat menuju atap rumah, membanting ke permukaan benda yang keras,
dan meleburkan pandangan mata ke segala tempat di luar yang mereka jatuhi. Aku
takut. Takut sekali. Hujan itu tak kunjung berhenti sejak dua jam yang lalu.
Aku memang tak menyukai suasana seperti ini. Mati listrik, dingin, dan suara
petir yang merongrong telinga. Beberapa desahanku keluar ketika kilat
mengagetkan mataku. Meski ibu, kakak, dan adikku di rumah, aku masih saja
takut. Ayahku belum kembali dari kantor. Karena hujan, aku selalu berpikir
ayahku akan kehujanan. Ia akan mengendarai sepeda motor di aspal yang licin
karena air hujan. Pasti aura jalan menjadi tidak jelas, suara berisik itu akan mengganggu
perjalanannya, ia akan kedinginan di sepanjang jalan, dan tak fokus dengan yang
sedang ia kendarai. Aku takut ia akan terjatuh dan terluka. Sedangkan aku tahu
itu merupakan salah satu ketakutanku. Saat itu aku masih kecil.
Rupanya
pikiran-pikiran menakutkan itu masih senang datang padaku. Ketakutan akan hujan
memang semakin memudar, namun ia mengundang ketakutanku yang lain hingga aku
semakin sulit melihat kehidupan. Suara keras, gelap, dan menyeramkan.
Aku
ingat saat itu aku sedang berjalan-jalan dengan temanku menikmati indahnya sore
di desa. Desaku memang indah, sejuk, dan kaya akan pemandangan yang damai
sehingga mataku tak lepas mengamati apa-apa di setiap perjalanan kakiku. Hampir
dua jam aku terus berjalan dengannya, namun perjalanan itu berakhir di ujung
jalan. Jalan yang kemudian tersambung dengan sebuah jembatan yang panjangnya
sekitar sepuluh meteran. Sungai di bawahnya tak dalam, hanya dua sampai tiga
meter dari permukaan jembatan, dan airnya pun dangkal sehingga masih terlihat
batu-batu di dasarnya. Aku memulai langkahku dari yang pertama bersama temanku.
Rupanya pikiran yang tak diundang itu datang kembali. Aku memasuki sebuah
tempat yang menyeramkan. Saat aku berdiri di atas jembatan itu, aliran sungai
itu seperti ingin membawaku larut tergenang air. Kemudian mataku menemukan
ujung jembatan yang semakin jauh dan jauh sekali. Aku mulai menelan ludahku. Ketika
melihat air yang mengalir di bawah, aku seperti turut mengikuti arus itu.
‘’Cepat
ke sini ! Ini indah sekali,’’ Fe menyadarkan ketakutanku yang tak dapat
dialihkan lagi.
‘’Fe !
Jangan terlalu menepi ! kau bisa terjatuh ke bawah !’’ khawatirku.
Aku semakin mendesah melihatnya gembira sekali.
‘’Lihatlah,
pagarnya tinggi. Tak usah takut. Ini menyenangkan.’’ Fe duduk di tepi
jembatannya sembari kakinya yang diselonjorkan ke bawah terapung-apung.
Sepertinya memang menyenangkan, melihat air seraya menghirup udara yang segar
dengan mengayun-ayunkan kaki seperti yang sedang dilakukannya. Tak mampu
berpikir lagi, aku tak bisa menolaknya yang semakin menatapku untuk duduk
bersamanya.
Dengan
napas yang semakin sulit ku atur, sepasang mataku melihat aliran sungai yang
tak sungguh dalam. Indah sekali. Itu sungai yang dangkal. Baru beberapa detik
dahiku mulai mengernyit, apa yang ku lihat itu semakin memburuk. Jarak jembatan
dengan dasar sungai semakin jauh. Mataku melihat air itu semakin menjulang ke
atas dengan cepatnya. Aku langsung sigap berdiri menjauhi tempat dudukku. Tatapanku
masih tak hilang, aku melihat jembatan semakin retak, retak, retak, hingga
jembatan itu ambruk. Ambruk! Aku menjerit tak bersuara seraya memegangi kedua
telingaku. Kemudian aku lari mejauhi jembatan itu. Aku takut sekali.
Saat
kembali ke rumah, ayah dan ibuku sedang duduk di ruang makan. Kemudian aku ikut
bergabung di kursi yang tersisa. Rupanya aku lapar sekali setelah menahan
batinku di jembatan tadi. Lalu aku mengambil sepotong kue di atas meja depanku.
Perbincangan orang tuaku memang tak bisa terabaikan dari telingaku. Meski aku
menolak yang sedang mereka bicarakan karena aku lelah sekali, aku tetap saja
mendengarnya.
“Jam
2 ada pertemuan di Kabupaten,“ suara Ayah mulai berdering di telingaku. Baru
satu kalimat itu sudah membuat otakku berputar-putar. Aku mulai memikirkan yang
tidak-tidak.
“Motor
satunya dibawa Paman, Ibu juga ada rapat di kecamatan.”
“Motor
dibawa Ayah ya, Ibu nunggu Paman, ya?” lalu ibukku mengangguk menuruti
perintahnya. Ayahku menyambung lagi.
“Putranya
Pak Trian, meninggal, Bu.”
“Innalillahi
wa innailaihi roji’un. Yang koma tiga hari itu, Yah?” mendengar percakapan itu,
mataku langsung melotot. Rasanya rasa ingin tahuku dua puluh kali lebih cepat
dari ketakutanku.
“Lah
kok bisa, Yah? Koma? Memangnya dia kenapa?”
“Kecelakaan,
kamu hati-hati kalau naik motor, ya?”
“Bagaimana
bisa? Dimana? Kok bisa-bisanya?” aku masih saja bertanya.
“Menyalip
bus.” “Pulang dari Kebumen. Dia memboncengi teman sebelah rumahnya. Padahal
baru bulan kemarin dia diwisuda S1 di UGM. Kasihan sekali ya, Bu.”
Bayang-bayangku
kemudian melayang tiba-tiba tak mampu diatur lagi. Sekarang giliranku yang
duduk di jok sepeda motor itu sendiri. Menancapkan gas hendak menyalip bus yang
tepat di depan motorku. Mendadak bus itu mengalami beban yang tak seimbang
hingga sopir bus itu kehilangan kendalinya. Roda yang berputar itu menyerempet
sepeda motorku hingga aku terpental ke depan. Untungnya bus itu langsung
mengerem dengan cepatnya tepat beberapa senti di sebelah kananku. Tapi aku dan
motorku berada di tengah suara bising kendaraan bermotor. Mereka berlalu-lalang
melintas di sekitarku dalam waktu dua detik dari penglihatanku. Dengan luka
yang ada di sekujur tubuhku, tentu aku tak dapat bergerak bebas lagi. Aku hanya
samar-samar melihat motorku remuk terlindas ban truk yang begitu besar dari
arah depan, dan kemudian aku …. Aku ikut remuk bersama mereka. Tanganku patah,
kakiku remuk, tubuhku hancur, darahku mengalir ke seluruh jalan, lalu kepalaku?
Aku sudah tak bisa lagi mengatakannya.
Pernah
ada beberapa kejadian yang masih ada di dalam memoriku. Pagi-pagi sekali, aku
hendak berwudhu. Karena hanya untuk waktu yang sebentar, aku sengaja tak
menyalakan keran agar tidak memboroskan listrik. Aku berniat menimba air sumur
menggunakan timba hitam, bukan yang ditarik ke bawah, tapi ini jenis katrol
bebas. Lubang sumur itu sudah dipagar cor hampir satu meter ke atas agar tidak
berbahaya. Aku menyahut tali ember timba dan mulai memasukkan ember itu ke
dalam lubang sumur. Di tengah
merenggangnya tali dari atas, pupilku mulai semakin menyempit. Aku melihat
lubang itu sampai jauh sekali, yang gelap dan airnya sangat jauh di bawah sana.
Ember itu sudah mencapainya dan terpenuhi air. Lalu aku mulai menarik talinya.
Kakiku gemetaran. Aku mulai menelan ludah banyak-banyak. Beban air di dalam
timba itu terasa melebihi berat badanku hingga tanganku tak mampu menariknya.
Aku
mulai menjerit keras !! Keras sekali. Aku terbawa beban air di dalam timba
itu. Tubuhku melayang terjun ke dalam sumur. Tak singkat aku merasakan
ketakutan yang luar biasa. Lidahku kelu tak bisa menjerit lagi. Cahaya dari
atas sumur sudah semakin jauh dan kakiku semakin menginjak udara.
BUUUURRR !!
Aku tak bisa berenang. Batinku menangis keras sedangkan mataku terpejam pedas
dipenuhi air. Ini gelap sekali, aku tak bisa bernapas lagi. Perutku menggembung
karena aku menelan beberapa liter air. Tak disangka aku menjadi mayat yang
pucat dalam durasi waktu satu jam. Saat aku menjadi mayat hidup, aku baru
tersadar jika itulah yang ku bayangkan. Ternyata aku masih memegangi tali timba
yang tak kunjung ku tarik. Ember timba belum terisi air sedikit
pun. Tali yang melekat timba pun masih kering bertanda belum terkena air. Aku
terengah-engah mengambil napas dan berusaha menarik kembali timba itu. Niatku
berubah, akhirnya aku menyalakan keran.
Di sekian banyaknya
insiden, aku memang belum pernah mengatakanya pada orang tuaku. Hingga di waktu
aku akan menginjakkan kakiku di tingkatan sekolah selanjutnya, yaitu menengah
atas. Apalagi aku harus tinggal di rumah orang yang baru aku kenal. Boarding house. Hampir empat bulan awal
aku sering menangis di kamar kos. Yang ada di dalam pikiranku ada banyak sekali
perihal. Mulai dari aku jauh dengan orang tua, tidur sendiri di kamar lantai
dua sendirian, tempat kos yang tak jarang aku melihat kaki seribu di
tempat-tempat yang lembab, pemilik kos yang sudah lanjut usia di rumah
belakang, dan apalagi benar-benar hanya aku yang menjadi anak kos di rumah itu.
Di lantai dua sendirian, membuatku teramat mengamati
sekecil apapun di rumah itu. Rumah yang memiliki dekorasi kuno, sepi, gelap,
menyeramkan, dan menakutkan. Aku selalu membayangkan jika di sekelilingku ada
makhluk astral yang tak mampu ku lihat selalu menggangguku.
Hampir
setiap malam aku tak bisa tidur nyenyak. Setiap kali aku menghubungi orang
tuaku menanyakan apa mereka baik-baik saja. Tapi jika ku pikir tanpa beban,
sebenarnya akulah yang aneh. Kadang aku
merasa betapa menyeramkannya aku, aku selalu memikirkan sesuatu yang belum
terjadi dengan berlebihan. Sebenarnya aku pun lelah memikirkannya, tenagaku
habis untuk menahan ketakutan itu. Namun, aku belum menemukan obat penawar rasa
takut itu.
Aku
selalu berpikir jika semakin lama aku berada di tempat kos, aku akan semakin
berani karena aku terpaksa melawan rasa takut itu. Ternyata perkiraanku salah,
aku semakin takut, tidak berani keluar dari kamar, sering duduk mematung di
kamar, sering menangis, sulit tidur, dan jika aku memang terpaksa harus turun
tangga untuk mandi, aku harus berpikir berkali-kali untuk naik tangga kembali.
Peristiwa seperti itu bertahan lama. Sampai aku benar-benar kehilangan nafsu
makan dan mengalami stress. Aku tidak bisa fokus belajar di sekolah karena aku
menahan waktu untuk tidak sampai jam pelajaran berakhir. Karena jika aku
menyelesaikan jam sekolah, aku tak bisa mengelak jika aku harus pulang ke rumah
kos yang menyeramkan itu.
Hanya
pada hari Jum’at sore yang bisa membuat hatiku terasa sedikit damai, karena
besok sorenya aku bisa pulang ke rumah. Maka dari itu aku membenci
kegiatan-kegiatan sekolah pada hari Minggu. Karena hanya hari Sabtu sore sampai
Minggu siang aku bisa bertemu dengan orang tuaku. Meskipun begitu, sebelum aku
tiba sampai rumah aku harus mengalami ketakutan lagi. ketakutan selama
perjalanan sampai ke rumah. Terutama di dalam bus. Aku takut dengan penumpang
di sebelah tempat dudukku, terkecuali dengan penumpang wanita. Aku takut jika
aku akan mabuk perjalanan karena aku tak tahan dengan bau-bauan mobil, bus,
metromini, mikrolet atau sejenisnya. Aku takut saat bus itu berjalan kencang,
terutama jika bus itu sudah sesak dan aku harus duduk di sebelah sopir.
Pastilah aku mengamati pemandangan di depan kaca bus yang membuatku merasa
terancam. Mulai dari menyalip, mengerem, dan menaikkan gasnya. Aku selalu berpikir akan menabrak kendaraan
di depan bus. Apa yang ada di depan kaca bus, aku tak bisa melihatnya hingga
harus menutup mataku dengan kedua tanganku sembari terengah-engah mendesah. Dan
pada akhirnya setelah aku menginjakkan kakiku ke tanah kembali, aku pasti
sempoyongan dan tak bisa melihat sesuatu dengan jelas. Penglihatanku
samar-samar hingga aku merasa mual karena menahan mabukku selama satu jam
perjalanan. Aku harus berpikir jika aku akan terbiasa.
Waktu
satu hari di rumah adalah sama dengan waktu satu jam di tempat kos. Itu
membuatku menjadi semakin tertekan. Baru saja makan malam di rumah, aku harus
pergi lagi menimba ilmu dan tinggal di tempat yang sepi itu. Dengan dibonceng
kakakku sampai mendapati bus, pikiranku kembali melayang-layang. Tentu
aku teringat dengan peristiwa kecelakaannya Kan Brian, anaknya Pak Trian yang
meninggal. Di sepanjang jalan aku berpikir sesuatu dengan berlebihan. Apalagi
kakakku mengendarai motornya dengan kecepatan lebih, membuatku semakin takut.
Di tengah perjalanan,
perasaanku semakin tak karuan. Aku mempekirakan sesuatu yang tak menyenangkan
akan ku alami. Ternyata benar, baru beberapa menit aku memperkirakannya, hal
itu benar terjadi. BRUUUUUUKKKKK!!!!! Di luar kendali kakakku, ia bersamaku
menabrak mobil yang ada di depan motor kami. Aku dan kakakku terjatuh di aspal
dengan kakiku yang terperangkap di bawah motor. Di bawah kesadaranku, aku
menangis keras. Bukan karena rasa sakit di kakiku, tapi karena aku kaget akan peritiwa
itu.
Akibat dari kecelakaan
itu, kakiku benar-benar sakit, punggungku gosong, dan aku tak bisa berpikir
jika aku harus dibonceng kakakku sampai kos. Saat kecelakaan itu, aku tidak
tahu apakah dia terluka atau tidak. Ketika terpental dari motornya, dengan
sigap ia bangkit dan segera menyelamatkanku. Ia juga membawaku ke apotek
terdekat sebelum tiba di kos. Terlebih lagi, aku terbebani pikiran kakakku yang
akan kembali ke rumah lagi setelah mengantarku. Setelah ia berpamitan padaku,
di dalam kamar aku menangis membayangkan yang tidak-tidak kepada kakakku. Tentu
tentang kecelakaan. Sampai tengah malam hingga perutku mulai sakit sekali, aku
tak kunjung tidur.
Hampir
enam jam lamanya hingga pukul dua dini hari, perutku melilit luar biasa. Sudah
tujuh kali aku keluar masuk kamar mandi. Muntah dan perutku sakit sekali. Begitu
seterusnya tanpa henti sampai otakku kehilangan kontak dengan mataku. Aku
sempat berpikir hari ini adalah ajalku.
Pukul setengah empat
pagi, aku memaksakan kakiku untuk berdiri menemui ibu kos dan memintanya untuk
membantuku mengusir rasa sakit itu. Punggungku dipenuhi garis-garis merah
sehabis dikerok, tubuhku hangat setelah minyak kayu putih diolesi ke seluruh
tubuh, lukaku mendingin setelah diolesi salep, rahangku hangat setelah meminum
teh hangat buatan ibu kos. Tapi perutku mulai bereaksi lagi. Terlepas dari
kesadaranku, aku sengaja tidak menghubungi orang tuaku agar mereka tidak panik.
Ayam milik tetangga mulai
berkokok riang dan adzan Subuh telah berkumandang. Mataku menangis sedangkan
mulutku tak bisa bersuara. Rupanya sakit yang luar biasa itu tetap berlangsung
tanpa jeda. Tanpa jeda. Ini sudah hampir delapan jam. Sampai-sampai aku
berpikir itu adalah menit-menit terakhir hidupku. Akhirnya aku menghubungi
orang tuaku.
Kemudian mataku
benar-benar menutup rapat. Bukan mati. Bukan pula tidur. Anganku setengah
sadar, tubuhku lemas, tapi pendengaranku masih tajam. Satu jam telah berlalu
hingga pukul lima pagi, aku mendengar suara ayahku di kejauhan mendekat ke
kamarku. Bahkan aku mendengar suara langkah kakinya. Di sana aku sedang
tergeletak lemas. Setelah aku benar-benar melihat ayahku di sampingku,
perasaanku mulai sumringah lagi. Aku mampu duduk kembali dan pergi ke RSUD
terdekat.
Di rumah sakit, aku
bertemu dengan seorang dokter yang pagi-pagi sekali sudah tersibukkan oleh
banyak pasien. Setelah diperiksa, tidak ada hal yang serius di tubuhku. Mungkin
karena efek dari kecelakaan kemarin. Tubuhku menerima kejutan yang tak terduga
hingga mereka bereaksi. Sakitku mulai reda, aku mendapati banyak obat. Saat
itulah aku baru bisa berpikir jika ajalku telah ditunda.
Bersama ayahku, aku
kembali ke rumah dan membuat surat izin tidak bisa mengikuti pelajaran seperti
biasa. Karena mungkin saja perutku akan bereaksi lagi. Ternyata benar, baru sampai
di rumah dan aku merasakan sehat selama satu jam. Sakit yang luar biasa itu
datang kembali. Pikiranku mulai melayang-layang sehingga aku memperkirakan
ajalku tidak dapat ditunda lagi. Sakit itu lebih sakit dari sebelumnya, namun
mereka datang dan pergi sesukanya dengan waktu yang singkat. Sarapan pagi yang
disuapkan ayahku telah ku muntahkan semuanya bersama obat berkali-kali. Tubuhku
melingkar kesakitan hingga keringat dingin membasahi bajuku. Melihat aku yang
seperti itu, ayahku menulis surat izin tidak bisa mengajar dan membawaku ke
RSUD sebelumnya. Tentu, dalam waktu perjalanan satu jam lagi aku kembali ke
sana.
Tiga jarum suntik secara
bergantian menusuk kulitku. Tanganku dihubungkan dengan selang kecil yang di
dalamnya mengalir cairan infus ke dalam darahku. Aku harus berbaring di dalam ruangan berbau obat. Aku
pikir sehari pun bisa sembuh, ternyata lama sekali aku berbaring. Hampir
seminggu, teman-temanku berkunjung membawa beberapa makanan yang menggoda,
saudara-saudaraku, hingga rekan-rekan kerja ayah dan ibu secara bergantian
mengatakan cepat sembuh padaku. Hingga pada akhirnya aku bisa bernapas lega.
Aku terlepas dari infus dan diizinkan keluar dari rumah berbau obat itu.
Kebimbanganku sebelumnya, sekarang telah berganti jika itu bukanlah ajalku yang
sebenarnya. Aku hanya sakit biasa.
Terlepas
dari kesehatanku yang semakin membaik, memburuk pula rasa takut itu yang
semakin menjadi-jadi. Aku mengalami trauma lebih dari peristiwa-peristiwa yang
terjadi sebelumnya. Setelah aku bisa kembali belajar di sekolah dan bertemu
dengan teman-temanku, batinku merasa terpencil jauh. Bukan
mereka yang menghindariku, untuk apa mereka menghindar ? Tapi akulah yang
takut dengan mereka yang berbicara dengan volume keras. Sebenarnya itu
biasa-biasa saja, namun telingaku lebih sensitif hingga suara mereka menjadi
halilintar di telingaku. Ketakutan itu menjadi semakin luar biasa.
Aku jadi sering
mengucilkan diri sendiri, menghindar dari mereka, lebih pendiam, dan sering
duduk di bangku belakang. Aku pun takut dengan guru. Sampai kejadian aku duduk
sendirian di bangku paling belakang sendiri. Saat itu aku sedang sendirian.
Entah bagaimana atau apa, anganku mulai melayang tiba-tiba. Pikiranku seperti
hanyut dalam bunyi-bunyian suara manusia. Aku seperti menjadi bagian terkecil
di dunia sehingga aku tak bisa bergerak bebas. Bergerak sedikit saja, aku bisa
mati. Kemudian dadaku terasa sesak sulit bernafas, kepalaku sakit sekali,
keringat dingin bercucuran, hingga takut luar biasa tanpa sebab. Jantungku
terus memukul-mukul dadaku hingga tulang rusukku hampir remuk. Aku menemukan
kakiku yang berjalan sendiri membawaku keluar kelas. Dengan menutupi rasa sakit
itu, aku berjalan di tengah-tengah banyak siswa yang sebenarnya tidak
memperhatikanku berjalan melewati mereka. Aku terus saja berjalan menjauhi
kelas, menjauhi halaman kelas, menjauhi lapangan sekolah, menjauhi tempat
satpam, hingga aku benar-benar menjauhi pintu gerbang sekolah.
Selama
lebih dari lima belas menit aku berjalan tanpa seorang pun mengikutiku. Aku pun
bermaksud menghindari dari perhatian mereka. Sampai menurutku jauh sekali, aku
berhenti setelah melihat sebuah jalan yang terapung di atas sungai. Itu
jembatan. Langkahku semakin cepat disertai rasa takut dan kemauan. Sampai aku
berlari dan berhenti setelah memegang erat pagar besi jembatan itu. Sebelumnya
saat aku mulai memasuki area jembatan itu aku merasa seperti mendengar bunyi
retak. Sekarang aku tidak peduli dengan hancurnya jembatan atau tenggelamnya
jembatan. Biar pun aku tidak bisa berenang aku tidak peduli. Aku juga tidak
peduli dengan rasa takut itu meskipun rasanya aku ingin berteriak atas apa yang
ingin aku lakukan saat ini.
Kakiku mendekat ke tepi
jembatan seraya tanganku yang basah karena keringat. Aku semakin memegang erat
pagar jembatan. Dasar sungai itu
semakin jauh, batu-batuan besar menyertai air menjadi arus yang deras. Arus
yang melawan batu besar itu bagai halilintar yang marah padaku. Kakiku
melangkah naik satu tingkat di pagar itu. Dalam hitungan ke sepuluh detik
sekali aku akan menaiki satu per satu pagar itu. Sebanyak empat kali hingga aku
mencapai ketinggian yang ku hendaki. Jari-jariku ku lepas dari pegangannya.
Kedua tanganku ku rentangkan ke kanan dan kiri seperti di film Titanic sembari
menghirup udara sepuas-puasku. Aku
melepas satu kakiku. Air mataku mulai menetes. Aku tidak percaya akan melakukan
hal ini. Aku sudah tidak sempat lagi mengusap pipiku yang basah karena batinku
yang terus saja berhitung sampai detik ke enam puluh. Dan…. Kakiku yang kedua
pun sungguh ku lepas. Terbanglah. Aku terbang ke dasar sungai menghampiri
batu-batu besar.
Lalu….
Entah sudah berapa hari
aku terbaring di dasar sungai seraya menutup mata tak sadar. Ku pikir aku sudah
mati. Tapi tanganku bergerak. Aku tidak bisa membuka mataku karena takut dengan
kegelapan. Saat ku dorong tanganku ke depan, sesuatu berbunyi seperti kayu yang
tebal dan keras. Benar. Aku terkejut
bukan main, ternyata aku berada di dalam sebuah peti mati. Aku sungguh takut,
tak kuasa menahan tangis dan mulai menjerit. Tidak seorang pun mendengarku.
Panas, gelap, senyap, menakutkan, menyeramkan, dan mengerikan. Aku menangis tak bisa berbuat apa-apa. Rasa takutku sudah berada di titik puncak.
Di
dalam peti mati, aku tak bisa membedakan siang atau pun malam. Ku perkirakan
sudah beberapa hari aku terjebak di dalam peti itu dan masih saja hidup.
Terancam, tertekan, dan tersiksa. Air mataku telah habis, mungkin sudah dua
hari yang lalu. Aku tidak makan, tidak minum, apalagi menonton TV. Aku tidak
bisa melakukan itu semua. Terlebih lagi, aku tidak bisa bertemu dengan orang
tuaku maupun menghubunginya. Bahkan orang tuaku mungkin tidak tahu
dan sedang mencariku ke mana-mana.
“Ibuuu, Ayaaahh….”
Suaraku lirih sekali. Begitu seterusnya hingga aku merasa tidak berguna lagi.
Hingga di saat lelahku
sudah mencapai batas maksimal, entah keajaiban atau apa, aku melihat cahaya
yang terang sekali. Peti mati itu terbuka dengan sendirinya. Aku langsung
tergugah dan berusaha bangkit dari tempat itu. Mataku terpancar ke segala arah.
“Dimana aku?” aku kebingungan.
Mataku sedang menemukan sebuah tempat yang indah sekali. Lebih indah dari
tempat yang selama ini aku impikan. Air bening dengan arus yang damai mengalir
dengan bunyi yang menyejukkan hati, langit yang tersenyum saat aku berdiri di
tempat itu, udara yang sejuk sekali, rerumputan hijau yang rapi, dan sebuah
kandang domba yang sangat luas berada tepat di depanku. Domba itu berlari-lari riang. Aku seperti di padang
rumput.
Saat kakiku memutuskan
untuk berjalan menemui sebuah gubuk di sana, aku ditahan oleh seorang lelaki
berbaju putih. Ia setinggi satu hasta di atasku. Sembari menghadangku berjalan,
orang itu tersenyum. Aku
mengernyitkan dahi, seperti seseorang yang ku kenal, dan mungkin tidak. Itu
seperti dejavu dan aku sudah tidak bisa ingat sama sekali. Daya ingatku terasa
semakin melemah, aku pun tak ingat lagi siapa nama orang tuaku meski aku masih
bisa membayangkan bagaimana wajah mereka. Terpaksa aku bertanya.
‘’Siapa ?’’
‘’Apa
kau masih takut ?’’ dengan pertanyaannya, aku mencerna baik-baik. Apa yang
disebut dengan masih takut ? Apa sebelumnya aku seorang penakut ? Aku
berusaha berpikir apa yang sebenarnya terjadi pada diriku sebelumnya. Lama
sekali, aku baru bisa mengingatnya. Kemudian rasa takut itu lebih menakutkan
dan memberiku suasana yang menyeramkan lagi. Langit itu berubah menjadi gelap
dan halilintar datang terus-menerus. Dunia semakin gelap, domba-domba yang
sebelumnya berlarian di kandang itu mati semua. Semuanya menjadi gelap,
terkecuali lelaki berbaju putih itu. Aku semakin takut. Apa yang terjadi ?
‘’Sebenarnya
apa ini ? Jangan gelap, ku mohon.’’ Desahku tidak mengerti.
‘’Kau
tidak bisa memintaku, mintalah kepada dirimu sendiri. Sebenarnya kaulah
yang menghendaki. Kau persis jari kelingking yang tersimpan di dalam peti mati
yang besar. Kau tidak bisa melakukan apa-apa. Kau hanya lemah, kecil dan tidak
berguna. Bukankan jari kelingking seperti itu ? Tapi jika kau tahu
artinya, kau bisa menolak apa yang ku katakan.’’
‘’Astaga,
ku mohon. Apa ini ? Aku takut sekali, tolonglah aku.’’ Aku ingin menangis.
‘’Senjatamu bukan
tangisan, tapi keberanian.’’
Aku semakin
tidak mengerti apa yang dimaksud. Bagaimana ia bisa
menyamaiku dengan jari kelingking ? Setelah ku lihat, mengapa jari-jariku
hanya empat?
“Mengapa tanganku seperti
ini? Bahkan aku tidak melakukan apa-apa.”
“Jika ada sesuatu yang
hilang, seharusnya kau lebih awal tahu. Mengapa kau tidak merasakan? Jari
kelingking pun membantumu untuk hidup.” Lelaki itu diam sejenak, kemudiana
berkata lagi “Sebenarnya kau masih berada di dalam peti yang gelap itu.”
Mataku melotot, “Apa aku
sudah mati? Bagaimana orang tuaku? Aku belum sempat mengatakan apa-apa
padanya.”
“Apa yang kau sebut
dengan mati? Kau hanya berada di dalam peti mati, bukan berarti kau sudah mati.
Kau hanya ketakutan di sana dan kau hanya diam menunggu kematianmu. Seharusnya
kau mendorong pintu peti itu tak peduli berapa sisa jarimu. Meski entah
seberapa beratnya karena kau berada di dalam tanah, setidaknya kau berusaha
untuk melihat dunia luar yang sebenarnya tidak menakutkan. Di dalam peti itu
lebih menakutkan!”
Aku berusaha mencerna
kalimat-kalimat tersirat itu, rupanya dia sedang membicarakan tentang
ketakutanku. Apa yang dikatakan benar, seharusnya aku memerangi hal yang
mengerikan di dalam pikiranku. Sebelum berkata lagi, lelaki itu menghambat
ucapanku.
“Jadi, bangunlah. Saat
kau membuka mata, pergilah ke dunia dengan sebebas-bebas mungkin.”
….
Ngiiiiiinnnnnnggggggggg. Tiba-tiba
aku mendengar suara yang mengganggu seluruh pendengaranku. Aku baru sadar,
ternyata aku hanya tertidur di dalam kelas dan perihal tentang peti mati itu
hanya mimpiku selama jam istirahat. Tapi tentang apa yang terjadi di dalam
mimpi itu, semua telah mengubah pencitraanku tentang sekelilingku. Aku
memutuskan, aku akan memasuki dunia luar sebebas-bebasnya tanpa rasa takut.
0 komentar:
Posting Komentar