Translate

cerpen peti mati

Written By iqbal_editing on Jumat, 30 Juni 2017 | 19.45

PETI MATI



Saat aku membuka mataku ke sekian kalinya, aku tersadar akan bunyi itu. Bunyi keras tetes-tetes air yang jatuh cepat menuju atap rumah, membanting ke permukaan benda yang keras, dan meleburkan pandangan mata ke segala tempat di luar yang mereka jatuhi. Aku takut. Takut sekali. Hujan itu tak kunjung berhenti sejak dua jam yang lalu. Aku memang tak menyukai suasana seperti ini. Mati listrik, dingin, dan suara petir yang merongrong telinga. Beberapa desahanku keluar ketika kilat mengagetkan mataku. Meski ibu, kakak, dan adikku di rumah, aku masih saja takut. Ayahku belum kembali dari kantor. Karena hujan, aku selalu berpikir ayahku akan kehujanan. Ia akan mengendarai sepeda motor di aspal yang licin karena air hujan. Pasti aura jalan menjadi tidak jelas, suara berisik itu akan mengganggu perjalanannya, ia akan kedinginan di sepanjang jalan, dan tak fokus dengan yang sedang ia kendarai. Aku takut ia akan terjatuh dan terluka. Sedangkan aku tahu itu merupakan salah satu ketakutanku. Saat itu aku masih kecil.
            Rupanya pikiran-pikiran menakutkan itu masih senang datang padaku. Ketakutan akan hujan memang semakin memudar, namun ia mengundang ketakutanku yang lain hingga aku semakin sulit melihat kehidupan. Suara keras, gelap, dan menyeramkan.
            Aku ingat saat itu aku sedang berjalan-jalan dengan temanku menikmati indahnya sore di desa. Desaku memang indah, sejuk, dan kaya akan pemandangan yang damai sehingga mataku tak lepas mengamati apa-apa di setiap perjalanan kakiku. Hampir dua jam aku terus berjalan dengannya, namun perjalanan itu berakhir di ujung jalan. Jalan yang kemudian tersambung dengan sebuah jembatan yang panjangnya sekitar sepuluh meteran. Sungai di bawahnya tak dalam, hanya dua sampai tiga meter dari permukaan jembatan, dan airnya pun dangkal sehingga masih terlihat batu-batu di dasarnya. Aku memulai langkahku dari yang pertama bersama temanku. Rupanya pikiran yang tak diundang itu datang kembali. Aku memasuki sebuah tempat yang menyeramkan. Saat aku berdiri di atas jembatan itu, aliran sungai itu seperti ingin membawaku larut tergenang air. Kemudian mataku menemukan ujung jembatan yang semakin jauh dan jauh sekali. Aku mulai menelan ludahku. Ketika melihat air yang mengalir di bawah, aku seperti turut mengikuti arus itu.
            ‘’Cepat ke sini ! Ini indah sekali,’’ Fe menyadarkan ketakutanku yang tak dapat dialihkan lagi.
            ‘’Fe ! Jangan terlalu menepi ! kau bisa terjatuh ke bawah !’’ khawatirku. Aku semakin mendesah melihatnya gembira sekali.
            ‘’Lihatlah, pagarnya tinggi. Tak usah takut. Ini menyenangkan.’’ Fe duduk di tepi jembatannya sembari kakinya yang diselonjorkan ke bawah terapung-apung. Sepertinya memang menyenangkan, melihat air seraya menghirup udara yang segar dengan mengayun-ayunkan kaki seperti yang sedang dilakukannya. Tak mampu berpikir lagi, aku tak bisa menolaknya yang semakin menatapku untuk duduk bersamanya.
            Dengan napas yang semakin sulit ku atur, sepasang mataku melihat aliran sungai yang tak sungguh dalam. Indah sekali. Itu sungai yang dangkal. Baru beberapa detik dahiku mulai mengernyit, apa yang ku lihat itu semakin memburuk. Jarak jembatan dengan dasar sungai semakin jauh. Mataku melihat air itu semakin menjulang ke atas dengan cepatnya. Aku langsung sigap berdiri menjauhi tempat dudukku. Tatapanku masih tak hilang, aku melihat jembatan semakin retak, retak, retak, hingga jembatan itu ambruk. Ambruk! Aku menjerit tak bersuara seraya memegangi kedua telingaku. Kemudian aku lari mejauhi jembatan itu. Aku takut sekali.
            Saat kembali ke rumah, ayah dan ibuku sedang duduk di ruang makan. Kemudian aku ikut bergabung di kursi yang tersisa. Rupanya aku lapar sekali setelah menahan batinku di jembatan tadi. Lalu aku mengambil sepotong kue di atas meja depanku. Perbincangan orang tuaku memang tak bisa terabaikan dari telingaku. Meski aku menolak yang sedang mereka bicarakan karena aku lelah sekali, aku tetap saja mendengarnya.
            “Jam 2 ada pertemuan di Kabupaten,“ suara Ayah mulai berdering di telingaku. Baru satu kalimat itu sudah membuat otakku berputar-putar. Aku mulai memikirkan yang tidak-tidak.
            “Motor satunya dibawa Paman, Ibu juga ada rapat di kecamatan.”
            “Motor dibawa Ayah ya, Ibu nunggu Paman, ya?” lalu ibukku mengangguk menuruti perintahnya. Ayahku menyambung lagi.
            “Putranya Pak Trian, meninggal, Bu.”
            “Innalillahi wa innailaihi roji’un. Yang koma tiga hari itu, Yah?” mendengar percakapan itu, mataku langsung melotot. Rasanya rasa ingin tahuku dua puluh kali lebih cepat dari ketakutanku.
            “Lah kok bisa, Yah? Koma? Memangnya dia kenapa?”
            “Kecelakaan, kamu hati-hati kalau naik motor, ya?”
            “Bagaimana bisa? Dimana? Kok bisa-bisanya?” aku masih saja bertanya.
            “Menyalip bus.” “Pulang dari Kebumen. Dia memboncengi teman sebelah rumahnya. Padahal baru bulan kemarin dia diwisuda S1 di UGM. Kasihan sekali ya, Bu.”
            Bayang-bayangku kemudian melayang tiba-tiba tak mampu diatur lagi. Sekarang giliranku yang duduk di jok sepeda motor itu sendiri. Menancapkan gas hendak menyalip bus yang tepat di depan motorku. Mendadak bus itu mengalami beban yang tak seimbang hingga sopir bus itu kehilangan kendalinya. Roda yang berputar itu menyerempet sepeda motorku hingga aku terpental ke depan. Untungnya bus itu langsung mengerem dengan cepatnya tepat beberapa senti di sebelah kananku. Tapi aku dan motorku berada di tengah suara bising kendaraan bermotor. Mereka berlalu-lalang melintas di sekitarku dalam waktu dua detik dari penglihatanku. Dengan luka yang ada di sekujur tubuhku, tentu aku tak dapat bergerak bebas lagi. Aku hanya samar-samar melihat motorku remuk terlindas ban truk yang begitu besar dari arah depan, dan kemudian aku …. Aku ikut remuk bersama mereka. Tanganku patah, kakiku remuk, tubuhku hancur, darahku mengalir ke seluruh jalan, lalu kepalaku? Aku sudah tak bisa lagi mengatakannya.
            Pernah ada beberapa kejadian yang masih ada di dalam memoriku. Pagi-pagi sekali, aku hendak berwudhu. Karena hanya untuk waktu yang sebentar, aku sengaja tak menyalakan keran agar tidak memboroskan listrik. Aku berniat menimba air sumur menggunakan timba hitam, bukan yang ditarik ke bawah, tapi ini jenis katrol bebas. Lubang sumur itu sudah dipagar cor hampir satu meter ke atas agar tidak berbahaya. Aku menyahut tali ember timba dan mulai memasukkan ember itu ke dalam lubang sumur. Di tengah merenggangnya tali dari atas, pupilku mulai semakin menyempit. Aku melihat lubang itu sampai jauh sekali, yang gelap dan airnya sangat jauh di bawah sana. Ember itu sudah mencapainya dan terpenuhi air. Lalu aku mulai menarik talinya. Kakiku gemetaran. Aku mulai menelan ludah banyak-banyak. Beban air di dalam timba itu terasa melebihi berat badanku hingga tanganku tak mampu menariknya.
Aku mulai menjerit keras !! Keras sekali. Aku terbawa beban air di dalam timba itu. Tubuhku melayang terjun ke dalam sumur. Tak singkat aku merasakan ketakutan yang luar biasa. Lidahku kelu tak bisa menjerit lagi. Cahaya dari atas sumur sudah semakin jauh dan kakiku semakin menginjak udara.
BUUUURRR !! Aku tak bisa berenang. Batinku menangis keras sedangkan mataku terpejam pedas dipenuhi air. Ini gelap sekali, aku tak bisa bernapas lagi. Perutku menggembung karena aku menelan beberapa liter air. Tak disangka aku menjadi mayat yang pucat dalam durasi waktu satu jam. Saat aku menjadi mayat hidup, aku baru tersadar jika itulah yang ku bayangkan. Ternyata aku masih memegangi tali timba yang tak kunjung ku tarik. Ember timba belum terisi air sedikit pun. Tali yang melekat timba pun masih kering bertanda belum terkena air. Aku terengah-engah mengambil napas dan berusaha menarik kembali timba itu. Niatku berubah, akhirnya aku menyalakan keran.
Di sekian banyaknya insiden, aku memang belum pernah mengatakanya pada orang tuaku. Hingga di waktu aku akan menginjakkan kakiku di tingkatan sekolah selanjutnya, yaitu menengah atas. Apalagi aku harus tinggal di rumah orang yang baru aku kenal. Boarding house. Hampir empat bulan awal aku sering menangis di kamar kos. Yang ada di dalam pikiranku ada banyak sekali perihal. Mulai dari aku jauh dengan orang tua, tidur sendiri di kamar lantai dua sendirian, tempat kos yang tak jarang aku melihat kaki seribu di tempat-tempat yang lembab, pemilik kos yang sudah lanjut usia di rumah belakang, dan apalagi benar-benar hanya aku yang menjadi anak kos di rumah itu. Di lantai dua sendirian, membuatku teramat mengamati sekecil apapun di rumah itu. Rumah yang memiliki dekorasi kuno, sepi, gelap, menyeramkan, dan menakutkan. Aku selalu membayangkan jika di sekelilingku ada makhluk astral yang tak mampu ku lihat selalu menggangguku.
Hampir setiap malam aku tak bisa tidur nyenyak. Setiap kali aku menghubungi orang tuaku menanyakan apa mereka baik-baik saja. Tapi jika ku pikir tanpa beban, sebenarnya akulah yang aneh.  Kadang aku merasa betapa menyeramkannya aku, aku selalu memikirkan sesuatu yang belum terjadi dengan berlebihan. Sebenarnya aku pun lelah memikirkannya, tenagaku habis untuk menahan ketakutan itu. Namun, aku belum menemukan obat penawar rasa takut itu.
Aku selalu berpikir jika semakin lama aku berada di tempat kos, aku akan semakin berani karena aku terpaksa melawan rasa takut itu. Ternyata perkiraanku salah, aku semakin takut, tidak berani keluar dari kamar, sering duduk mematung di kamar, sering menangis, sulit tidur, dan jika aku memang terpaksa harus turun tangga untuk mandi, aku harus berpikir berkali-kali untuk naik tangga kembali. Peristiwa seperti itu bertahan lama. Sampai aku benar-benar kehilangan nafsu makan dan mengalami stress. Aku tidak bisa fokus belajar di sekolah karena aku menahan waktu untuk tidak sampai jam pelajaran berakhir. Karena jika aku menyelesaikan jam sekolah, aku tak bisa mengelak jika aku harus pulang ke rumah kos yang menyeramkan itu.
Hanya pada hari Jum’at sore yang bisa membuat hatiku terasa sedikit damai, karena besok sorenya aku bisa pulang ke rumah. Maka dari itu aku membenci kegiatan-kegiatan sekolah pada hari Minggu. Karena hanya hari Sabtu sore sampai Minggu siang aku bisa bertemu dengan orang tuaku. Meskipun begitu, sebelum aku tiba sampai rumah aku harus mengalami ketakutan lagi. ketakutan selama perjalanan sampai ke rumah. Terutama di dalam bus. Aku takut dengan penumpang di sebelah tempat dudukku, terkecuali dengan penumpang wanita. Aku takut jika aku akan mabuk perjalanan karena aku tak tahan dengan bau-bauan mobil, bus, metromini, mikrolet atau sejenisnya. Aku takut saat bus itu berjalan kencang, terutama jika bus itu sudah sesak dan aku harus duduk di sebelah sopir. Pastilah aku mengamati pemandangan di depan kaca bus yang membuatku merasa terancam. Mulai dari menyalip, mengerem, dan menaikkan gasnya.  Aku selalu berpikir akan menabrak kendaraan di depan bus. Apa yang ada di depan kaca bus, aku tak bisa melihatnya hingga harus menutup mataku dengan kedua tanganku sembari terengah-engah mendesah. Dan pada akhirnya setelah aku menginjakkan kakiku ke tanah kembali, aku pasti sempoyongan dan tak bisa melihat sesuatu dengan jelas. Penglihatanku samar-samar hingga aku merasa mual karena menahan mabukku selama satu jam perjalanan. Aku harus berpikir jika aku akan terbiasa.
Waktu satu hari di rumah adalah sama dengan waktu satu jam di tempat kos. Itu membuatku menjadi semakin tertekan. Baru saja makan malam di rumah, aku harus pergi lagi menimba ilmu dan tinggal di tempat yang sepi itu. Dengan dibonceng kakakku sampai mendapati bus, pikiranku kembali melayang-layang. Tentu aku teringat dengan peristiwa kecelakaannya Kan Brian, anaknya Pak Trian yang meninggal. Di sepanjang jalan aku berpikir sesuatu dengan berlebihan. Apalagi kakakku mengendarai motornya dengan kecepatan lebih, membuatku semakin takut.
Di tengah perjalanan, perasaanku semakin tak karuan. Aku mempekirakan sesuatu yang tak menyenangkan akan ku alami. Ternyata benar, baru beberapa menit aku memperkirakannya, hal itu benar terjadi. BRUUUUUUKKKKK!!!!! Di luar kendali kakakku, ia bersamaku menabrak mobil yang ada di depan motor kami. Aku dan kakakku terjatuh di aspal dengan kakiku yang terperangkap di bawah motor. Di bawah kesadaranku, aku menangis keras. Bukan karena rasa sakit di kakiku, tapi karena aku kaget akan peritiwa itu.
Akibat dari kecelakaan itu, kakiku benar-benar sakit, punggungku gosong, dan aku tak bisa berpikir jika aku harus dibonceng kakakku sampai kos. Saat kecelakaan itu, aku tidak tahu apakah dia terluka atau tidak. Ketika terpental dari motornya, dengan sigap ia bangkit dan segera menyelamatkanku. Ia juga membawaku ke apotek terdekat sebelum tiba di kos. Terlebih lagi, aku terbebani pikiran kakakku yang akan kembali ke rumah lagi setelah mengantarku. Setelah ia berpamitan padaku, di dalam kamar aku menangis membayangkan yang tidak-tidak kepada kakakku. Tentu tentang kecelakaan. Sampai tengah malam hingga perutku mulai sakit sekali, aku tak kunjung tidur.
Hampir enam jam lamanya hingga pukul dua dini hari, perutku melilit luar biasa. Sudah tujuh kali aku keluar masuk kamar mandi. Muntah dan perutku sakit sekali. Begitu seterusnya tanpa henti sampai otakku kehilangan kontak dengan mataku. Aku sempat berpikir hari ini adalah ajalku.
Pukul setengah empat pagi, aku memaksakan kakiku untuk berdiri menemui ibu kos dan memintanya untuk membantuku mengusir rasa sakit itu. Punggungku dipenuhi garis-garis merah sehabis dikerok, tubuhku hangat setelah minyak kayu putih diolesi ke seluruh tubuh, lukaku mendingin setelah diolesi salep, rahangku hangat setelah meminum teh hangat buatan ibu kos. Tapi perutku mulai bereaksi lagi. Terlepas dari kesadaranku, aku sengaja tidak menghubungi orang tuaku agar mereka tidak panik.
Ayam milik tetangga mulai berkokok riang dan adzan Subuh telah berkumandang. Mataku menangis sedangkan mulutku tak bisa bersuara. Rupanya sakit yang luar biasa itu tetap berlangsung tanpa jeda. Tanpa jeda. Ini sudah hampir delapan jam. Sampai-sampai aku berpikir itu adalah menit-menit terakhir hidupku. Akhirnya aku menghubungi orang tuaku.
Kemudian mataku benar-benar menutup rapat. Bukan mati. Bukan pula tidur. Anganku setengah sadar, tubuhku lemas, tapi pendengaranku masih tajam. Satu jam telah berlalu hingga pukul lima pagi, aku mendengar suara ayahku di kejauhan mendekat ke kamarku. Bahkan aku mendengar suara langkah kakinya. Di sana aku sedang tergeletak lemas. Setelah aku benar-benar melihat ayahku di sampingku, perasaanku mulai sumringah lagi. Aku mampu duduk kembali dan pergi ke RSUD terdekat.
Di rumah sakit, aku bertemu dengan seorang dokter yang pagi-pagi sekali sudah tersibukkan oleh banyak pasien. Setelah diperiksa, tidak ada hal yang serius di tubuhku. Mungkin karena efek dari kecelakaan kemarin. Tubuhku menerima kejutan yang tak terduga hingga mereka bereaksi. Sakitku mulai reda, aku mendapati banyak obat. Saat itulah aku baru bisa berpikir jika ajalku telah ditunda.
Bersama ayahku, aku kembali ke rumah dan membuat surat izin tidak bisa mengikuti pelajaran seperti biasa. Karena mungkin saja perutku akan bereaksi lagi. Ternyata benar, baru sampai di rumah dan aku merasakan sehat selama satu jam. Sakit yang luar biasa itu datang kembali. Pikiranku mulai melayang-layang sehingga aku memperkirakan ajalku tidak dapat ditunda lagi. Sakit itu lebih sakit dari sebelumnya, namun mereka datang dan pergi sesukanya dengan waktu yang singkat. Sarapan pagi yang disuapkan ayahku telah ku muntahkan semuanya bersama obat berkali-kali. Tubuhku melingkar kesakitan hingga keringat dingin membasahi bajuku. Melihat aku yang seperti itu, ayahku menulis surat izin tidak bisa mengajar dan membawaku ke RSUD sebelumnya. Tentu, dalam waktu perjalanan satu jam lagi aku kembali ke sana.
Tiga jarum suntik secara bergantian menusuk kulitku. Tanganku dihubungkan dengan selang kecil yang di dalamnya mengalir cairan infus ke dalam darahku. Aku harus berbaring di dalam ruangan berbau obat. Aku pikir sehari pun bisa sembuh, ternyata lama sekali aku berbaring. Hampir seminggu, teman-temanku berkunjung membawa beberapa makanan yang menggoda, saudara-saudaraku, hingga rekan-rekan kerja ayah dan ibu secara bergantian mengatakan cepat sembuh padaku. Hingga pada akhirnya aku bisa bernapas lega. Aku terlepas dari infus dan diizinkan keluar dari rumah berbau obat itu. Kebimbanganku sebelumnya, sekarang telah berganti jika itu bukanlah ajalku yang sebenarnya. Aku hanya sakit biasa.
Terlepas dari kesehatanku yang semakin membaik, memburuk pula rasa takut itu yang semakin menjadi-jadi. Aku mengalami trauma lebih dari peristiwa-peristiwa yang terjadi sebelumnya. Setelah aku bisa kembali belajar di sekolah dan bertemu dengan teman-temanku, batinku merasa terpencil jauh. Bukan mereka yang menghindariku, untuk apa mereka menghindar ? Tapi akulah yang takut dengan mereka yang berbicara dengan volume keras. Sebenarnya itu biasa-biasa saja, namun telingaku lebih sensitif hingga suara mereka menjadi halilintar di telingaku. Ketakutan itu menjadi semakin luar biasa.
Aku jadi sering mengucilkan diri sendiri, menghindar dari mereka, lebih pendiam, dan sering duduk di bangku belakang. Aku pun takut dengan guru. Sampai kejadian aku duduk sendirian di bangku paling belakang sendiri. Saat itu aku sedang sendirian. Entah bagaimana atau apa, anganku mulai melayang tiba-tiba. Pikiranku seperti hanyut dalam bunyi-bunyian suara manusia. Aku seperti menjadi bagian terkecil di dunia sehingga aku tak bisa bergerak bebas. Bergerak sedikit saja, aku bisa mati. Kemudian dadaku terasa sesak sulit bernafas, kepalaku sakit sekali, keringat dingin bercucuran, hingga takut luar biasa tanpa sebab. Jantungku terus memukul-mukul dadaku hingga tulang rusukku hampir remuk. Aku menemukan kakiku yang berjalan sendiri membawaku keluar kelas. Dengan menutupi rasa sakit itu, aku berjalan di tengah-tengah banyak siswa yang sebenarnya tidak memperhatikanku berjalan melewati mereka. Aku terus saja berjalan menjauhi kelas, menjauhi halaman kelas, menjauhi lapangan sekolah, menjauhi tempat satpam, hingga aku benar-benar menjauhi pintu gerbang sekolah.
Selama lebih dari lima belas menit aku berjalan tanpa seorang pun mengikutiku. Aku pun bermaksud menghindari dari perhatian mereka. Sampai menurutku jauh sekali, aku berhenti setelah melihat sebuah jalan yang terapung di atas sungai. Itu jembatan. Langkahku semakin cepat disertai rasa takut dan kemauan. Sampai aku berlari dan berhenti setelah memegang erat pagar besi jembatan itu. Sebelumnya saat aku mulai memasuki area jembatan itu aku merasa seperti mendengar bunyi retak. Sekarang aku tidak peduli dengan hancurnya jembatan atau tenggelamnya jembatan. Biar pun aku tidak bisa berenang aku tidak peduli. Aku juga tidak peduli dengan rasa takut itu meskipun rasanya aku ingin berteriak atas apa yang ingin aku lakukan saat ini.
Kakiku mendekat ke tepi jembatan seraya tanganku yang basah karena keringat. Aku semakin memegang erat pagar jembatan. Dasar sungai itu semakin jauh, batu-batuan besar menyertai air menjadi arus yang deras. Arus yang melawan batu besar itu bagai halilintar yang marah padaku. Kakiku melangkah naik satu tingkat di pagar itu. Dalam hitungan ke sepuluh detik sekali aku akan menaiki satu per satu pagar itu. Sebanyak empat kali hingga aku mencapai ketinggian yang ku hendaki. Jari-jariku ku lepas dari pegangannya. Kedua tanganku ku rentangkan ke kanan dan kiri seperti di film Titanic sembari menghirup udara sepuas-puasku.  Aku melepas satu kakiku. Air mataku mulai menetes. Aku tidak percaya akan melakukan hal ini. Aku sudah tidak sempat lagi mengusap pipiku yang basah karena batinku yang terus saja berhitung sampai detik ke enam puluh. Dan…. Kakiku yang kedua pun sungguh ku lepas. Terbanglah. Aku terbang ke dasar sungai menghampiri batu-batu besar.
Lalu….
Entah sudah berapa hari aku terbaring di dasar sungai seraya menutup mata tak sadar. Ku pikir aku sudah mati. Tapi tanganku bergerak. Aku tidak bisa membuka mataku karena takut dengan kegelapan. Saat ku dorong tanganku ke depan, sesuatu berbunyi seperti kayu yang tebal dan keras. Benar.  Aku terkejut bukan main, ternyata aku berada di dalam sebuah peti mati. Aku sungguh takut, tak kuasa menahan tangis dan mulai menjerit. Tidak seorang pun mendengarku. Panas, gelap, senyap, menakutkan, menyeramkan, dan mengerikan. Aku menangis tak bisa berbuat apa-apa. Rasa takutku  sudah berada di titik puncak.
Di dalam peti mati, aku tak bisa membedakan siang atau pun malam. Ku perkirakan sudah beberapa hari aku terjebak di dalam peti itu dan masih saja hidup. Terancam, tertekan, dan tersiksa. Air mataku telah habis, mungkin sudah dua hari yang lalu. Aku tidak makan, tidak minum, apalagi menonton TV. Aku tidak bisa melakukan itu semua. Terlebih lagi, aku tidak bisa bertemu dengan orang tuaku maupun menghubunginya. Bahkan orang tuaku mungkin tidak tahu dan sedang mencariku ke mana-mana.
“Ibuuu, Ayaaahh….” Suaraku lirih sekali. Begitu seterusnya hingga aku merasa tidak berguna lagi.
Hingga di saat lelahku sudah mencapai batas maksimal, entah keajaiban atau apa, aku melihat cahaya yang terang sekali. Peti mati itu terbuka dengan sendirinya. Aku langsung tergugah dan berusaha bangkit dari tempat itu. Mataku terpancar ke segala arah.
“Dimana aku?” aku kebingungan. Mataku sedang menemukan sebuah tempat yang indah sekali. Lebih indah dari tempat yang selama ini aku impikan. Air bening dengan arus yang damai mengalir dengan bunyi yang menyejukkan hati, langit yang tersenyum saat aku berdiri di tempat itu, udara yang sejuk sekali, rerumputan hijau yang rapi, dan sebuah kandang domba yang sangat luas berada tepat di depanku. Domba itu berlari-lari riang. Aku seperti di padang rumput.
Saat kakiku memutuskan untuk berjalan menemui sebuah gubuk di sana, aku ditahan oleh seorang lelaki berbaju putih. Ia setinggi satu hasta di atasku. Sembari menghadangku berjalan, orang itu tersenyum. Aku mengernyitkan dahi, seperti seseorang yang ku kenal, dan mungkin tidak. Itu seperti dejavu dan aku sudah tidak bisa ingat sama sekali. Daya ingatku terasa semakin melemah, aku pun tak ingat lagi siapa nama orang tuaku meski aku masih bisa membayangkan bagaimana wajah mereka. Terpaksa aku bertanya.
‘’Siapa ?’’
‘’Apa kau masih takut ?’’ dengan pertanyaannya, aku mencerna baik-baik. Apa yang disebut dengan masih takut ? Apa sebelumnya aku seorang penakut ? Aku berusaha berpikir apa yang sebenarnya terjadi pada diriku sebelumnya. Lama sekali, aku baru bisa mengingatnya. Kemudian rasa takut itu lebih menakutkan dan memberiku suasana yang menyeramkan lagi. Langit itu berubah menjadi gelap dan halilintar datang terus-menerus. Dunia semakin gelap, domba-domba yang sebelumnya berlarian di kandang itu mati semua. Semuanya menjadi gelap, terkecuali lelaki berbaju putih itu. Aku semakin takut. Apa yang terjadi ?
‘’Sebenarnya apa ini ? Jangan gelap, ku mohon.’’ Desahku tidak mengerti.
‘’Kau tidak bisa memintaku, mintalah kepada dirimu sendiri. Sebenarnya kaulah yang menghendaki. Kau persis jari kelingking yang tersimpan di dalam peti mati yang besar. Kau tidak bisa melakukan apa-apa. Kau hanya lemah, kecil dan tidak berguna. Bukankan jari kelingking seperti itu ? Tapi jika kau tahu artinya, kau bisa menolak apa yang ku katakan.’’
‘’Astaga, ku mohon. Apa ini ? Aku takut sekali, tolonglah aku.’’ Aku ingin menangis.
‘’Senjatamu bukan tangisan, tapi keberanian.’’
Aku semakin tidak mengerti apa yang dimaksud. Bagaimana ia bisa menyamaiku dengan jari kelingking ? Setelah ku lihat, mengapa jari-jariku hanya empat?
“Mengapa tanganku seperti ini? Bahkan aku tidak melakukan apa-apa.”
“Jika ada sesuatu yang hilang, seharusnya kau lebih awal tahu. Mengapa kau tidak merasakan? Jari kelingking pun membantumu untuk hidup.” Lelaki itu diam sejenak, kemudiana berkata lagi “Sebenarnya kau masih berada di dalam peti yang gelap itu.”
Mataku melotot, “Apa aku sudah mati? Bagaimana orang tuaku? Aku belum sempat mengatakan apa-apa padanya.”
“Apa yang kau sebut dengan mati? Kau hanya berada di dalam peti mati, bukan berarti kau sudah mati. Kau hanya ketakutan di sana dan kau hanya diam menunggu kematianmu. Seharusnya kau mendorong pintu peti itu tak peduli berapa sisa jarimu. Meski entah seberapa beratnya karena kau berada di dalam tanah, setidaknya kau berusaha untuk melihat dunia luar yang sebenarnya tidak menakutkan. Di dalam peti itu lebih menakutkan!”
Aku berusaha mencerna kalimat-kalimat tersirat itu, rupanya dia sedang membicarakan tentang ketakutanku. Apa yang dikatakan benar, seharusnya aku memerangi hal yang mengerikan di dalam pikiranku. Sebelum berkata lagi, lelaki itu menghambat ucapanku.
“Jadi, bangunlah. Saat kau membuka mata, pergilah ke dunia dengan sebebas-bebas mungkin.”
….
Ngiiiiiinnnnnnggggggggg. Tiba-tiba aku mendengar suara yang mengganggu seluruh pendengaranku. Aku baru sadar, ternyata aku hanya tertidur di dalam kelas dan perihal tentang peti mati itu hanya mimpiku selama jam istirahat. Tapi tentang apa yang terjadi di dalam mimpi itu, semua telah mengubah pencitraanku tentang sekelilingku. Aku memutuskan, aku akan memasuki dunia luar sebebas-bebasnya tanpa rasa takut.

0 komentar:

Posting Komentar

 
berita unik