Betapa terkejutnya Mantio ketika
mencoba membuka mata saat terjaga dari tidurnya, tidak dilihat apapun
juga. Iapun menjerit keras, membangunkan Lia, istrinya.
“Ada apa Mas?”
“Mataku! Mataku! Mataku!” teriak Mantio.
Istrinya bangkit, memeluk suaminya, lalu
memandangi wajah dan memperhatikan mata Mantio. Tidak ada yang aneh.
Merahpun tidak. Masih berkedip-kedip pula. Istrinya menggeleng-gelengkan
kepala sambil tersenyum. Suaminya hanya menggoda, pikirnya. Ia kembali
membaringkan tubuhnya, memejamkan mata kembali yang belum lepas dari
kantuk.
“Lia! Di mana kau? Aku membutuhkanmu, Lia!” teriak Mantio.
Istrinya tidak memperdulikan, memiringkan tubuhnya, dan telinganya ditutupi bantal. Sebentar saja kembali terlelap.
“Lia!” teriakan keras Mantio.
Tempat tidur diguncang-guncang. Terdengar
barang-barang berjatuhan dan beberapa pecah. Lia terjaga. Ia merasa
sangat terganggu. Betapa kasar cara Mantio menggoda, keluhnya.
Lia membuka matanya. Saat itu Mantio
tengah menarik sprei kasur dengan keras. Lia terjatuh ke lantai setelah
beberapa saat terseret. Ia memekik keras.
“Lia! Lia! Kenapa kau?” tanya Mantio.
Lia bangkit sambil menyeringai kesakitan.
Ia terbelalak melihat seluruh peralatan kecantikannya telah tumpah ke
lantai. Ia memandang Mantio. Iapun tertegun. Mantio saat itu tengah
berjalan sambil memanggili namanya dengan meraba-raba. Lia mendekat,
memainkan jari-jari tangannya di depan mata Mantio. Tidak ada reaksi.
Iapun mulai cemas.
“Kenapa Mas?” tanya Lia lalu memeluknya.
“Oh, Lia. Mataku gelap, Aku tidak bisa melihat apa-apa, Lia,” suara Mantio resah dan memeluk erat.
“Duduklah dulu, Mas,” kata Lia sambil menuntun berjalan ke sisi ranjang, “Aku panggil Dokter Bram,”
Lia membanting gagang telpun dengan
kesal. Dokter Bram tidak bersedia datang dan menyuruhnya datang ke rumah
sakit di mana ia bekerja. Meskipun Lia telah menawarkan bayaran tiga
kali lipat, Dokter Bram tetap menolaknya.
“Maaf sekali Nyonya, bukan saya tidak
menghargai anda, tapi pada saat ini sulit bagi saya memenuhi permintaan
Nyonya. Meskipun Nyonya menawarkan bayaran sepuluh kali lipatpun,”
Edan! Maki Lia dalam hatinya.
“Telah puluhan telpun datang dari
orang-orang penting dalam waktu setengah jam. Demi keadilan, saya minta
dengan hormat agar mereka datang ke rumah sakit,”
“Bangsat! Tidak kenal budi! Dia menjadi
dokter mata termahal di negeri ini berkat aku!” Maki Mantio mendengar
berita dari istrinya.
Lia diam, berpikir. Diruntutnya kata-kata
Dokter Bram. Aneh! desisnya. Pada saat bersamaan, puluhan orang
mengalami penyakit mata. Pasien Dokter Bram bukanlah main-main. Berarti
semua orang-orang penting. Dan waktu ini masih sangat pagi. Belum ada
pukul enam.
“Lia, bagaimana aku, Lia?” keluh Mantio menghiba.
Lia merangkul Mantio.
“Kita ke rumah sakit, Mas,”
“Apa? Kita harus menuruti Dokter bangsat itu ?”
“Ssst, tenang dulu, Mas,” Lia mencoba
menentramkan suaminya. Ia lalu menceritakan apa yang ada di pikirannya.
Mantio mencoba memahami.
“Baiklah, Lia. Tapi jangan sampai ada yang tahu keadaanku. Semua yang telah kubangun bisa berakhir sia-sia.” pesan Mantio.
Lia mengangguk. Ia lalu menyadari bahwa Mantio tidak bisa menangkap jawabannya.
“Iya, Mas,” katanya cepat.
Lia sendiri yang mengendarai mobil. Mantio duduk di sebelahnya dengan mengenakan kaca mata hitam.
Sampai di rumah sakit, tempat parkir
telah dipenuhi oleh mobil-mobil mewah. Pemandangan sangat luar biasa!
Lia kesulitan mencari tempat untuk parkir. Terpaksa ia harus memarkir
kendaraannya di luar pagar, di pinggir jalan karena tidak ada tempat
lagi di dalam. Begitu ia turun, dua orang telah menyongsongnya. Memberi
penjelasan singkat dan mendampingi mereka masuk.
Di ruang tunggu, kursi-kursi telah penuh
terisi. Beberapa bahkan duduk di lantai. Laki-laki dan perempuan banyak
yang berkaca-mata hitam. Wajah-wajah yang sangat dikenal Lia atau
rasa-rasanya pernah mengenal. Lia mengatakan kepada Mantio dengan
hati-hati bagaimana kalau duduk di lantai.
“Bangsat! Ini adalah penghinaan terburuk sepanjang hidupku!” teriak Mantio.
“Ssst, Mas…” Lia berbisik dan mengatakan
nama-nama orang yang ada di situ. Dan itu cukup untuk menghentikan
kejengkelan Mantio. Mantio tidak menolak lagi untuk duduk di lantai.
Lia menghampiri petugas dan mendaftarkan diri.
“Jabatan?” tanya petugas itu.
Lia terperanjat. Wajahnya memerah. Sebelum sempat ia berkata, petugas itu memberi penjelasan.
“Maaf, Nyonya. Ini demi kepentingan kita semua. Saya harap Nyonya dapat memahami,”
Lia memaki-maki di dalam hati. Tiba-tiba
ia merasa malu sendiri. Bukankah selama ini ia banyak mengalami
kemenangan dalam antrian lantaran jabatan suaminya? Dan pada kali ini,
rata-rata adalah orang-orang sederajat dan orang-orang yang lebih tinggi
lagi. Lia menyebutkan nama suaminya dan jabatan yang dipegangnya.
“Mudah-mudahan tidak lama,” harapnya.
Lia duduk di lantai bersama suaminya.
Mereka berbincang-bincang dengan nada pelan. Pasien-pasien baru terus
berdatangan. Bisik-bisik bermunculan.
“Oh, si anu juga datang,”
“Oh, si ini kena juga,” dan beragam komentar bermunculan.
Kapan tepatnya, Lia tidak memperhatikan.
Tiba-tiba saja banyak aparat keamanan telah berjaga-jaga. Ia baru
menyadari kehadirannya ketika terjadi keributan. Seseorang dengan kamera
tergantung di lehernya memaksa untuk masuk ruangan. Terjadi perdebatan.
Toh, orang itu tidak juga mendapatkan hasil, malah tergiring dengan
paksa oleh beberapa aparat keamanan untuk keluar dari ruangan.
Menunggu memang sangat menjengkelkan. Lia
melihat ke jam tangannya. Sudah pukul 10.13. Sudah tiga jam lebih ia
menunggu, belum juga kunjung panggilan datang.
Lia berdiri, menyibakkan tirai jendela,
dan ia melihat di luar telah banyak orang berkerumun yang terus
berusaha mendesak diperkenankan masuk. aparat keamanan telah membuat
pagar betis yang cukup kokoh dan sulit ditembus. Nekad? Bisa kena
pentungan nanti!
“Tuan Mantio!” terdengar panggilan petugas.
Lia bersorak. Melepas tirai dan memapah
Mantio memasuki ruang periksa. Dokter Bram menyalami erat Mantio dan
memohon maaf. Mantio diam.
“Ya, saya maklum Dokter,” justru Lia yang menjawab.
Dokter Bram memeriksa dengan teliti.
“Sakit apa Dokter?” tanya Lia.
Dokter Bram menghela nafas dan bersandar
pada kursinya. Matanya menatap ke atas. Tangannya memainkan pena. ”Saya
tidak tahu pasti. Ini sangat aneh. Semua mata normal,”
Lia menahan nafas. “Kita berdoa saja semoga semuanya cepat berakhir,” Kata Dokter Bram.
Pemeriksaan usai. Lia dan Mantio keluar ruangan. Petugas memanggil nama pasien selanjutnya.
Pada kesempatan waktu yang pendek itu, Dokter Bram berkesah pelan; “Ya, Tuhan. Peringatan apa yang kau timpakan kepada kami?”
* * *
0 komentar:
Posting Komentar