TRIPLE SCARY
Ayahku bercerita, dulu di kampung ini ada seorang pemuda
yang bernama Dedi. Dia adalah pemuda aktif, gesit dan atletis, karena
hobinya lari pagi dan bermain sepak bola bersama teman-temannya.
Suatu Minggu pagi, dia terbangun dan bergegas wudhu dan
shalat Subuh, kemudian bersiap memakai baju olah raga untuk lari pagi.
Dia sudah memiliki janji dengan sahabatnya, Arif. Mereka janjian di
sebuah lapangan sepak bola tempat mereka lari pagi dan bermain bola di
sana.
Singkat cerita Dedi pun pergi. Jam menunjukkan sekitar
pukul 04.30 pagi. Dia berlari kecil menyusuri gang-gang pemukiman warga
dan jalan desa, lalu sampailah dia di lapangan sepak bola. Dia tidak
membawa jam tangan, dia hanya berasumsi waktu itu kurang dari jam 05.00
pagi, karena langit masih tampak gelap. Setelah sampai, Dedi masuk ke
area lapangan sepak bola itu. Namun, betapa kagetnya dia, karena di sana
tampak ramai sekali dengan hirup pikuk orang-orang yang sedang bermain
bola, dan di sekeliling lapangan terdapat banyak para pedagang yang
menjajakan makanan serta minuman.
"Lho masih Subuh kok udah ada yang main bola, ramai pula ini pedagang jam segini?", gumamnya keheranan.
Dia berpikir tidak wajar bermain bola di luar ruangan
dengan kondisi langit masih pekat dan penerangan minim kala itu. Dan
seumur-umur dia berlari pagi di sana, tidak pernah melihat orang-orang
main bola saat Subuh dengan pedagang seramai itu. Main bola lumrahnya
menjelang sore hari, yang main pagi pun jarang sekali, apalagi ini Subuh
dengan suasana langit masih gelap. Lalu dia masuk ke area lapangan dan
duduk di sebuah bangku yang di sebelahnya ada roda tukang bajigur
(sejenis minuman tradisional Sunda, campuran santan, jahe dan gula
merah, berwarna cokelat muda).
"Pesen satu gelas Mang...", kata Dedi.
Si mang tukang bajigur mengangguk. ("Mang" adalah sapaan
untuk "Bang atau Mas" dalam bahasa Sunda). Si mang bajigur sedari tadi
tidak memperlihatkan wajahnya, hanya membelakangi saja.
"Aneh ya, jam segini ko pada main bola?", tanya Dedi pada si mang bajigur.
Si mang bajigur memberikan gelas berisi bajigur sembari
menunduk, tanpa berbicara sepatah kata pun. Dedi mengaduk-ngaduk
bajigurnya dengan sendok sambil matanya melihat ke tengah-tengah
lapangan sepak bola. Sesekali Dedi tersenyum karena keluar kata-kata
kasar dalam bahasa Sunda dari mulut para pemain bola, sambil tangannya
tak lepas mengaduk-ngaduk bajigur. Namun, betapa kagetnya Dedi ketika ia
hendak meneguk bajigurnya, ternyata bajigur yang hendak ia minum lebih
mirip air comberan atau air campuran tanah merah, tidak ada aroma khas
bajigur. Di tengah kebingungannya, tiba-tiba tercium bau busuk yang
sangat menyengat.
"Mang, kok bau bangkai yah?", tanya Dedi.
Tapi tetap tak digubris oleh tukang bajigur itu. Dedi kesal
karena dari tadi ini orang tak jawab satu pun pertanyaannya. Si mang
bajigur sedari tadi hanya membelakangi sambil merapihkan dagangannya.
"Mang, ko diem aja sih?!", Dedi mulai tersinggung.
Dan tiba-tiba si mang tukang bajigur itu berbalik badan.
"Itu bau saya...", ucapnya dengan suara yang berat.
Dan ketika Dedi lihat, wajah tukang bajigur itu hancur dan
menyeramkan. Rupanya bau bangkai itu berasal dari wajah hancur tukang
bajigur yang terlihat membusuk dan dipenuhi belatung-belatung yang
sangat menjijikan. Dedi lari tunggang-langgang menjauh, dan melemparkan
gelas bajigurnya. Dedi berlari dan terus berlari sambil matanya melirik
ke area tengah lapangan bola, dan Astaga... Dia melihat dirinya dan
teman-temannya, termasuk Arif tengah bermain bola. Dia melihat makhluk
yang menyerupai dirinya sedang berlari, menggocek bola dan
berteriak-teriak dalam bahasa Sunda, lengkap dengan baju olah raga merah
kesayangannya, persis seperti suasana permainan bola Dedi dan
kawan-kawannya sore hari kemarin. Dedi makin ketakutan dan terus
berlari, hingga akhirnya dia berhenti di sebuah tempat jualan kacang
rebus. Dia duduk di bangku tukang kacang rebus sambil meminta izin.
"Mang, ikut duduk sebentar di sini ya?", pinta Dedi .
"Silakan, Jang", kata si tukang kacang, sambil tersenyum
ramah. ("Jang" adalah sapaan untuk anak muda laki-laki Sunda, kependekan
dari "Ujang")
"Kenapa Jang, kaya liat setan gitu?" tanya dia pada Dedi .
"Hm... anu Mang, saya tadi habis liat hantu tukang bajigur...", ucap Dedi, dan disambut dengan senyuman tukang kacang rebus.
"Kok aneh ya, jam segini ada yang main bola, dan salah seorang pemainnya kok mirip saya?", Dedi bertanya-tanya.
"Di sini memang sering terjadi kejadian aneh Jang", kata si mang tukang kacang rebus menakut-nakuti.
Dedi mengatur nafas dan merasa heran kenapa langit kok
masih saja gelap dan si Arif sedari tadi tak muncul-muncul, padahal
pikirnya waktu kala itu sudah lebih dari jam 5 pagi.
Lama rasanya Dedi mengobrol dengan tukang kacang itu. Dan
tiba-tiba bau busuk itu tercium kembali, persis bau bangkai tukang
bajigur.
"Mang, ini kok rasanya bau bangkai yah?", tanya Dedi.
"Ah enggak kok Jang", jawab tukang kacang.
"Tadi saya ngeri banget liat wajah tukang bajigur yang
rusak banget, dan baunya itu mirip sama bau yang tercium sekarang", kata
Dedi bergidik.
Dan tiba-tiba suara si tukang kacang rebus berubah menjadi berat.
"Rusakna jiga urang teu?" (rusaknya seperti saya gak?), ucap si mang tukang kacang dalam bahasa Sunda.
Tiba-tiba saja wajah tukang kacang rebus itu berubah rusak,
dan kemudian mendekatkan wajahnya persis di depan muka Dedi, disertai
bau bangkai busuk yang sangat menyengat, sampai Dedi pun mau muntah.
"Astagfirullah...", Dedi berteriak, kemudian dia berlari
sekuat tenaga menjauh ke luar dari area lapangan. Dedi berlari tergopoh
dan tidak sengaja menabrak seorang gadis cantik berambut panjang di
pintu gerbang. Si gadis marah dan bertanya.
"Kenapa Aa, kok kaya yang ketakutan gitu, sakit nih ketabrak!", kata si gadis berambut panjang setengah marah.
"Maaf Neng, saya buru-buru", kata Dedi. (Sapaan "Aa" dan "Neng" memang lumrah untuk kaum muda-mudi dalam bahasa Sunda).
"Memangnya ada apa Aa?", tanya si gadis lagi.
"Aa tadi liat setan berwajah hancur Neng", timpal Dedi .
"Aa ada-ada aja, nih Eneng baru aja mau masuk lapangan", timpal si gadis.
"Memangnya Neng mau apa?", tanya Dedi penasaran.
"Lari pagi lah, sambil liatin orang main bola", ujar si gadis sambil tersenyum menggoda.
Rasa kelaki-lakian Dedi mulai menyeruak, dan timbullah rasa ingin tahu.
"Ngomong-ngomong, nama Neng siapa?", tanya Dedi.
"Nama saya Sari, Aa", kata gadis tersebut sambil menyodorkan tangannya yang putih dan mulus.
"Saya Dedi", jawab Dedi sambil ngos-ngosan.
Singkat cerita, mereka berdua mengobrol di bawah pohon di
luar area lapangan. Gadis itu cantik sekali, walaupun kala itu hanya
diterangi cahaya bulan sisa tadi malam yang remang-remang. Sebetulnya
Dedi bingung, kenapa bulan masih saja nampak, tidak juga berganti
matahari, dan dia juga heran ada gadis cantik lari pagi sendirian, apa
dia tidak takut?
"Neng asli mana?, tanya Dedi .
"Asli sini Aa", timpalnya manja.
"Hm... Sering kesini yah? Tapi Aa gak pernah sekali pun liat Neng?!", tanya Dedi bingung sambil menggoda.
"Mungkin belum waktunya, Aa...", jawab si gadis sambil tersenyum.
Dedi semakin bernafsu dan mulai berani memegang tangan si
gadis, dan si gadis hanya tersenyum manis. Dedi seketika lupa dengan
kejadian mengerikan yang tadi dialaminya. Namun tiba-tiba semerbak bau
bangkai tercium kembali, hati Dedi mulai gundah dan takut.
"Jangan-jangan gadis ini juga hantu?!", batin Dedi .
Dedi perlahan melepaskan tangan gadis itu dan mulai beranjak dari tempat duduknya sambil ketakutan.
"Aa, mau kemana?", tanya si gadis.
"Aa mau pulang, Neng", jawab Dedi takut.
"Aa... wajah hantu yang rusak tadi seperti Neng gak? hi hi hi hi...", tanya si gadis sambil tertawa cekikikan ala Kuntilanak.
Grrrrrrr..., gigi Dedi gemertak mendengar si gadis berkata
demikian. Dan benar saja, wajah cantiknya kini berubah jadi buruk rupa.
"Huaaaaaaaaaa.....", Dedi berteriak dan berlari kencang
menjauh. Bau bangkai kian menyeruak, dan terdengar tawa si gadis
menggema seperti mengikutinya.
*****
Dedi memelankan langkahnya. Dia mulai lemas dan lunglai,
matanya berkunang-kunang. Dan tibalah seorang bapak tua menangkap tubuh
Dedi yang mau ambruk di pinggir jalan yang sepi itu.
"Ujang siapa?", tanya bapak tua itu.
"Dedi, Pak. Saya tadi liat hantu di lapangan bola sampai tiga kali. Ampun, tobaaaat...", jawab Dedi sambil menangis.
Dedi bercerita kalo dia lagi dikejar-kejar hantu. Dedi
sebetulnya khawatir si bapak tua itu hantu juga, tapi nampaknya Dedi
mulai mantap bahwa bapak itu bukan hantu.
"Ikut bapak aja ke rumah yuk, kebetulan bapak mau pulang kerja abis lembur", tawar bapak tua itu.
Dedi mengangguk dengan wajahnya yang pucat pasi. Rumah
bapak tua itu tidak jauh dari kawasan lapangan sepak bola itu. Diberilah
Dedi segelas air putih hangat.
"Disini memang sering kejadian adanya penampakkan hantu Jang...", kata bapak itu.
Si bapak bercerita, bahwa dulu hantu-hantu tersebut adalah
para supporter bola yang berbondong-bondong ingin menonton tim
kesayangan mereka yang akan bertanding di luar kota. Tim sepak bola itu
sering juga berlatih di lapangan bola tersebut. Di perjalanan, bis yang
mengangkut mereka jatuh ke jurang, termasuk beberapa pedagang dan gadis
cantik yang Dedi temui tadi. Peristiwa itu terjadi jauh bertahun-tahun
sebelum Dedi sering ke lapangan itu.
Dedi termangu dan makin lemas ketika dia melihat jam
dinding baru saja menunjukkan pukul 1 pagi. Dia beristigfar dan
keheranan, mengapa jam dinding di rumahnya tadi menunjukkan pukul 4.30
pagi, pantas saja matahari tidak juga terbit dan si Arif tak kunjung
datang.
"Bisa jadi hantu-hantu tersebut memang sudah merencanakan ini, Jang", lanjut si bapak.
"Mungkin iya Pak, karena saya cukup sering lari pagi di
lapangan itu dan bermain bola. Dan yang gak saya paham tadi, saya
melihat pemain bola yang menyerupai wajah saya dan teman-teman saya
sedang bermain di tengah lapangan", tukas Dedi kebingungan.
"Iya, itulah jin-jin usil, Jang. Mereka mengamati
gerak-gerik kalian dan menyerupai kalian layaknya kalian sedang bermain
bola", tambah bapak itu lagi.
Akhirnya Dedi memohon izin untuk tinggal di tempat bapak
itu hingga pagi hari. Setelah itu Dedi sakit hingga 1 minggu lebih dan
tidak berani lagi untuk bermain di lapangan itu.
0 komentar:
Posting Komentar