Translate

cerpen persami 2

Written By iqbal_editing on Kamis, 01 Juni 2017 | 06.25

PERSAMI
            Pada hari sabtu dan minggu, tanggal 10-11 Desember 2011, di sekolahku mengadakan persami. Sebelum Persami dilaksanakan, semua regu harus mempersiapkan regunya masing-masing. Reguku bernama regu melati, terdiri dari delapan orang. Delapan orang itu adalah aku, Tiara, Nurma, Ella, Puji, Nikhi, Risky, dan Sri. Regu kami di ketuai oleh Tiara. Terkadang dia orangnya tegas dan galak namun, terkadang dia juga membuat lawan bicaranya binging, karena dia suka membolak-balik kata, mengulang kata-kata yang tidak perlu dan pura-pura tidak tahu, sehingga slalu bertanya dan membuat lawan bicaranya jengkel.
            Sebelum Persami dilaksanakan, regu kami bermusyawarah untuk menyiapkan barang yang akan dibutuhkan, bahan-bahan yang akan dipakai, pembagian tugas, pembagian barang-barang yang harus dibawa setiap orang untuk keperluan kelompok, menyiapakan dua orang untuk lomba Dimas Diajeng, menentukan makanan apa yang akan disajikan untuk lomba memasak, makanan apa yang akan dimasak selama Persami, dan regu kami menyiapkan gerakan dance untuk lomba pensi. Sebelum memutuskan untuk menampilkan dance, regu kami kebingungan. Akhirnya masalah itu dapat terselesaikan. Dar delapan orang, hanya empat orang yang ikut dance yaitu, aku, Tiara, Nurma, dan Nikhi. Kita latihan setiap pulang sekolah. Terkadang, saat kami latihan, kami harus bergantian dengan regu lain yang temen satu kelas. Kami latihan dibantu dengan mp3(musik) yang keluar dari handphone. Pada saat kami latihan, aku tidak sengaja menyenggol meja yang diatasnya ada handphone temanku, handphone temanku akhirnya jatuh.
                        “Maaf aku gak sengaja, maaf, maaf.” Ucapku
                        “Iya gak papa, lagi pula gak rusak kok.” Kata temanku
                        “Beneran gak papa?” tanyaku
                        “Iya gak papa.” Jawab temanku
Kita melanjutkan latihan lagi. Karena matahari sudah berada dibagian barat, aku dan teman-teman memutuskan untuk pulang.
                        “Udah ya.” Ucap Sri
                        “Jangan besok kumpul dirumah Tiara.” Sahut Ella
                        “Oke, jam berapa?” tanya Nurma
                        “Jam satu.” Jawab Ella
                        “Sip deh.” Ucap Risky
            Pada hari jum’at, kita berkumpul dirumah Tiara pukul 1 siang. Setelah berkumpul semua, kita pergi ke warung untuk berbelanja. Kami  berbelanja sayuran, bakso, sosis, mie instan dan lain-lain. Selama diperjalan pulang kami bertemu dengan ibu-ibu yang berjualan minyak tanah. Kami pun membeli minyak tanahnya. Kami melanjutkan perjalanan pulang. Kami pulang melewati jalan yang disebelah timur jalan terdapat sungai kecil dan hamparan sawah. Salah satu temanku ada yang terjatuh disungai. Dengan refleks aku dan teman-teman yang lain menertawakannya.
                        “ssttttt..jangan di tertawai, kasihan.” Ucapku.
                        (semua pun diam)
Temanku yang terjatuh adalah Ella. Kita membantu Ella untuk bangkit. Namun, kita mengalami kesulitan saat membangunkan Ella karena, badan dia besar dan berat. Untung saja waktu itu jalanan sepi, jadi dia hanya malu sama kita. Masih baik juga dia tidak apa-apa, hanya saja baju dia kotor dan basah karena terkena lumpur. Setelah itu kita menghantarkannya pulang kerumah karena kasihan. Sesampainya dirumah Ella.
                        “Kamu kenapa nak?” tanya Ibu Ella
                        “Jatuh bu.” Jawab Ella
                        “Jatuh dimana?” tanya ibunya kembali
                        “Disungai.” Jawabnya (Ibu Ella lalu tersenyum)
                        “Lha kok bisa itu gimana?” (tanya ibu penasaran)
                        “Ya bisa saja dong bu.” Jawab Ella
                        “Ya sudah, sana mandi dulu.” (ibu menyuruh Ella untuk mandi)
(Ella pun masuk kedalam rumah dan menuju ke kamar mandi)
                        “Ya sudah bu, kita pamit pulang.” Ucap temanku
                        “Gak mamir dulu?” tanyanya
                        “Lain kali kita mampir.” Ucap Tiara
            (satu persatu kita bersalaman dengan Ibu Ella)
                        “Hati-hati dijalan.” Kata Ibu Ella
                        “Ya bu. Assalamu’alaikum.” Ucap kami
                        “Wa’alaikumsalam.” Jawab Ibu Ella
            Hari ini adalah hari sabtu, dan nanti siang Persami akan dimulai. Saat pagi hari sebelum pelajaran dimulai, kami masih ribut dengan kegiatan yang akan dilakukan nanti siang. Bel pun berbunyi, tanda pelajaran akan di mulai. Saat bel pulang sekolah berbunyi, kita bergegas untuk segera pulang. Persami dilaksanakan pukul 2 siang. Aku berangkat dari rumah pukul setengah dua. Aku diantar oleh saudaraku dengan menggunakan sepeda. Sesampainya di sekolah, belum ada regu lain yang datang, aku pun hanya menaruh barang-barang dan kembali lagi kerumah untuk mengambil barang yang belum saya bawa. Saat aku kembali di sekolah lagi, sudah banyak orang yang datang dan sudah mulai mendirikan tenda. Kami kekurangan pathok dan akhirnya kita pun ribut. Dalam mendirikan tenda kami regu di bantu oleh bapak temanku. Saat itu, temanku kebingungan karna terpal yang akan di gunakan belum datang, temanku pun sms bapaknya untuk segera cepat menghantarkan terpalnya. Bapak temanku yang membantu mendirikan tenda adalah bapaknya Nikhi. Saat bapaknya Nikhi melihat temanku membawa handphone untuk sms, dia marah.
                        “Di bantu malah mainan hp. Bantuin.” Kata Bapak Nikhi
Padahal selain temanku yang sedang sms, aku dan teman-teman yang lainnya membantu mendirikan tenda.
            Siang berganti malam. Acara yang dilaksanakan pada malam itu adalah api unggun, jurit malam, pensi dan lain-lain. Kakak pembina meniup peluitnya dan itu artinya acara api unggun akan dimulai. Semua peserta pun berkumpul. Saat api unggun dinyalakan, kami lalu menyanyi. “api unggun sudah menyala, api unggun sudah menyala, api api api api api api unggun kita sudah menyala....”
Setelah api unggun, kegiatan lalu disusul dengan Jurit Malam. Jurit Malam dilakukan disekitar Desa Cepit. Saat diperjalanan kita melewati pos-pos dan disetiap pos kita harus mengambil soal dan menjawabnya. Diperjalanan, regu kami berjalan bersama kakak DP. Saat itu terdengar suara durian jatuh. Saat kakak DP melihat kearah durian jatuh itu, ad seorang nenek yang memakai baju putih. Semua pun lalu berteriak dan kaget karena nenek itu dikira hantu. Didekat jalan raya, kami istirahat dan Kak Yatman kakak pembina ikut duduk serta bercanda bersama. Setelah sampai lagi di sekolah, kami beristirahat sebentar dan berganti baju untuk melaksanakan lomba pensi. Setelah lomba pensi selesai, kami berganti baju pramuka lagi dan menuju kelapangan. Di lapangan, kita semua disuruh merapikan pakaian serta dalam satu regu kami harus berbaris memegang pundak teman yang ada didepannya. Dengan mata tertutup, kami harus mencari asal bunyi peluit yang ditiup kakak pembina. Saat mencari asal bunyi, tidak sengaja aku melepas pegangan tanganku dari pundak temanku, kami pun terpisah. Selanjutnya kami dibawa kedalam ruang kelas. Disana disuruh berbaris dan melaksanakan upacara. Pada barisan laki-laki maupun perempuan yang ada di berisan pojok kanan depan harus maju satu langkah dan diberi tanda penggalang. Itu tandanya kami telah resmi menjadi dewan penggalang. Lalu kami disuruh untuk duduk dan salah satu kakak DP, menceritakan perjuangan orang tua dalam merawat dan membesarkan kita dengan nada yang membuat hati kita tersentuh. Kita pun menangis dan ada juga yang menjerit. Acara itu diakhiri dengan kita harus berjanji, sesampainya dirumah nanti, kita harus meminta maaf kepada kedua orang tua. Semu lalu keluar dari kelas dan aku langsung masuk kedalam tenda dan masih menangis. Setelah kukira menangisnya sudah cukup, aku lalu keluar tenda dan tidur disamping tenda. Aku tidur disamping tenda bersama Ella, Risky dan Sri. Karena tendanya kecil dan tidak muat untuk menampung semua orang regu kami. Aku tidak bisa tidur.
            Hari sudah pagi dan suara adzan subuh mulai berkumandang. Aku dan yang lainnya pergi ke masjid dan mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat subuh secara berjama’ah. Selesai sholat, kami mandi. Kami pun mulai kegiatan kembali. Kegiatan ini diawali dengan lomba masak dan dilanjutkan dengan Dimas Diajeng. Regu kami tidak ikut lomba Dimas Diajeng karena teman yang sudah sepakat mau ikut dalam lomba ini, ternyata tidak jadi, kami pun bersembunyi diruang kelas. Kami hanya menyaksikan peserta yang lain lewat jendela. Acara yang terakhir adalah upacara penutupan, pembagian SKU Penggakang dan pembagian hadiah, regu kami mendapat hadiah namun,ada regu lain yang tidak setuju regu kami mendapat hadiah. Regu kami pun menjadi ragu untuk mengambil hadiah tersebut.

0 komentar:

Posting Komentar

 
berita unik