PERSAMI
Pada hari sabtu dan minggu, tanggal
10-11 Desember 2011, di sekolahku mengadakan persami. Sebelum Persami
dilaksanakan, semua regu harus mempersiapkan regunya masing-masing. Reguku
bernama regu melati, terdiri dari delapan orang. Delapan orang itu adalah aku,
Tiara, Nurma, Ella, Puji, Nikhi, Risky, dan Sri. Regu kami di ketuai oleh
Tiara. Terkadang dia orangnya tegas dan galak namun, terkadang dia juga membuat
lawan bicaranya binging, karena dia suka membolak-balik kata, mengulang
kata-kata yang tidak perlu dan pura-pura tidak tahu, sehingga slalu bertanya
dan membuat lawan bicaranya jengkel.
Sebelum Persami dilaksanakan, regu
kami bermusyawarah untuk menyiapkan barang yang akan dibutuhkan, bahan-bahan
yang akan dipakai, pembagian tugas, pembagian barang-barang yang harus dibawa
setiap orang untuk keperluan kelompok, menyiapakan dua orang untuk lomba Dimas
Diajeng, menentukan makanan apa yang akan disajikan untuk lomba memasak,
makanan apa yang akan dimasak selama Persami, dan regu kami menyiapkan gerakan dance
untuk lomba pensi. Sebelum memutuskan untuk menampilkan dance, regu kami
kebingungan. Akhirnya masalah itu dapat terselesaikan. Dar delapan orang, hanya
empat orang yang ikut dance yaitu, aku, Tiara, Nurma, dan Nikhi. Kita latihan
setiap pulang sekolah. Terkadang, saat kami latihan, kami harus bergantian
dengan regu lain yang temen satu kelas. Kami latihan dibantu dengan mp3(musik)
yang keluar dari handphone. Pada saat kami latihan, aku tidak sengaja
menyenggol meja yang diatasnya ada handphone temanku, handphone temanku
akhirnya jatuh.
“Maaf aku gak sengaja,
maaf, maaf.” Ucapku
“Iya gak papa, lagi pula
gak rusak kok.” Kata temanku
“Beneran gak papa?”
tanyaku
“Iya gak papa.” Jawab
temanku
Kita
melanjutkan latihan lagi. Karena matahari sudah berada dibagian barat, aku dan
teman-teman memutuskan untuk pulang.
“Udah ya.” Ucap Sri
“Jangan besok kumpul
dirumah Tiara.” Sahut Ella
“Oke, jam berapa?” tanya
Nurma
“Jam satu.” Jawab Ella
“Sip deh.” Ucap Risky
Pada hari jum’at, kita berkumpul
dirumah Tiara pukul 1 siang. Setelah berkumpul semua, kita pergi ke warung
untuk berbelanja. Kami berbelanja
sayuran, bakso, sosis, mie instan dan lain-lain. Selama diperjalan pulang kami
bertemu dengan ibu-ibu yang berjualan minyak tanah. Kami pun membeli minyak
tanahnya. Kami melanjutkan perjalanan pulang. Kami pulang melewati jalan yang
disebelah timur jalan terdapat sungai kecil dan hamparan sawah. Salah satu
temanku ada yang terjatuh disungai. Dengan refleks aku dan teman-teman yang
lain menertawakannya.
“ssttttt..jangan di
tertawai, kasihan.” Ucapku.
(semua pun diam)
Temanku yang
terjatuh adalah Ella. Kita membantu Ella untuk bangkit. Namun, kita mengalami
kesulitan saat membangunkan Ella karena, badan dia besar dan berat. Untung saja
waktu itu jalanan sepi, jadi dia hanya malu sama kita. Masih baik juga dia
tidak apa-apa, hanya saja baju dia kotor dan basah karena terkena lumpur.
Setelah itu kita menghantarkannya pulang kerumah karena kasihan. Sesampainya
dirumah Ella.
“Kamu kenapa nak?” tanya
Ibu Ella
“Jatuh bu.” Jawab Ella
“Jatuh dimana?” tanya
ibunya kembali
“Disungai.” Jawabnya
(Ibu Ella lalu tersenyum)
“Lha kok bisa itu
gimana?” (tanya ibu penasaran)
“Ya bisa saja dong bu.”
Jawab Ella
“Ya sudah, sana mandi
dulu.” (ibu menyuruh Ella untuk mandi)
(Ella pun masuk kedalam rumah dan menuju ke kamar mandi)
“Ya sudah bu, kita pamit
pulang.” Ucap temanku
“Gak mamir dulu?” tanyanya
“Lain kali kita mampir.”
Ucap Tiara
(satu persatu kita bersalaman dengan
Ibu Ella)
“Hati-hati dijalan.” Kata
Ibu Ella
“Ya bu.
Assalamu’alaikum.” Ucap kami
“Wa’alaikumsalam.” Jawab
Ibu Ella
Hari ini adalah hari sabtu, dan
nanti siang Persami akan dimulai. Saat pagi hari sebelum pelajaran dimulai,
kami masih ribut dengan kegiatan yang akan dilakukan nanti siang. Bel pun
berbunyi, tanda pelajaran akan di mulai. Saat bel pulang sekolah berbunyi, kita
bergegas untuk segera pulang. Persami dilaksanakan pukul 2 siang. Aku berangkat
dari rumah pukul setengah dua. Aku diantar oleh saudaraku dengan menggunakan
sepeda. Sesampainya di sekolah, belum ada regu lain yang datang, aku pun hanya
menaruh barang-barang dan kembali lagi kerumah untuk mengambil barang yang
belum saya bawa. Saat aku kembali di sekolah lagi, sudah banyak orang yang
datang dan sudah mulai mendirikan tenda. Kami kekurangan pathok dan akhirnya
kita pun ribut. Dalam mendirikan tenda kami regu di bantu oleh bapak temanku.
Saat itu, temanku kebingungan karna terpal yang akan di gunakan belum datang,
temanku pun sms bapaknya untuk segera cepat menghantarkan terpalnya. Bapak
temanku yang membantu mendirikan tenda adalah bapaknya Nikhi. Saat bapaknya
Nikhi melihat temanku membawa handphone untuk sms, dia marah.
“Di bantu malah mainan
hp. Bantuin.” Kata Bapak Nikhi
Padahal
selain temanku yang sedang sms, aku dan teman-teman yang lainnya membantu
mendirikan tenda.
Siang berganti malam. Acara yang
dilaksanakan pada malam itu adalah api unggun, jurit malam, pensi dan
lain-lain. Kakak pembina meniup peluitnya dan itu artinya acara api unggun akan
dimulai. Semua peserta pun berkumpul. Saat api unggun dinyalakan, kami lalu
menyanyi. “api unggun sudah menyala, api unggun sudah menyala, api api api api
api api unggun kita sudah menyala....”
Setelah api
unggun, kegiatan lalu disusul dengan Jurit Malam. Jurit Malam dilakukan
disekitar Desa Cepit. Saat diperjalanan kita melewati pos-pos dan disetiap pos
kita harus mengambil soal dan menjawabnya. Diperjalanan, regu kami berjalan
bersama kakak DP. Saat itu terdengar suara durian jatuh. Saat kakak DP melihat
kearah durian jatuh itu, ad seorang nenek yang memakai baju putih. Semua pun
lalu berteriak dan kaget karena nenek itu dikira hantu. Didekat jalan raya,
kami istirahat dan Kak Yatman kakak pembina ikut duduk serta bercanda bersama. Setelah
sampai lagi di sekolah, kami beristirahat sebentar dan berganti baju untuk
melaksanakan lomba pensi. Setelah lomba pensi selesai, kami berganti baju
pramuka lagi dan menuju kelapangan. Di lapangan, kita semua disuruh merapikan
pakaian serta dalam satu regu kami harus berbaris memegang pundak teman yang
ada didepannya. Dengan mata tertutup, kami harus mencari asal bunyi peluit yang
ditiup kakak pembina. Saat mencari asal bunyi, tidak sengaja aku melepas
pegangan tanganku dari pundak temanku, kami pun terpisah. Selanjutnya kami
dibawa kedalam ruang kelas. Disana disuruh berbaris dan melaksanakan upacara.
Pada barisan laki-laki maupun perempuan yang ada di berisan pojok kanan depan
harus maju satu langkah dan diberi tanda penggalang. Itu tandanya kami telah
resmi menjadi dewan penggalang. Lalu kami disuruh untuk duduk dan salah satu
kakak DP, menceritakan perjuangan orang tua dalam merawat dan membesarkan kita
dengan nada yang membuat hati kita tersentuh. Kita pun menangis dan ada juga
yang menjerit. Acara itu diakhiri dengan kita harus berjanji, sesampainya
dirumah nanti, kita harus meminta maaf kepada kedua orang tua. Semu lalu keluar
dari kelas dan aku langsung masuk kedalam tenda dan masih menangis. Setelah
kukira menangisnya sudah cukup, aku lalu keluar tenda dan tidur disamping tenda.
Aku tidur disamping tenda bersama Ella, Risky dan Sri. Karena tendanya kecil
dan tidak muat untuk menampung semua orang regu kami. Aku tidak bisa tidur.
Hari sudah pagi dan suara adzan
subuh mulai berkumandang. Aku dan yang lainnya pergi ke masjid dan mengambil
air wudhu untuk melaksanakan sholat subuh secara berjama’ah. Selesai sholat,
kami mandi. Kami pun mulai kegiatan kembali. Kegiatan ini diawali dengan lomba
masak dan dilanjutkan dengan Dimas Diajeng. Regu kami tidak ikut lomba Dimas
Diajeng karena teman yang sudah sepakat mau ikut dalam lomba ini, ternyata
tidak jadi, kami pun bersembunyi diruang kelas. Kami hanya menyaksikan peserta
yang lain lewat jendela. Acara yang terakhir adalah upacara penutupan,
pembagian SKU Penggakang dan pembagian hadiah, regu kami mendapat hadiah
namun,ada regu lain yang tidak setuju regu kami mendapat hadiah. Regu kami pun
menjadi ragu untuk mengambil hadiah tersebut.
0 komentar:
Posting Komentar