Setelah proses perceraian, tibalah waktu membagi tugas dalam mengasuh
anak. Beberapa orang tua sering melakukan kesalahan dalam membagi
waktunya.
"Harus adanya pembagian yang cukup adil antara ayah dan
ibu. Misalnya, sebulan di rumah bapaknya kemudian sebulan di tempat
ibunya," kata Kristi Poerwandari, ahli psikologi Klinis Fakultas
Psikologi Universitas Indonesia, saat ditemui dalam acara dalam Diskusi:
Bagaimana Menjelaskan Perceraian pada Anak, di gedung Komnas Perempuan,
Menteng, Jakarta Pusat.
Menurut Kristi, pembagian tersebut
merupakan cara agar anak tidak membuat pemikiran negatif atau tidak pada
salah satu orang tua. Misalnya, anak berpikir jika ibunya suka
marah-marah di rumah dan ayah yang selalu menuruti keinginan anak saat
bertemu.
"Artinya
harus ada kerja sama antara mantan suami dan istri untuk memaksimalkan
situasi anak agar tetap berpikir positif tentang orang tuanya," lanjut
Kristi.
Hal senada juga dituturkan oleh Denia Putri Prameswari,
praktisi pendidikan anak usia dini. Menurut Denia, komunikasi yang baik
dengan sang anak diperlukan setelah terjadinya perceraian.
"Anak-anak
mengingat yang signifikan saja, jika sehari-hari biasanya tidak terlalu
diingat. Misalnya, ibu yang memasak makanan kesukaan enggak terlalu
diperhatikan oleh anak tetapi bila ayah mengajak ke Bali akan diingat
oleh anak," lanjut Denia saat ditemui dalam acara yang sama.
Menurut
Denia, komunikasi dapat menjadi cara agar anak mengetahui bentuk-bentuk
perhatian kecil sebagai tanda bentuk kasih sayang orang tua.
"Lebih
penanaman komunikasi pada anak bahwa bentuk kecil juga sebagai bukti
bahwa kedua orang tua sama-sama sayang dan tetap mengurus anaknya,"
tutup Denia.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar