Translate

ccerpen romantis di kafe smile

Written By iqbal_editing on Rabu, 05 Juli 2017 | 10.09

Cerpen Cinta Romantis Suatu Senja Di Kafe Smile

Ughk… aku terduduk di kursi meja kerjaku dengan rasa letih begitu terasa. Punggungku pegal dan pinggangku rasanya mau copot. Kubuka laptopku, seketika tanpa sadar senyumku tersungging saat kulihat ada pesan masuk lewat salah satu akun media sosial yang hampir 3 tahun terakhir ini ku ikuti, tapi bukan facebook. Sebuah pesan dari teman medsosku namanya Fi atau bisa di katakan aku memanggilnya begitu.
Pada akun medsosnya tidak ada foto-foto hanya ada gambar-gambar pemandangan diambil begitu saja. Bila melihat akun ini pasti tidak akan tertarik berteman karena tidak ada hal menarik didalamnya. Tidak ada status-statusan, tidak ada potret diri, dan jarang online. Anehkan ? tapi kenapa aku berteman dengannya ? entah mengapa.
Berawal dari sapaan basa-basi di room chating. Beberapa kali menyapa mengirim pesan-pesan pendek tapi tak kupedulikan, karena jujur saja saat membuka profilenya tak kutemukan satupun hal menarik di situ. Akupun tidak peduli, karena jujur saja untuk akunku ini memang kutampilkan foto diriku, serta beberapa foto kegiatan kala senggang atau sekedar liburan.

Aku dan duniaku

Diriku memang suka traveling serta foto-foto, bagitu semua adalah hobi kambuhan untuk membunuh kejenuhan. Tapi foto-foto pada akunku disini kebanyakan foto pemandangan serta foto tentang  kopi. Ya ampun, diriku memang penggemar berat minuman satu itu. Apalagi kopi hitam, kadang kupikir diriku bisa mati kalau sehari tidak minum kopi. Sebenarnya bagikut banyak manfaat kopi untuk kesehatan, apalagi kalau sedang didepan seperti untuk bekerja maupun santai. Secangkir kopi hitam selalu ada diatas meja menemaniku. Tentu saja disamping cangkir kopi ada sebungkus Marlboro merah favoritku. Maaf diriku memang perokok. Meskipun merokok kelihatannya tidak baik bagi wanita, tapi belum tentu juga wanita perokok adalah wanita tidak baik kan ?.
Mungkin merokok bagiku sudah seperti gaya hidup. Aku single, wanita karir, dan salah satu penggemar kesunyian. Tapi aku tidak merokok di depan umum. Hanya di rumah saja dan itu hanya saat bebekerja atau sekedar santai menikmati dunia maya.
Diriku tidak terlalu suka dengan keramaian ataupun pesta, sebagian teman-teman dekatku memahami karakterku seperti itu. Katakanlah rokok serta kopi adalah sahabat baikku. Mungkin diriku wanita kelewat mandiri, hidup sendiri tanpa melibatkan siapapun. Mungkin sebagian orang akan menganggapku terlalu angkuh karena begitu mengandalkan diri sendiri. Tapi aku pernah punya pengalaman pahit melibatkan satu orang dalam hidupku. Ternyata selain merepotkan serta banyak tuntutan, dirinya juga membuatku terluka begitu dalam. Ups ! sorry tak akan kubicarakan hal itu disini. Karena hatiku tak suka jika orang iba dengan cerita cinta seperti drama Korea.

Pesannya memikat, “ngopi yuk !”

Bagiku sangat penting bila berbicara masalah privacy. Mungkin  sekilas orang melihatku sebagai tipe orang cuek atau angkuh. Oh no… sebenarnya tidaklah seperti itu mungkin karena menjunjung tinggi nilai–nilai kemandirian sehingga kadang orang menilaiku seperti itu. Tapi tak masalah, oh yah kembali ke cerita tentang Fi. Pesannya masuk sekitar semenit lalu.
“Pasti sudah pulang kantor, atau lembur lagi ? ngopi yuk !”. Pesan singkat tapi mampu membuat  bibirku tersenyum lebar. Apalagi melihat sebuah potret cangkir kopi di atas meja kerja penuh dengan file. Aku tahu pasti itu kopinya. Tak ada cerita tentang dirinya, tapi untuk tawaran seperti ini aku tak keberatan. Aku tak peduli siapa itu Fi,  terpenting dia selalu ada serta menjadi teman bicara menarik lagi menyenangkanku. Kenapa menarik ? caranya berbicara lewat pesannya membuatku merasa nyaman.
Kami memiliki banyak kesamaan. Sama-sama penggemar kopi, suka pemandangan, serta suka kesunyian. Dari caranya berkomunikasi lewat chating kuyakini Fi sangat pandai lagi terpelajar. Meski kalimatnya singkat tapi mengandung banyak makna. Dia tidak berusaha merayuku dengan kata-kata rayuan seperti teman chating lainnya. Sedikit basa-basi, perkenalan, bicara formal lalu menjadi pembicaraan non-formal, kemudian buntutnya jadi abnormal.
Fi tidaklah seperti itu. Dirinya terkesan membungkus bicaranya menjadi sesuatu hal tersembunyi sehingga membuat lawan chatingnya penasaran lalu mencoba meraba-raba siapa orang ini ?. Dari mana asalnya ?. Aku memaklumi itu karena bagiku dunia maya tetaplah dunia maya. Seringkali orang harus berbohong untuk membuat dirinya senyaman mungkin.

Penasaran juga sih

Penasaran? wawww…  siapa juga tidak penasaran ? jujur saja awalnya begitu penasaran dengan Fi serta ingin tahu siapa laki-laki ini. Kenapa dia ngotot untuk terus mengirimiku pesan-pesan aneh hingga akhirnya kubalas pesannya. Lalu terjadilah chating aneh. Tapi lama-kelamaan diriku mulai menikmati percakapan ini. Hingga akhirnya mengambil kesimpulan kalau pembicaraan ini jadi menarik karena tak tahu siapa serta tak berusaha mencari tahu. Tak berusaha mencari tahu ? hahhahah… aku bohong kalau tak berusaha mencari tahu. Namanya juga wanita pasti penasaran dan ingin cari tahu. Tapi akhirnya menyerah lalu tak mau tahu lagi.

I’m single and very happy

“Itu namanya kesepian oon.”
“Siapa bilang kesepian kamu kan tahu dari dulu gimana”, bantahku saat Luna meledekku status lajangku.
“Tetap saja bagiku kamu kesepian Ki, pulang kantor langsung di depan laptop chating dengan mahkluk maya gak tahu dari mana. Kalau gak gitu ke Kafe tapi sendirian, jalan-jalan ke mall shoping sendirian, itu namanya kesepian. ”
“Nah ini nih yang harus kamu tahu Lun, lajang itu bukan berarti kesepian. Aku wanita mandiri. Bedanya cuma masih single. ”
“Umur kamu sebenarnya sudah mapan untuk menikah. Nunggu apa lagi sih, karir dah mantap, rumah punya, deposit di bank lumayan, nunggu apa coba ?. Seharusnya sekarang kamu sedang dalam misi mencari calon suami”.
“Ya elaaa Lun sok pinter banget kalo ngomong, mang cari suami bisa main comot langsung ditelan kayak makan kue gitu ?”.
“Yah kamunya sih bikin kuatir aja, udah berapa taun coba sejak putus dari Ginting.”
“Udah ah, males ngomongin dia.”
“Dia enak-enakkan udah nikah kamunya masih melajang. ntar dipikirnya kamu patah hati susah move on sama dia.”
“Yeee siapa bilang ? ” bibirku mencibir, padahal dalam hati mengiyakan juta kata-katanya. Waktu itu memang patah hati banget. Duh ingat kejadian itu rasanya pengen teriak deh.

Nikah Lun ? pusing kali

“Tuh kan ngayal, coba liat aku”, dengan bangga Luna berjalan berputar-putar didepanku bak peragawati. Aku tertawa dalam hati. Gimana gak pengen tertawa, Luna sedang hamil 6 bulan tapi narsis berputar di depanku. Bentuk perutnya sudah mulai menonjol, tubuh terlihat melar, ditambah pipi semakin chuby jadi terlihat sangat lucu.
“Aku bahagia dengan pernikahanku, dunia terasa berbeda jika ada suami bisa kau ajak berbagi, memahami dan mengerti sepenuhnya tentang dirimu. Mengarungi rumah tangga bersama-sama, menghadapi masalah bersama. Kebersamaan indah Ki. Apa gak pernah terpikir di otakmu apa ? contoh tuh adik-adik kamu.”
“Aduh Lun gak deh, gak kebayang jalan kemana-mana bawa tuh baby. Hamil gitu aja kayaknya ribet banget. Belum lagi badan melar, payudara membesar, gak kebayang badan indah ini berbentuk ini tiba-tiba menjadi…”. Tak kuteruskan kalimatku melainkan menunjuk kearah Luna. Matanya menatapku agak kesal.
“Jangan bilang sekarang tubuhku berubah !” Luna menatapku serius lalu menatap tubuhnya sendiri.
“Sangat berubah. Coba liat di cermin, pipimu kelihatan tembem, terus payudaramu…” Kubawa dia ke depan cermin besar di kamarku.

Aaah sudahlah

“Ah enggak ! kamu bakalan meracuni pikiranku lagi, aku pulang. Jangan salahkan kalau acara siraman tujuh bulanku gak akan ku undang,” teriaknya lalu cepat-cepat meninggalkanku terpingkal-pingkal.
Luna adalah salah satu sahabat baikku. Dia baru menikah tahun ini lalu langsung hamil. Kebetulan menikah dengan salah satu teman SMA ku yang sekarang seorang dokter di sebuah rumah sakit swasta di kota ini. Hanya dalam waktu dua bulan saja mereka sudah jadian kemudian genap setahun mereka akhirnya menikah.
Pernikahan wew… memikirkannya saja sudah pusing. Tak ada privacy sama sekali, semua dilakukan harus diketahui pasangan. Belum lagi kalau hamil, mengurus anak, aduuuuh itu jika kubayangkan bikin tidak bisa bernafas. Semua keuntungan cuma ada di pihak lelaki. Mereka asyik membuat bayi sementara wanita mengandung dan mengurusnya. What ! no way, dan bayi ? oh mereka sewaktu kecil adalah malaikat dengan senyum mereka bikin meleleh. Tapi ketika balita, tiba-tiba berubah menjadi penjajah kehidupan dengan tangis mereka tak pernah berhenti ibarat berondongan peluru AK-47. Tidak sekarang !. Mungkin nanti jika benar-benar siap serta sudah mendapatkan pasangan jodohku kelak.

Dudu nama panggilanku

Kembali ke mahkluk bernama Fi. Itu nama panggilan khusus untuknya. Habis diakunnya dia pakai nama Ketoprak. Siapa juga akan memanggilnya hai Keto, atau halo Prak… anehkan. Makanya dia kupanggil dengan nama hayalan Fi. Anehnya dia memanggilku dengan Dudu. Ya ampun itukan beda banget dengan nama di akun. Jelas-jelas nama lengkapku disitu Kiki Lianka. Koq manggilnya Dudu sih ? gak supel banget panggilannya. Anehnya aku tak mau protes, bahkan oke oke saja dipanggil gitu. Gilanya lagi hatiku mulai senang dengan panggilan uniknya. Yah ampun wake up Kiki !, kalau Luna tahu, dia bisa tertawa terpingkal-pingkal dengan panggilan Dudu itu.
Anehnya akhir-akhir ini pembicaraan dengan Fi seperti jadi kebutuhan bagiku. Ya ampun, diriku jadi seperti mahkluk bodoh selalu menunggu pesannya. Sifat tak sabaranku menjadi sangat sabar menanti pesannya. Berharap ! adalah kalimat paling kubenci. Tidak akan pernah ku berharap untuk sesuatu hal tak mungkin. Tapi kali ini Fi membuatku berharap. Padahal jelas-jelas trik ini sering dimainkan di dunia maya. Membuat penasaran setengah mati. Menimbulkan harapan-harapan palsu, jatuh cinta, lalu akhirnya rela melakukan apa saja untuk lawan chating dengan foto bikin hati meleleh. Padahal gak tahu itu foto dicomot darimana.
Itulah gaya penipuan yang sering terjadi dan marak di dunia maya, di media sosial apa saja. Tak terkecuali di medsos khusus dewasa ini. Diriku sering bertemu dengan laki-laki penipu seperti itu. Tapi hatiku tak terpengaruh. Kenyang dengan pengalaman dunia maya jadi tak mungkin tertipu.
Lalu bagaimana dengan Fi  ? gambar akunnya saja cuma gambar kopi atau kadang-kadang karikatur lucu. Koq bisa tertarik, penasaran, lalu berharap ?. Jatuh cinta, aduh secara gitu lho, gak mungkinlah masuk dalam kamus seorang Kiki. Kalau untuk jatuh cinta kayanya belum.

Masih teka-teki

Susah juga nebak dia udah nikah atau belum. Kadang pesanku dibalas jam 2 subuh, kadang jam 7 pagi, jam 2 siang, tidak berpola. Bicarapun singkat, paling lama chating sejam. Gak pernah lebih. Sejam tapi sering berulang pada jam berbeda. Aku jadi tahu banyak varian kopi darinya. Bahkan pernah mencicipi varian kopi yang ditawarkan.
Pernah dia mengirim 2 kg kopi Hacienda La Esmeralda berasal dari Baquete, Panama. Gila sekilonya kan 2 jutaan, dia mengirim 2 kg inikan aneh. Kupikir saat minta alamat rumahku dirinya hanya ingin tahu atau apalah gak penting. Ternyata dia mengirimkan kopi. Senang, ya iyalah senang banget. Jadinya benar-benar tahu Fi adalah penggila kopi sejati meski tidak tahu kopi itu dibelinya langsung dari panama atau pesan.
Bahkan awalnya aku harus ngubek-ngubek google untuk cari tahu tentang kopi saat ngobrol dengannya akhirnya aku jadi tahu juga. Dan bagiku itu sangat bermanfaat, aku juga bisa mencicipi rasa kopi yang berbeda varian dan itu karena Fi. Ahhh… tak terasa sudah hampir setahun kami chating. Tapi perkembangan cerita cuma sebatas chating, tak lebih dan akupun tidak mencoba untuk mencari tahu. Karena kupikir ada batasan-batasan tertentu harus menghormati lawan bicara walau itu cuma di chating.

Hari jadi chatting pertama

“Hi D. ”
“Hi Fi.”
“Masih ingat hari ini ?”
Aku tersenyum tentu saja, “Yup.”
“Ini hari kamu membalas pesan ke 45 kali kukirim.”
Ups! mataku melotot, 45 kali koq gak ngitung yah. Nih orang detail banget deh. Tapi bibirku tersenyum juga, senang sekali bahwa dia mengingat hari ini.
“Itu karena kupikir kamu sudah sangat putus asa”, balasku.
“Ya jujur saja waktu itu memang sudah putus asa karena sama sekali kamu tidak tertarik membalas  semua pesan-pesanku. ”

Minta hadiah apa ?

“Seharusnya ini hari jadi pertemuan pertama kita yah ?”
“Iya, apa tidak tertarik meminta sesuatu ?. Kali ini akan ku kabulkan permintaanmu. Anggaplah hadiah untuk hari pertama kita.”
“Oh yah, apa sungguh-sungguh ? jangan-jangan cuma ingin menghiburku ?”
“Hahaha, tidak D, kali ini serius. ”
“Hmm…baiklah kupikirkan dulu”, ucapku. Satu hal terbersit dibenakku. Bukankah dirinya akan mengabulkan permintaanku ? Bagaimana kalau kuminta untuk menunjukkan siapa dirinya ? atau bagaimana kalau meminta bertemu ? bukankah dia sering membicarakan untuk menikmati senja dengan dua cangkir kopi. Bagaimana jika ? aduh jadi bingung deh, gengsi dong minta kaya gitu ntar dipikirnya perempuan apaan lagi.
“Halo Dudu kamu masih di situ ?”
“Jadi bingung mo minta apaan, tapi kamu sungguhan ni ?”
“Iya, gak biasa boong sebenarnya sih.”

Oh my god, dia ngajak ketemuan

Aku kembali tercenung, ini sebenarnya hal paling kunantikan dari Fi. Karena selama ini dirinya selalu menghindar jika mulai bicara kearah jati diri. Tapi saat kesempatan datang hatiku malah bingung sendiri.
“Bagaimana kalau kita menikmati senja dengan minum kopi, kamu mau minum kopi denganku Dudu ?”
Ups ! kali ini gantian diriku dibuat kaget.
“Kamu yakin, berarti kita ketemu dong ?”
“Iya, mungkin sudah saatnya.”
“Apa maksudmu ?”.
“Bertemu denganmu, berkenalan secara langsung, dan berbicara banyak hal denganmu”.
What ? jantungku dibuat kaget lagi. Aduh bagaimana ini ? bagaimana kalau dia lelaki paroh baya umur 50 tahunan sudah punya anak atau cucu ?. Atau jangan-jangan anak ABG tukang isengin orang. Atau laki-laki menikah maniak medsos ?, aduh enggak-enggak, gak kebayang deh.
“Aku tahu apa dalam pikiranmu saat ini D, kamu pasti berpikir aku orangnya gimana ? tidak ada janjiku kamu akan melihat sesuai dengan keinginanmu, tapi yakin kita bisa jadi teman baik.”
Nah itu…, teman baik. Thanks God, kini nafasku bisa lega sekarang. Kalau sudah begitu mo tua, ABG, laki-laki udah menikah, gak apa-apa. Kan teman hanya baik.
“Aku hanya menawarkan secangkir kopi pertemanan untukmu Dudu.”

Secangkir kopi untuk pertemanan, mengapa tidak !

“Oke, kapan ?”
“Terserah waktu kamu luang saja, aku ikut. ”
“Bagaimana kalau Sabtu sore, di Kafe Smile. Tahu tempat itu.”
“Yup tahu banget.”
“Memang kamu sering kesitu yah ?” tanyaku lagi.
“Ups ! Enggak juga tapi sering lihat websitenya. Kafenya bagus. Varian kopi ditawarkan juga bermacam-macam. Dan suasananya dekat pantai, cocok untuk menikmati senja dengan secangkir kopi.”

Kafe smile

Nah itu dia maksudku, ditambah lagi disana bisa menikmati pemandangan lain yang hampir 6 bulan ini tak kulihat. Kafe Smile adalah kafe favoritku di antara kafe-kafe lainnya. Kafe itu juga menyuguhkan hal berbeda untukku. Entahlah, mungkin karena disana ada seseorang yang hampir 2 tahun terkadang hadir dalam hayalku. Seraut wajah dengan rahang kokoh berdagu belah. Belum lagi lesung pipitnya dalam, senyum menarik, serta tatapan mata sayu. Rambutnya gondrong sebahu dibiarkan tergerai begitu saja, kadang-kadang memakai bando membuatnya terlihat lucu tapi tak menghilangkan kesan machonya. Penampilannya slengean, dengan kaos putih dipadu jeans belel robek dibagian lutut serta pahanya.
Dengan sepatu Dr. Martin, penambah kesan maskulinnya. Beuhhh… gayanya itu mak, pantas saja banyak wanita-wanita muda bahkan anak-anak ABG nonkrong di Kafe itu. Apalagi gayanya lincah meramu kopi dari balik meja. Serta suaranya, suaranya berat dan sungguh terdengar begitu ahhhhhh…. Sangat menarik. Dia adalah suguhan pelengkap senjaku. Tapi sudah 6 bulan ini mataku tak melihatnya. Hanya karyawannya saja terlihat. Yah, dia memang pemilik Kafe Smile itu. Sampai saat inipun walau tak pernah muncul lagi, tetap saja aku suka datang menikmati kopi disana.
“Dudu !”
Aku tersentak dari lamunanku saat bunyi Buzz terdengar, “Yah Fi ada apa ?”
“Sabtu sore berarti besok lusakan ? jangan lupa jam 4 sore “, ingatnya lagi.
“Kamu yakin Fi ?”
“Kamu ?”
Kutarik nafas panjang dan kuhembuskan kuat, “baiklah”, jantungku tiba-tiba berdegub kendang. Bagaimana gak berdegub kencang. Setahun penuh kami chating kini saatnya bertemu. Bukan gurauan atau candaan. Ini akan jadi kenyataan, akan terjadi esok lusa tepat jam 4, Sabtu sore. Ya ampun bagaimana ini ? Aku bolak-balik di depan Luna.

Tibalah waktunya

Sabtu sore sesuai janji, aku datang tepat waktu. Suasana sepi hanya ada dua pasangan duduk dalam Kafe agak kesudut. Aku memilih duduk di teras luar menghadap ke pantai. Semilir angin bertiup perlahan. Sosok kutunggu belum datang. Tepat jam empat lewat 10 menit sebuah Land Rover masuk area parkiran, sesosok tubuh jangkung berpenampilan rapi terlihat turun. Pandangannya langsung menuju tempat dudukku. Aku terlengak kaget, apa ini yang namanya Fi ? busyet kok jadi gugup gini ? Ya ampun ! bagaimana ini. Tiba-tiba rasa percaya diriku sirna saat melihat laki-laki dengan langkah tegas menuju kearahku. Dirinya sekarang berada tepat dihadapanku tersenyum manis. Ganteng, keren, jangkung, inikah Fi ? mahkluk maya itu. Jantungku berdegub beranjak berdiri.
“Siska Aryanti yah ?”
Gedubrakkkk …. Tuingggggggg…. Glukkkkkkkkkk…  Kugelengkan kepala pelan, menelan ludah getir. Senyum hampir keluar dari bibir kini terkulum kembali.
“Aku di sini Reza, ” Sebuah suara memecahkan kesunyian tercipta. Laki-laki itu menoleh kearah suara seorang gadis. Jiahhhhhhhhhh… Kugigit bibirku gemas.
“Sorry yah salah orang.”

Alamak salah orang !

“Gak papa..” jawabku datar lalu terduduk lemas dengan perasaan campur aduk antara malu serta kesal pada diri sendiri. Sialan !  pertemuan ini benar-benar membuatku kehilangan jati diri. Ditengah rasa malu campur kesal lamunku dikagetkan kehadiran sebuah Jeep Wrangler Rubicon keluaran 2015 masuk ke area parkiran. Wuih desisku kagum. Mataku masih mengawasi Jeep itu, menanti siapa yang turun dari sana. Tapi harapanku pun buyar saat tahu siapa yang turun dari Jeep itu, si pemilik Kafe. Dengan penampilan begitu menarik untuk dilihat, kali ini dirinya tidak mengenakan kaos putih melainkan kemeja kotak-kotak biru. Masih dengan celana jeans, tapi kali ini rapi tak ada robekannya. Sekilas matanya melihat kearahku tanpa senyum lalu langsung masuk ke dalam. Dia langsung sibuk di belakang meja. Haaa…
Kutarik nafas panjang, senja sudah tiba, saatnya memesan kopi. Akupun memesan kopi. Hingga pukul 5 mahkluk itu tak muncul juga. Kali ini tak perlu menunggunya lagi. Kunikmati senja dengan kesendirianku sambil tertawa dalam hati. Tidak berharap lagi mahkluk itu akan muncul, atau mungkin lebih baik gak usah muncul sehingga tidak pernah tahu siapa dirinya. Karena jika sudah tahu siapa dirinya mungkin cerita kami tak akan menarik lagi.
Mungkin diriku terlalu bego untuk percaya pada dunia maya penuh muslihat. Yang pasti Fi telah membuka mataku untuk tidak mempercayai dunia maya. Diriku tak kecewa kalau Fi mempermainkan ataupun membohongiku. Malah harus bersyukur telah membuatku menyadari ketololanku. Sudah setua ini masih saja bisa tertipu dunia maya.

Hawaii Kona

“Senja seperti ini lebih enak kalau menikmati Hawaii Kona. Menurut karyawanku, anda merupakan salah satu member di Kafe ini. Ada potongan 20 persen untuk kopi ini, juga anda adalah penikmat kopi pertama disini yang mencicipi Hawaii Kona. Karena kopi ini baru saja tiba”. Sebuah suara berat terdengar didepanku sambil menyodorkan secangkir kopi. Langsung saja kucicipi, Hmm… aromanya begitu khas, kaya akan rasa dan teksturnya begitu ringan.
“Teksturnya ringan. Cocok untuk menikmati senja”, ucapku tak sadar. Sosok dihadapanku tersenyum. “Silahkan dinikmati”, ucapnya sambil berlalu. Diriku kembali menatap senja turun ke peraduan. Mentari semakin mengecil, berwarna orange gelap lalu akhirnya menghilang.
Kakiku beranjak pelan, sekilas menoleh ke dalam Kafe mencoba mencari sosok itu. Tapi tak terlihat. Betapa senangnya hatiku, walau tak bertemu Fi, tapi mendapat moment indah saat sosok tadi menyapaku, moment tak terlupakan.
Setelah mampir ke supermarket untuk membeli kebutuhan, diriku langsung pulang. Di depan pintu rumah sebuah bingkisan terletak, kuraih, membuka pintu lalu melangkah masuk. Seperti biasa belanjaan kutata sebagian belanjaan dalam lemari pendingin lalu menata lainnya dalam lemari dapur. Bingkisan dari depan pintu terletak begitu saja diatas meja. Entah kenapa tak tertarik membukanya, sama tak tertariknya saat melewati ruang kerjaku.
Biasanya saat melewatinya diriku akan mampir sekedar memeriksa kalau ada pesan dari Fi. Tapi entah kenapa malam ini hatiku tak tertarik, ingin secepatnya tidur. Yah ingin kulupakan kisah tentang Fi sambil mengubur harapan, membuang jauh kata cinta dari benakku. Aku hanya ingin cepat tidur lalu berharap mimpi tentang sosok yang menawarkan secangkir Hawaii Kona. Kopi dengan aroma masih ku ingat jelas hingga kini. Lalu akupun memejamkan mata dalam senyum.

Pesannya muncul tiba-tiba

Hampir seminggu kusibukkan diri dengan pekerjaan kantor. Sengaja tak membuka akun media sosial itu. Karena yakin pesan Fi akan ada di situ, mungkin sudah banyak. Pasti ada beberapa pesan ucapan permintaan maaf basi serta usang. Atau kata-kata alasan klasik menarik khasnya seorang Fi. Tapi bagiku tak lagi berpengaruh. Tiba-tiba saja hatiku merasa bosan lalu melemparnya sebagai sosok sama seperti sosok dunia maya lainnya yang pernah hadir dalam hidupku.
Malam ini aku harus menyelesaikan pekerjaan kantor yang tak sempat kuselesaikan. Aku membuka laptopku, dan … agak kaget juga ada pesan Fi di situ. Ternyata waktu itu lupa Sign out. Iseng kubuka pesannya namun sungguh kaget karena pesannya tertanggal seminggu lalu pukul setengah tujuh malam. Itu jam saat aku meninggalkan Kafe. Ku pikir akan menemukan banyak pesan Fi  dalam inbox, ternyata hanya satu pesannya. Sungguh membuat hatiku terkejut dan …..
“Dudu, apakah sudah menikmati kopi Hawaii Kona yang kukirim ?. Aku membelinya langsung dari Hawai untuk jadi salah satu Varian baru di Kafeku. Kamu begitu asyik menikmati senja sehingga membuatku tak tega menganggumu. Dan kupikir kamulah orang pertama yang harus  menikmati varian kopi baruku di Kafeku. Kutunggu kabarmu ? oh yah dan jangan lupa komentarnya aku ingin tahu bagaimana pendapatmu ?”
Itulah pesannya dalam inbox yang hampir kujadikan sampah alias kuhapus. Secepat kilat aku berlari ke dapur, bingkisan itu masih ada disana. Cepat-cepat kubuka didalamnya kutemukan kopi Hawaii Kona dengan label berat isinya 1 kg. Oh My God Fi ! diakah sosok itu ? pemilik Kafe dalam khayal dan mimpiku ?.

Ternyata dia adalah pemilik Kafe Smile

Kudekap bingkisan kopi itu di dada. Entah apa dalam hatiku saat ini. Tiba-tiba saja kuraih kunci mobil lalu pergi ke Kafe Smile. Tak ada keraguan lagi dalam hatiku, tak peduli dengan penampilanku masih lengkap dalam baju seragam kantor. Aku tak peduli kalau mengenakan sandal jepit. Satu hal dalam pikiranku saat ini adalah meneriaki lelaki itu untuk bertanya mengapa melakukan hal ini padaku.
Tiba di Kafe, suasana begitu ramai. Mataku langsung melihat kesekeliling mencari sosok Fi.
“Mbak Kiki yah ?” tegur salah satu karyawan Kafe. Aku menganguk. “Ada pesan dari bos Daffi ini mbak”, karyawan itu mengeluarkan sebuah sampul surat lalu menyerahkan padaku. Sambil melangkah keluar kubuka sampul berisi sebuah surat itu.

Surat dari Daffi Adiatma

Dudu maaf aku suka memanggilmu seperti itu. Kenalkan aku Dafi seperti biasa kau panggil namaku memang berakhiran Fi. Heran kenapa bisa kau memberiku nama sama dengan namaku. Tapi tidak peduli, mungkin sama, sebenarnya diriku tak sabar untuk memberitahu jatidiriku padamu serta mengakui perasaan sesungguhnya padamu. Menunggu adalah pekerjaan paling membosankan bukan ?. Apa tak pernah menyadari kalau selama ini aku selalu memperhatikanmu tanpa berani mengajakmu berkenalan. Melihatmu serta memperhatikanmu diam-diam saat menikmati  kopi dalam kesendirian. Menikmati kopi dengan kepercayaan diri  tinggi membuatku berpikir, apakah hidupmu sudah ada yang menemani atau apakah hatimu sudah ada pemiliknya. Tapi kamu memang penikmat kopi penyendiri.
Entah keberuntungan ataukah takdir memihakku ketika tak sengaja melihat fotomu di media sosial. Kemudian saat kubuka ternyata memang kamu. Betapa senangnya saat kamu menerima permintaan pertemanan dariku. Tapi butuh kesabaran saat kau membalas pesanku entah keberapa kalinya kukirim. Lalu ternyata saat kuhitung sudah ke 45 kalinya. Seperti kesabaranku saat meracik kopi pesananmu hatikupun bersorak gembira saat kau membalas pesanku. Tapi kamu tidak melihatnya bukan, aku seperti orang gila melompat kegirangan. Mereka selalu mendorongku untuk berkenalan secara langsung denganmu tapi entahlah aku butuh sesuatu yang membuatku yakin kalau pilihanku tidak salah. Hanya takut kecewa, karena diriku pernah terluka. Rasanya tidak jantan jika menumpahkan semua rasa lewat surat bukan, tapi ku pikir aku tak kan melihatmu lagi. Kamu menghukumku Ki, tak membalas pesanku. Mungkin kecewa atau perlu waktu menyendiri. Saat membaca suratku ini aku sudah berada di Jamaica memburu Kopi varian Blue Mountain Jamaica yang sering kita bicarakan. Jika pulang nanti kuharap rasa kesalmu sudah hilang dan mengijinkanku untuk menemuimu.
Dari seseorang yang berharap padamu.
Daffi Adiatma.

Bahagia kesal campur galau = kacau

Pufff… Kuhembuskan nafas panjang melipat surat itu sambil menatap pantai. Ah Daffi kau membuat perasaanku kacau. Apakah kau tahu apa dalam hatiku saat ini. Rasa bahagia sekaligus kesal karena entah harus berapa lama lagi menunggu Daffi kembali. Uhh ! aku mengeluh dalam hati  berbalik  dan melangkah meninggalkan Kafe Smile. Entah kenapa langkahku tak menuju mobil malahan menuju pantai. Membuka sandal jepitku dan menjejakkan kaki di pasir.
Malam ini rembulan bersinar begitu teduh, mungkin sebentar lagi purnama. Pantai terlihat begitu terang, hmm.. samar-samar kulihat wujud seseorang berdiri tak jauh disampingku. Dia juga sedang memandang ke laut lepas. Kaos putih, celana pendeknya terlihat begitu jelas di malam bercahaya bulan. Angin bertiup lembut iringi deburan ombak menyapu pantai. Sosok itu terlihat berjalan kearahku semakin dekat semakin kusadari rambut gondrong sebahu itu milik siapa. “Daffi..” seruku dalam hati. Saat jarak kami sudah sangat dekat akupun bisa melihat wajahnya begitu jelas.
Ya Tuhan, inikah mahkluk yang kurindukan selama 2 tahun terakhir ? ternyata  selama ini dia begitu dekat denganku. Tanpa kusadari dia membuat 1 tahun perkenalan dunia maya menjadi nyata serta penuh warna. Ah, Daffi kau memang jahat.
Kupejamkan mata mencoba nikmati sosok di depanku. Mimpi atau kenyataankah ?. Rasa ingin berteriak serta protes dengan perlakuannya sirna saat melihatnya. Saat sentuhan di jari-jariku terasa, akupun membuka mata lalu kutemukan tatapan sayu selalu kukagumi itu di depanku. Bahkan saat tubuhku direngkuhnya masuk dalam pelukan hangat, aku hanya memejamkan mata dan pasrah.

Surat itu terlambat dibaca

“Kupikir kamu di Jamaica ?”
“Surat itu ku tulis keesokkan harinya saat kamu tidak juga membalas pesanku. Dan itu sudah 5 hari lalu. Kemarin sudah kembali.”
“Tanpa bertanya kamu langsung pergi. Oh kamu jahat sekali Fi.”
“Aku berkeliling dunia ketempat-tempat varian kopi terkenal, tapi akhirnya kembali ketempat di mana menemukanmu. Kamu varian berbeda tak bisa didapatkan walau mengelilingi seluruh dunia. Teksturmu begitu berat, aromamu unik dan rasamu membuatku ingin memiliki selamanya dalam hidupku.”
Ku tengadah langit sambil tertawa keras, “Ternyata kau seorang perayu ulung Daffi.”
“Hanya untukmu, tidak dengan yang lain”, bisik Daffi di telingaku. Aku kembali tergelak, menyandarkan kepala di pundaknya sambil menikmati pemandangan laut begitu tenang. Pelukan pada pinggangku membuatku sadar. Ini dunia nyataku, dunia di mana akan kulewati  hari-hari dengan laki-laki kucintai dan mencintaiku.

Berikutnya, segera menikah dan punya bayi

“Ki, tolong liatin Gisel dulu, aku mau bikin susu, asiku tak cukup untuknya”. Ucap Luna terburu-buru meninggalkanku bersama Gisela, bayi mungil berumur 8 bulan. Anak itu menatapku dengan senyum manis bikin gemas minta ampun.
“Tidak … tidak … jangan menatapku seperti itu Gisel. Dengar ya monster kecil, diriku tidak menginginkanmu dalam hidupku, setidaknya belum saat ini. Aku harus mengenakan gaun pengantinku dulu”, ucapku pada bayi mungil dengan tatapan polosnya membuat hatiku luluh. Yah Tuhan, lihat wajahnya begitu lucu. Tangannya mencoba meraihku seolah meminta untuk memeluknya.
“oke oke oke aku menyerah, aku menyerah. Kamu dengar monster kecil,” teriakku akhirnya lalu langsung memeluknya dalam dekapanku. Tak peduli lagi jika tubuhku akan membesar, atau ngidam aneh-aneh. Tak peduli payudara akan mekar serta monster kecil ini akan menjajah hidup dalam waktu lama. Hatiku tiba-tiba sangat merindukan kehadirannya dalam hidupku bersama Daffi. Ya, Daffi ternyata sangat menyukai anak-anak. Tiga bulan lagi kami akan menikah. Daffi sudah mendesak-desakku untuk segera hamil karena melihat bayi Luna yang lucu. Ohhhhhh… Daffiku… (PW).
Cerpen: Café “Hari ini kenapa terlambat?” tanya kak Nanda “Maaf kak, tadi kecelakaan kecil, uhm.. jatuh dari sepeda” jawabku dengan lirih. Tiba-tiba wajahnya berubah menjadi muram, “Kamu terluka?” “Sedikit, lecet-lecet di tumit” jawabku sambil tersenyum kecut. “Lain kali hati-hati” Aku hanya mengangguk. “Jatuh itu sakit apalagi jatuh cinta” Aku tertawa mendengar dia berkata seperti itu dan seketika luka di tumit itu menjadi tidak perih lagi. “Kok bisa sakit? Bukannya justru bahagia? “Kata siapa bahagia?” “Kata orang-orang” jawabku sekenanya. “Mungkin bahagia tapi sesaat saja” “Wah...wah...kakak tahu betul soal jatuh cinta?” “Entahlah” jawabnya sambil meringis dan berlalu. Hanya itu saja percakapanku dengannya sore ini. Aku berkerja partime sebagai waitress dengan kak Nanda di sebuah cafe dekat kampus. Aku berkerja mulai pukul empat sore sampai pukul sembilan malam. Memang cukup melelahkan tapi demi uang mau bagaimana lagi. Setiap harinya di cafe ini selalu ada berbagai macam kisah anak muda, mulai dari yang menyendiri bermain laptop hingga yang asyik berpacaran. Awalnya aku melakukan pekerjaan ini karena terpaksa. Dorongan ekonomi. Tapi setelah bertemu dengan Kak Nanda. Aku menyukai café ini bahkan lebih dari Mall atau tempat apapun. Aku tak pernah lelah mengamati kak Nanda. Bagimana aku harus melukiskan kak Nanda? Dia memiliki tatapan yang tajam, hidung mancung, bibir tipis, wajahnya berbentuk oval, kurus walaupun tak benar-benar kurus kerempeng dan kulit berwarna sawo matang. Tingginya mungkin sekitar 175 cm. Aku tak yakin dia keturunan Jawa tulen. Tapi dia paham betul tingkah laku perempuan jawa. Dia berulang kali bercerita mengidam-idamkan gadis jawa. Dan itu membuat hatiku berdebar-debar setiap kali mendengarnya. Ah... *** Aku melihat kak Nanda yang hanya terdiam. Sesekali mengecek HP-nya meski tidak ada nada ataupun getaran. Aku tahu dia gelisah, tapi aku tak pernah tahu apa penyebabnya. Dilanjutkannya kembali mengelap meja dan membereskan gelas-gelas kemudian membawanya ke dapur. Entah mengapa aku begitu ingin memperhatikan setiap gerak-geriknya. Kak Nanda memiliki kepribadian yang menyenangkan. Ramah kepada teman dan pelanggan. Sesekali juga humoris. Supel. Lelaki yang sangat hangat. Aku menduga Kak Nanda sedang ada masalah yang cukup serius, karena tak biasanya kak Nanda merenung dan terdiam seperti itu. Aku mungkin terlalu peduli dengannya, tapi bagiku sikap kak Nanda kali ini begitu berbeda. Bukan hanya itu saja yang membuatku heran. Kebetulan hari ini kami kedatangan pelanggaan yang cukup menyebalkan. Gerombolan anak-anak SMA yang saling bercanda bahkan sampai menggangu pelangan yang lain. Kak Nanda dengan emosional menegur mereka dengan nada suara ynag cukup tinggi. Bukan hanya aku bahkan pelayan yang lain pun kaget dengan sikap Kak Nanda yang tak biasa. Keesokan harinya aku tak melihat kak Nanda berkerja. Aku pikir hanya hari tu saja aku tak menemuinya. Kira-kira lebih dua minggu kak Nanda tak bekerja. Tak ada yang tahu penyebabnya, hanya manajer cafe saja yang konon mengetahuinya. Alasan yang aku dengar juga simpang siur. Ada yang mengatakan ketidakmunculan kak Nanda disebabkan oleh peristiwa gerombolan anak SMA tempo lalu. Namun ada yang mengatakan ada masalah keluarga dan lain sebagainya. Aku begitu menyayangkan absensi kak Nanda di tempat kerja. *** Cahaya café yang temaram. Suasana ini membawaku kepada lautan memori. Aku ingat ketika kak Nanda berjalan diantara kursi-kursi café, kemudian duduk diantara kursi-kursi pelanggan memandang ke arah jendela menanti pukul empat sore. Dia selalu datang dua jam lebih awal, untuk memastikan café bersih dan nyaman bagi pelanggan. Terkadang aku pun juga sengaja untuk datang lebih awal, dan menghabiskan menit-menit berdua dengan kak Nanda sampai pelayan yang lainnya berdatangan. Ketika aku mendengar kak Nanda terpaksa kembali karena ibunya wafat. Aku tak bisa berprasangka apapun. Aku hanya menyadari bahwa aku tak mengerti apapun tentang kak Nanda. Kini kulihat diruangan ini, cahaya temaram yang menambah suasana semakin dingin dan suram, meskipun biasanya cahaya café ini sengaja untuk dibuat temaram tapi entah mengapa kali aku merasa tempat ini begitu kelam. Konsep café ini sebetulnya dibuat romantis dengan gaya minimalis. Tak heran jika café kecil ini sering dijadikan tempat berkencan bagi para remaja. Kali ini aku datang ketempat ini bukan lagi sebagai seorang waitress, melainkan sebagai pelanggan biasa. Usahaku kecil-kecilan berbisnis pernak-pernik souvenir berjalan lancar. Aku pun memutuskan untuk berhenti menjadi waitress yang menurutku cukup melelahkan. Walaupun alasanku sebenarnya, aku tak lagi merasa nyaman ketika Kak Nanda telah meninggalkan café ini. Aku terdiam menatap para pelayan café, tak satu pun dari mereka aku kenal. Mungkin memang sudah lama sejak aku bekerja. Masa yang cukup lama. Waktu berjalan tanpa kita sadari Tetapi kenangan itu masih tetap ada. aku sengaja duduk membelakangi pintu dan lampu utama. Aku hanya menghindari lalu lalang orang masuk. Aku menghindari keramaian. Dalam keremangan itu, aku melihat bayangan tubuh lelaki mendatangiku. Bayangan itu begitu familiar. Mengenakan seragam waitress dan membawa nampan berisi cangkir-cangkir. Aku membiarkan waitress itu meletakan minuman yang telah aku pesan. Cappuccino. Aku pun tak menoleh hanya untuk sekedar menegok wajahnya. Bukan dengan maksdu apapun. Sampai sang pelayan itu meletakkan tangannya di pundakku dan memanggil namaku dengan suara yang begitu khas, “Diandra”. Seketika kutatap wajahnya. Aku tersenyum. Ada kelegaan yang muncul dalam dada seperti hendak membuncah. Aku tak pernah tahu aku akan menemuinya kembali di café ini. Aku hanya berfirasat mungkin saja dia akan kembali ke café kecil ini.

Cheap Offers: http://bit.ly/gadgets_cheap
Cerpen: Café “Hari ini kenapa terlambat?” tanya kak Nanda “Maaf kak, tadi kecelakaan kecil, uhm.. jatuh dari sepeda” jawabku dengan lirih. Tiba-tiba wajahnya berubah menjadi muram, “Kamu terluka?” “Sedikit, lecet-lecet di tumit” jawabku sambil tersenyum kecut. “Lain kali hati-hati” Aku hanya mengangguk. “Jatuh itu sakit apalagi jatuh cinta” Aku tertawa mendengar dia berkata seperti itu dan seketika luka di tumit itu menjadi tidak perih lagi. “Kok bisa sakit? Bukannya justru bahagia? “Kata siapa bahagia?” “Kata orang-orang” jawabku sekenanya. “Mungkin bahagia tapi sesaat saja” “Wah...wah...kakak tahu betul soal jatuh cinta?” “Entahlah” jawabnya sambil meringis dan berlalu. Hanya itu saja percakapanku dengannya sore ini. Aku berkerja partime sebagai waitress dengan kak Nanda di sebuah cafe dekat kampus. Aku berkerja mulai pukul empat sore sampai pukul sembilan malam. Memang cukup melelahkan tapi demi uang mau bagaimana lagi. Setiap harinya di cafe ini selalu ada berbagai macam kisah anak muda, mulai dari yang menyendiri bermain laptop hingga yang asyik berpacaran. Awalnya aku melakukan pekerjaan ini karena terpaksa. Dorongan ekonomi. Tapi setelah bertemu dengan Kak Nanda. Aku menyukai café ini bahkan lebih dari Mall atau tempat apapun. Aku tak pernah lelah mengamati kak Nanda. Bagimana aku harus melukiskan kak Nanda? Dia memiliki tatapan yang tajam, hidung mancung, bibir tipis, wajahnya berbentuk oval, kurus walaupun tak benar-benar kurus kerempeng dan kulit berwarna sawo matang. Tingginya mungkin sekitar 175 cm. Aku tak yakin dia keturunan Jawa tulen. Tapi dia paham betul tingkah laku perempuan jawa. Dia berulang kali bercerita mengidam-idamkan gadis jawa. Dan itu membuat hatiku berdebar-debar setiap kali mendengarnya. Ah... *** Aku melihat kak Nanda yang hanya terdiam. Sesekali mengecek HP-nya meski tidak ada nada ataupun getaran. Aku tahu dia gelisah, tapi aku tak pernah tahu apa penyebabnya. Dilanjutkannya kembali mengelap meja dan membereskan gelas-gelas kemudian membawanya ke dapur. Entah mengapa aku begitu ingin memperhatikan setiap gerak-geriknya. Kak Nanda memiliki kepribadian yang menyenangkan. Ramah kepada teman dan pelanggan. Sesekali juga humoris. Supel. Lelaki yang sangat hangat. Aku menduga Kak Nanda sedang ada masalah yang cukup serius, karena tak biasanya kak Nanda merenung dan terdiam seperti itu. Aku mungkin terlalu peduli dengannya, tapi bagiku sikap kak Nanda kali ini begitu berbeda. Bukan hanya itu saja yang membuatku heran. Kebetulan hari ini kami kedatangan pelanggaan yang cukup menyebalkan. Gerombolan anak-anak SMA yang saling bercanda bahkan sampai menggangu pelangan yang lain. Kak Nanda dengan emosional menegur mereka dengan nada suara ynag cukup tinggi. Bukan hanya aku bahkan pelayan yang lain pun kaget dengan sikap Kak Nanda yang tak biasa. Keesokan harinya aku tak melihat kak Nanda berkerja. Aku pikir hanya hari tu saja aku tak menemuinya. Kira-kira lebih dua minggu kak Nanda tak bekerja. Tak ada yang tahu penyebabnya, hanya manajer cafe saja yang konon mengetahuinya. Alasan yang aku dengar juga simpang siur. Ada yang mengatakan ketidakmunculan kak Nanda disebabkan oleh peristiwa gerombolan anak SMA tempo lalu. Namun ada yang mengatakan ada masalah keluarga dan lain sebagainya. Aku begitu menyayangkan absensi kak Nanda di tempat kerja. *** Cahaya café yang temaram. Suasana ini membawaku kepada lautan memori. Aku ingat ketika kak Nanda berjalan diantara kursi-kursi café, kemudian duduk diantara kursi-kursi pelanggan memandang ke arah jendela menanti pukul empat sore. Dia selalu datang dua jam lebih awal, untuk memastikan café bersih dan nyaman bagi pelanggan. Terkadang aku pun juga sengaja untuk datang lebih awal, dan menghabiskan menit-menit berdua dengan kak Nanda sampai pelayan yang lainnya berdatangan. Ketika aku mendengar kak Nanda terpaksa kembali karena ibunya wafat. Aku tak bisa berprasangka apapun. Aku hanya menyadari bahwa aku tak mengerti apapun tentang kak Nanda. Kini kulihat diruangan ini, cahaya temaram yang menambah suasana semakin dingin dan suram, meskipun biasanya cahaya café ini sengaja untuk dibuat temaram tapi entah mengapa kali aku merasa tempat ini begitu kelam. Konsep café ini sebetulnya dibuat romantis dengan gaya minimalis. Tak heran jika café kecil ini sering dijadikan tempat berkencan bagi para remaja. Kali ini aku datang ketempat ini bukan lagi sebagai seorang waitress, melainkan sebagai pelanggan biasa. Usahaku kecil-kecilan berbisnis pernak-pernik souvenir berjalan lancar. Aku pun memutuskan untuk berhenti menjadi waitress yang menurutku cukup melelahkan. Walaupun alasanku sebenarnya, aku tak lagi merasa nyaman ketika Kak Nanda telah meninggalkan café ini. Aku terdiam menatap para pelayan café, tak satu pun dari mereka aku kenal. Mungkin memang sudah lama sejak aku bekerja. Masa yang cukup lama. Waktu berjalan tanpa kita sadari Tetapi kenangan itu masih tetap ada. aku sengaja duduk membelakangi pintu dan lampu utama. Aku hanya menghindari lalu lalang orang masuk. Aku menghindari keramaian. Dalam keremangan itu, aku melihat bayangan tubuh lelaki mendatangiku. Bayangan itu begitu familiar. Mengenakan seragam waitress dan membawa nampan berisi cangkir-cangkir. Aku membiarkan waitress itu meletakan minuman yang telah aku pesan. Cappuccino. Aku pun tak menoleh hanya untuk sekedar menegok wajahnya. Bukan dengan maksdu apapun. Sampai sang pelayan itu meletakkan tangannya di pundakku dan memanggil namaku dengan suara yang begitu khas, “Diandra”. Seketika kutatap wajahnya. Aku tersenyum. Ada kelegaan yang muncul dalam dada seperti hendak membuncah. Aku tak pernah tahu aku akan menemuinya kembali di café ini. Aku hanya berfirasat mungkin saja dia akan kembali ke café kecil ini.

Cheap Offers: http://bit.ly/gadgets_cheap

0 komentar:

Posting Komentar

 
berita unik