[Cerpen] Secret In Sydney
~~~
“Masa lalu dan masa sekarang layaknya
sebuah kacamata, tidak ada bedanya dari tahun ketahun. Hanya saja,
kacamata itu akan tampak lebih usang tapi tidak untuk dihati penggunanya
yang mampu bertahan.”
~~~
Langkah laki-laki itu terhenti di depan sebuah pintu kamar yang
sedikit terbuka. Kamar yang seluruhnya dicat coklat pastel itu
menampakkan seorang gadis cantik di dalamnya. Ia memasuki kamar itu
dengan langkah santai, aroma apple menyeruak ke dalam indera
penciumannya saat pertama kali ia memasuki kamar ini. Ini parfum yang
sangat di sukai kakaknya. Maddie Faroush, nama sang kakak yang kini
tampak memasukkan pakaiannya ke dalam sebuah koper berwarna hitam.“Maddie, kau akan pergi kemana lagi?” suara itu sontak menghamburkan keheningan seorang gadis yang tadinya terlihat sangat sibuk dengan pakaian-pakaiannya.
Gadis yang dipanggil Maddie itu tersenyum sumringah, matanya melirik sekilas sebuah koper hitam yang telah rapi dengan beberapa potong pakaiannya. Ia beranjak mendekati seorang anak laki-laki yang usianya tidak terpaut jauh dari dirinya itu. Sekitar, 2 tahun.
“Aku akan ke Sydney. Perburuan kacamataku belum usai, aku akan berpetualang menjelajah kota yang katanya terkenal dengan dermaganya itu,” jelas Maddie, lalu tersenyum senang.
“Kenapa kegemaran bodohmu itu terus kau kembangkan Madd?” cibir laki-laki tadi, yang tak lain adalah adik Maddie. John Faroush.
“Kau tau apa soal hobbyku, hey anak kecil?” Maddie mengacak rambut adiknya itu gemas.
“Jangan lakukan itu! Kau menghancurkan style baruku Madd,” John menggerutu kesal, ia menjauhkan tangan Maddie lalu merapikan rambutnya seperti semula.
“Maddie, kau sudah siap, hum?” tanya seorang laki-laki berbadan gempal dan suara baritonnya yang baru saja menampakkan diri dari ambang pintu. Dia ayah Maddie, Vincent Faroush.
Maddie tersenyum tipis, spontan titik matanya jatuh pada sebuah map coklat yang berada di genggaman sang ayah. “Dad, apa itu?” tanya Maddie penasaran.
“Oh, ini! Dad menitipkan saham perusahaan kita untuk para CEO terkenal di Sydney. Ku harap kau bisa membantu Dad. Apa kau tidak ingin perusahaan kita semakin sukses?”
“Dad …, tapi aku,”
“Maddie, apakah kau hanya ingin berburu kaca mata saja di sana? Kau tidak memikirkan Dad yang sudah membiayaimu keliling dunia hanya untuk menuruti kegemaran bodohmu itu,” ucap Vincent Faroush yang lebih mengarah ke protes. Tanpa dirinya, mungkin Maddie tidak akan bisa menyalurkan kegemaran bodohnya itu.
Masih di tempat yang sama, John hanya mengangkat tinggi salah satu alisnya melihat pembicaraan kedua orang yang ada di hadapannya itu. Tak lama, seorang wanita paruh baya tampak mengukir senyum dari ambang pintu kamar Maddie yang dibukannya lebar.
“Mom,” panggil Maddie spontan dengan mengintip wanita cantik itu dari balik tubuh ayahnya.
“Kau akan berangkat malam ini, sayang?” wanita itu melangkahkan kaki mendekat dan mulai ikut bercengkrama di sana.
“Iya, Mom. Aku mengambil penerbangan malam. Agar paginya, aku bisa segera berburu kacamata di berbagai macam tempat yang ada di sana. Pasti sangat menyenangkan!” Maddie tersenyum senang, entah sudah untuk ke berapa kalinya ia tersenyum seperti itu. Berburu kacamata seperti membayangkan dirinya tengah mencari bagian hidupnya yang sempat menghilang.
Kegemaran bodohnya ini memang sangat asing dikalangan orang pada umumnya. Maddie adalah seorang gadis penggila kacamata. Tapi, tidak semua kacamata akan dibelinya lalu dikoleksinya. Dia punya selera tertentu dan susah sekali menemukan kacamata yang persis dengan keinginannya itu. Seleranya cukup tinggi. Tak urung, ia akan berkeliling dunia mencari kacamata yang diinginkannya. Sedikit menyusahkan Vincent Faroush yang harus membiayai anaknya ini kemana pun ia mau, paling tidak itu ia lakukan untuk pengertiannya sebagai seorang ayah yang bertanggung jawab. Lagi pula, dengan begitu ia bisa menanam saham perusahaannya di berbagai macam CEO terkenal di belahan dunia ini dengan menyuruh Maddie. Saling menguntungkan bukan.
“Kau akan berpetualang dengan siapa, Madd?” John buka suara setelah lama memilih untuk mematung di sana.
“Aku pergi bersama Lizie,” jawab gadis bermata hazzle itu, sesekali ia menatap keluarganya bergantian. Ah … ia pasti akan rindu suasana berkumpul seperti ini. Ia pergi selama beberapa minggu, lalu pulang. Jika ia tidak menemukan kacamata seperti yang diinginkannya, maka ia akan menambah list Negara baru untuk didatangi. Biarpun berulang kali pulang-pergi ke luar negeri, sosok Maddie sangatlah susah untuk tidak memikirkan keluarganya. Rasa rindu selalu menggebu dalam hatinya.
“Kau mengajak gadis tengil itu lagi? Lalu, kapan kau akan mengajakku, Madd?” protes John, semakin membuat Maddie gemas pada adiknya itu.
“Dasar bodoh! Lizie itu sahabat baikku, John,” sahut Maddie sedikit sengit dan membuatnya memukul kepala adiknya pelan. Membuat John pura-pura mengerang kesakitan.
Lizie adalah sahabat Maddie sejak keduanya masuk SMA yang sama, dan beruntung bagi Maddie yang memiliki sahabat seperti Lizie. Gadis itu selalu mau apabila Maddie mengajaknya berjalan-jalan ke luar negeri, dan untungnya juga Lizie memilliki keluarga yang berada. Bukan masalah, jika Lizie bisa menggunakan uangnya kemana saja untuk menemani Maddie berburu kacamata.
“Ku harap kau bisa membawa kacamata cintamu, Maddie …” tukas John asal, lalu melipat kedua tangannya di depan dada dengan tatapan menantang.
“Maksudmu, John?”
“Maksud John, kami ingin kau pulang bersama kekasihmu. Setelah berulang kali berkeliling dunia, belum ada satu orang pun laki-laki yang kau perkenalkan pada kami. Jangan terlalu terbawa dengan petualanganmu ini, sehingga membuatmu lupa akan hal seorang kekasih. Kau juga anak manusia yang normal kan. Benar begitu, Dad?” Meiren Faroush–ibu Maddie–mendongakkan kepalanya untuk menjangkau pandangannya pada sang suami, sekedar meminta persetujuan perkatannya tadi. Ia melingkarkan tangannya pada pinggang suaminya yang bertubuh gempal itu.
“Benar kata, Mom. Siapa tahu, kau membawa pulang seorang laki-laki dari CEO tempat kau menanam saham di Sydney nantinya …”
“Mom …, Dad ….” kedua pipi Maddie merona merah. Tapi, ia lebih merutuki nasibnya sendiri. Ada benarnya kata kedua orangtuanya ini, berulang kali ia pulang-pergi dari berbagai belahan dunia hanya untuk berburu kacamata dan menanam saham perusahaan ayahnya di berbagai CEO terkenal. Tapi, sampai sekarang ia belum pernah merasakan bagaimana memiliki kekasih lagi, setelah terakhir ia dikhianatai oleh seorang laki-laki yang menurutnya bajingan itu. Bahkan, ia hampir lupa bagaimana caranya mencintai. Sedangkan sekarang, gadis itu hanya bisa tertunduk dalam.
“Argh … sudahlah Madd! Kami tidak berniat membuatmu mellow seperti ini. Sekarang, segeralah pergi ke bandara! John akan mengatarmu, sayang.” Vincent Faroush tampak mengusap pundak anaknya lembut.
“Apa? Aku?” John terkejut saat sang ayah menyebut namanya.
“Antarkan Maddie, John. Lalu, segera pulang dan jangan pergi kemana-mana lagi setelah itu.” Meiren melirik anak laki-lakinya itu seraya berpesan.
Maddie segera meraih jas berwarna coklat pastel kesukaannya dari tempat tidurnya, lalu John membantu Maddie membawa kopernya. Kedua orangtua Maddie tersenyum hangat. Dan bersamaan mengantarkan Maddie sampai pintu depan rumah mereka.
“Mom, Dad , Maddie pergi dulu.” Meiren dan Vincent mengecup kening anaknya itu bergantian. Maddie segera menyusul John yang sudah siap untuk melajukan mobil Audy berwarna putih miliknya.
“Semoga petualanganmu menyenangkan, sayang ….” Meiren dan Vincent tersenyum simpul bersamaan dengan kepergian mobil Audy yang menjauh dari halaman rumah mereka. Maddie tampak menyembulkan kepalanya dari jendela mobil dan melambaikan tangannya pada kedua orangtuanya, yang juga melambaikan tangan ke arahnya. Dan lama-kelamaan rumah besar dan mewah itu lenyap dari pandangannya.
“Maddie, aku tidak bisa mengantarkan sampai pesawatmu berangkat,” ungkap John. Matanya sama sekali tak beralih dari jalanan menuju bandara Charles de Gaulle, France.
“Tidak apa, di sana sudah ada Lizie yang akan pergi bersamaku. Kau jaga Mom dan Dad selama aku pergi.” Pesan Maddie pada adik laki-lakinya itu.
John mengangguk menjawabnya. Maddie mengacak singkat rambut John, membuat anak laki-laki itu kembali menggerutu. Tak dihiraukannya, Maddie memilih menutup telinganya dengan sebuah headphone untuk mendengarkan lagu-lagu ballad kesukaannya.
~oOo~
Maddie dan Lizie baru saja sampai di bandara Kingsford Smith, Sydney. Angin
musim panas berhembus saat keduanya memasuki pintu kedatangan. Gadis
berambut coklat pirang, yang tak lain adalah Maddie melirik ke arah
seorang gadis yang kini berjalan beriringan di sebelahnya.“Apakah kita akan langsung berburu kacamata, Zie?” tanya Maddie seraya membuka sebuah kacamata hitam yang bertengger di hidungnya.
“Kau gila Madd!” Lizie mendorong lengan Maddie pelan. “Ini masih terlalu pagi, dan kau sudah tidak sabar untuk berburu kacamata, heh?”
“Hahaha! Aku tidak gila, Lizie,” kekeh Maddie, dan selang beberapa menit keduanya telah sampai di depan pelataran bandara Kingsford Smith, Sydney. Maddie, gadis itu menghentikan salah satu taksi bandara untuk mengantarkan keduanya ke hotel Harbur Rocks yang sebelumnya sudah Maddie pesan beberapa hari lalu.
“Kota ini benar-benar sangat indah. Aku ingin mengambil banyak gambar di kota dermaga ini,” sedari tadi Lizie tak henti-hentinya berceloteh karena kekagumannya pada kota Sydney yang baru kali pertama didatanginya ini.
Memang, selain dikenal sebagai kota dermaga, Sydney merupakan kota paling multikultural di dunia, yang tercermin dari perannya sebagai kota tujuan utama bagi imigran ke Australia. Kota ini banyak menyimpan sejarah, bahkan penduduknya memiliki sebutan tersendiri, yaitu; sydneysiders. Mengaggumkan memang.
Sedangkan Maddie, gadis itu tidak begitu menghiraukan sahabatnya yang terus-terusan berceloteh di telinganya. Ia lebih memilih untuk memperhatikan sebuah layar PC Tablet yang menunjukan peta kota Sydney dengan layanan internetnya, sekedar untuk mencari tempat-tempat perbelanjaan di Sydney. Hingga Pitt Street Mall, akan menjadi tujuan pertamanya berburu kacamata besok pagi. Gadis ini sudah tidak sabar sepertinya.
Tak butuh waktu lama hingga taksi yang mengatarkan keduanya tiba di sebuah pelataran hotel mewah, Harbur Rocks, Sydney. Lagi dan lagi, Lizie berdecak kagum dengan gedung-gedung menjulang yang mengelilingi hotel ini.
“Lizie, apakah kau tidak pernah ke luar negeri sebelumnya?” decak Maddie, sedikit geli melihat tingkah sahabatnya yang dirasa cukup berlebihan. Bukannya sama saja, mereka berdua sudah berulang kali pergi ke luar negeri. Tapi, kenapa Lizie bersikap over semenjak menapakkan kaki di kota ini.
“Entahlah, Madd. Aku merasa berbeda saat pertama kali melihat kota ini. Tidak salah jika kau mengajakku berburu kacamata di sini.” Lizie mulai melangkah masuk ke hotel Harbur Rocks, namun ia kembali membalikkan tubuhnya. Ditatapnya Maddie yang spontan berhenti karenanya.
“Semoga kau bisa menemukan kacamata cintamu itu di sini, Madd.” Lizie mengusap lembut pundak Maddie, berusaha meyakinkan gadis itu. Berhubung, waktu di pesawat Maddie menceritakan permintaan keluarganya itu. Tidak mungkin, gadis secantik Maddie dengan kegemaran anehnya tidak ada satu pun pria yang ingin meliriknya. Lizie kembali memutar tubuhnya untuk mengambil kunci kamar hotel mereka pada seorang resepssionis cantik yang tersenyum hangat di tempat kerjanya. Pelayanan yang tidak buruk rupanya.
Maddie, gadis itu masih berdiri mematung. Kepalanya seolah berdenyut, mengingat pesan orangtuanya semalam. Astaga, apa yang harus ia lakukan. Bagaimana caranya agar ia tidak sekedar berpetualang mencari kacamata biasa, melainkan kacamata cinta yang sejatinya akan menemani hidupnya kelak. Madd, sadarlah! Kau gadis cantik dengan sejuta parasmu yang menawan, hanya saja kau terlalu tertutup pada dirimu sendiri semenjak laki-laki bajingan itu menghianatimu.
Bahkan, hal itu sampai membuat seorang Maddie Faroush hampir lupa bagaimana caranya untuk mecintai. Semenjak kali pertama ia berpacaran pada seorang eksekutif muda dan pahitnya laki-laki itu berani berselingkuh dengan wanita lain di depannya. Oh, tidak! Maddie sangat terpukul saat itu. Hingga akhirnya ia memilih untuk melupakan semua yang berkaitan dengan ‘cinta’. Hidup memang pilihan. Tapi, mau bagaimana lagi, luka itu seolah kembali terangkat saat kedua orang tuanya mengingatkannya lagi tentang seorang kekasih. Tidak tahu bagaimana ia harus mendapatkan mahluk yang disebut ‘kekasih’ itu, lalu bagaimana mencintainya dan berharap ia tidak jatuh pada lubang yang sama.
“Maddie, kenapa masih berdiam di situ? Aku ingin segera tidur.” Suara Lizie seketika mengejutkan Maddie yang sempat terdiam beberapa saat.
“Arghh … iya, tunggu aku, Lizie Rose!” Kemudian, Maddie segera menarik kopernya dan menghampiri Lizie yang sudah siap untuk memasuki lift menuju kamar hotel mereka.
~oOo~
Sang cakrawala kembali mengambil sikap, menghamburkan cahayanya pada
seluruh insan dunia dengan teriknya yang kian menanjak, dan masih pada
musim yang sama di Sydney. Musim panas. Waktu telah menunujukkan hampir
pukul 2 siang pada jam tangan Maddie. Gadis itu menghela napasnya pelan,
sepasang mata hazzle-nya tampak menatap arakan awan putih yang seolah berpentas ria di atas perkamen berwarna biru itu.Maddie kembali menurunkan pandangannya, mengamati para sydneysiders yang melewati Pitt Street, bahkan tak ada habisnya mereka berlalu lalang. Tempat ini memang pusatnya perbelanjaan dan perusahaan di Sydney, selain itu juga sangat cocok dinikamti dengan berjalan kaki.
Tatapan gadis itu jatuh pada seorang gadis yang tengah menggunakan stelan berwarna biru, dipadu dengan celana jeans dan sepatu high heels kesukaannya. Maddie berdecak saat itu juga kala melihat senyum sumringah pada wajah oriental gadis yang sukses menjadi perhatiannya.
“Aku lelah sekali, Lizie. Hampir seharian kita berkeliling di Pitt Street Mall. Tapi tetap saja … tak ada satu pun kacamata yang membuat ku tertarik membelinya,” ujar Maddie kesal. Keduanya masih tampak melangkah menyusuri Pitt Street yang ramai, walaupun matahari tampak menyengat dengan cahayanya.
“Madd, dari pada terus-terusan mencari kacamata yang sesuai dengaan selera tinggimu itu, akankah lebih baik dan ku sarankan saja kau agar untuk segera mencari kacamata cintamu itu,”
“Biarkan Tuhan yang mengaturnya, Zie .…” Gadis itu menghela napas berat. Hatinya sedikit berkecamuk belakangan ini, laki-laki bajingan itu seolah kembali menggelayuti pikirannya. Ia takut. Takut apabila dia akan jatuh pada lubang yang sama, dan pikirannya itu benar. Bahwa semua laki-laki itu sama saja.
“Maddie!” Lizie menghentikan langkahnya spontan dan hanya dijawab gumaman kecil oleh Maddie yang terus berjalan tak memperdulikannya.
Sebenarnya, Lizie sungguh tidak sanggup melihat sahabatnya seperti ini. Iba, karena sampai sekarang Maddie belum bisa melupakan laki-laki yang menjadi cinta pertamanya dan malah menyakitinya begitu dalam. Ingin ia memeluk sahabatnya itu sekarang juga, lalu menangis di sana. Rasanya, jika bisa … Lizie ingin memperban luka pada hati sahabatnya itu.
“Maaf, Madd.”
“Minta maaf untuk apa?” Maddie melirik pada sosok gadis yang baru saja menyusulnya itu.
“Uhmm … lupakan saja! Bagaimana jika kita berjalan-jalan ke Royal Botanic Garden. Bisa sedikit menghilangkan penat,”
“Benarkah? Kau yang membayar biaya masuknya, ya?” Maddie terkekeh pelan.
“Heh? Kita tidak dipungut biaya, sayang ….” Maddie berkerut dahi dan spontan menghentikan sebuah taksi untuk mereka gunakan menuju Royal Botanic Garden.
Royal Botanic Garden adalah tempat yang indah untuk piknik apalagi menikmati rerumputan hijaunya, atau sekedar melambaikan tangan ke arah yacht yang mondar-mandir di Sydney Harbour. Bahkan, jika kita mampu menelusuri Royal Botani Garden sampai Mrs Macquarie Point, pemandagan yang disuguhkan seolah hampir menyamai surga dunia.
“Madd, apakah kau sudah menemukan CEO terkenal untuk menanam saham perusahaan ayahmu itu?” tanya Lizie pada Maddie yang sedari tadi sibuk memainkan PC Tabletnya di dalam taksi. Ya, gadis ini tengah mencari target berikutnya untuk menjadi tempat perburuannya mencari kacamata.
“Sudah. Aku mencatatnya di sini.” Maddie menunjukkan sebuah catatan kecil yang baru saja diambil dari tasnya itu.
“Kapan kau akan mendatangi CEO itu?”
“Nanti. Setelah aku menemukan sebuah kacamata yang sesuai dengan seleraku,”
“Maddie, tapi itu …,”
“Tidak masalah. Aku sudah terbiasa kan menanganinya sendiri.”
“Kau kira butuh waktu cepat untuk memproses penanaman saham itu, heh?”
Maddie sontak terkejut, mendengar penuturan gadis di sebelahnya ini. Tidak biasanya ia menemukan Lizie yang bersikap seperti ini. “Kau kenapa Lizie? Bukannya aku sudah biasa menangani ini? Buktinya, saham Dad sukses berada di CEO Asia dan Eropa.”
“Bukannya begitu. Setelah kau menyelesaikan saham-saham ayahmu itu, kau pasti akan lebih tenang untuk mencari kekasih di sini,”
Lagi-lagi arah pembicaraan gadis itu mengarah pada sosok yang sangat diinginkan keluarga dan sahabatnya ini. Maddie hanya diam dan tidak ingin buka suara, jika ia terus-terusan dipaksa seperti ini maka sama saja malah membuatnya mengekang hatinya sendiri, yang nyatanya ia masih terluka kan.
Ia hanya berusaha percaya pada takdir, jika hari ini ia tak menemukan kekasihnya, mungkin masih ada besok atau lusa. Dan tidak menutup kemungkinan, jika kekasihnya nanti tidak harus ditemukannya di Sydney.
Tak lama, kedua gadis itu turun bersamaan dari taksi, dan kali ini Maddie yang membayar taksinya. Hembusan angin laut seolah menerpa setiap lekuk wajah mereka saat keduanya melangkahkan kaki masuk ke Royal Botanic Garden. Sangat menakjubkan lukisan Tuhan yang satu ini. Di sebelah timur berdiri dengan gagahnya Opera House. Dan tak jauh, Sydney Harbour tampak ikut meramaikan wilayah ini.
“Kau tunggu di sana! Aku akan membeli makanan.” Lizie menunujuk sebuah kursi yang berada di bawah sebuah pohon besar. Maddie segera mengangguk dan membiarkan punggung sahabatnya itu menjauh untuk membeli makanan. Gadis itu menghhembuskan napasnya samar dari hidungnya yang mancung.
Langkah kaki kecilnya terhenti pada sebuah kursi yang menghadap langsung ke arah laut. Sungguh indah dan menenangkan. Tapi, di kursi itu tidak sepenuhnya kosong. Ada seorang laki-laki berkacamata juga duduk di situ. Tak ada kegiatan lain, laki-laki ini hanya memandangi laut dengan balutan kacamata yang membingkai sepasang matanya. Kaacamatanya sangat simpel namun elegant.
“Permisi Tuan, bisa berbagi tempat?” tanya Maddie pada laki-laki itu. Jika ada kursi kosong lainnya, mungkin ia akan menempatinya daripada mengganggu laki-laki ini. Ia tidak nyaman rasanya.
Laki-laki itu hanya menjawab dengan gerakan tubuhnya yang menggeser posisinya. Benar-benar cuek. Tak dihiraukannya lagi, laki-laki yang duduk di sebelah Maddie itu, walaupun nyatanya laki-laki itu sangat tampan saat ia membuka kacamata yang tadi bertengger di hidungnya dan meletakkannya tepat diantara dirinya dan Maddie duduk.
Maddie sibuk dengan PC Tablet miliknya, dan kali ini Paddy’s Market akan menjadi tujuan berikutnya untuk berburu kacamata. Pusat perbelanjaan tradisional Sydney itu banyak menawarkan berbagai macam oleh-oleh untuk para wisatawan yang berkujung. Tidak mungkin jika tidak ada penjual kacamata di sana.
Gadis bermata hazzle itu melirik ke arah jam berwarna silver yang melingkar pada tangan kanannya, lalu entah atas desakan dari mana ia tiba-tiba melirik ke arah laki-laki yang tadi duduk di sampingnya. Laki-lakit itu sudah tidak ada di sampingnya lagi rupanya. Bahkan, bayangannya pun sudah tidak ditemukan oleh Maddie. Kemana perginya pun Maddie sama sekali tidak tahu.
“Astaga ini?” Maddie terperanjat dengan sebuah kacamata yang hampir diremuknya dengan tekanan tangannya. Dan lihat … bukannya ini milik laki-laki tadi? Ah … memang benar. Selera laki-laki tadi cukup tinggi juga.
“Ini kacamata yang seperti kuinginkan. Bahkan, lebih bagus dari semua kacamata koleksi yang pernah ku beli. Argghh … tapi ini milik seseorang. Aku harus segera mengembalikan pada pemiliknya, siapa tahu dia akan memberitahu di mana ia membeli kacamata seelegant ini,” Maddie berbicara pada dirinya sendiri, lalu ia terdongak, terlihat untuk mencari-cari seseorang. Pandangannya menyapu setiap celah pada Royal Botanic Garden dan hasilnya tetap saja … nihil. Hanya seorang gadis yang sangat dikenalinya itu tengah berjalan untuk menghampirinya. Itu Lizie.
“Kenapa kau lama sekali?” tanya Maddie yang lebih mengarah pada sebuah protes.
“Maaf. Tadi, aku sekalian membelikanmu tiket menonton drama musical di Opera House untuk minggu depan,” Lizie tersenyum simpul, berusaha tidak membuat suasana keduanya panas. “Ini! Aku membelikanmu ice cream. Dan ini sangat enak, cobalah!” Lizie menyodorkan ice cream yang dibelinya tadi. Diam-diam, Maddie menyembunyikan kacamata yang tidak diketahui pemiliknya itu ke dalam tasnya. Paling tidak, dengan jangka waktu yang dimilikinya selama berjalan-jalan di Sydeny mungkin bisa ia gunakan untuk mencari laki-laki tadi. Dan berharap, Tuhan memiliiki rahasia lain di balik ini semua.
~oOo~
Maddie masih berdiri mematung, memandangi dirinya yang terpantul
dari sebuah kaca oval yang ada di lemari kamar hotelnya. Cantik, tapi
kenapa ia belum bisa mendapatkan pengisi hatinya lagi. Gadis itu menelan
kecut salivanya sendiri, lau ia sedikit menyisir rambutnya yang
bergelombang dan langkahnya tergerak menuju nakas yang ada di sisi
tempat tidur. Tangannya mulai mengambil sebuah kacamata dari dalam
tasnya dan kakinya mulai berjalan keluar menuju balkon di luar.“Simpel, elegant … warna hitam yang sangat casual. Darimana ia bisa mendapatkan kacamata sebagus ini?” Maddie meneliti setiap lekuk dari kacamata yang ditemukannya waktu itu. Sudah hampir satu minggu kacamata ini bersama dengan dirinya, tapi ia tidak bisa menemukan sosok yang waktu itu duduk di sebelahnya. Bahkan, Maddie saja tidak tahu bagaimana wajah laki-laki itu lebih jelasnya tanpa sebuah kacamata.
“Siapakah pemilikmu, oh kacamata? Agar aku bisa membelimu, aku tidak ingin disebut penguntit untuk lebih tepatnya,” gadis itu tersenyum miring lalu spontan menyimpan kacamata tadi di balik tubuhnya. Rupanya Lizie telah siap sekarang.
Malam ini keduanya akan menonton pertunjukan drama musical di Opera House. Lizie yang membeli tiketnya seminggu yang lalu. Lizie pergi dengan dress merahnya selutut, sama dengan Maddie tapi lebih senang dengan warna merah muda yang lebih menunjukkan keanggunannya.
~oOo~
Tepuk tangan riuh memenuhi sentero Opera House yang begitu megah dan
mewah. Tidak pernah terbayang dalam benak kedua gadis ini bisa berada di
dalamnya. Pertunjukkan drama musical yang begitu romantis itu baru saja
memulai klimaksnya. Dan tak henti-hentinya, air mata menetes dari sudut
mata para penonton tak terkecuali Maddie dan Lizie saat ini.“Uhmm, Madd … ini terlalu menyakitkan ku rasa,” tutur Lizie pada sahabatnya yang tampak sibuk menyeka air matanya.
“Argghh … ku rasa benar begitu.”
“Madd, bagaimana dengan perburuan kacamatamu? Kau masih mau melanjutkaannya?”
“Itu …, kemarin aku sibuk dengan penanaman saham pada CEO terkenal di tempat yang sudah menjadi tujuanku.”
“Lalu, bagaimana hasilnya?”
“Aku masih menunggunya,” Maddie tersenyum simpul. Tiba-tiba, ia merasakan getaran pada ponsel yang ada di dalam tasnya. Ia berusaha merogoh dan mencarinya, bahkan ia sempat mengeluarkan beberapa barang yang ada di dalam tasnya. Tak terkecuali dengan PC Tablet yang juga ikut dikeluarkan dan ditaruhnya asal.
“Dad …” Maddie segera mengangkat panggilan ponselnya setelah membaca nama yang tertera pada layar ponselnya itu. Ia segera beranjak menjauh untuk mencari tempat yang lebih hening, agar ia bisa mengobrol dengan ayahnya itu dengan tenang.
~oOo~
Keduanya melangkahkan kakinya santai di Darling Harbour yang tampak ramai pengunjung. Sesekali, Lizie terlihat mengejar burung-burung camar yang berkeliaran di Darling Harbour. Pemandagan laut yang disuguhkan di sini juga tak kalah indah dari tempat-tempat yang sebelumnya mereka kunjungi.
Lizie mendudukkan dirinya di tempat duduk yang disediakan Darling Harbour, diikuti dengan Maddie yang juga ikut duduk di sebelahnya.
“Bagaimana setelah ini?”
“Apanya?” tanya Maddie bingung.
“Ini sudah hampir 2 minggu kita berlibur. Ini waktu paling lama selama kita liburan di luar negeri,”
“Tapi … aku belum menemukan kacamata yang sesuai dengan seleraku itu,”
Lizie mengernyitkan alisnya singkat. “Mungkin kau bisa mencari di negeri lainnya yang telah menanti kedatanganmu. Lalu, bagaimana dengan CEO yang sejak kemarin kau urus itu, hum?”
“Kita butuh waktu sekitar satu atau dua hari lagi, karena mereka bilang, atasan mereka sedang sangat sibuk dengan urusan pribadinya. Jadi mereka belum bisa mengkonfirmasi diterima atau tidaknya saham milik Dad,”
Lizie mengangguk. Ia membiarkan deburan ombak menjadi selingan pendengarannya saat ini. Gerakan kapal yang bersadar di dermaga menjadi pandangan lainnya, yang sedari tadi sepasang matanya hanya terus menerus menatap langit yang mulai menua.
“Berarti kita masih memiliki waktu untuk untuk berburu kacamata yang kau inginkan itu. Setelah ini, apa tempat yang menjadi target barumu berburu kacamata?”
“Arghh, aku lupa. Tapi, aku masih menyimpan tempat-tempat itu di dalam PC Tabletku.” Maddie bergerak cepat untuk mencari hal yang disebutkaannya tadi. Namun, ini malah membuatnya kelabakan. Ia sama sekali tak menemukan PC Tabletnya itu di dalam tasnya.
“Ada apa?” Lizie ikut khawatir saat mencetak wajah Maddie yang tidak biasa.
“PC Tabletku tidak ada, Zie?”
Seketika Lizie mendelik. “Hah, ini bukan saatnya untuk bercanda Madd,”
“Sungguh, lihatlah!” Maddie menunjukkan isi tasnya.
“Mungkin tertinggal di hotel,”
“Tidak. Aku tidak pernah mengeluarkannya dari tas ini. Tapi …” tiba-tiba ada sebuah ingatan yang terselip di benak Maddie saat itu juga.
“Astaga Lizie! Aku bodoh! Bahkan sangat bodoh,” runtuk gadis itu sembari mengerang frustasi tanpa menghiraukan lagi para manusia yang memperhatikannya.
Lizie mengusap punggung sahabatnya itu lembut, berusaha untuk menenangkannya. Ya, tubuh Maddie seketika menjadi dingin dengan darah yang begitu cepat naik ke kepalanya. Bagaimana jika Vincent Farouush, sanga ayah mengetahui tentang hal ini? Bahkan, banyak dokumen-dokumen pentinng Maddie di dalamnya. Terutama persetujuan penanaman saham dari CEO yang kemarin didatanginya.
“Aku meninggalkannya di Opera House, Zie. Bagaimana jika ia jatuh pada tangan orang yang tidak benar.” Lizie meminjamkan pundaknya untuk menjadi tempat Maddie menangis sejadi-jadinya sekarang. Ia tahu bagaimaa perasaan gadis ini, PC Tablet itu seolah hidup baginya. Banyak file berharga di dalamnya, dan dari mana lagi ia mampu mendapatkannya file-file iitu.
~oOo~
Maddie menghela napasnya berat, ia tampak masih merutuki nasibnya
belakangan ini. Petualangannya benar-benar gagal, selain tidak
mendapatkn kacamata yang diinginkan, ia juga harus merasakan bagaimana
kehilangan sebuah PC tablet yang sungguh berharga itu. Banyak
dokumen-dokumen yang berharga baginya. Ini petualanag yang gagal dan
tidak menyenangkan sama sekali untuknya.“Nonna Maddie …” panggil salah seorang pegawai perusahaan dari meja kerjanya. Lalu, maddie dengan malas menyeret kakinya menuju meja kerja pegawai itu.
Gadis itu mendudukkan tubuhnya di sebuah kursi dengan berusaha tersenyum, yang nyatanya sangat getir untuk dirasakannya itu.
“Atasan kami, Joseph Henry Keeps telah menandatangani persetujuan penanaman saham perusahaan anda pada CEO kami. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik, dan saya mewakilkan permintaan maaf karena atasan kami tidak bisa menemui anda sekarang,”
Maddie meraih berkas-berkas yang barus saja disodorkannya itu. Ya, perusahaan ayahnya berhasil membuat kerjasama dengan CEO terkenal di Sydney, yang pemilknya bernama Joseph Henry Keeps. Bahkan, Maddie tidak tahu bagaimana rupa atasan CEO ini.
“Baiklah, saya sangat berterimakasih banyak atas kerjasamanya. Permisi ….” Maddie segera beranjak dan belum sempat ia melangkahkan kakinya, tiba-tiba karyawan tadi menahannya dengan suara yang mampu membuatnya kebingungan.
“Maaf, Nonna Maddie. Sekarang, atasan kami telah menunggu Anda di Hyde Park.”
“Heh?”
~oOo~
Maddie menghempaskan tubuhnya di sebuah kursi taman. Ia terlihat
mengusap wajahnya frustasi. PC Tablet itu masih saja dirutukinya sampai
sekarang, bahkan ia tidak begitu menghiraukan perkataan karyawan yang
tadi ia temui.Sebuah bangunan St Mary Cathedral seolah menjadi latar ia merutuki nasibnya sekarang, dari kedua sudut matanya mengalir cairan-cairan nista yang tak pernah dimintanya. Tidak ada yang berharga kecuali file-file miliknya, dan tentunya, kenangan-kenangan saat ia merasakan apa itu namanya cinta.
Tiba-tiba, gadis ini mengingat suatu hal. Tangan kananya terangkat untuk mengambil sebuah kacamata yang sampai sekarang belum dikembalikan pada pemiliknya itu. Ia masih meneliti kacamata berwarna hitam yang sekarang berada dalam genggamannya. Ia sudah berkujung kesana kemari di tempat seluas kota Sydney ini. Tapi, tidak pernah ia temukan pemiliknya. Ia hanya berharap, kacamata ini bisa memiliiki keajabain bagaikan sebuah cerita dongeng.
“Ini milikmu, kan?” sebuah tangan berkulit putih mengejutkan Maddie yang sedari tadi tertunduk lesu dalam diamnya. Sebuah PC Table berwarna putih terulur dari tangan itu.
Maddie berusaha mengangkat pandangannya, mencari tahu siapa pemilik tangan itu. Seketika, sepasang mata yang dibingkai oleh kacamata itu memanas dan menyalurkan tegangan pada sistem syarafnya. Astaga, malaikat tampan darimanakah ini? Kau tidak mimpikan Maddie?
Maddie melepas kacamatanya, dan membiarkan cahaya-cahaya matahari memenuhi kornea matanya. “Dari mana kau bisa mendapatkannya?”
“Apa aku perlu memberi tahumu, Nonna?” laki-laki itu tersenyum miring dan ikut duduk di samping Maddie.
“Tentu saja! Aku sangat berterimakasih karena masih ada orang sebaik dirimu yang mau mengembalikannya pada pemiliknya.” Tiba-tiba, laki-laki itu malah mendekatkan pandagannya. Maddie tidak pernah melihat wajah seorang laki-laki sampai sedekat ini. Datak jantungnya seolah tidak dapat dikontrolnya. Keringat dingin pun menetes dari pelipisnya. Rasa apa ini? Apakah ini rasa yang sama saat dulu di alaminya. Bahkan, ini kali pertama ia bertemu dengan laki-laki yang sama sekali tak dikenalnya.
“Aku Joseph Henry Keeps. Panggil saja aku, Henry,” ucap laki-laki itu lalu menjauhkan pandangannya. Dan akhirnya, maddie bisa menghirup napas lega.
“Aku–“
“Maddie Faroush,” sahutnya dingin, membuat gadis disebelahnya itu seketika dibuatnya mendelik.
“Da-dari mana kau tahu?”
“Untuk apa aku membawa PC tabletmu hingga berhari-hari jika aku tidak berniat membukanya. Maafkan aku yang telah lancang,”
Maddie tampak tercekat dengan apa yang didengarnya. Tidak menutup kemungkinan, bahwa laki-laki ini telah membuka semua kenangan yang ada dalam PC Tablet-nya. Dan, siapa tadi namanya? Bukannya dia adalah atasan dari CEO yang menjadi tempat penanaman saham sang ayah? Ah, memang benar rupanya.
“Apa ini milikmu?” Maddie menyodorkan sebuah kacamata yang kemarin ditemukannya itu. Entah, kenapa ia sangat yakin bahwa laki-laki itu adalah laki-laki yang ada di hadapannya sekarang.
“Itu untukmu …”
“Heh?”
“Kau sudah lama menginginkannya kan? Aku yang membuatkannya sendiri untukmu,”
“Dari mana kau tahu–“
“Untuk apa selama ini kau hanya berusaha membeli kacamata yang nyatanya tidak pernah memenuhi seleramu itu? Apakah kau tidak pernah mengenalku, Madd?”
“Henry?”
“Ya,”
“Apakah kau?”
“Ya. Aku juga bagian dari hidupmu yang telah lama menghilang. Kau bisa mengingatku kan?”
Maddie menggeleng lemah. “Tidak. Jika iya kau bagian hidupku, maka tetaplah ada untukku. Karena semua yang pernah menjadi bagian hidupku telah sepenuhnya menghilang sejak 3 tahun lalu. Dan sejak itu, aku menjadi penggila kacamata dan terlahir sebagai gadis bodoh yang mengorbankan dirinya hanya untuk berkeliling dunia mencari kacamata yang kuinginkan.”
Laki-laki bernama Henry itu menarik tangan milik Maddie dan menggenggamnya erat. “Karena sejatinya kacamata cintamu ada padaku, maka petualanganmu tak akan pernah berakhir hingga akhirnya kau dapat menemuiku,”
“Kenapa kau tidak datang padaku? Dan dari mana kau tahu jika aku ada di sini?” tanya Maddie dengan suara parau, air mata sudah menganak sungai di kedua pipinya.
“Bukan petualangan cinta yang indah namanya, jika aku yang langsung datang pada dirimu dan sebagai siapa aku saat itu. Aku membiarkan hidup barumu setelah kecelakaan yang membuatmu koma selama setengah tahun lamanya. Aku memutuskan pergi dari hidupmu, dan membiarkanmu bahagia dengan dirimu yang baru. Hingga pada akhirnya, semuanya menyusun rencana agar aku tetap bertahan menunggumu hingga kau benar-benar siap menerima kenangan masa lalumu itu,”
“Henry, jika kau ingin kembali mengajakku pada perputaran waktu di masa lalu sebelum aku menghilangkan ingatanku karena kecerobohanku, maka mau di masa lalu atau di masa mendatang rasa yang ada pada diriku masih tetap sama. Entah kenapa, biar baru pertama melihatmu aku sungguh sangat meraskaan sebuah ketenangan yang mendalam.”
“Karena kau milikku. Aku masa lalumu dan akan datang menjadi hidup barumu.” Henry mengecup singkat kening gadis itu dan memeluknya erat.
Semua ini sebelumnya memang sudah di susun. Maddie mengalami hilang ingatan sejak kecekalaan 3 tahun lalu. Hingga akhirnya, sang ayah tahu jika seorang Henry masih menunggu anaknya itu. Dulunya Henry adalah kekasih Maddie, namun setelah Maddie mengalami kecelakaan dan hilang ingatan laki-laki ini seolah menjadi pengecut dan memilih pergi dari hidup Maddie. Setelah mengetahui, hati Maddie tak ada lagi yang mengisi maka ada celah untuk Henry. Dan itu alasannya, kenapa Lizie terus mendesak Maddie untuk segera mencari kacamata cintanya.
-THE END-
0 komentar:
Posting Komentar