Translate

cerpen burung dara

Written By iqbal_editing on Jumat, 14 Juli 2017 | 12.05


Aku cemburu sama burung dara. Cemburu kok sama burung ? Biarin, toh ini memang sudah kelewatan. Setiap sore kerjaannya suamiku cuma ngumpul sama teman temannya, katanya latihan burung dara. Setiap pagi bukannya bantuin beres beres rumah, malah sibuk bersihin kandang dan ngasih makan burung daranya. Begitu saja kerjaannya tiap hari, bangun tidur burung dara, pulang kerja burung dara, bahkan malam pun obrolannya burung dara. Sampai sampai pos ronda depan rumahku dijadikan basecamp pecinta burung dara di kampungku. Sore itu burung daranya memenangi lomba, hadiahnya uang tunai. Kebetulan, saat itu aku lagi tidak punya duit belanja. Aku memintalah uang belanja ke suamiku, eh dia bilang tidak ada. “lho bukannya burung mu menang lomba” tanyaku. “iya” jawabnya pendek “tapi uang itu ya bukan untukmu tapi untuk burung burung ku. Buat beli makannya dan untuk perbaikin kandang” jelas suamiku dengan ketus. Mendengar penjelasannya aku marah sekali. Selama ini uang belanjaku selalu berbagi dengan burung daranya. Sekarang ketika burung daranya mampu menghasilkan uang aku tidak dapat sama sekali. Aku marah ke suamiku. Aku melangkah cepat ke belakang rumah. "Dasar burung dara gak tau diri” teriakku marah. Kubuka kandang burung dara yang selama ini menghipnotis pikiran suamiku. Aku ambil satu burung yang sedang mengeram, kulepaskan dia keluar. Burung itu terbang bebas menikmati udara segar. Suamiku ikut berlari ke kandang mau mencegah tindakanku. Sayang terlambat. Burungnya sudah lepas duluan. Beberapa lama, bulu bulu berhamburan jatuh dari atas langit. Aku dan suamiku kaget. Seketika melihat ke atas. Tampak drone besar oleng di langit. Beberapa detik kemudian, Bruuuug.......Seekor burung dara terkapar di halaman belakang, menggelepar sebentar lalu mati. Suamiku berseru kencang “SOPPOO” menghampiri bangkai burung dara itu. Aku melongo melihatnya Suamiku masuk rumah setelah mengubur bangkai Sopo, aku baru tau ternyata burung dara itu bernama. Ku hampiri suamiku “aku minta maaf” kataku. “ah sudahlah, aku yang seharusnya minta maaf” jawab suamiku. “maafkan aku yang mengabaikan mu hanya demi kesukaanku” kata suamiku memeluk erat tubuhku. *** Sudah tiga hari aku tidak makan, bahkan minum saja pun aku malas. Aku rindu sekali kepadamu. Aku rindu belaianmu di leherku. Aku rindu menciummu. Setiap malam aku mengimpikanmu. Mimpi aku berdua bersamamu terbang ke langit. Kemana engkau pujaan hatiku. Aku pulang engkau sudah tidak ada, hanya ada telur telur calon anak kita. Kau pergi meninggalkan mereka, tanpa kabar tanpa pesan. Telur telur kita sekarang sudah dipindahkan, aku tidak tahu kemana. Begitulah suara rintihan seekor burung jantan yang menyayat hati. Suatu hari burung dara jantan menemukan kandangnya tidak terkunci, segera ia dorong pintu itu dengan kaki mungilnya. Pintu terbuka. Ia melesat terbang bebas. Sungguh kerinduan dengan kekasih hatinya membuat hatinya sakit sekali. Badannya semakin kurus karena tidak mau makan. Sang pemilik sepertinya sudah tidak mau tau juga mengenai burung daranya. Burung dara jantan hinggap di dahan pohon nangka. Nun jauh di bawah, ia melihat burung dara kekasih hatinya sedang mematuk matuk di jalanan. Aah kekasih hatiku teriaknya senang. Segera ia melesat ke bawah menukik tajam ingin memeluk kekasih hatinya. “Wuaaaa” teriak seorang wanita pengendara motor “ Penglihatanku kenapa menjadi buram” kata burung dara jantan “astagfirullah ya allah gimana ini” kata wanita pengendara motor dengan cemas dan ketakutan Dalam pandangan buramnya, ia melihat kekasih hatinya mendekat, kepalanya menunduk mengelus elus leher burung dara jantan. “aku rindu kamu” kata burung dara jantan “aku tau itu, aku datang untuk menjemputmu” kata burung dara betina. Sayapnya memeluk tubuh burung dara jantan Wanita pengendara motor segera menepikan motornya. Jalanan kampung sepi, tidak ada orang yang bisa ditanyai. Wanita itu mengangkat burung dara yang masih menggelepar, membawanya ke tepi jalan diletakkan burung dara jantan di bawah pohon nangka. *** Istriku hamil lagi yang ketiga. Semoga kali ini bisa sampai lahiran. Dua kehamilan sebelumnya tidak sampai waktunya sudah harus kembali ke Tuhan. Kata tetangga, istriku harus diperiksa kenapa sampai dua kali keguguran. Aku inginnya juga begitu, tapi apa daya belum ada biaya. Kerjaku masih serabutan, ikut orang sana sini. Sebentar di pulau jawa, sebentar di Kalimantan, sebentar di Sumatra. Begitulah nasib orang gak sekolah Istriku ikut kemanapun aku merantau. Aku kagum dengan istriku. Dia penyabar, dan pantang mengeluh. Kehamilan ketiganya tidak seperti sebelumnya yang suka mabok. Bila kehamilan yang sebelumnya,sejak subuh sudah bolak balik ke kamar mandi untuk muntah. Baru reda ketika matahari sudah meninggi. Sekarang Alhamdulillah lebih kuat. Pagi sudah bisa masak sarapan untukku. Meski hanya goreng tempe kami sangat bersyukur. Kehidupan itu tergantung pikiran kita, kalau pikiran kita bilang susah ya maka hidup jadi susah. Kalau pikiran dibawa senang hidup jadi bahagia. Pagi itu sebelum aku berangkat memulung, istriku membisikkan permintaannya ke telingaku. Aku menanggapinya dengan senyuman. “Insya Allah bu, bapak bawakan” menanggapi permintaannya dengan optimis. Padahal aku tau tidak ada duit di dompetku. Tapi bukankah pagi baru saja dimulai, rejeki pun sudah tersebar oleh Yang Maha Kaya, siap dijemput oleh hamba hambaNya. Aku pulang ke rumah untuk makan siang. Aku jarang beli di warung. Mahal menurutku, lebih baik pulang ke rumah. Sekalian istirahat sebentar. Pikiranku melayang ke keinginan istriku. Belum terbelikan, karena dompetku masih kosong. Namun aku sudah janji ke istriku. Bagaimana ini ya Allah Aku berjalan pulang melalui jalan kampung. Kulihat seorang wanita mengendarai motor berhenti di tengah jalan, tampak burung dara menggelepar di belakang roda belakangnya. Wanita itu turun mengangkat burung dara itu, diletakkannya di bawah pohon nangka. Burung itu masih menggelepar saat kulihat. Ah kamu pasti kesakitan wahai burung. Ijinkan aku meringankan sakitmu agar bisa menepati janji untuk istriku. Kuambil golok dari dalam gerobak. Dalam satu kali tarikan, burung itu pun tidak sakit lagi. Mati. “sayangku ngidammu makan daging burung dara kesampaian” ujarku dalam hati Aku melangkah pulang dengan tersenyum.


0 komentar:

Posting Komentar

 
berita unik