“Lho kenapa?” tanya Mrs. Nisha, ibu Eliz
“Tubuh Eliz susah untuk digerakan dan kepala Eliz pusing” Jelas Eliz
“Ya sudah, kamu hati hati di rumah” pinta Mrs. nisha
“Iya ma, lagian kan ada bibi Elma” kata Eliz meyakinkan mamanya.
“Ya sudah, lekas sembuh ya” kata Mrs. nisha
Beberapa menit kemudian…
Setelah Mrs. nisha pergi untuk bekerja, tiba-tiba terdengar suara kicaan burung beo, anehnya kicauan burung beo menggerakkan seluruh tubuh Eliz dan menuntunnya ke luar rumah untuk melihat burung beo itu, Eliz pun menari mengikuti alunan kicauan burung beo itu.
Ketika burung beo itu berhenti berkicau, Eliz pun terjatuh dan merasakan sakit di dalam tubuhnya.
“Bi… Bi… tolong Eliz” teriak Eliz. Namun ketika bibi Elma datang, Eliz sudah tergeletak pingsan.
“Mama, papa” Eliz memanggil kedua orang tuanya.
“Iya sayang, papa dan mama sudah mendengar semua ceritanya dari bibi Elma, jadi burung beo itu yang membuat sehat?” tanya Mr. Rudys, ayah Eliz. Eliz hanya menganggukan kepalanya, meskipun dalam hatinya Eliz pun bingung ada kejadian aneh dalam hidupnya.
“Baiklah kami akan coba untuk mencari burung beo itu” kata Mrs. nisha.
Hari berselang hari, Mr. rudys belum juga membawakan burung beo itu untuk Eliz. Hingga pada puncaknya alat alat di tubuh Eliz mulai dilepas satu persatu karena dokter yang menangani Eliz sudah tidak mampu lagi.
“Eliz, Eliz, bangun sayang papa membawakan burung beo ini untukmu” kata Mr. rudys menangis sambil menekan dengan kencang nadi Eliz, Eliz pun terbangun, kini Eliz kembali seperti dulu lagi, ia merawat burung beo itu dengan baik dan seakaan akan tidak ingin burung beo itu pergi.
Cerpen Karangan: Sierra Aulia Shabihah
0 komentar:
Posting Komentar