Translate

cerpen lomba kicau burung

Written By iqbal_editing on Jumat, 14 Juli 2017 | 12.10

Lomba Kicau Burung

Kenalkan, namaku Aditya putra. Masih sekolah menengah pertama. Ketika pulang sekolah, aku sering sekali lewat pasar hewan. Banyak sekali jenis hewan diperjual belikan. Seperti ayam, burung, kucing, bahkan iguana pun ada. Timbul keinginanku untuk memelihara satu hewan saja. Tapi masih bingung, jenis hewan apa yang akan aku pelihara.
Ka Wawan tetanggaku, memiliku banyak peliharaan burung. Berbagai jenis burung dia punya. Seperti burung kenari, burung jalak, burung kacer, dan masih banyak lagi jenis burung yang tidak aku ketahui. Setiap pagi tiba, merdu rasanya mendengarkan kicauan burung bernyanyi. Timbulah keinginanku memelihara burung. Akhirnya aku memutuskan untuk membeli satu burung beserta sangkarnya sebagai hewan peliharaan. Jenis burung yang aku pelihara berparuh bengkok, bulunya berwarna biru tua. Pedagangnya bilang sih, namanya burung lovebird. Setiap pagi aku rawat, membersihkan sangkarnya, memberinya makan, bahkan sampai memandikannya.
"Rajin bener ngerawat burungnya" sahut ka Wawan, yang melihatku sedang memandikan burung dipagi hari.
"Iya nih ka Wawan, biar burungnya sehat" jawabku yang lagi sibuk memandikan burung.
"Kaka pernah denger, suara burungmu lantang. Rajin berkicau lagi" puji ka Wawan.
"Tapi tidak selantang dan serajin burung kaka" jawabku coba merendahkan diri.
"Nanti siang, ikutin lomba aja dit. Bareng sama kaka" pintanya padaku.
"Tapi kak, aku tidak punya uang untuk biaya pendaftarannya" jawabku dengan terpaksa menolak.
"Biar kaka yang tanggung semua biaya pendaftaran. Yang penting kamu mau ikut" tegasnya padaku. Tanpa pikir panjang, aku menerima ajakan ka Wawan. Untuk mengikuti lomba kicau burung. Ka Wawan memang orang yang baik. Dia mau menanggung semua biaya pendaftaran untukku.
Setibanya ditempat perlombaan, kulihat banyak orang berdatangan. Baik yang ingin ikut lomba, ataupun hanya sekedar menonton saja. Ketika perlombaan berlangsung, pemilik burung berada diluar tenda, yang dibatasi pagar tali. Berbagai cara dilakukan oleh sang pemilik burung, agar burungnya bersuara lantang dan berkicau merdu. Ada yang berteriak kencang memanggil nama burungnya, ada pula yang bertepuk yang tangan sangat keras sekali. Namun semua itu tidak aku lakukan. Pikirku tanpa berteriak, burungku bersuara lantang dan merdu.
"Ayo dit, buat cara burungmu bersuara lantang dan merdu" ucap ka Wawan yang melihatku hanya terdiam.
"Owh iya ka" jawabku singkat. 
Maklum saja, aku baru pertama kali mengikuti lomba kicau burung. Jadi belum tahu apa yang harus dilakukan.
Ketika pelombaan berakhir, waktunya juri mengumumkan juaranya. Akhirnya, ka Wawan mendapatkan juara 3. Sedangkan aku tidak mendapatkan juara. Aku tidak akan pantang menyerah, lain waktu aku akan ikut lomba lagi. Kamipun pulang dengan hati senang. Walaupun aku tidak mendapatkan juara. Sudah cukup bagiku menjadi hiburan semata.

0 komentar:

Posting Komentar

 
berita unik