Lomba Kicau Burung
Kenalkan, namaku Aditya putra. Masih sekolah menengah pertama. Ketika
pulang sekolah, aku sering sekali lewat pasar hewan. Banyak sekali jenis
hewan diperjual belikan. Seperti ayam, burung, kucing, bahkan iguana
pun ada. Timbul keinginanku untuk memelihara satu hewan saja. Tapi masih
bingung, jenis hewan apa yang akan aku pelihara.
Ka Wawan tetanggaku, memiliku banyak peliharaan burung. Berbagai jenis
burung dia punya. Seperti burung kenari, burung jalak, burung kacer, dan
masih banyak lagi jenis burung yang tidak aku ketahui. Setiap pagi
tiba, merdu rasanya mendengarkan kicauan burung bernyanyi. Timbulah
keinginanku memelihara burung. Akhirnya aku memutuskan untuk membeli
satu burung beserta sangkarnya sebagai hewan peliharaan. Jenis burung
yang aku pelihara berparuh bengkok, bulunya berwarna biru tua.
Pedagangnya bilang sih, namanya burung lovebird. Setiap pagi aku rawat,
membersihkan sangkarnya, memberinya makan, bahkan sampai memandikannya.
"Rajin bener ngerawat burungnya" sahut ka Wawan, yang melihatku sedang memandikan burung dipagi hari.
"Iya nih ka Wawan, biar burungnya sehat" jawabku yang lagi sibuk memandikan burung.
"Kaka pernah denger, suara burungmu lantang. Rajin berkicau lagi" puji ka Wawan.
"Tapi tidak selantang dan serajin burung kaka" jawabku coba merendahkan diri.
"Nanti siang, ikutin lomba aja dit. Bareng sama kaka" pintanya padaku.
"Tapi kak, aku tidak punya uang untuk biaya pendaftarannya" jawabku dengan terpaksa menolak.
"Biar kaka yang tanggung semua biaya pendaftaran. Yang penting kamu mau ikut" tegasnya
padaku. Tanpa pikir panjang, aku menerima ajakan ka Wawan. Untuk
mengikuti lomba kicau burung. Ka Wawan memang orang yang baik. Dia mau
menanggung semua biaya pendaftaran untukku.
Setibanya ditempat perlombaan, kulihat banyak orang berdatangan. Baik
yang ingin ikut lomba, ataupun hanya sekedar menonton saja. Ketika
perlombaan berlangsung, pemilik burung berada diluar tenda, yang
dibatasi pagar tali. Berbagai cara dilakukan oleh sang pemilik burung,
agar burungnya bersuara lantang dan berkicau merdu. Ada yang berteriak
kencang memanggil nama burungnya, ada pula yang bertepuk yang tangan
sangat keras sekali. Namun semua itu tidak aku lakukan. Pikirku tanpa
berteriak, burungku bersuara lantang dan merdu.
"Ayo dit, buat cara burungmu bersuara lantang dan merdu" ucap ka Wawan yang melihatku hanya terdiam.
"Owh iya ka" jawabku singkat.
Maklum saja, aku baru pertama kali mengikuti lomba kicau burung. Jadi belum tahu apa yang harus dilakukan.
Ketika pelombaan berakhir, waktunya juri mengumumkan juaranya. Akhirnya,
ka Wawan mendapatkan juara 3. Sedangkan aku tidak mendapatkan juara.
Aku tidak akan pantang menyerah, lain waktu aku akan ikut lomba lagi.
Kamipun pulang dengan hati senang. Walaupun aku tidak mendapatkan juara.
Sudah cukup bagiku menjadi hiburan semata.
0 komentar:
Posting Komentar