Translate

cerpen elang di hari senin

Written By iqbal_editing on Selasa, 11 Juli 2017 | 01.10

Senin adalah hari dimana banyak orang merasa enggan untuk beraktivitas setelah terlena menikmati weekend. Tapi bagiku, Senin adalah hari yang sangat ku tunggu. Aku selalu bahagia ketika hari Senin tiba. Pada hari itu aku bisa melihat “elang” sebutanku untuk sang ketua osis yang mempunyai sorotan mata yang tajam nan indah. Aku menyukai hari Senin karena Elang hampir selalu menjadi pemimpin upacara pada Senin pagi.
Aku tidak peduli panas terik matahari yang membakar kulit sehingga peluh keringat membasahi seragam putihku ini. Yang aku tahu, saat upacara adalah saat ketika aku dapat bebas memandang wajahnya tanpa ada dorongan sana sini seperti ketika para perempuan menyaksikannya bermain futsal. Elang dan aku sama sama duduk di kelas 3 SMA. Aku berada di kelas 9.2 IPA. Sedangkan Elang di kelas 9.1 IPS, karena bukan siswa yang popular, jangankan berpikir seorang Elang mencintaiku, mengenalku saja aku kira terlalu muluk.
Namaku Hesti Wijaya, aku biasa disapa dengan sebutan “Hesti”. Teman-temanku bilang aku adalah seseorang yang sangat pemalu. Aku memang tidak terbiasa mondar-mandir di dalam kelas seperti yang kebanyakan siswa lakukan, atau bersuara nyaring hingga satu kelas mendengar suara itu. Mungkin menurut sebagian orang aku anak yang agak aneh karena suka menyendiri. Sebenarnya mereka tidak sepenuhnya benar, aku hanya mempunyai kesenangan yang tidak ingin diganggu oleh siapa pun ketika pensilku perlahan-lahan menari di atas kertas hingga berhasil melukiskan berbagai objek yang terlihat nyata.
Di kelas, aku hanya mempunyai dua orang teman dekat, Ana dan Rika. Aku sangat bersyukur karena mereka ingin berteman denganku. Ana dan Rika adalah dua siswa yang cukup populer di sekolah karena mereka aktif mengikuti berbagai ekskul. Sedangkan aku, jangankan mengikuti ekskul tertarik ikut pun tidak. Aku pun tidak habis pikir siswa seperti mereka ingin bersahabat denganku. Aku tidak butuh teman lainnya, menurutku dengan mereka berdua saja sudah cukup. Satu-satunya yang membuatku ingin berteman dengan mereka adalah ketulusan dari sikap mereka.
Elang adalah laki-laki pertama yang membuatku jatuh cinta. Lucu memang, ketika SMP dahulu aku sering mendengar obrolan teman-teman tentang perasaannya terhadap seorang yang mereka cintai, ketika akhir SMA aku baru merasakan pengalaman itu. Rasanya indah, tapi juga menyakitkan. Ya! Rasanya sakit karena mencintai seseorang yang terlalu tinggi untuk digapai. Aku suka sikapnya, caranya berpakaian, wajahnya, semua tentang Elang aku suka. Bodoh! Ya memang aku sangat bodoh, karena mencintai seseorang yang jangankan bisa bicara, bertemu dengannya saja aku takut. Saat akhir masa SMA, aku mempunyai tekad setidaknya sebelum lulus Elang harus mengenal namaku. Tapi… Setelah ku pikir-pikir apa untungnya seorang Elang tahu namaku? ah bagaimana bisa aku membuat Elang mengingat namaku. Tapi.. hmm.. ada salah satu cara yang dapat aku lakukan. Terlalu sulit memang. Namun, aku harus berusaha. Demi Elang!
Jika aku mendapat peringkat Ujian Nasional nomor satu di jurusanku, namaku pasti sering disebut-sebut di sekolah dan Elang pasti akan ingat siapa namaku. Meski hanya peringkat lima besar di kelas, aku percaya jika bersungguh-sungguh keinginanku yang satu ini akan terwujud. Dua bulan menjelang Ujian Nasional semangatku semakin membara. Jika aku lelah, aku selalu membayangkan wajah Elang lalu kemudian tersenyum tersipu malu. Hari-hari ku lalui dengan keletihan. Latihan soal Ujian Nasional, wejangan guru-guru setiap hari sudah menjadi hal yang biasa ketika itu, belum lagi les yang baru baru ini aku ikuti. Namun, semua semangat mendadak terkumpul kembali ketika aku ingat Elang.
Dua bulan yang berat telah berlalu. Hari pertama aku menghadapi Ujian Nasional dengan mata pelajaran bahasa Indonesia, kemudian dilanjutkan dengan Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, dan Bahasa Inggris. Sebagian soal aku yakini kebenarannya, sebagian yang lain aku tidak yakin. Menunggu hasil Ujian Nasional, hatiku ketar-ketir. Takut jika hasilnya tidak sesuai dengan harapan. Satu bulan lebih aku menunggu hasil Ujian Nasional dengan hati gelisah.
Ketika tiba waktu pengumuman hasil Ujian Nasional, lututku terasa lemas. Aku takut jika pengorbananku sia-sia. Mataku dengan cepat mencari nama dengan urutan abjad H. Hesti, nah ini dia! Mataku langsung lesu, aku hanya berhasil mendapat peringkat ketiga, dengan begitu namaku tidak akan disebut-sebut di sekolah sehingga Elang pun tidak akan mengenal diriku. Hari itu begitu dalam kesedihanku, dan hanya dipenuhi penyesalan, jika aku belajar lebih giat pasti aku akan jadi nomor satu. Hari itu aku menangis di sekolah maupun di rumah, Ana dan Rika tidak mengerti mengapa aku begitu sedih, bahkan ketika aku mendapat kabar berhasil memperoleh nilai ketiga terbaik.
Dua minggu setelah pengumuman kelulusan, sekolahku mengadakan perpisahan angkatan. Kesedihanku masih belum pudar sehingga untuk tersenyum dalam perpisahan sekolah bibirku enggan. Ketika teman-temanku yang lain termasuk sahabatku Ana dan Rika asyik mengobrol bersama, aku hanya duduk di sudut ruangan menikmati minuman sendirian. Tiba-tiba Elang datang menghampiriku. Aku melihat ke kanan dan kiriku tidak ada orang. Hanya aku! Jantungku berdegup kencang. Perlahan Elang semakin mendekat, ia kemudian membuka mulutnya.
“hmm.. Hesti, saya bisa minta tolong ambilkan soda.”
Aku kaget. “emm.. iyaa.. eh.. itu, mmm.. yang mana?”
“saya mau coca cola saja.” sambil tersenyum.
“ini silakan..” menyodorkan gelas kepada Elang.
“terima kasih Hes..”
“ii..ii.yaa..”
Senyumku langsung mengembang ketika tubuh Elang perlahan membelakangiku. Aku sungguh tidak menyangka seorang Elang mengenal namaku! Hari itu senyum pun enggan meninggalkan wajahku. Ahhh.. mengapa aku baru bertegur sapa dengan Elang saat itu. Sejak kapan Elang tahu namaku? Atau jangann jangan.. ah lupakan!! Tidak mungkin!! Hari itu adalah salah satu hari terbaikku, meskipun hanya sekedar mengetahui namaku, setidaknya aku tahu bahwa Elang tidak benar-benar mengacuhkan keberadaanku. Dan hari itu untuk pertama kalinya aku merasa menjadi salah satu perempuan populer di sekolah.
TINN.. TINN.. Lamunanku terhenti ketika terdengar suara klakson dari taksi langgananku, tepat setelah lima belas menit aku menunggu. Aku merasa begitu banyak yang aku ceritakan dengan suara bisu untuk mengingat pengalaman sekolahku dulu, terutama tentang Elang. Ketika ku buka pintu taksi tak bisa ku tahan senyumku, ya hari ini hari Senin! Hari yang sampai saat ini masih ku suka. Aku menggelengkan kepala mengingat betapa polosnya aku dahulu ketika SMA. Tapi, ya! Mencintai Elang bukan sesuatu yang sia-sia, semangatku, ambisiku, bermula dari Elang.
Sekarang aku di sini, di salah satu universitas negeri ternama di Indonesia, dengan IPK yang cukup bagus dari awal perkuliahan sampai menjelang enam semester perkuliahanku. Ya! Aku cukup percaya diri dengan diriku yang sekarang, bahkan untuk lulus pada semester ketujuh. Ku buka kaca taksi perlahan, sepertinya udara hari ini cukup bagus. Aku melihat sekeliling bangunan universitasku.
Lalu tiba-tiba tanpa sengaja mataku menangkap sosok yang tidak asing, sangat tidak asing, dia adalah Elang! Ku perhatikan benar-benar orang itu untuk meyakinkan bahwa dia benar-benar Elang, dan saat itu pun aku mengetahui bahwa Elang ternyata satu kampus denganku, entah sejak kapan. Aku tersenyum kemudian berjanji, lain kali jika aku bertemu dengannya aku pasti akan menyapanya, entah dia masih mengingatku atau tidak aku tidak peduli.
Cerpen Karangan: Maulida Rahmah Abdullah HAQ
Facebook: Maulida Rahmah

0 komentar:

Posting Komentar

 
berita unik